Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Status Vivian
Udara semakin sesak, ruangan yang tadinya panas, terasa membeku seketika.
Raynor melepas jasnya, lalu berjongkok perlahan di hadapan Vivian. Dengan lembut ia menyelimuti bahunya yang basah, menutupi noda kopi dan goresan di kulitnya.
Tangan besarnya menggenggam jemari Vivian erat, menuntunnya berdiri perlahan, menopang tubuhnya yang masih terasa lemah dan bergetar.
Tatapan kebencian semakin menyala. Melihat betapa spesialnya Vivian diperlakukan, semakin membuktikan jika tuduhan itu benar.
Seorang karyawan senior berambut ikal maju dengan sangat yakin. Tangannya begitu berani menunjuk wajah Vivian yang semakin mengenaskan.
"Maaf tuan, dia yang membuat keributan di sini, dia yang membuat kekacauan" ucapnya dengan bangga. Raynor menatap wanita itu sekilas, lantas menatap Vivian dalam dekapannya.
"Benar-benar lancang" ucap Raynor murka. pandangannya menyapu semua orang yang menunduk.
Wanita berambut ikal kembali bersuara dengan lantang. "Tuan, Vivian itu gadis penggoda. tolong bersikaplah adil, jangan karena anda sudah terpikat padanya jadi anda membelanya sampai menyalahi aturan yang dibuat sendiri..."
Ketegangan merambat menyeluruh, tak terkecuali Renika yang tubuhnya mulai bergetar gelisah. "dasar bodoh, kamu menggali kuburanmu sendiri."
Raynor maju, menatap tajam wanita berambut ikal yang berbicara lancang, lantas pandangannya tertuju pada meja penuh coretan, dan potret Vivian bersama pria, ia tersenyum miring.
"Memangnya kenapa jika aku menyukai Vivian? Apa hak kalian melarangnya?" ucap Raynor tak kalah lantang. Suaranya menggema, membuat seluruh ruangan terdiam terkesima. Tak ada yang menyangka ia akan berbicara begitu terbuka.
Vivian mendongak tiba-tiba, matanya membelalak. Hatinya berdebar kencang. "Apa maksudnya ini? Kenapa aku jadi gugup?"
Di sudut ruangan, Bila diam-diam meremas ujung bajunya erat. Dadanya panas, iri bercampur amarah tak tertahan.
Namun kalimat selanjutnya membuat mereka semakin terkejut, bahkan panik.
"Foto ini?" Raynor mengangkat lembar foto yang tergeletak di meja. Potret dirinya tengah menuntun Vivian.
Tatapannya tajam, menyapu seluruh ruangan. Lalu berhenti tepat pada manik mata Renika, mengunci pandang padanya.
"Apa salahnya seorang kakak menyayangi dan menyukai adiknya sendiri? Dia adalah adikku. Vivian, adalah adikku. Dan aku menyukainya sebagai adik."
Kata-katanya tegas, jernih, tak terbantahkan. Semua orang terdiam, saling berpandangan dengan wajah menegang. Napas mereka seakan tertahan.
Dan di balik kerumunan, Bila mengepalkan kedua tangannya, semakin erat.
"Sial... kenapa semuanya terungkap secepat itu? Aku bahkan belum puas menikmati privilege ini ." Geramnya dalam hati. Ia diiming-imingi perlakuan istimewa jika mau bekerja sama dengan pura-pura menjadi adik sang CEO.
Pintu terbuka tiba-tiba , sosok Satria muncul dengan berlari terengah. Napasnya memburu, wajahnya pucat. Tanpa pikir panjang ia langsung melangkah mendekat, meletakkan kedua tangannya di bahu Vivian, mengguncang perlahan dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Ia melihat noda di gadis itu, kekasihnya yang selama ini tak pernah ia lindungi. Rambutnya basah, meneteskan cairan pekat ke bajunya. Matanya menggelap, memancarkan amarah tertahan, tapi tak sempat bertanya. Ini membuat kesatriaan Satria terasa tapi juga kelemahannya tak bisa cepat bertindak.
"Vivian, kamu tak apa?" tanyanya cemas. Sebelum gadis itu sempat menjawab, ia menariknya ke dalam pelukannya, sangat erat, tak peduli kotoran itu menempel di bajunya, tak peduli semua mata menghakiminya.
Raynor di sisinya hanya diam, namun tangannya mengepal di sisi tubuhnya melihat keberanian Satria.
Semua orang melotot, ternganga. Vivian sendiri terkejut, seketika mendorong pelukan itu menjauh. Ia menunduk cepat, berusaha tenang.
"Aku tidak apa-apa," ucapnya pelan, kebohongan yang terasa pahit di lidahnya.
Raynor melangkah mendekat di sisi satunya. Tanpa banyak bicara, ia memberi isyarat. Mereka bertiga melangkah keluar meninggalkan ruangan. Pintu tertutup di belakang mereka, menyisakan keheningan yang berat.
Di dalam ruangan yang sunyi, seribu pertanyaan kini melayang di kepala setiap orang.
Kalau hanya sekadar kakak-adik... mengapa terasa lebih dari itu? Lalu, apa hubungannya dengan Satria?
...****************...
Roda mobil berputar, melaju pelan membelah kemacetan. Kali ini Satria yang duduk di balik kemudi, jemarinya mencengkeram setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sesekali matanya melirik spion, mengawasi interaksi di kursi belakang.
Raynor duduk tegap, terlihat begitu sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia melirik gadis di sampingnya, memastikan keamanan dan kenyamanan tetap terjaga.
Vivian duduk memeluk diri sendiri dalam diam. Dadanya masih belum tenang, jantungnya berdebar kencang seakan belum berhenti berpacu sejak tadi.
Tangan kanannya menekan paksa agar debarannya berhenti, berusaha menenangkan, walau tak menghasilkan.
Jemarinya tanpa sadar meraba kain jas yang membalut bahunya, lalu meluncur turun meraba tepi kursi, jendela, mencari sesuatu yang bisa ia pegang agar merasa lebih tenang.
Raynor melihatnya. Tanpa menoleh penuh, tanpa suara, ia mengulurkan tangan kiri perlahan. Jemarinya menemukan tangan Vivian yang meraba-raba cemas, terasa dingin. Lalu menggenggamnya erat, memberi kelembutan, kehangatan, dan kenyamanan.
Vivian tersentak, lalu menoleh ke arahnya pelan. Tatapan mereka bertemu sejenak. Genggaman itu hangat, mantap, perlahan-lahan menenangkan detak jantungnya yang liar.
Napasnya teratur kembali. Ia membalas genggaman itu pelan, membiarkan dirinya bersandar sedikit pada kehadiran pria di sampingnya.
Di depan, di balik kursi kemudi, Satria melihat segalanya lewat cermin spion. Tatapannya tajam, cemburu membakar dadanya.
Ia terus melirik ke arah mereka, sekali, dua kali, berkali-kali, sampai pandangannya tak lagi fokus pada jalanan di depan. Fokusnya terbelah, tangannya tegang di atas setir. Mobil perlahan melenceng ke jalur berlawanan, mendekat ke arah truk yang datang melaju kencang...
Terdengar klakson panjang yang memekakkan telinga. Satria tersentak kaget, kesadarannya kembali seketika. Ia memutar setir dengan cepat ke samping, mobil berbelok tajam, ban berdecit keras di aspal, lalu kembali lurus, berhenti sedikit terguncang di tepi jalan.
Napasnya memburu, keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Hening sejenak, hanya suara napas mereka yang terdengar.
Vivian menatap punggung Satria dengan mata membelalak, masih terkejut. Tangan yang digenggam Raynor semakin erat.
Satria menelan ludah susah payah, memejamkan mata sejenak, lalu menarik napas panjang sebelum kembali melajukan mobil. Kali ini matanya terpaku lurus ke depan, tak berani lagi melirik ke belakang.
Sampai akhirnya mobil berhenti di halaman luas. Tanpa menunggu lama, Vivian turun cepat dan melangkah masuk. Meskipun dada masih terasa sedikit sesak, tapi rencana liburan tetap tidak akan dibatalkan.
Di kamarnya, ia langsung ke depan lemari. Sebelumnya sudah ada satu koper penuh baju yang disiapkan semalam.
Ia kembali mengemas beberapa barang penting lainnya. Tak banyak, hanya beberapa perlengkapan mandi dan buku catatan kecil kesukaannya. Tangannya bergerak cepat, rapi, seolah ingin menyelesaikan semuanya sesegera mungkin.
Setelah selesai semuanya, ia berbalik ke arah lemari kecil di sudut kamar. Jemarinya melunak membuka laci di dalamnya, kotak obat tersimpan rapi di balik tumpukan kain.
Ia mengambil satu butir, memegangnya lembut di telapak tangan. Matanya menatap obat itu lama-lama, seolah ada banyak yang ingin dikatakan padanya.
"Makasih ya... udah selalu temeni aku setiap saat yang sulit," bisiknya pelan, napasnya terengah. "Semoga suatu hari nanti... aku tidak membutuhkanmu lagi."
Ia membuka mulutnya, menelan obat itu pelan. Ketika hendak meraih segelas air, tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya pelan. Vivian terkejut, hampir tersedak karena obat yang masih di mulutnya. Dia langsung menelan habis, tenggorokan terasa sedikit terbakar.
Ia panik, tak ingin rahasianya tentang obat itu terbongkar. Wajahnya menunduk sejenak, menenangkan diri, lalu lambat-lambat menoleh ke belakang...