Slowly Update!!
Berkedok sebagai jaminan hutang ayahnya, Ruma berhasil dijerat menjadi tawanan abadi oleh Rico Dzadakun. Alih-alih menjadikan Ruma salah satu penari striptis di club malam miliknya, Rico justru merasakan jatuh cinta bahkan pada pandangan pertama pada gadis itu.
Sementara dibawah pengawasan Rico Dzadakun, diam-diam Ruma mendamba sebuah aksi balas dendam atas mimpi buruk yang selama ini ia dapatkan dari pebisnis kriminal tersebut.
Ditengah obsesi Rico terhadapnya, akankah Ruma berhasil melancarkan aksi balas dendam yang selama ini ia inginkan? ataukah Ruma justru semakin terjebak dalam jeruji-jeruji cinta yang Rico lilitkan dilehernya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Meggy menghabiskan hari yang panjang dengan mengurung diri di dalam kamarnya. Kondisi hatinya yang kacau membuatnya enggan untuk memakan sarapan yang di bawa oleh pelayan Olympus Palace tadi pagi. Ia menghabiskan waktu dengan menangisi akhir dari pembicaraannya dengan Rico.
Lelaki itu dengan teganya mengatakan bahwa ia tidak mencintai Meggy. Oh Tuhan, Meggy merasa langit telah runtuh menimpah tubuhnya. Hatinya patah mendengar ucapan kekasihnya itu. Meggy menangis, wanita itu tersedu meratapi kebodohannya memancing murka Rico hingga lelaki itu marah dan memutuskan untuk berpisah begitu saja.
Meggy mencoba mengatur nafasnya yang tersenggal. Ucapan Rico terus berputar seperti gasing dalam rongga kepalanya yang kecil. Meggy tersedu kembali. Bagaimana bisa lelaki itu mengucapkan sesuatu yang begitu kejam padanya? Setelah satu tahun lebih ia lalui hanya untuk bertahan menjadi kekasih Rico. Jemari Meggy meremas dadanya yang terasa sakit. Hatinya menolak perpisahan itu. Di tengah kegalauan hatinya, suara seorang wanita yang berbagi kamar dengannya terdengar dari ambang pintu.
"Meggy, ada apa denganmu?" tanya wanita cantik berwajah oriental sambil menghampiri Meggy di tempat tidur.
Meggy segera menghapus air matanya. Ia mengambil tisu di meja nakas untuk membuang ingus yang mengganggu. "Tidak apa-apa, aku hanya merasa tidak enak badan" jawabnya dengan suara sengau.
Wanita berpakaian santai itu duduk di tepian tempat tidur. Matanya memperhatikan tubuh Meggy yang meringkuk dengan selimbut menutupi sampai lehernya. "Sayang sekali, padahal nanti siang Thomas akan mengajak semua tamu undangan untuk berkeliling pulau dengan pesiar barunya," ungkapnya memancing Meggy.
Mata sayu Meggy mendadak terbuka lebar. Ia langsung menegakkan tubuhnya. "Benarkah?!" Suara sengaunya terdengar kembali bersemangat. Jejak-jejak kesedihan bahkan terhapus seketika saat nama produser besar yang memiliki perusahaan tambang di beberapa daerah bagian terdengar.
Perubahan ekspresi Meggy yang drastis membuat rekan seprofesinya itu memberikan tatapan keheranan padanya. "Kau terlihat lebih sehat, Meggy" sindirnya. Sorot matanya seperti mencemooh sikap Meggy.
Sementara senyuman malu-malu perlahan timbul di paras Meggy yang cantik. Dengan gerakan tergesa ia merapikan rambut yang semula kusut. Matanya bersinar penuh minat pada rencana nanti siang.
"Moodku menjadi lebih baik berkatmu, Jessi" ucapnya dengan nada suara yang terdengar sedikit congkak. "Sepertinya aku harus mulai bersiap untuk acara nanti siang ... aku tidak sabar ingin berfoto disana" tutur Meggy kembali dengan wajah angkuhnya.
Wanita yang bernama Jessi memutar bola matanya malas ketika ia merasa Meggy yang ia kenal telah kembali. Si wanita ambisius itu tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari tamu-tamu istimewa seorang produser berkelas seperti Thomas Schiller.
Untuk sejenak, Meggy akan melupakan ucapan Rico padanya. Meggy akan kembali menemui lelaki itu, setelah perhelatan yang akan banyak sekali memberinya peluang untuk lebih bersinar di dunia keaktrisan ini usai. Meggy akan meminta Rico untuk menarik kembali ucapannya. Bagaimana pun Meggy tidak terima menjadi wanita yang dicampakkan. Tidak akan pernah!
🍁🍁🍁
Rico duduk dengan tenang meski moncong pistol jenis desert eagle hampir menyentuh wajahnya. Matanya menatap sinis pada jemari Abdul yang tampak siap menekan pelatuk. "Lakukan" kata Rico tanpa takut sedikit pun. Sebelah tangannya terentang membentengi tubuh Don yang siap untuk maju demi mengamankan dirinya.
Abdul menyeringai. Ia menggosokkan telunjuk dari sebelah tangannya yang lain di bawah lubang hidungnya dengan semangat. "Kau pikir aku tidak bisa menembakmu sekarang juga?!" tanya Abdul memandang remeh Rico, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah lelaki itu. "Kau benar. Aku tidak bisa menembakmu ... karena ayahku masih membutuhkan anjing yang setia untuk menjalankan bisnisnya"
Braaak!
Abdul tersenyum lebar melihat emosi Rico yang meluap hingga membuat meja makan bergetar karena gebrakannya yang kasar dan cepat. Kemarahan mulai menyerang hati dan pikirannya. Bola matanya semakin legam berkilat seperti seorang psikopat yang baru saja menemukan mangsanya. Emosi yang menaungi jiwanya, membuat pikiran dangkal semacam kenikmatan merobek bibir lelaki bedebah dihadapannya terdengar menggiurkan. Kengerian itu mungkin saja terjadi, jika tangan kokoh Don tidak menyentuhnya dan menyadarkan Rico untuk mengembalikan akal sehatnya. Iblis kejam dalam dirinya terkurung kembali berkat tangan kanannya itu.
Rico menarik nafas dalam-dalam. Matanya terpejam sesaat demi ketenangan yang coba ia tunjukkan kembali. "Enyah kau dari hadapanku, brengsek!" geram disertai desisan keluar dari sudut bibir Rico yang kaku.
Abdul cenderung tidak mengindahkan perkataan Rico. Lelaki itu melirik pada balkon lantai dua, tempat dimana Ruma berdiam diri sejak tadi. "Sejujurnya aku masih ingin berlama-lama disini, tapi sepertinya itu hanya akan mempersulit keadaanmu" tutur Abdul sambil menyeringai. Ia menaruh kembali pistol di bagian belakang celana jeansnya. Diantara ikat pinggang dan bokongnya. "Aku akan pergi, tapi tidak akan kembali ke Afganistan dalam waktu dekat ini--oh brother, bagaimana aku bisa kembali kesana, sementara ada sesuatu yang menarik disini" ujarnya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Rico.
"Enyah kau" ulang Rico penuh penekanan.
Abdul terkekeh penuh kemenangan. "Baiklah, aku rasa kunjunganku sudah cukup. Aku akan pergi ... Salam untuk wanita cantik di atas sana" ujar Abdul sambil mengangkat kaki meninggalkan Rico yang diliputi amarah.
Rico setengah mati menahan diri untuk tidak terpancing provokasi adiknya. Lelaki itu hanya menatap sinis pada Abdul yang mulai berjalan menuju pintu keluar. Sementara Don mengikuti langkah kaki adiknya itu dari belakang. Ucapan Abdul terngiang dalam benaknya. Rasa khawatir yang bercongkol bagai parasit dalam hatinya, membuat Rico merasa kehilangan keseimbangan ketika ia mendongak menatap pintu kamar utama yang tertutup rapat.
Ruma. Bibirnya merapalkan nama itu seperti mantra. Lelaki itu merasa harus segera menghampiri wanitanya. Ia membutuhkan dekapan hangat Ruma untuk mengurangi sedikit kekhawatiran dalam dirinya.
"Aku ingin rumah ini dijaga lebih ketat. Aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi" ucap Rico pada Don ketika ia berpapasan di dekat tangga.
Don mengangguk. Ia merasa bersalah tidak mempertimbangkan kepintaran Tuan Abdul dalam mengelabui anak buahnya. "Baik, Tuan. Maafkan saya" Kepalanya menunduk dalam.
Rico menaiki tangga setelah ia menepuk bahu Don. Langkahnya seperti angin yang berhembus mengiringi badai. Melesat cepat menyapu deretan anak tangga yang dipijaknya. Dengan sekali sentuhan, pintu rapat itu terbuka lebar. Matanya hanya terpaku pada satu wanita, meski sebenarnya disana ada dua wanita yang menatapnya.
Viona langsung undur diri begitu satu tangan Rico terangkat. Wanita itu menutup pintu kamar perlahan dengan ketenangan yang ia jaga agar tidak mengusik kedua majikannya disana.
"Kemarilah ... Peluk aku, sayang" Rico merentangkan kedua tangannya dengan wajah yang sulit dibaca.
Ruma terdiam sesaat, sebelum ia memutuskan untuk berjalan mendekati Rico. Langkahnya sehalus kepakan sayap kupu-kupu, Rico memejamkan matanya ketika hidungnya mulai mencium aroma wangi yang menyeruak karena jarak yang semakin dekat.
Ruma masih mempermainkan Rico dengan langkahnya yang amat perlahan. Manik jernih itu menatap bola mata legam yang mulai terbuka. Rico menyerah. Lelaki itu menghempaskan rentangan tangannya dan menarik Ruma untuk masuk dalam dekapannya. Bibirnya langsung berlabuh di bibir Ruma. "Kau membuatku kesal menunggu" desisnya terdesak hasrat.
Rico menciumnya dengan rakus. Bibir wanita itu sungguh memberikan keajaiban pada dirinya. Membuat rasa gusar dan gelisah yang tadi terus bersarang dalam hatinya hilang tertelan gairah yang membakar. Tubuh mungil Ruma begitu pas berada dalam dekapannya. Kedua lengan kokohnya merengkuh tubuh wanita itu sambil terus menciumi bibir dan bagian wajahnya yang lain.
Rico terlena dalam kedekatan dua raga itu. Ruma begitu lembut dan halus, aroma tubuhnya harum seperti bunga. Demi apapun, Rico ingin bercinta dengan Ruma saat itu juga. Ia ingin membenamkan dirinya di dalam tubuh mungil wanita yang menggoda itu.
Ruma mengerang sebelum akhirnya ia mendorong dada Rico untuk menjauh sesaat. Sorot matanya menyipit sementara nafasnya tersenggal akibat ciuman liar itu. Wanita itu mendengus kesal. Rico tersenyum melihatnya.
"Kau membuatku hampir mati" ujar Ruma yang sibuk mengatur nafas.
Rico mengusap kepala Ruma perlahan. Membiarkan jemarinya bermain diantara kelembutan rambut lebat wanita itu. "Kau benar-benar menggemaskan, sayang" ucap Rico.
"Berhenti memanggilku sayang. Namaku Ruma" dengus Ruma lantang.
Rico tersenyum menggoda. "Baiklah, Ruma sayang" sahutnya dengan nada dibuat-buat.
Ruma memutar bola matanya jengah. "Menyebalkan!" umpatnya kesal. "Mengapa kau pulang? Bukankah kau bilang padaku bahwa kau tidak akan pulang beberapa hari ke depan?" tanya Ruma.
Mata legam itu mengamati wajah keheranan Ruma yang terlihat manis olehnya, ia menatap begitu lekat hingga Ruma merasa risih. "Jangan menatapku seperti itu" dengus Ruma memalingkan wajah.
Rico tersenyum, jemarinya menyentuh wajah Ruma dan membuat manik jernih itu kembali menatapnya. "Harus aku akui Ruma-ku tersayang, aku tidak bisa jauh darimu. Aku terpaksa mempercepat urusanku disana, hanya demi melihatmu dan ingin berduaan bersamamu" Rico mencium kedua pipi Ruma yang terasa panas.
"Tunggu dulu" Ruma menghentikan keinginan Rico untuk mencium bibirnya. "Lelaki itu--benar dia adikmu?" tanyanya masih dengan rasa penasaran yang sama.
Rico menempelkan keningnya pada kening Ruma, ia memejamkan matanya sambil mengingat sosok adik yang beberapa saat lalu sudah pergi. "Bisakah kita bercinta lebih dulu? Tubuhku sekarat Ruma. Aku butuh pasokan energi baru untuk menjawab pertanyaanmu"
Blussshh. Tubuh Ruma meremang seketika. Ia memperhatikan wajah lelaki tampan yang masih memejamkan mata di hadapannya. Kening Rico terasa hangat di kening Ruma. Lalu lelaki itu mengecup berulang bibir tipis Ruma. Ruma memilih diam dalam suasana romantis yang tercipta diantara keduanya.
Rico kembali membuka mata. Kebingungan yang malu-malu dari wajah berseri wanitanya menjadi salah satu penghiburan yang paling ia suka. Tangannya membelai punggung Ruma, ia merundukkan kepalanya demi mendekatkan bibirnya pada telinga Ruma. Sambil mengecup singkat cuping Ruma, Rico membisikkan kata-kata yang membuat tubuh Ruma meremang sepenuhnya.
"Aku menginginkanmu, Ruma ... Mari kita lakukan sekarang" Rico memeluk Ruma erat sebelum kemudian ia mengangkat tubuh mungil itu ala bridal.
Rico memandangi Ruma dalam setiap langkah lebarnya menuju tempat tidur. Meletakkan tubuh lembut itu disana, lalu berdiri di samping dan mulai melepas pakaiannya. Ruma memalingkan wajah dengan pipi bersemu merah ketika lelaki di dekatnya memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang liat. Ia menyamping berlawanan arah dengan posisi Rico, membuat kedutan di sudut bibir lelaki itu terlihat jelas.
Rico naik ke atas tempat tidur dan ia tidak ingin Ruma membelakanginya. Tangannya menarik bahu Ruma, hingga telentang. Rico langsung menindih tubuh mungil itu dengan tubuhnya. Tatapan matanya sepenuh gairah sang raja pada ratunya. Ia menyusurkan ibu jarinya di permukaan bibir Ruma sebelum ia melesakkan bongkahan bibirnya diantara bibir Ruma yang lembab.
Tubuh Ruma menegang. Ciuman panas dengan tangan-tangan kasar yang merayapi tubuhnya membuat pikirannya kosong. Lidah Rico menyelinap menemui lidahnya lalu membelit dengan tak sabar. Ruma bahkan mencium aroma kopi yang samar dari mulut lelaki itu. Nafas Ruma mulai tidak beraturan ketika jemari Rico berhasil membuka kancing pakaiannya. Lelaki itu membuang sembarang baju Ruma tanpa melepaskan bibir Ruma dari kungkungannya.
Kehangatan tubuh Ruma membakar gairah Rico semakin terpacu. Lelaki itu semakin liar ketika penciumannya menghirup dengan serakah aroma bunga dari tubuh Ruma. Aroma itu membiusnya, menggodanya untuk terus melanjutkan sesi pemanasan dengan cara yang vulgar. Ia melepas sejenak ciuman itu. Menegakkan tubuhnya di atas Ruma, memandang keseluruhan tubuh setengah telanjang dengan payudara menyembul ke atas berkat himpitan bra maroon yang seksi. Oh Tuhan, Rico kehabisan kata untuk menggambarkan keindahan Ruma. Lelaki itu merundukkan kepalanya. Dan ya! Tidak ada yang lebih menggoda daripada payudara kenyal yang siap untuk ia jelajahi.
Ruma mengerang. Desahan samar keluar tanpa ia sadari. Astaga! Lidah Rico terlalu panas--dan basah. Tubuh Ruma gemetar ketika satu hisapan lembut ia rasakan di bukit kembarnya. Tarikan nafasnya memburu oleh gairah erotis yang mulai membanjiri aliran darahnya. Rico memang gila! Lelaki itu membuat tubuh Ruma tidak bisa menolaknya.
Lelaki tampan itu semakin turun kebawah. Bibirnya menyusuri perut rata Ruma yang terasa lembut, sementara jemarinya lincah melucuti celana jeans yang masih membalut kaki jenjang Ruma.
"Rico" Ruma membisikkan nama Rico di tengah sensasi vulgar mendebarkan yang ia rasakan.
Ruma meremas rambut lelaki itu saat sapuan dari bibir panas Rico terasa di area bawah sana. Ia tahu jika tubuhnya terlampau siap untuk menerima hujanan birahi yang sebentar lagi akan Rico berikan. Rico melimpahi Ruma dengan ciuman dalam yang memabukkan--sebelum tekad sekuat baja untuk membenamkan diri di dasar kenikmatan tubuh Ruma, ia lakukan dengan cara yang menakjubkan.
Aroma percintaan yang panas membara mengudara di kamar itu. Satu hentakan kuat membuat keduanya saling berpelukan dengan tubuh berkeringat. Nafas keduanya memburu mencari oksigen yang hampir habis akibat sesi erotis yang mereka lakukan tanpa jeda. Rico berguling kearah samping tubuh Ruma. Ia menarik tubuh letih wanitanya agar merapat dengan tubuhnya.
Matahari masih bersinar terang kala itu, namun jiwa-jiwa letih yang telah terpuaskan memilih mengulur waktu dengan memejamkan mata sesaat. Hanya sesaat.
🍁🍁🍁
bbrp kalimat yg digunakan memabukkan berasa baca karya sastra 👌
mksh Author
tetap semangat berkarya ✒️📱
tp aku heran dg algoritma noveltoon ini, knp novel2 receh yg alur ga jelas arahnya mau kemana dan blundet ga masuk akal justru bisa di up, sdngkan novel yg rata2 bagus sprti ini justru ga di up.
krn sblm aku baca aku paasti lihat dulu komen2 jika ada 1 komen yg buruk sdh pasti alurnya emng buruk. tp dikomen ini baik dan menarik jd aku baca.
sejauh ini masih suka sih, semangat thor meski ga trending yg penting ttep berkarya