Lima bulan sebelum pernikahan Rara dan Devan terlaksana, Rara memergoki tunangannya itu tengah berada di rumah saki bersama seorang perempua hamil, awalnya ia mengira itu saudara nya, namun kenyataan pahit harus terpaksa ia telan mengetahui bahwa wanita yabg bersamanya adalah istrinya, wanita yang dinikahi devan satu tahun yang lalu. Dunia Rara seakan berhenti detik itu juga, sakit tentu saja iya rasakan, kecewa apa lagi, Rara tidak tahu harus bagaimana lagi hidupnya tak lagi sma, Rara yang dulu periang kini berubah menjadi pendiam dan berkali kli masuk rumah sakit karena terlalu lelah karena pikirannya. Angga yang kebetulan menjadi dokter yang menangani Rara dan juga seorang sahabat dari Riri, kakak Rara berniat menjodohkan keduanya Angga tentu saja bahagia karena bagaimana pun ia memang sudah diam-diam menyimpan hati pada perempuan cantik pemilik cafe tempat dirinya makan siang di jam istirahatnya. Angga tidak ingin menyerah meskipun gadis itu tidak juga memberikan kepastian meski berkali-kali dirinya mengungkapkan perasaannya. Rara hnya tidak ingin menerima laki-laki itu di saat hatinya masih bersemayam laki-laki masa lalu yang telah menggoreskan luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga, hari pernikahan. Tepat pukul empat pagi Rara sudah bangun dari tidur nyenyaknya. Setelah melakukan peregangan dan cuci muka Rara keluar dari kamarnya dan turun menuju lantai bawah, dimana Banyak orang yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Rara tersenyum kagum melihat Rumahnya kini terlihat lebih indah dari pada semalam saat terakhir kali ia melihatnya, kini ruang utama dan halaman depan rumah itu sudah dipenuhi dengan dekorasi pernikahan yang begitu cantik, sesuai dengan yang diharapkan Rara.
Meskipun dirumah ini hanya akan dilaksanakan ijab qobul saja, tapi Rara dan keluarga tetap menghias Rumah agar terlihat cantik, karena tamu undangan juga lumayan banyak yang akan hadir menyaksikan acara ijab qobul ini terutama keluarga besar Angga dan juga Rara, sedangkan untuk resepsi digedung nanti malam mungkin akan lebih banyak dihadiri oleh sahabat-sahabat dari kedua mempelai.
“Cerah banget wajahnya, Dek,”ucap Bagas yang entah dari kapan sudah berdiri disamping Rara. Rara menatap kearah sang Papa dan tersenyum sangat manis lalu memeluk Papanya itu dengan erat.
“Adek gak nyangka kalau hari ini akan tiba juga. Pernikahan yang sudah lama Adek impikan, meskipun bukan dengan orang yang dulu menjadi alasan Adek memimpikan pernikahan seperti ini, tapi Adek tidak pernah menyesal dengan itu, Adek bahagia akan segera menikah dengan Kak Angga yang telah membangkitkan semangat Adek untuk mewujudkan ini semua,” ucap Rara dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.
“Papa bangga sama kamu. Meskipun dulu kamu sempat gagal menuju kejenjang ini, tapi kamu tidak terlalu lama larut dalam kesedihan atas kegagalan itu, kamu malah semakin semangat untuk mewujudkannya. Kamu perempuan yang kuat dan tegar, Nak. Papa selalu berdoa untuk kebahagian kamu, dan beberapa jam lagi kamu akan sah menjadi istri Angga, itu berarti tanggung jawab Papa akan sepenuhnya berpindah pada suamimu. Papa hanya meminta satu hal dari kamu, hormati dan patuhi suamimu, jadilah istri yang baik dan Shaleha. Meskipun kamu sudah akan menjadi seorang istri, tapi bagi Papa kamu akan selalu menjadi putri kecilnya Papa, jadi jangan pernah sungkan untuk bercerita ataupun meminta kepada Papa,” ucap Bagas memberi petuah kepada anak bungsunya itu yang sebentar lagi akan menjadi seorang istri. Rara menangis haru dalam pelukan sang Papa.
“Sudah Adzan Subuh, kamu Shalat dan siap-siap ya, sebentar lagi mungkin penata rias kamu akan tiba,” titah Bagas pada anaknya. Rara mengangguk patuh lalu melepaskan pelukannya dan mencium pipi kanan dan kiri sang Papa sebelum pergi menuju kamarnya.
Rara duduk di pinggiran kasur sudah mengenakan kebaya berwarna putih, wajahnya pun sudah selesai dirias, segala persiapan sudah selesai, tinggal menunggu kedatangan keluarga dari pihak laki-laki. Jam sudah menunjukan pukul Sembilan lebih empat puluh lima, itu berarti tinggal lima belas menit lagi akad akan dilaksanakan, tapi sampai sekarang pun rombongan Angga belum juga tampak, membuat Rara gelisah ditempatnya, sudah dari tiga puluh menit lalu Rara mengirim pesan kepada Angga, menanyakan keberadaan calon suaminya itu, namun sampai sekarang pun masih belum ada balasan juga membuat Rara semakin resah dan gelisah.
“Adek pasti gugup, ya?” Tanya Risa yang baru saja masuk kedalam kamar pengantin itu diikuti oleh Riri dari belakangnya.
“Ma rombongan Kak Angga belum datang juga?” tanya Rara, tanpa menjawab pertanyaan Risa terlebih dulu.
“Belum.” Jawab Riri seadanya.
“Kamu kenapa gelisa gitu?” Tanya Risa lagi.
“Adek takut,” jawab Rara jujur.
“Kamu yang tenang ya, rombongan dari calon suamimu sedang dalam perjalanan, mungkin sebentar lagi tiba.” Jawab Risa, mengelus lembut punggung putri bungsunya itu untuk menenangkannya.
“Dulu Kakak juga sama kayak kamu, Gugup, gelisah dan takut juga kakak Rasakan saat menjelang pernikahan. Bukan cuma kamu dan juga kakak, tapi juga mungkin semua pengantin merasakan hal yang sama, kamu hanya harus berdoa agar semuanya lancar tidak ada hambatan,” ucap Riri ikut menenangkan adik kesayangannya itu.
“Dek, jadilah istri yang baik dan Shaleha, layani suamimu dengan baik, dan jangan pernah membatah ucapan suamimu. Seorang suami adalah surga dan neraka bagi istrinya, maka jagalah rumah tanggamu dengan baik. Jika rumah tanggamu diguncang oleh masalah maka selesaikanlah dengan kepala dingin, bicarakan baik-baik dan jangan pernah malu untuk meminta maaf terlebih dahulu meskipun bukan kamu yang melakukan kesalahan.” Rara mendengarkan dengan seksama petuah-petuah yang diberikan sang Mama dengan mata berkaca-kaca, Rara memeluk Erat sang Mama sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali.
“Terima kasih Ma, Teima kasih atas kasih sayang yang telah Mama berikan untukku dari aku kecil hingga saat ini aku dewasa. Terima kasih karna telah menjadi ibu yang hebat untukku. Terima kasih Mama telah sudi merawat dan membesarkan aku, terima kasih untuk segalanya Ma. Maafkan aku yang belum bisa menjadi anak yang bisa membanggakanmu Ma, aku tak tahu harus dengan apa membalas semuanya. Aku bangga terlahir dari Rahim perempuan hebat seperti Mama,” ucap Rara tulus, sambil menatap lembut mata sang Mama yang sudah meneteskan air mata. Kini Rara menatap sang Kakak yang sedari tadi hanya memperhatikan Ibu dan Adiknya itu yang sama-sama menangis, meskipun ia sendiri merasakan haru dan sedih, tapi sebisa mungkin untuk tidak meneteskan air matanya di hari bahagia sang Adik kesayangannya itu. Rara menghampiri Kakaknya lalu memeluknya dengan erat lalu melepaskannya lagi dan menatap lembut sang Kakak.
“Kakak, terima kasih sudah menyayangiku, terima kasih karna sudah menjagaku disaat Mama dan Papa tidak ada. Maafkan aku selalu merepotkan Kakak, Kakak adalah Kakak terbaik dan terhebat bagi ku, aku sayang Kakak,” ucap Rara tulus, Riri yang sedari tadi sekuat tenaga menahan nangisnya tapi akhirnya air mata itu jatuh juga.
“Adek! Kakak susah payah nahan air mata dari tadi, kamu malah bikin Kakak terharu, jadinya nangis gini kan, make up Kakak jadi luntur nih!” protes Riri namun tetap memeluk erat adiknya itu.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu menghentikan suasana haru dalam kamar itu, ketiganya menengok kearah pintu yang terbuka dari luar, menampakan sosok perempuan paruh baya yang tidak lain adalah adik dari Risa yang berarti adalah Tante Rara Dan Riri.
“Loh-loh kok pada nangis gini, kenapa? Ayo perbaikin dulu make up kalian terutama kamu Ra, rombongan calon suamimu sudah datang dan akad akan segera dimulai,” ucapnya panik saat melihat air mata yang menetes melewati pipi sang pengantin itu.
Setelah selesai memperbaiki make up yang sedikit berantakan gara-gara menangis tadi, kini Rara dengan digandeng oleh Kakak dan juga Tantenya menuruni tangga satu persatu dengan langkah pelan dan anggun sedangkan sang Mama berjalan seorang diri didepannya. Saat kakinya menampaki tangga terakhir, matanya berpas-pasan dengan mata Angga yang kini tengah menatapnya tanpa berkedip, membuat Rara menjadi salah tingkah dibuatnya.
Rara duduk bersampingan dengan Angga yang berhadapan dengan sang Papa yang disampingnya ada bapak penghulu yang akan menikahkan Rara dengan Angga, dan tidak ketinggalan juga Ferdi dan adik dari Bagas yang akan menjadi saksi dari pihak Rara dengan ditemani saksi lainnya dari pihak Angga.
Rara tetap menundukan kepalanya mendengarkan petuah-petuah yang diucapkan Bapak penghulu, hingga Bagas menjabat tangan Angga dan merapalkan ijab qobul yang langsung dibalas oleh Angga dengan sekali tarikan napas tanpa kesalahan, membuat Rara dapat bernapas lega saat semua orang mengucapkan kata ‘SAH’ Rara langsung mendongakan wajahnya menatap kearah Angga yang ternyata juga sedang menatapnya dengan senyum lebar dibibirnya Rara membalas tersenyum dan tanpa terasa air matanya menetes saking bahagianya. Kini mereka sudah resmi menjadi pasangan yang sah menurut agama dan Negara dan tentunya sudah halal dimata Allah dan semua orang yang tengah hadir di acara ini.
Angga memasangkan cincin pernikahan dijari manis Rara dan begitupun sebaliknya, lalu Rara menciun tangan kanan Angga agak lama sambil mengucapkan doa didalam hatinya agar pernikahannya ini menjadi yang pertama dan terakhir untuk kedunya. Pernikahan yang selalu membuat keduanya bahagia dan selalu di Ridhoi oleh Allah. ini pertama kalinya Rara menciun tangan Angga dan akan menjadi kegiatan baru untuknya setiap hari.
Setelah Rara mencium tangan suaminya itu lalu Angga menangkup wajah cantik istrinya itu dengan kedua tangan lalu memcium kening sang istri dengan lembut dan penuh kasih sayang, tidak lupa membubuhkan do’a untuk kelancaran dan kebahagian istri dan keluarga kecilnya kelak.
Setelah selesai mendatangani surat-surat pernikahan, kini keduanya tengah istirahat diruang tamu ditemani oleh Riri, Ferdi beserta anaknya sedangkan orang tua Rara dan Angga beserta yang lainnya kini tengah asik bercengkrama sambil menikmati hidangan yang tersedia. Seperti yang pernah Reno katakan saat itu bahwa katring akan diatasi olehnya, dan ternyata ia membuktikan ucapannya, hidangan yang saat ini tersaji adalah hasil olahannya sendiri dengan dibantu oleh beberapa temannya sesama Chef, begitupun juga hidangan untuk nanti malam digedung semuanya adalah sebagai kado pernikahan darinya. Rara sangat berterima kasih kepada sepupunya itu karna sudah berbaik hati memasakan makanan yang enak-enak di acara bahagianya ini.
“Hai pengantin baru, ini makan dulu supaya gak lemas,” ucap Reno yang baru saja datang dengan membawa nampan berisi makanan untuk Angga dan Rara diikuti perempuan cantik yang mengekor dibelakangnya.
“Ren, kamu cuma ngambilin buat mereka berdua doang? Buat aku mana?” tanya Riri menunjuk kearah Rara dan Angga lalu menunjuk dirinya sendiri.
“Kamu ngambil sendiri aja sana, masih banyak kok. Didapur juga masih ada.” Jawab Reno santai lalu menyuruh perempuan yang sedari tadi mengekorinya untuk duduk di sofa sebelah Rara.
“Hai Sonya, apa kabar?” sapa Rara pada perempuan yang dibawa sepupunya itu.
“Hai juga Bu bos, Allhamdulilah saya baik.” Jawab Sonya kikuk.
“Manggilnya bisa biasa aja gak?” ucap Rara tak suka.
“Hehe, maaf kebiasaan soalnya.” Jawab Sonya cengengesan.
“Dia siapa Ra?” Tanya Riri.
“Oh ia ini Sonya, Assisten pribadi sang Chef di café aku, sekaligus calon istrinya Bang Reno.” Jawab Rara memperkenalkan Sonya kepada kakak dan juga suaminya. Semuanya menganguk mengerti sedangkan Sonya tertunduk malu.
“Oh iya, Reno! Kamu jadi sepupu pilih kasih banget sih? sama Rara aja perhatian banget, mana nikahannya kamu ngasih katring ini full sebagai kado pernikahan, nah pas nikahan aku boro-boro ngasih katring full gini, kado aja kamu gak ngasih.” Protes Riri purapura kesal, meskipun sebenarnya dia benar-benar kesal tapi dia tidak akan benar-benar mempersalahkan tentang hal ini.
“Eh siapa bilang aku gak ngasih kado pernikahan sama kamu, itu yang tiket honeymoon ke bali kalian siapa yang beliin?” tanya Reno yang tak terima dituduh pilih kasih oleh sepupunya itu.
“Emang itu dari kamu ya, Ren? Bukannya dari Om Benny sama Tante Laras?” Tanya Riri polos.
“Iya emang tu tiket dari Ayah sama Bunda.” Jawab polos Reno membuat Riri melotot tak percaya, dan melemparkan bantal sofa pada saudaranya itu. Ia kira bahwa tiket itu dari Reno yang diberikan oleh Om dan Tantenya sebagai kado pernikahan, namun ternya dugaannya salah, sedangkan Angga, Rara, Sonya dan Ferdi terkikik geli melihat kekesalan Riri.
“Tiket itu memang Bunda dan Ayah yang beliin buat kalian waktu itu, tapi penginapan selama seminggu itu aku yang bayarin sebagai kado pernikahan buat kalian, karena aku gak tahu mau kado apa. Tadinya aku mau beliin kalian tiket honeymoon ke jepang sebagai kado pernikahan tapi Bunda Sama Ayah keburu ngebeliin tiket ke bali, jadi ya udah akhirnya aku yang sewain penginapannya buat kalian.” Jelas Reno panjang lebar, Riri memicingkan matanya tak percaya, namun setelah melihat iris mata yang memperlihatkan kejujuran akhirnya membuat Rir percayai.
“Terus kenapa gak di jadiin aja tiket ke jepangnya? Kenapa malah pindah jadi kepenginapan?” Tanya Riri penasaran.
“Ya karena kalian udah dapet tiket bulan madunya, jadi ya udah aku gak jadi beli tiketnya dan akhirnya sewa penginapan untuk kalian, kan gak mungkin kalian bulan madu di pinggir pantai.” Jawab Reno santai, membuat Riri mendengus kesal.
“Abang, terus sama Adek, Abang mau ngasih tiket kemana?” Tanya Rara penuh harap sekaligus penasaran.
“Abang gak akan ngasih kamu tiket kemana pun, sayang.” jawab Reni lebut namun dengan penekanan, membuat Rara seketika cemberut.
“Yah padahal Adek berharap, Abang bakalan ngasih Adek tiket ke Jepang, ke Paris, ke Praha atau ke Korea git,?” gumam Rara lesu, membuat Reno terkekeh.
“Maaf ya, Abang gak akan beliin kamu tiket kemanapun, karena untuk katring ini saja Abang udah habis banyak uang buat kamu. Tiketnya kamu minta sama yang lain saja ya,” ucap Reno masih dengan kekehannya yang juga diikuti Angga dan Ferdi yang juga terkekeh melihat Rara yang cemberut.
paling suka liat matahari terbenam
eeeeeaaaa 😁
tuh ortu Devan gk setuju sm Rara atau gmn sich, kok bisa"nya baru seminggu tunangan mlh di jodohkan sm orang lain, dan Devan jg harusnya tuh bicara sm keluarga Rara dr awal gk jadi cowok pengecut kayak gitu, masak dh nikah setahun msh ada rencana nikah sm Rara 😤