Mencintai dan dicintai, memang menjadi harapan bagi setiap orang. Namun, bagi seorang Alexander Matthew harus selalu bisa dengan bijak untuk menyikapinya.
Hal yang paling sulit bagi Alex dalam mencintai yaitu memulainya. Terutama untuk membuka kembali hatinya setelah membereskan yang lama.
Pada akhirnya, hanya tiga hal yang berarti dalam hidup Alex yaitu seberapa banyak dia mencintai, seberapa lembut dia menjalani hidup, dan seberapa ikhlas dia melepaskan sesuatu yang tidak dimaksudkan untuknya.
Kini hati Alex pun berakhir pada satu wanita yang mampu membuat dia hanya ingin hidup bersamanya untuk selamanya.
"Meski banyak wanita di luar sana yang lebih baik, lebih cantik mungkin, atau lebih sexy, aku tidak peduli! Bagiku, hanya kamu wanita satu-satunya yang terbaik dari semua wanita di luar sana, dan hanya denganmu, aku ingin menghabiskan sisa hidupku!"
"Dasar gombal! Sejak kapan Tuan Muda sepertimu bisa berkata semanis ini?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intanpermata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBW #29
Amanda masih terjaga malam ini dan tidak bisa tidur. Mungkin karena tadi ia sudah ketiduran lumayan lama jadi malamnya, ia susah untuk tidur.
Selain itu, ia juga terus kepikiran dengan Alex, dengan sikapnya dan ucapannya tadi. "Kenapa Tuan Alex selalu baik kepadaku ya? Apa mungkin yang dikatakan Bibi itu benar? Kalau Tuan Alex menyukaiku?"
Amanda menghembuskan nafasnya kasar kemudian menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya.
Ia mencoba memejamkan matanya, memaksakan dirinya untuk tidur. Tapi tetap saja ia tidak bisa tidur.
"Kenapa aku masih belum ngantuk sih?" Gumam Amanda sambil berguling-guling di ranjangnya dibawah selimut hangat yang membungkus tubuh mungilnya seperti kepompong merasa frustasi.
Ia kemudian menyibak selimutnya dan bangkit duduk. "Jam segini pasti Riana, Meli dan Nina juga udah tidur! Huffff!" Gumamnya lagi sambil menjatuhkan punggungnya keranjang dan terbaring dengan menatap langit-langit kamarnya.
Tok Tok Tok!
Terdengar ada suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Amandan kembali bangkit dan duduk menatap kearah pintu. "Siapa yang mengetuk pintu?" Gumamnya pelan sambil terus menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat.
Tok Tok Tok!
Pintu kembali diketuk entah oleh siapa.
"Siapa?" Tanya Amanda pada si pengetuk pintu kamarnya tapi tidak terdengar jawaban dari luar.
Tok Tok Tok!
"Iya siapa?" Amanda kembali bertanya dengan mengeraskan suaranya. Lagi-lagi tidak dijawab oleh si pengetuk pintu.
"Siapa sih yang ngetuk-ngetuk pintu?" Gumamnya bertanya pada dirinya sendiri kemudian Amanda menurunkan kedua kakinya dan berjalan kearah pintu lalu membukanya.
"Euh? Nggak ada siapa-siapa." Gumamnya sambil melihat sekeliling ruangan didepan kamarnya yang hanya ada cahaya remang-remang dari lampu taman yang masuk melalui celah jendela dan sepi tidak ada orang didalam Villa.
Amanda melangkah pelan menelusuri ruangan dalam Villa sambil terus melihat ke sekeliling ruangan dalam Villa.
"Hihihihi."
"Hah! Siapa itu?" Amanda terkejut sambil menoleh saat mendengar ada suara wanita yang tertawa cekikikan dari ruangan yang berada didekat tangga.
Amanda melangkah perlahan mendekati ruangan tersebut yang tertutup rapat. Ia seperti mendengar ada suara dari dalam ruangan tersebut.
"Hiks..hiks..tolong."
"Siapa disana?" Amanda masih memaksa untuk memberanikan dirinya karena sangat penasaran.
Ia terus melangkah dengan pelan menuju sumber suara yang ia dengar. Amanda melangkah mendekat kearah ruangan tersebut. Saat ia mengulurkan tangannya ingin membuka knop pintu, ia merasa ragu dan menarik tangannya kembali.
Amanda mendekatkan telinganya ke pintu hingga menempel untuk memastikan bahwa suara tertawa dan tangisan minta tolong itu berasal dari ruangan tersebut.
Ia merasakan seluruh tubuhnya merinding saat mendengar suara tadi muncul kembali dari dalam ruangan tersebut. Suara rintihan seorang wanita yang kesakitan dan meminta tolong.
"Apa ada orang didalam?" Amanda bertanya dengan keras sambil mengetuk-ngetuk pintunya.
Saat ia mengetuk pintunya, tiba-tiba terdengar ada suara wanita yang tertawa seperti yang ia dengar tadi dan suaranya semakin keras.
Seketika Amanda merasakan sekujur tubuhnya dingin dan merinding. Ia menjadi semakin takut. Dan kini pikirannya kemana-mana. "Oh ya ampun! Apa ada hantu disini?" Gumamnya dengan wajah panik kemudian Amanda segera berbalik dan ingin berlari masuk kedalam kamarnya kembali.
'BUGH!'
"AAAAAA!"
Saat berbalik, Amanda menabrak sosok tinggi besar yang tidak terlihat wajahnya dan ia langsung berteriak kencang sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Alex sambil menekan tombol saklar di dinding dekat ia berdiri dan seluruh lampu diruangan tersebut menyala dengan sangat terang.
Mendengar suara Alex, Amanda langsung menurunkan tangannya dan menatap Alex.
"Tu-Tuan Alex? Aku..aku takut!" Ucap Amanda kemudian langsung memeluk Alex dengan tubuh yang terasa gemetar karena ketakutan.
Alex mengernyit dan mengusap-usap punggung Amanda untuk membuatnya tenang. Beberapa penjaga Villa yang mendengar suara teriakan dari dalam pun masuk.
"Tuan Muda, apa yang terjadi?" Tanya salah satu penjaga Villa pada Alex.
"Kalian periksa seluruh Villa ini!" Perintah Alex pada mereka.
"Baik Tuan Muda!" Jawab mereka serentak kemudian segera memeriksa seluruh dalam Villa juga diluar area Villa dengan berpencar.
"Apa yang membuatmu takut?" Tanya Alex sambil mengusap-usap punggung Amanda dengan lembut.
Amanda kemudian melepaskan pelukannya dan menoleh kearah ruangan yang tadi terdengar seperti ada suara wanita tertawa dan menangis minta tolong.
Amanda menunjuk kearah ruangan tersebut dengan tangan yang gemetar. "Di-disitu, aku tadi..mendengar..ada suara perempuan." Jawab Amanda sambil menunjuk kearah ruangan tersebut dengan suara yang juga terdengar gemetar.
Alex melangkah melewati Amanda dan menuju ruangan yang ditunjuk Amanda. Amanda hanya berdiri diam memperhatikan Alex dengan cemas.
Alex membuka ruangan tersebut namun ruangan tersebut terkunci. Ia pun teringat, saat pertama kali menempati Villa ini, ruangan ini memang tidak bisa dibuka.
Sang pemilik Villa yang sebelumnya juga pernah memberitau kepada Alex kalau pintu ruangan tersebut rusak dan tidak bisa dibuka. Alex juga lupa untuk menyuruh anak buahnya memperbaiki pintu ruangan tersebut. Karena kesibukannya selama ini dan ia juga sebelumnya memang jarang sekali pulang ke Villa.
Alex berbalik dan menghampiri Amanda kembali. "Kamu yakin mendengar suara dari dalam sana?" Tanya Alex yang merasa belum percaya.
"Iya Tuan, aku berani bersumpah kalau aku mendengar suara perempuan yang tertawa dan menangis minta tolong dari dalam sana!" Jawab Amanda dengan serius menatap Alex masih memperlihatkan wajahnya yang panik.
"Sejak awal aku membeli Villa ini, pintu kamar itu rusak dan tidak bisa dibuka. Aku lupa untuk menyuruh orang memperbaikinya." Ucap Alex memberi tau Amanda dan Amanda hanya diam mendengarkannya saja.
"sebaiknya kembalilah kekamarmu dan tidur! Ini sudah hampir pagi." Lanjut Alex sambil berbalik dan melangkah.
Amanda yang masih merasa ketakutan, ia menarik tangan Alex begitu saja. "Tuan tunggu!"
Alex menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Amanda. "Kamu tidak perlu takut! Itu hanya suara saja dan tidak akan membunuhmu!" Ucap Alex dengan sedikit mengulas senyum disudut bibirnya mengerti dengan wajah ketakutan Amanda.
Perlahan Amanda melepaskan tangannya yang memegangi tangan Alex dengan berat. Karena saat ini, ia benar-benar sedang merasa takut. Alex masih terus memperhatikan wajah Amanda.
"Kalau kamu takut, aku akan membangunkan Bibi untuk tidur denganmu." Ucap Alex merasa tidak tega melihat Amanda yang terlihat pucat karena ketakutan.
"Tidak Tuan!" Jawab Amanda dengan cepat.
"Aku baik-baik saja. Aku kekamar dulu." Lanjut Amanda kemudian melangah melewati Alex berjalan menunju kamarnya dengan berat dan sesekali menoleh kebelakang melihat Alex yang masih berdiri ditempatnya memperhatikannya.
Amanda memegang knop pintu kamarnya dan rasanya berat selalu untuk memutar knop pintunya. Rasa ketakutannya masih saja menghantui pikirannya. Dan ia terus teringat saat tadi ada yang mengetuk pintu kamarnya tapi saat ia membukanya, tidak ada siapa-siapa diluar.
Amanda kembali menoleh kebelakang untuk melihat Alex, tapi Alex sudah tidak terlihat lagi olehnya. "Euh? Dimana Tuan Alex?"
"Hufff..dia tega sekali sih ninggalin aku?" Gumam Amanda sambil menunduk memejamkan matanya dan rasanya ingin menangis.
"Cepat masuk! Apa mau tidur sambil berdiri didepan pintu?"
Amanda terlonjak kaget saat tiba-tiba mendengar suara Alex yang sangat dekat dengannya. Ternyata Alex sudah berdiri dibelakangnya. Amanda menghela nafasnya lega kemudian ia memutar knop pintu kamarnya, mendorong pintunya dan masuk diikuti Alex dibelakangnya.
...*****...