NovelToon NovelToon
Cinta Beda Keyakinan

Cinta Beda Keyakinan

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Berondong / Tamat
Popularitas:85.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nai

Menjalin hubungan dengan beda keyakinan tak membuat rasa cinta gadis bernama Tamara Adisti berkurang sedikitpun.
Namun saat Tara membulatkan tekad untuk berhijrah, ia terpaksa harus memutuskan tali cinta yang telah membuncah dihati mereka.

Vano yang sudah terperosok ke dalam lubang cinta dengan sosok gadis sederhana bernama Tara itu tak terima akan keputusan yang Tara berikan atas putusnya hubungan mereka.

"Dua tahun bukan waktu yang sebentar, Tar! Jalan yang kita lalui untuk kita bisa bersama seperti sekarang ini juga tidaklah mudah. Kenapa kamu seperti ini? Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kamu tidak akan mempermasalahkan keyakinan kita yang berbeda. Terus kenapa sekarang kamu menyerah hanya karena keyakinan? Apakah sepenting itu, Tar. Sampai kamu rela mengorbankan cinta kita!"

Bagaimanakah kisah kedua remaja labil itu?
Mari ikuti kisahnya....

(MASIH DALAM TAHAP REVISI)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 30

Selama Vano diperiksa oleh dokter, Tara hanya berjalan mondar mandir di depan pintu ruang IGD. Sudah setengah jam Vano di dalam sana, namun hanya satu orang suster saja yang terlihat keluar ruangan dan masuk kembali dengan alat yang asing di pandangan Tara.

Tiba-tiba Tara teringat dengan Deska. Ya, dia harus menghubungi Deska untuk memberi kabar akan kondisi Vano saat ini.

"Ka," lirih Tara saat panggilannya diangkat Deska.

"Kak Tara kenapa?" tanya Deska heran.

"Kamu ke Rumah Sakit A ya, Ka. Kakak kamu tadi ketabrak," ucap Tara pelan.

Tak ada sahutan dari Deska, namun panggilan itu masih tersambung. Tara mengakhiri panggilannya, ia mendudukkan tubuhnya pada kursi tunggu yang ada di sekitar ruang IGD. Baru beberapa detik ia duduk, pintu ruang IGD terbuka. Tara lantas berdiri menghampiri dokter yang keluar dari ruangan itu.

"Gimana teman saya, Dok?" tanya Tara.

Dokter itu tersenyum sekejap. "Benturan di kepalanya tidak terlalu serius. Hanya cidera ringan biasa ...."

Dokter itu menjelaskan panjang lebar akan kondisi Vano, namun Tara yang tak mengerti hanya bisa mengangguk saja. Ia hanya menangkap dengar tentang benturan di kepala Vano yang tidak terlalu parah dan Vano baik-baik saja.

"Apa saya bisa menjenguknya, Dok?" tanya Tara.

"Silahkan. Saat ini teman kamu masih dalam keadaan pingsan akibat benturan yang terjadi. Mungkin besok pagi juga sudah sadar," terang dokter tersebut.

Tara menganggukkan kepalanya, ia membuka pintu ruang IGD setelah mempersilahkan dokter itu pergi.

Perban di kepala Vano membuat Tara memejamkan matanya sesaat. Jika bukan karena menolong dirinya, mungkin saat ini yang berada disana adalah dirinya. Ia mendudukkan tubuhnya pada kursi di samping ranjang Vano. Tara mengusap punggung tangan Vano yang terdapat jarum infus.

"Seharusnya kamu nggak perlu nolongin aku, Van. Dengan begini, aku akan sulit untuk ngelupain kamu," ucap Tara pelan.

Tara melepaskan tangannya dari tangan Vano. Ia meraih ponselnya yang ada di saku depan celananya untuk memberi kabar pada orang tuanya bahwa ia tidak pulang malam ini.

Tara memang di bebaskan oleh orang tuanya, asalkan orang tuanya tahu ia pergi atau menginap dimana. Biasanya kosan Rena akan menjadi alasan satu-satunya Tara untuk menginap, tapi kali ini ia harus meminjam nana Reni untuk dijadikan alasannya tidak pulang. Semoga saja Reni tidak datang kerumah selama dia tidak ada dirumah.

Setelah selesai menghubungi orang tuanya, ponsel Tara berdering menandakan panggilan suara masuk. Nama kontak Deska tertera pada layar ponsel. Dengan segera Tara menekan tombol hijau pada layar ponselnya.

"Kakak di IGD, Ka," ucap Tara pada suara di sebrang sana.

Deska memutus panggilan setelah Tara menyebutkan posisinya berada. Tak butuh waktu lama, kini pintu ruang IGD terbuka dan menampakkan sosok wanita cantik. Deska Martasari.

"Kak Vano," lirinya saat melihat kondisi tubuh Vano yang penuh luka serta kepala yang di perban.

Tara bangkit dari duduknya saat Deska mulai mendekati ranjang Vano.

"Kak Vano kenapa bisa kayak gini?" Deska menangis sembari memeluk tubuh Vano yang sedang tak sadarkan diri.

"Ka," panggil Tara dari belakang tubuh Deska.

"Maafin Kakak ya. Ini semua salah Kakak. Kakak kamu bisa begini karena menolong Kakak yang hampir ketabrak mobil," seru Tara lirih. Ia sudah siap jika Deska akan berteriak memaki, atau memukulnya.

Namun sejuru kemudian, Deska memeluknya erat sembari menumpahkan isak tangisnya. Tara membalas pelukan Deska dengan tangis yang tak bisa ditahan. Ia usap punggung wanita muda itu agar lebih tenang meski dirinya sendiri belum sepenuhnya tenang  sebelum Vano membuka mata.

"Kak Vano sayang banget sama Kak Tara, itu kenapa dia melakukan ini semua," ucap Deska membuat Tara menghentikan usapan ringan pada punggung wanita itu.

"Kakak ada masalah sama kak Vano?" Deska mendongak menatap Tara yang sedang melamun.

"Kak."

Tara tersenyum sendu, ia kembali membawa Deska dalam pelukannya. Jika ia mempunyai stok keberanian untuk speak up pada Vano, tidak dengan Deska. Ia takut Deska akan salah faham dengan alasan yang ia berikan tentang permasalahan hubungannya bersama Vano. Ia menyayangi Deska seperti adik kandungnya sendiri, ia tidak mau Deska menjauhinya meski hubungannya dengan Vano nanti benar-benar berakhir.

Tara membawa Deska untuk duduk di kursi single yang ada di samping ranjang Vano, sementara Tara meraih kursi lainnya di sudut ruangan untuk ia duduki di samping Deska.

"Orang tua kamu mana, Ka?" tanya Tara.

"Mama sama papa lagi keluar kota, Kak. Katanya sih urusan bisnis, tapi nggak tau tuh, aku nggak ngerti." Deska mengedikkan bahunya dalam pelukan Tara.

"Mereka tahu kalau Vano ...."

Deska menganggukkan kepalanya saat Tara tak melanjutkan ucapannya. "Mekera bilang akan pulang besok. Kak Tara tenang aja, mereka nggak akan marah kok sama Kak Tara. Ini semua udah takdir, dasar kak Vano nya aja yang sial." Tara hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Deska yang berusaha menenangkannya.

Lama mereka berbincang berbagai hal, Tara dengan senang hati mendengar curhatan Deska tentang kesehariannya di kampus. Hingga sampai wanita itu menceritakan tentang sifat Vano yang terlihat lebih pendiam saat berada di rumah. Apakah benar begitu? Bukankah Vano terlihat manja dan childish selama beberapa minggu ini padanya?

Setelah waktu menunjukkan pukul 23:00, ternyata Tara dan Deska sudah terbang ke alam mimpi dengan kepala yang mereka sandarkan pada ujung samping ranjang Vano.

Suara adzan subuh dari ponsel Tara membangunkan wanita itu dari tidurnya. Ia mengecilkan volume adzan di ponselnya agar Deska tidak terganggu sebelum meregangkan tubuhnya yang pegal akibat tidur dalam posisi duduk semalaman.

"Astaghfirullah, aku nggak sholat isya' semalam," gumamnya pelan.

Berhubung tak ada mukenah di ruang IGD, Tara terpaksa keluar ruangan untuk mencari mushola. Suasana subuh di area rumah sakit begitu gelap, membuat bulu kuduk Tara berdiri.

Dengan kebaranian yang seadanya, Tara terus berjalan menelusuri lobi rumah sakit. Tak ada satu orang pun yang terlihat, membuat Tara harus mengikuti petunjuk arah yang akan membawanya pada mushola setempat.

Saat di persimpangan lobi, mata Tara tak sengaja menatap seorang pria yang berjalan kearahnya dari lorong lobi sebelah kirinya. Ia menghentikan langkahnya untuk menanyakan letak mushola yang belum ditemuinya, siapa tau pria itu mengetahui letak mushola di sana.

"Permisi, Mas," sapa Tara saat pria itu sudah berada tiga langkah didepannya. "Kalau boleh tahu, mushola di sini di mana ya, Mas?" tanya Tara.

Pria itu belum menjawab, dia masih mengamati wajah Tara. Tara yang merasa bahwa pria itu mengamati wajahnya, langsung saja menyentuh beberapa bagian di wajahnya.

"Apa ada yang salah dengan wajah saya?" tanya Tara dengan kening mengkerut.

Pria itu tertawa pelan. "Kamu yang waktu itu nangis di pojok parkiran mall X, kan?"

Tara mengerutkan keningnya lebih dalam. Kenapa tiba-tiba pria ini menanyakan hal itu?

"Kita pernah bertemu kok, aku yang waktu itu mengusap wajah kamu saat kamu sedang menangis dipojok parkiran mall."

Tara membelalakkan matanya, perkataan pria ini terkesan meledek di telinga Tara.

Wait!

Jadi nih orang adalah pria kurang ajar yang waktu itu dengan beraninya mengusap wajahnya?

"Kamu ...."

"Yes i am," sahut pria itu sebelum Tara menyelesaikan ucapannya.

"Mau ke mushola, kan? Ayo, aku juga mau ke mushola."

Tara mengikuti langkah pria itu dari belakang. Ia mendengus sebal, kenapa juga harus bertemu pria kurang ajar ini lagi. Setiba di mushola, mereka berwudhu dan melaksanakan ibadah subuhnya masing-masing karena tak ada orang lain yang bisa mereka ajak untuk sholat berjama'ah. Sedangkan mereka yang bukan mahram tidak diperbolehkan untuk berjama'ah berdua saja.

Setelah selesai melaksanakan ibadah subuhnya, Tara keluar dari mushola lebih dulu. Sementara pria yang masih ada di shaf depan itu terlihat khusyuk dengan dzikirnya.

Saat Tara telah berada di persimpangan lobi, tiba-tiba suara seorang pria menggema di sepanjang lobi.

"Hey,"

Merasa tak ada yang memanggil namanya, Tara tak menghiraukan suara itu.

"Hey, nona berbaju hitam, hijab hitam, celana maroon, sandal jepit hitam."

Merasa apa yang disebutkan sama persis dengan apa yang ia kenakan, Tara menghentikan langkahnya. Tara menoleh ke belakang, ternyata pria kurang ajar itu yang memanggilnya. Pria itu terlihat berlari kearahnya setelah ia menoleh. Tara menatapnya datar sampai pada pria itu berada tepat di hadapannya.

"Di panggil dari tadi juga," ucap pria itu sembari mengatur nafas.

"Ada apa?" tanya Tara.

Pria itu menyengir kuda sebelum berkata, "Kenalin, nama aku Raka." Pria itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Tara.

Tara hanya terbengong tanpa menjabat tangan ataupun menyahuti seruan pria itu.

"Nama kamu siapa?" tanyanya lagi.

Tara masih belum menyahuti pertanyaannya.

"Hello, ada orang di sana?" Raka mengibaskan tangannya di depan wajah Tara.

"Em, Tara," jawab Tara singkat.

Tara berbalik meninggalkan pria bernama Raka itu sendirian di lobi rumah sakit. Raka hendak menyusul Tara, namun saat Tara memasuki ruang IGD, ia mengurungkan niatnya kemudian berbalik menuju ruang VIP di mana salah seorang keluarganya dirawat.

1
Bukhori Muslim
keren
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
ENDING YG MMBAHAGIAKN... SMOGA MEREKA SAMAWA DI DUNIA HALUNYA, DN SAMAWA JUGA BUAT YG PRNH ALAMI SPRTI YG DI NOVEL INI..
Sulaiman Efendy
KULIAH JUGA NGGK JAMIN DPT PKERJAAN, BNYK TU SARJANA2 PENGANGGURAN..
Sulaiman Efendy
LO HRSNYA NGERTI SBAGAI UMAT MUSLIM, HARAM WANITA BRSUAMI MNJALIN HUBUNGN, MSKI HNY PRTEMANN DGN LAKI2 YG BKN MAHRAMNYA, KRN UNTUK MNGHINDARI FITNAH, APALAGI LKI2 TRSEBUT MNYUKAI SI WANITA..
Sulaiman Efendy
UDH DIINGATKN DESKA, MSH NGEYEL,, KN DESKA UDH BILANG LO PSTI AKN KECEWA DAN SAKIT HATI..
Sulaiman Efendy
KURANG AJAR SI RAKA, CURI START, SEMOGA TARA MNOLAK LMARAN RAKA
Sulaiman Efendy
KERENNN ABISS DI DESKA YG POSESSIF KE CALON KK IPARNYA SI TARA, RAKA YG GELAGATNYA MMG MNYUKAI TARA, LGSUNG DI SKAK DESKA
Sulaiman Efendy
BAGUS DESKA,, HRSNYA RAKA LBH FAHAM KLO LKI2 TDK BOLEH DUDUK BRDEKATAN DGN WANITA YG BKN MAHRAMNYA
Sulaiman Efendy
ALHAMDULILLAH, AKHIRNYA DESKA JUGA MNDAPATKN HIDAYAH ..
Sulaiman Efendy
BARAKALLAH,, SEMOGA VANO ISTIWOMAH KRN ALLAH, BKN KRN MNGHARAPKN PNGAKUAN MANUSIA, BKN KRN MNGHARAP CINTA MNUSIA, TTPI MURNI LILLAHI TA'ALAA
Sulaiman Efendy
PASTI SI RAKA, SEMOGA TARA TDK MNERIMA RAKA, KRN KYKNYA RAKA SKA MA TARA
Sulaiman Efendy
SIAPA BILANG VANO BSA MLUPAKAN LO, KLO BSA LO PRGI LGI YG JAUH, BILA PERLU KE JOGYA TEMPAT RENA..
Sulaiman Efendy
SKRG HMBATAN TK ADA BUAT VANO UNTUK PINDAH KYAKINAN.. KRN KDUA ORTU NYA SDH MNINGGAL,, TINGGAL KMNTAPAN HATI DN NIATNYA..
Sulaiman Efendy
SEMOGA LEWAT BG MALIK SUAMI FANI, VANO DPT HIDAYAH, DN MAU BLAJAR ISLAM SUNGGUH2, BKN KRN INGIN BSA NIKAH SAMA TARA, TPI KRN ALLAH, DN MNCINTAI JUGA KRN ALLAH...
Sulaiman Efendy
YAA LO JELASIN MASALAH SYARIAT ISLAM, BHWA LO TDK BSA MMAINKN AQIDAH LOO..
Sulaiman Efendy
HRSNYA LO OMONGIN KE VANO, KLO MMG DIA SERIUS KE ELO, TTG VANO UNTUK IKUT KYAKINAN LO, JLSKN KE VANO TTG SYARIAT ISLAM,, LO LIAT, SERIUS GK DY.. JGN SAMPE LO BRBUAT SEMI ZINAH DGN DIPEGANG2 & DIPELUK2 VANO
Sulaiman Efendy
BLM MAHROM KNP MAU DIPELUK2, LO KN SKRG PKE HIJAB, HRSNYA LO KSIH PNGERTIAN KE VANO, BHWA WANITA MUSLIM TDK BOLEH DISENTUH APALAGI DIPELUK2 LKI2 YG BKN MAHRAMNYA..
Sulaiman Efendy
LO KAN UDH SERING IKUT TAUSIYAH, DN LO UDH TTG SYARIAT ISLAM, BHWA WANITA MUSLIM ITU HRS NIKAH DENGN IJAB QABUL DN ADA WALINYA, KLO LO NIKAH DI CATATAN SIPIL, LO NIKAH TNP IJAB QABUL, TNPA WALI, HNY SAH DIHUKUM NEGARA, TNP HARAM DI MATA ALLAH... KONSEKUENSINYA LO TAUKN, LO BRZINAH SEMUMUR HIDUP, INGAT, LKI2 ITU IMAM BUAT WANITA, GMN LO MAU JDIKN VANO IMAM LO, SDGKN VANO NON MUSLIM, HRSNYA LO SHOLAT ISTIKHARAH BUAT MINTA PTUNJUK SAMA ALLAH..
Sulaiman Efendy
LO GK TAKUT NANGGUNG DOSA LO FHAISAL, HRSNYA LO SETUJU DGN SYARAT SI VANO HRS IKUT KYAKINAN KALIAN
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!