Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga Puluh Dua
Pagi hari di rumah Farhan.
Aroma nasi goreng buatan Mama Meri memenuhi ruang makan besar itu. Wanita paruh baya itu terlihat sibuk menata beberapa lauk tambahan di meja sambil sesekali tersenyum sendiri.
Sudah lama ia tidak menginap di rumah putranya. Dan pagi ini, entah kenapa suasana hatinya sangat baik.
Farhan yang baru selesai mandi berjalan menuju meja makan dengan kemeja kerja yang masih terbuka di bagian lengan. Rambutnya masih sedikit basah.
“Wah, harum banget, Ma,” ucapnya sambil menarik kursi.
Mama Meri mendengus kecil. “Ya jelas harum. Mama yang masak.” Farhan tertawa pelan lalu mulai mengambil nasi goreng ke piringnya.
“Chika belum bangun?”
“Belum. Mungkin capek.”
Farhan hanya mengangguk kecil lalu mulai makan. Beberapa menit kemudian, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Chika muncul dengan piyama satin berwarna krem. Rambutnya masih sedikit berantakan, wajahnya terlihat pucat.
Mama Meri langsung tersenyum lebar. “Nah, ini dia menantu kesayangan mama.”
Chika tersenyum tipis. “Pagi, Ma. Pagi, Mas.”
“Pagi,” jawab Farhan singkat sambil tetap makan.
Chika berjalan mendekat lalu duduk di kursi sebelah Farhan. Namun baru saja aroma nasi goreng itu tercium jelas, wajahnya langsung berubah sedikit meringis. Ia spontan menutup hidung pelan.
Mama Meri yang melihat itu langsung mengernyit. “Lho? Kenapa?”
Chika menggeleng cepat. “Nggak apa-apa, Ma.”
“Terus kok malah pasang muka begitu?”
Chika menatap nasi goreng di meja beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Aku lagi nggak selera makan nasi goreng.”
Farhan menoleh sekilas. Mama Meri terlihat heran. “Tumben. Kamu kan biasanya suka.”
Chika menarik napas kecil. “Nggak tahu kenapa … tiga hari ini aku kurang selera makan.”
“Hah?” Mama Meri langsung fokus penuh. “Terus maunya makan apa?”
Chika menjawab pelan sambil memainkan ujung bajunya. “Pengen buah yang asem-asem aja.”
Hening sesaat. Lalu perlahan, senyum Mama Meri melebar. Tatapannya berubah penuh arti.
Wanita itu langsung berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati Chika dengan wajah berbinar.
“Ya ampun …,” gumamnya pelan.
Chika mengangkat wajah bingung saat Mama Meri tiba-tiba memeluk bahunya penuh antusias.
“Chika … jangan-jangan kamu hamil?”
Kalimat itu membuat Farhan yang sedang menyuap makanan langsung berhenti. Sendok di tangannya menggantung di udara. Ia menatap istrinya cepat.
“Ha?” gumam Farhan.
Sementara Chika terlihat sedikit kaku. “A-ah, belum tentu juga, Ma,” jawabnya berusaha santai.
Namun Mama Meri justru makin yakin. “Mama perempuan, Mama tahu tanda-tandanya!” ucapnya semangat. “Mual, nggak nafsu makan, maunya yang asem, itu ciri-ciri banget!”
Farhan mulai memperhatikan wajah Chika lebih serius. “Memang kamu akhir-akhir ini gampang capek,” ucapnya pelan.
Chika tersenyum kecil, meski jantungnya mulai berdetak tidak karuan. Di balik wajah tenangnya, pikirannya kacau. Tangannya mengepal pelan di bawah meja.
“Aku harap benar hamil …,” batinnya. “Kalau aku benar-benar hamil, pernikahan ini aman.”
Napasnya sedikit tercekat. Kembali ia bergumam dalam hati. “Farhan nggak boleh tahu kalau dia sebenarnya mandul .…”
Chika menunduk cepat agar ekspresinya tidak terlihat. Ia sendiri masih tidak menyangka hubungan terlarangnya dengan Alex ternyata membuahkan hasil secepat ini.
Sudah beberapa hari ia curiga karena tubuhnya terasa berbeda. Tapi ia belum berani memeriksakan diri. Dan sekarang Mama Meri justru menyadarinya lebih dulu. Mama Meri kembali duduk dengan wajah penuh kebahagiaan.
“Mama yakin kamu pasti hamil,” ucap Mama mantap. Lalu tanpa sadar, wanita itu berkata dengan nada puas, “Farhan memang tokcer.”
Farhan langsung batuk kecil mendengar ucapan ibunya. "Ma .…”
“Apaan malu-malu,” lanjut Mama Meri santai. “Sudah Mama bilang dari dulu yang mandul itu mantan istrimu, Hana.”
Nama itu membuat suasana berubah sepersekian detik. Farhan diam. Sementara Chika hanya pura-pura tersenyum tipis.
Mama Meri melanjutkan tanpa merasa bersalah sedikit pun. “Lihat Chika. Baru nikah dua bulan saja sudah langsung isi.”
Farhan menunduk menatap piringnya beberapa saat. Entah kenapa, mendengar nama Hana pagi ini membuat pikirannya sedikit terusik.
Namun ia buru-buru mengabaikannya. Tidak mungkin ada yang salah. Dokter dulu memang mengatakan Hana sulit hamil. Dan sekarang Chika mungkin benar-benar mengandung anaknya.
Pikiran itu perlahan membuat sudut bibirnya terangkat. Mama Meri sudah tidak bisa duduk tenang lagi.
“Pokoknya kita harus ke dokter hari ini!”
“Ma, nanti aja—”
“Nggak bisa nanti!” potong Mama Meri cepat. “Mama sudah nggak sabar mau dengar kabar baik.”
Ia langsung menoleh pada Farhan. “Kamu jangan ke kantor dulu.”
Farhan menghela napas kecil. “Aku ada meeting penting, Ma.”
“Meeting bisa ditunda. Calon anakmu lebih penting.”
Chika diam-diam menelan ludah. Dadanya mulai sesak. Namun di sisi lain ada rasa lega. Kalau hasilnya benar positif, semuanya akan aman. Tak akan ada yang mencurigainya lagi.
Farhan akhirnya menyerah. “Iya, iya.” Mama Meri langsung tersenyum puas.
Satu jam kemudian mereka bertiga sudah berada di rumah sakit. Mama Meri tampak paling bersemangat di antara semuanya. Bahkan sejak turun dari mobil, wanita itu terus bicara tentang nama bayi, kamar bayi, sampai ingin belanja perlengkapan cucu.
“Kalau perempuan lucu juga,” ucapnya sambil berjalan.
“Kalau laki-laki juga bagus,” timpal Farhan.
Chika hanya tersenyum kecil sambil memegang tasnya erat. Tangannya dingin. Semakin dekat dengan ruang pemeriksaan, semakin besar rasa gugupnya.
Bagaimana kalau ternyata tidak hamil? Bagaimana kalau semua ini hanya dugaannya saja?
Mereka masuk ke ruang dokter kandungan. Dokter wanita itu menyambut ramah. “Silakan duduk. Ada keluhan apa?”
Mama Meri yang malah paling semangat menjawab.
“Dok, menantu saya kemungkinan hamil.”
Dokter tersenyum kecil lalu mulai bertanya beberapa hal pada Chika. Setelah mendengar penjelasannya, dokter mengangguk.
“Kita coba tes dulu ya, Bu.”
Chika diminta melakukan tespek terlebih dahulu. Beberapa menit terasa sangat lama.
Farhan duduk sambil memainkan jemarinya. Untuk pertama kalinya sejak menikah dengan Chika, ia terlihat benar-benar tegang. Sementara Mama Meri terus tersenyum tidak sabar.
“Pasti positif,” gumamnya berkali-kali.
Tak lama kemudian dokter kembali masuk membawa hasil pemeriksaan. Chika refleks menahan napas. Farhan langsung berdiri.
“Bagaimana, Dok?” tanyanya cepat.
Dokter tersenyum hangat. “Selamat, Bu Chika.”
Kalimat itu membuat semuanya langsung terdiam.
“Kehamilannya positif.”
Mata Chika membesar karena terkejut. Farhan terlihat terpaku beberapa detik sebelum senyum perlahan muncul di wajahnya.
“Serius, Dok?” suaranya nyaris tak percaya.
Dokter mengangguk. “Usia kehamilannya sekitar empat minggu.”
Mama Meri langsung menutup mulutnya sendiri saking bahagianya. “Ya Tuhan … Mama jadi nenek!” Wanita itu hampir menangis bahagia.
Farhan menoleh pada Chika dengan mata berbinar. Ada rasa bangga dan bahagia yang begitu jelas di wajahnya.
Sementara Chika hanya bisa tersenyum pelan. Namun di balik senyum itu, jantungnya berdetak sangat keras. Karena hanya dia yang tahu, anak yang kini tumbuh di rahimnya bukan anak Farhan.