Novel ini merupakan kelanjutan cerita dari Novel Wanita Lucu Itu Istriku.
Marina merupakan gadis cantik, berambut ikal panjang, dan lemah lembut. Parasnya yang cantik membuat banyak kaum Adam menaruh hati padanya, tak terkecuali sahabatnya sendiri, yakni Daren. Pria blasteran Indo-Jerman itu sudah lama menyukai Marina. Namun, wanita itu tak peka terhadap cinta. Karena minimnya pengalaman dalam dunia percintaan.
Marina terkenal cukup pendiam, dia hanya bereaksi keras bila bertemu pria yang bernama Aljav. Pria itu selalu saja mengejeknya sebagai titisan body losion. Keduanya adalah anak dari dua pasang sahabat, yakni Alea dan Dina.
Sejak kecil hubungan mereka tak pernah akur. Namun, di tengah hubungan yang buruk itu, kedua orang tua Aljav justru menjodohkan Marina dan Aljav, meski tahu Marina sangat membenci pria tersebut. Sejujurnya ada alasan lain di balik perjodohan konyol itu. Apakah alasannya? dan bagaimanakah cara Aljav dan Marina mempertahankan rumah tangga mereka yang sering di warnai kesalahpahaman?
Saksikan kisahnya berikut ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suharni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode. 29. Ruang Penerbitan.
Marina duduk di samping Daren. Dia baru saja kembali dari ruang CEO. Namun, ada yang berbeda dari wanita cantik tersebut. Dia menjadi diam ketika otaknya terus mengingat kalimat Aljav yang seolah mengultimatum dirinya untuk tidak dekat dengan pria lain.
Marina melamun, pikirannya melayang seolah memflash back peristiwa dalam ruang Aljav tadi.
"Marina!" ucap Daren dengan suara yang mulai meninggi. Mengagetkan wanita tersebut.
"Ada apa? mengapa berteriak?" balas Marina.
"Aku berteriak karena kamu tidak mendengarku sejak tadi. Kamu lagi melamun?"
"Iya. Eh maksudku tidak," jawab Marina canggung.
Kening Daren berkerut heran. Mengapa sikap Marina berbeda? dia seperti sedang memikirkan sesuatu sejak dari ruang CEO. Apakah pria angkuh dan dingin itu menyakitinya lagi? pikir Daren.
"Marina, aku perhatikan sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu. Apa terjadi sesuatu di ruang CEO tadi? apakah pria angkuh itu menyakitimu lagi? atau dia mengancam akan memberikanmu nilai jelek?" tanya Daren secara beruntun.
"Aku baik-baik saja Daren. Kamu tidak perlu cemas," balas Marina.
"Tapi mengapa kamu sepertinya berubah sejak dari ruang CEO?" tanya Daren penasaran.
"Tidak terjadi apa-apa di ruang CEO Daren. Aku hanya sedang memikirkan buku yang aku revisi tadi sudah benar atau belum. Karena kalau masih ada kesalahan dalam penulisan, maka aku bisa kena marah. Kamu tahu sendiri kan bagaimana sifat dari Tuan Aljav?" terang Marina sedikit berbohong.
"Tuan Aljav itu memang sangat sombong. Dia selalu berbuat sesuka hati," kesal Daren.
"Sudahlah. Sebaiknya kita selesaikan pekerjaan ini. Masih ada 28 buku yang harus aku revisi," ujar Marina seakan mengalihkan pembicaraan. Entah mengapa dia sedikit tak suka dengan ucapan Daren yang menyudutkan Aljav, suaminya.
Marina sadar, bahwa Daren masih belum mengetahui jika dirinya dan pria yang dia sebut angkuh itu adalah suaminya. Entah sampai kapan fakta itu akan di tutupi. Marina juga tak berniat untuk memberitahu seluruh karyawan perusahaan. Akan banyak polemik yang terjadi jika sampai pernikahan mereka di ketahui oleh seluruh karyawan perusahaan tersebut. Belum lagi keberadaannya di perusahaan itu mengundang banyak masalah. Bukan hanya Jamila si wanita bar-bar, tetapi hampir semua karyawan wanita lainnya tak menyukai Marina. Terlebih lagi pernah sekali Aljav dengan terbuka mengajak Marina untuk pulang bersama di depan seluruh karyawan. Itulah awal dari kebencian sebagai besar karyawan wanita kepada Marina.
"Aku ke ruang penerbitan dulu. Buku ini sudah selesai aku revisi kemarin, dan tinggal di terbitkan saja," ucap Marina seraya menunjukkan naskah buku yang akan di terbitkan.
"Baiklah, semoga sukses," balas Daren tulus.
**
Di ruang penerbitan, ternyata ada juga Jamila si wanita bar-bar. Dia sedang mengantar naskah buku yang akan di terbitkan sama seperti Marina. Namun, tatapan tajam Jamila membuat bulu kuduk Marina bergidik ngeri. Entah mengapa dia merasa tidak nyaman ketika menatap mata Jamila. Seperti gemercik kebencian pada Marina selalu terpatri dalam hati wanita tersebut.
"Permisi pak, ini naskah buku yang akan di terbitkan hari ini. Tadi saya sudah memberikan laporan untuk Tuan Aljav. Beliau sudah menandatanganinya," terang Marina pada Pak Taufik yang merupakan kepala penerbitan.
"Baiklah, terimakasih Nona Marina," balas Pak Taufik tulus.
"Sama-sama Pak, permisi."
Marina pergi meninggalkan ruang penerbitan itu. Lalu kemudian di susul oleh Jamila. Baru juga lima langkah Marina keluar dari ruangan penerbitan, Jamila menarik tangan wanita tersebut dengan cukup kasar, hingga hampir terjatuh jika saja pertanahan tubuh Marina lengah.
"Tunggu wanita penggoda!"
Mata Marina membulat seakan ingin melompat ke lantai. Ada apa dengan Jamila? mengapa tatapan matanya selalu saja menggambarkan kebencian? padahal Marina tidak pernah merebut apapun dari wanita berbibir tebal tersebut.
"Apa tadi kamu sedang merayu Tuan Aljav di ruangannya? aku benarkan? kamu pasti merayu Tuan Aljav. Dasar wanita murahan!" cibir Jamila.
Mata Marina mulai berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya harga dirinya di permalukan. Apa salah Marina sampai Jamila harus menjatuhkan harga diri wanita tersebut?
"Cukup Nona Jamila! Anda sudah keterlaluan!" tandas Marina seraya menghempas tangan Jamila.
Jamila menjadi semakin berang. Diar menampar pipi Marina cukup keras, hingga sudut bibir wanita tersebut terluka.
Plak!
Marina memegang pipinya yang terasa nyeri.
"Itu balasan untuk wanita yang berani mengganggu gebetanku, dan sudah berani melawanku. Jika kamu masih berani menggangu Tuan Aljav lagi, aku pastikan kamu akan di keluarkan dari perusahaan ini. Paham kamu?!"
Jamila pergi meninggalkan Marina dengan menitip sebuah ancaman yang tak main-main. Jamila memang bersungguh-sungguh ingin membuat Marina di pecat dari perusahaan tersebut. Entah apa yang membuat wanita bar-bar itu sangat membenci Marina. Padahal mereka tak pernah terlibat skandal apapun.
Air mata Marina jatuh akibat perih yang terasa. Pipi putih Marina berubah warna menjadi merah. Ada setetes darah yang keluar dari sudut bibirnya. Namun, wanita itu tak sadar jika sudut bibir tersebut terluka.
Marina menyeka air matanya, dan memasang wajah yang baik-baik saja seolah tak terjadi sesuatu. Beruntung tak seorangpun yang melihat peristiwa menyakitkan tadi, atau Marina akan merasa malu.
**
Marina kembali ke dalam ruangannya. Sementara Daren masih tak kemana-mana. Sedari tadi pria itu sibuk merevisi naskah buku yang harus di terbitkan lagi. Daren harus berbagi tugas pada Marina untuk merevisi buku. Namun, waktu pria itu berbeda dengan Marina. Dia harus menyelesaikan pekerjaan yang menguras energi itu dalam waktu sebulan, sedangkan Marina hampir setiap minggu mendapatkan pekerjaan baru.
Marina masuk dalam ruangan dengan kepala tertunduk. Dia tak berani menatap semua orang yang berada dalam ruangan tersebut. Seakan semua pandangan mata tertuju padanya.
Daren yang sedang sibuk merevisi buku, tak menyadari kondisi Marina. Jika saja pria itu melihat luka di sudut bibir Marina, maka dia pasti akan mencari siapa orang yang sudah berani melukai wanita pujaan hatinya tersebut.
"Marina, tolong bawa kembali laporan naskah ini ke ruangan CEO. Kita butuh beberapa tanda tangan beliau agar buku ini di terbitkan secara resmi," ucap Pak Ahmad yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Marina. Namun, ada sepasang mata yang memandang tak suka pada Marina sekali lagi. Siapa lagi kalau bukan Jamila? Wanita itu selalu berharap dirinyalah yang di tugaskan untuk mengantarkan laporan tersebut ke ruangan CEO, agar dia bisa menatap wajah tampan Aljav. Namun sayang, dia tak pernah mendapat kesempatan itu.
"Baik Pak," jawab Marina.
Sepeninggal Pak Ahmad, Marina pun langsung pergi membawakan laporan tersebut ke ruangan Aljav. Tanpa dia ketahui ada sesuatu yang sukses melukai hatinya disana. Apa itu? saksikan kisah selanjutnya ya readers.
Happy reading.
semangat selalu Thor 💪💪
di tunggu feedbacknya 🙏😊😘
salam dari "My Bos CEO" yuk semua kepoin kuy 🤗