Pernikahan yang berdasarkan untuk menghindari kesalahpahaman, hingga membuatku terpaksa harus menerima pernikahan yang sama sekali tidak kuinginkan.
Pernikahan yang ku fikir akan menyelamatkan ku dari fitnah ternyata justru membuatku hidup dalam kesengsaraan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29. Rencana Bu Nirmala
"Sudah, Bu. Sebaiknya kita antar Mas Aldi ke ruangannya. Mereka mungkin salah orang." sahut Meisa yang menarik kembali tubuh Bu Nirmala ketika menyadari jika sang Ibu telah tertinggal di belakangnya bersama Naina.
Pak Wandi dan Bu Mita membiarkan mereka pergi dan memilih untuk mendampingi anaknya. Ruangan mereka ternyata satu ruangan karena Bu Mita sudah mengaturnya lebih dulu. Ia mempertimbangkan jika anaknya sadar pasti Rere akan meminta satu ruangan dengan suaminya itu.
Sesampainya di ruangan Meisa tak henti-hentinya menangisi suaminya, keadaan Aldi masih tak sadar hingga saat ini. "Mas Aldi, bangun Mas."
Kedua manik mata kini meloloskan terus tanpa henti buliran bening, kedua bahunya ikut bergetar. Meisa menangis tanpa suara terlihat jelas tangannya membungkam mulutnya. Ruangan terasa begitu mencekam. Di seberang sana terlihat juga kedua orangtua Rere yang tengah menangisi anak mereka. Untuk saat ini keduanya akur karena mengkhawatirkan Rere.
Bu Nirmala hanya bisa bersikap tenang mencoba menenangkan Meisa. "Mei, berdoalah Nak. Aldi akan sembuh. Percaya dengan Ibu."
"Bu, Meisa takut Bu. Mas Aldi sangat parah." Meisa menghambur ke dalam pelukan Bu Nirmala. Pelukan yang selalu mampu membuatnya kuat dan mereda, pelukan tulus seorang Ibu yang tiada duanya.
"Ibu tahu, sayang. Tuhan akan menyembuhkan Aldi yang penting berdoa."
"Mommy Mei, jangan nangis lagi. Naina yakin Om Aldi pasti sembuh kok." tutur bocah itu.
"Terimakasih yah, sayang." Meisa berusaha tersenyum meski air matanya terus berjatuhan bebas.
"Mei, sebaiknya kamu hubungi Aditya untuk memberi tahu Naina." pintah Bu Nirmala.
"Oh iya, Meisa hampir lupa, Bu."
"Ada apa sayang?" Meisa menatap Naina yang menarik tangannya di bawah sana saat Meisa hendak meraih ponselnya.
"Mommy tidak mau jika Naina temani di sini? sama seperti waktu kita jagain Daddy dulu?" tanya Naina.
"Sayang, kan sekarang Daddy sudah sembuh. Sebaiknya Naina pulang yah? Nanti Oma khawatir sama Naina di rumah."
"Tapi Naina mau di sini, Mommy. Naina mau jagain Mommy dari Tante itu. Tante itu pasti jahat." Naina melirik ke arah Rere dan kedua orangtuanya begitu pun dengan Meisa dan Bu Nirmala.
"Sayang, jangan bicara seperti itu yah." ucap Meisa mengusap rambut Naina lembut.
Ucapan Naina seakan hanya angin lewat saja bagi kedua pasangan suami istri itu. Mereka tampak acuh wajahnya saja terlihat sangat cuek. Tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.
"Papah, kalau Rere tahu janinnya tidak selamat bagaimana?" tanya Bu MIta cemas.
"Papah juga tidak tahu, Mah. Sebaiknya Mamah beritahu Rere nanti setelah semuanya membaik saja." sahut Pak Wandi setengah berbisik.
Meisa yang meraih ponselnya segera menghubungi Bu Rosa, karena memang nomor ponsel Aditya dia tidak memilikinya.
Telepon terhubung.
"Halo, Bu Rosa."
"Iya ada apa, Mei?" tanya Bu Rosa di seberang sana.
"Kami sekarang berada di rumah sakit, dan Naina terpaksa saya bawa Bu karena tadi sangat mendadak."
"Oh begitu. Yasudah nanti biar Aditya yang menjemput Naina yah."
"Baik, Bu Rosa."
Sambungan telepon pun terputus, kini Meisa kembali duduk di samping suaminya, ia terus mengusap peluh di wajah Aldi dengan penuh cintanya.
"Mas Aldi cepatlah sembuh. Kita harus menikmati masa hamil anak pertama kita, Mas. Ini impianku yang benar-benar aku ingin mencapainya saat ini kita bisa bersama merawat kehamilan ini dan menantikan kelahiran anak pertama kita." ucap Meisa dalam hatinya tanpa terasa air matanya menetes lagi.
Bu Nirmala yang selalu setia menemani anaknya terus mengusap punggung Meisa.
Waktu yang begitu cepat berlalu tanpa terasa kini langit yang terik telah berganti dengan mentari yang hampir terbenam. Langit yang biru telah berubah menjadi warna yang begitu indah kemerahan berpadu dengan kekuningan. Menandakan waktu malam mulai mendekat.
Beberapa kali Dokter dan suster sudah bergantian masuk ke ruang rawat Rere dan Adli untuk memeriksa perkembangan pasien mereka. Meisa yang sejak tadi masih setia berada di samping suaminya tak sekali pun genggaman tangannya lepas. Berharap kelopak mata yang tertutup rapat itu segera terbuka, namun hasilnya masih saja nihil hingga saat ini.
Sementara di seberang sana kedua pasangan suami istri yang baru saja akur kini kembali terdengar berdebat.
"Papah, kali ini saja yah?" Bu Mita terlihat memohon pada suaminya.
"Mah, Papah ada pertemuan dengan klien saat makan malam nanti. Setelah itu Papah akan segera kembali. Sekarang Mamah dulu yang menjaga Rere, Oke?"
"Tidak bisa, Pah. Mamah sudah ada janji. Kalau Mamah tidak datang bisa di coret nama Mamah dari arisan ini."
Keduanya terus berdebat merebutkan hak kebebasan mereka masing-masing yang di rebut oleh anak semata wayangnya itu. Bu Nirmala dan Nainan hanya menonton dari seberang sana dua orang yang saling mendorong untuk duduk di kursi.
Namun saat adegan dorong-dorongan keduanya melirik ke arah Bu Nirmala. Bu Mita pun mengembangkan senyuman ramahnya yang sejak tadi sudah terkubur dalam-dalam.
"Hei anda," panggilnya pada Bu Nirmala sembari melambaikan tangannya.
Bu Nirmala menoleh kekiri dan kekanan. "Saya?" tanyanya menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kemari." panggil Bu Mita.
"Nah, Papah pergi saja kalau mau. Tolong jaga anak saya. Saya titip yah, oh iya menantu kita sedang sakit jadi biar sekalian saya titip anak saya yah? Kalau ada kabar atau apa pun segera kabari saya, ini kartu nama saya."
"Tapi Pak, Bu-" Bu Nirmala sudah tidak bisa mengatakan apa pun, kedua pasangan suami istri itu sudah hilang secepat kilat.
"Dasar orangtua macam apa mereka itu? tunggu...apa tadi katanya? menantu kita? apa itu maksudnya Aldi?" seketika tekanan darah Bu Nirmala naik setelah mencerna perkataan mereka. Ia mengepal erat tangannya dan menggeretakkan giginya penuh kemarahan.
"Aldi, aku tidak habis pikir kamu bisa berlaku seperti itu. Kamu benar-benar telah mengambil jalan yang salah. Aku tidak akan membiarkan Meisa menderita karena mu lagi. Mulai sekarang. Akan aku pastikan kamu menyesal mulai hari ini juga."
Wajah wanita paruh baya itu tersenyum menyeringai, ia yang menatap Meisa dengan tatapan penuh artinya terkejut saat mendengar ketukan pintu dari luar.
Pintu terbuka dan melihatkan seorang pria tampan berdiri dengan penampilah sempurnanya mengembangkan senyuman yang begituh teduh. Aditya, pria itu adalah Aditya yang ingin menjemput Naina atas perintah dari Bu Rosa.
"Maaf, saya boleh masuk?" tanya Aditya yang merasa canggung karena Bu Nirmala sudah menatapnya sejak tadi tanpa berkata apa-apa sedangkan Meisa masih terus menatap sang suami.
"Daddy." sahut Naina yang segera memeluk paha pria itu.
"Sayang, sebentar yah. Daddy mau melihat Om Aldi dulu." ucap Aditya pelan.
Iya menggendong putrinya kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah Meisa dan Aldi. "Mei, apa yang terjadi?" tanya Aditya.
"Aditya, Mas Aldi kecelakaan saat perjalanan tadi." ucap Meisa kembali meneteskan air matanya.
Mata Aditya terarah pada seorang pasien yang di jaga oleh Bu Nirmala. "Lalu itu siapa, Mei?" tanya Aditya.
"Dia aku tidak tahu, mungkin wanita itu rekan kerjanya Mas Aldi." ucap Meisa dengan mata yang masih tetap menatap sang suami.
"Mei, yang sabar yah. Ingat ada anak yang harus kamu jaga di sana. Aku belikan makan yah? kamu pasti belum makan dengan ibu, kan?"
"Jangan Adit, aku tidak lapar. Sebaiknya kamu bawa Naina pulang saja dia pasti lelah dan kamu juga lelah. Aku dan Ibu bisa makan nanti kalau sudah lapar."
"Daddy, Naina mau temani Mommy, boleh yah?"
Terdengar percakapan mereka di seberang sana, Bu Nirmala yang masih terlihat menahan emosi rasanya ingin sekali mencekik leher menantu dan madu anaknya itu. "Ya Tuhan semoga aku bisa mengendalikan diriku sampai semuanya selesai. Andai aku tidak takut dosa dua manusia ini pasti akan aku lenyapkan saat ini juga. Ya Tuhan semoga imanku kuat. Meisa tidak boleh tahu untuk sementara ini, dia sedang hamil ini bahaya, tapi..."
Sungguh keadaan membuat Bu Nirmala menjadi serba salah.
"Oh iya Nak Aditya apa tidak keberatan jika menemani Meisa malam ini, Ibu rasanya pusing sekali."
"Nah kan Oma sakit Daddy, kita di sini saja yah."
Aditya yang mendengar penuturan anaknya itu tersenyum, tidak baik rasanya jika saat Meisa membutuhkan bantuannya tidak di terima. Sedangkan sewaktu dirinya koma, Meisa yang selalu merawatnya hingga tinggal di rumah sakit berminggu-minggu.
"Oke, kalau begitu Daddy ambil pakaian di mobil dulu yah? Daddy mau mandi rasanya gerah sekali."
"Bu Nirmala sebaiknya pulang di antar supir saya saja yah? saya akan menemani Meisa di sini."
Senyum mengembang seketika di wajah Bu Nirmala, satu misinya akan di mulai saat itu juga. "Wah terimakasih yah Nak Adit, Ibu pulang sekarang?" tanya Bu Nirmala.
"Iya Mari Bu, kita sama-sama keluarnya. Naina temani Mommy dulu yah. Daddy sebentar saja kok."
"Oke Daddy."
Aditya keluar bersama Bu Nirmala meninggalkan Meisa bersama anaknya di dalam sana.
***
Di sisi yang lain, Bimo terlihat baru selesai mandi. "Pah, kita makan malam yuk." ajak Diana mulai mengajak berdamai sang suami.
Tanpa menjawab Bimo segera memakai pakaian dan melangkahkan kakinya menuju ke ruang makan di ikuti dengan Diana. Entah sudah berapa lama keduanya sangat jarang saling tatap muka. Bimo sering menghabiskan waktunya untuk beristirahat sepulang kerja, sedangkan Diana sering kali menghilang tanpa kabar.
Makanan yang hangat terlihat sangat menggugah perut Bimo, Diana dengan senyum merekahnya melayani suami dengan bahagianya. Entah bagaimana hubungan mereka saat ini yang jelas keduanya memang teramat sulit untuk di pisahkan.
Diana dan Bimo masih saling mencintai, meski perasaan keduanya telah terisi orang luar masing-masing namun tetap saja yang namanya cinta sejati tidak akan bisa luntur dengan mudahnya.
Di sela-sela makan tiba-tiba ponsel Diana berdering, matanya melirik benda tipis itu bersamaan dengan lirikan Bimo.
"Papah makanlah." pintahnya dan segera berlalu dari meja makan.
lanjut baca lagi lah
semangat thor 💪