Terbangun di kamar hotel, Fela syok setengah mati saat membaca KTP yang terjatuh dari dompet pria di sampingnya. Dia masih anak SMA!
Fela langsung kabur ketakutan demi menyelamatkan reputasinya.
Namun dunia Fela berantakan saat Kenzo, si anak SMA itu tiba-tiba masuk ke kantor periklanannya sebagai anak magang baru.
Di depan rekan kerja, Kenzo adalah asisten yang sopan. Tapi di balik pintu ruang rapat, dia adalah berondong posesif yang siap menjerat Fela kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 22 Meluapkan emosi
Suasana dalam ruang kubus tampak padat karena banyak orang.
Mereka bertiga berdiri berjejer di depan meja kerja, membuat ruangan yang tidak terlalu luas itu terasa semakin sempit. Fela duduk di kursi kerjanya, melipat tangan di atas meja, lalu menatap anggotanya satu persatu dengan tatapan tenang.
"Aku minta maaf soal draft yang aku hapus tadi di ruang rapat."
Semua tidak menyangka ternyata manajer Fela malah membahas kata maaf. Siska yang tadinya sudah bersiap untuk didebat, langsung terdiam dengan mulut sedikit terbuka. Bimo pun urung melipat tangannya karena terkejut dengan kerendahan hati atasan mereka tersebut.
"Aku seharusnya bertanya dulu pada kalian sebelum melakukannya. Mungkin saja ada sedikit ide dari darft itu yang bisa di tuangkan dalam draft baru. Atau perlu di otak-atik sedikit untuk hasil yang baru." Fela menjeda kalimatnya.
Ia memperbaiki posisi duduknya, menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan penjelasan agar emosinya tetap terkontrol dengan baik di depan tim.
"Kita memang belum mengeksplor draft itu lebih banyak seperti yang kita lakukan sebelumnya. Kalian tahu sendiri bagaimana direktur W corp sekarang, menurutku draft itu pasti tetap dibuang." Fela biacara ini dengan nada tegas. "Direktur W corp tetap akan minta draft baru entah itu bagus atau tidak."
"Intinya orang itu ingin kita terus buat ide baru hingga moodnya baik, ya, manajer?" tanya Bimo paham.
Siska dan Mirin melirik. Takut Manajer malah marah kalau menyela. Mereka berdua sempat menahan napas, khawatir kalimat blak-blakan Bimo akan menyinggung profesionalitas Fela yang memimpin proyek ini.
Benar. Dia akan terus begitu hingga membuatku lelah, batin Fela. Namun tidak mungkin dia mengatakan itu di depan anggotanya. Fela menelan ludah pahit, menyembunyikan kenyataan bahwa Dion melakukan semua kegilaan ini murni untuk menyiksa batinnya secara pribadi.
"Aku tidak begitu paham, tapi mungkin bahasanya begitu," kata Fela menanggapi kesimpulan yang dikatakan Bimo.
"Kan kesal sekali kalau direktur mereka begitu," ujar Siska mulai berani menggerutu. Siska mengerucutkan bibirnya, bahunya yang semula tegang kini merosot turun karena merasa mendapat lampu hijau untuk menumpahkan kejengkelannya.
"Pria itu songong sekali kan?" timpal Bimo yang sejak di ruang rapat ingin menghajar Direktur pemasaran W-corp itu. Bimo juga meluapkan sisa kemarahan yang sempat ia tahan di depan Rico tadi.
Mirin melirik. Ternyata Fela membiarkan emosi mereka keluar. Seperti sengaja memancing. Mirin memperhatikan wajah Fela yang tetap datar. Menyadari bahwa manajer mereka sengaja membiarkan ruang kubus ini menjadi tempat pelampiasan agar kekesalan tim kreatif tidak menumpuk dan mengganggu proses pembuatan draf yang baru nanti.
Fela tahu semua orang butuh pelampiasan. Jadi dia membiarkan anggota timnya ngomel resmi. Dia mendengarkan setiap keluhan Siska dan Bimo tanpa memotong. Memberikan waktu agar seluruh rasa frustrasi dari ruang rapat tadi benar-benar habis di dalam ruangan ini.
"Aku akan coba cari sampel diluar," kata Fela setelah emosi mereka selesai tersalurkan. "Karena aku sudah keliru, aku akan mencarinya sendiri dulu."
Semua terkejut. Mirin menatap Fela. Mengingatkan temannya apa ia sudah berpikir untuk bicara? Melalui tatapan matanya Mirin mencoba memberi isyarat agar Fela tidak mengambil keputusan impulsif lagi. Apalagi sampai harus berurusan langsung dengan Dion tanpa tameng dari tim.
"Kalian bisa melanjutkan sampel yang aku bawa untuk dikembangkan nanti." Fela melanjutkan, mengabaikan tatapan cemas dari Mirin yang duduk di dekat meja.
"Serius, manajer mau cari sendiri?" tanya Siska ragu juga tidak nyaman. Siska menatap Fela dengan rasa bersalah yang mendadak muncul, merasa tidak enak hati karena tadi sempat ikut menyalahkan manajernya atas penghapusan draf tersebut.
"Ya. Untuk menebus kesalahanku, aku akan mencarinya sendiri dulu." Fela mengatakannya dengan pasrah. Dia sudah bertekad. Untuk mengahadapi Dion dia harus turun sendiri.
Fela tahu bahwa Dion tidak akan melepaskannya begitu saja, dan melibatkan tim kreatif lebih dalam hanya akan membuat mereka menjadi korban dari dendam pribadi mantannya itu.
Dengan turun langsung mencari sampel baru, Fela berharap bisa membatasi ruang gerak Dion agar hanya menyerang dirinya saja, bukan hasil kerja keras seluruh tim Zeus.
Siska dan Bimo saling tatap. Lalu menyenggol lengan Mirin yang sejak tadi banyak diam ketika semua mengomel melampiaskan frustasi. Mereka berharap Mirin bisa membujuk Fela agar membatalkan niatnya mencari sampel itu sendirian. Karena bagaimanapun juga, proyek ini adalah tanggung jawab bersama.
Kepala Mirin menggeleng samar. Dia tidak tahu. Keputusan harus dibuat bersama. Mirin merasa tidak berhak membatalkan keputusan Fela di depan yang lain, meskipun dia adalah orang yang paling mengkhawatirkan kondisi batin temannya itu.
"Kita minta maaf juga manajer. Sepertinya kita tadi agak menyebalkan," ujar Siska tiba-tiba.
Mirin paham kalau kedua orang itu memang kesal pada Fela. Dia pun juga. Namun tidak sampai hati jika harus membiarkan wanita di depan mereka ini menanggung semua beban sendirian di luar kantor.
Siska menundukkan kepalanya. Meremas ujung kemejanya dengan perasaan tidak enak.
Bimo yang biasanya keras kepala kini hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ikut merasa bersalah karena sudah sempat menaruh prasangka buruk pada keputusan Fela di ruang rapat tadi. Rasa kesal yang semula memenuhi benak mereka kini sepenuhnya berganti menjadi rasa sungkan yang besar.
"Kenapa minta maaf? Aku hanya ingin memberikan usaha yang terbaik untuk proyek ini. Karena klien kita begitu istimewa," ujar Fela memberi tekanan pada akhir kata.
Mendengar kata 'istimewa' yang diucapkan dengan nada dingin dan penuh penekanan itu, Mirin langsung mengerti maksud terselubung di baliknya. Mirin yang tahu berpikir itu sindiran tajam untuk Dion yang kini berstatus sebagai klien VIP mereka.
Namun berbeda dengan Siska dan Bimo. Mereka sedikit mengerti dalam artian lain. Istimewa disini karena pertemuan pertama saja sudah bikin huru hara dengan protes soal Kenzo. Kedua menolak draft dengan cara merendahkan.
Mereka mengira istilah 'istimewa' yang dipakai Fela adalah sarkasme untuk menggambarkan betapa merepotkan dan tidak tahunya Dion tentang etika kerja sama. Dan keduanya benar.
"Yah, klien kita sekarang sangat istimewa hingga rasanya mau menghajar saja." Bimo lagi-lagi ingat amarahnya. Bimo mendengus kasar sambil melipat kedua tangannya di depan dada, membayangkan kembali wajah angkuh Dion saat meremehkan kemampuan tim mereka di depan banyak orang tadi.
Siska menyenggol pelan lengan Bimo, memberi kode agar pria itu menjaga ucapannya karena mereka masih berada di dalam ruangan manajer. Fela sendiri hanya merespons ucapan Bimo dengan segaris senyum tipis.
"Tidak apa-apa, Siska. Bimo benar. Karena mereka sudah merendahkan tim kita," ujar Fela menerima omelan Bimo barusan.
Kalimat Fela itu seketika membuat Bimo dan Siska tertegun. Mereka tidak menyangka bahwa manajer mereka yang biasanya selalu menjaga batas profesionalitas dan etika di depan klien, kini justru secara terang-terangan berpihak pada kekesalan mereka dan membenarkan ucapan Bimo yang cukup kasar.
Mirin yang berdiri di paling belakang hanya bisa menghela napas pendek. Dia tahu kalimat Fela barusan bukan sekadar bentuk solidaritas sebagai pemimpin tim. Melainkan luapan rasa muak yang sudah mencapai batasnya terhadap perlakuan Dion.