Cerita di bumbui 21++. Harap bijak dalam membaca❤
Albian Yunanda, terlahir dengan segala kesempurnaan dan kekayaanya, namun tidak prihal asmara. Sebab, lelaki berusia 26 tahun itu harus menerima kenyataan pahit, bahwa Aluvi Tiana alias Vivi wanita yang sangat dirinya cintai justru tega berkhianat dengan menjalin hal tak terpuji dengan Narendra, sahabat Bian sendiri. Vivi rela memberikan seluruh jiwa dan raganya demi Rendra sementara statusnya sebagai tunangan Bian.
Hal itulah yang menimbulkan luka yang amat dahsyatnya dan memakasa Bian harus membalas rasa dan luka hati yang kini dirinya rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanty fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Oprasi Dan Siapa Dia....?"
🕊
Bian melirik jam di tanganya, waktu menunjukan pukul 18.40 dan sebentar lagi Vivi akan masuk ke ruang oprasi. Nampak kecemasan di wajah pria tampan tersebut, entah apa yang kini tengah di pikirkan olehnya.
Ceklek
Pintu ruangan dimana Vivi di rawat pun terbuka. Hadirlah dokter dan beberapa perangkatnya.
"Malam Bian," sapa si dokter ramah.
Bian tak menjawab sapaan tersebut, hanya senyum tipis tersungging dari bibirnya. Pria tampan itu segera beranjak dari tempat dimana dirinya duduk dan memberi waktu dokter itu untuk memeriksa keadaan Vivi.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Bian kemudian.
"Kondisi istri anda saat ini masih baik-baik saja, tapi karena kista di perutnya sudah cukup besar, jadi oprasi harus tetap kita lakukan sebab takutnya kista tersebut berpotensi menjadi kanker," si dokter menjelaskan.
"Lakukan, apa yang harus di lakukan, saya harap anda tak akan mengecewakan saya," ucap Bian pula.
"Hemm, semoga semua berjalan lancar ya. Dan anda tetap berdoa, agar semua berjalan sebaik mungkin," ujar dokter itu lagi.
Bian tersenyum datar, seruan dokter tersebut membuatnya tergetar, di tatapnya wajah Vivi yang juga tengah menatap dirinya. Bian tak tau, sejak tadi istrinya itu memperhatikan sikapnya.
Vivi tersenyum saat Bian menatap wajahnya, wanita cantik itu sadar, ada rasa takut yang menenuhi pikiran sang suami.
"Aku tak akan pernah meninggalkanmu, apa pun yang terjadi, dan bagaimana kau akan memperlakukanku nanti," ucapnya lirih.
Bian menarik sudut bibirnya, lalu berjalan pelan untuk mendekati keberadaan Vivi.
"Kata-katamu adalah janji. Maka buktikanlah...! Kau harus baik-baik saja," Bian membalas dengan bisikan pelan di telinga Vivi.
"Baik...." jawab Vivi tegas lalu mengenggam tangan Bian.
Setelah terjadi percakapan yang cukup membuat keduanya sadar, bahwa mereka sama-sama berharap, nantinya mereka akan baik-baik saja dan selalu bersama. Tapi ego Bian terlalu tinggi hingga Vivilah yang berusaha untuk mengalah.
"Aku telah menyakitimu, dan akan ku pastikan kau tak akan sakit lagi karenaku," gumam Vivi dalam hati.
_____
Jam 7 malam, Vivi sudah berada di ruang oprasi. Beberapa dokter telah berada di sana, dokter umum dan dokter anastesi yang siap menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Sementara Bian menunggu di luar ruangan dengan harap-harap cemas.
Detik terus berganti, jam terus beputar bahkan hampir 1 jam, belum ada kepastian dan kabar dari dalam sana. Belum ada satu pun dokter yang keluar dan memberi kabar tentang Vivi.
"Hemmmm... Kenapa lama sekali?" tanya Bian berkali-kali kepada dirinya sendiri, dan berkali-kali Bian juga menyandarkan tubuh di tembok lalu duduk kembali di kursi. Tak ada siapa pun di sana kecuali Bian sendiri.
"Apa aku harus memberi tahu, mama? apa aku harus menelpon nyonya Amira? haaah.. Harus, bagaimana pun, Vivi itu anaknya," gumam Bian dalam hati dan segera menghubungi si mama mertua.
"Mama, kesana besok pagi ya," ucap Amira dengan suara yang cukup terkejut saat mendengar kabar tentang anak semata wayangnya.
"Mama tenang saja, nanti ada sopirku yang akan menjemput di depan rumah. Tak perlu menunggu besok pagi, malam ini juga mama harus ada di sini, sebab Vivi pasti membutuhkan anda," tegas Bian meyakinkan.
"Ba_baiklah, mama tunggu," jawab Amira gemetar.
Ya kabar akan sakitnya Vivi membuat Amira cukup sedih, bahkan wanita paruh baya itu tak menyangka, jika anaknya bukan hamil tapi ada kista di dalam perutnya.
🕊
Bian berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Sebab sudah hampir 1 jam setengah belum ada kabar juga dari Vivi
Ssssttttt. Ck.
Mata Bian seketika tertuju pada sosok pria yang berada tak jauh dari ruangan dimana sang istri menjalani oprasi. Bagaimana Bian tak heran, sebab jacket yang di gunakan oleh seseorang itu persis dengan pria misterius yang tadi siang keluar dari rumah yang dirinya kira rumah Rendra.
Sadar, jika Bian menyadari keberadaanya, pria tersebut secepat kilat melangkah pergi dan hilang entah kemana. Bahkan Bian tak sempat untuk mengejarnya.
"An jing.... Dia benar-benar ingin bermain-main denganku rupanya ya," batin Bian kesal.
Bian semakin yakin, ada yang tak beres dengan semua ini.
"Segera kemari, dan ajak anak buahmu. Berpakaianlah serapih mungkin, agar si peneror itu tak tau jika kalian bekerja untukku," titah Bian melalui sambungab telponya.
Bian meminta anak buahnya dan orang-orang kepercayaanya untuk berjaga-jaga. Bahkan dirinya meminta untuk memangkap siapa saja yang gerak geriknya mencurigakan. Ya, begitulah Bian.
🕊
Jam sembilan malam, barulah para dokter itu keluar dari ruang oprasi dan membawa senyum yang tersungging dari bibir mereka.
"Bian, semua berjalan lancar dan kau sudah bisa menjenguk istrimu. Tapi biarkan para perawat memindahkanya di ruangan yang lebih nyaman," jelas salah satu dokter yang memang sudah mengenal Bian.
"Hm... Terima kasih," jawabnya datar bahkan tak ada exspresi yang terpancar dari raut wajahnya.
Dokter itu menepuk pelan bahu Bian. "Turunkan kadar egomu, agar kau tak menyesal di akhir nanti," bisiknya lirih dan segera pergi dari hadapan Bian.
Pria tampan itu mengeryitkan wajahnya, saat mendengar bisikan pelan dari si dokter tersebut.
"Sial.. Dia kira dia siapa, berani sekali menyuruhku, hiih......!" Bian berdecak kesal.
Dirinya segera melangkah, menuju ruangan dimana kini Vivi berada. Rasanya sudah tak sabar, ingin memastikan kondisi Vivi saat ini.
.
.
.
🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊🕊
kalo bisa coba di ubah jgn kasar SM wanita.
hmm cinta itu bukan hanya sekadar aku dan kamu namun bagaimana caranya agar aku dan kamu menjadi kita, bagaimana caranya agar aku dan kamu bukan lagi 2 melainkan 1, dan aku dan kamu apa lagi kak 😂😂😂😂😭😂
aku dan kamu dan kita selamanya gitu wae ya 🏃♀🏃♀
gak balas komen ini sombong
🛴😂💨💨💨💨