" Kenapa?"
Sebuah kata yang paling sering di gunakan untuk mempertanyakan banyak hal yang terjadi dalam hidup ini.
Seperti yang dialami oleh sepasang sejoli yang memulai hubungan dari keisengan saat masih duduk di bangku SMA.
Dan terus berlanjut meski hubungan tersebut tak pernah mendapat dukungan dari siapapun.
Hingga akhirnya mereka sampai di fase akan di bawa kemana hubungan mereka.
Jika Arya memilih untuk break sejenak , berbeda dengan Lia yang justru memilih mengakhirinya saja.
Arya lantas menyesal dan berusaha meyakinkan sang pujaan hati untuk mau kembali melanjutkan hubungan mereka lagi.
Arya bahkan mengajak Lia menikah.
Tapi dengan tegas Lia menolak.
Arya tak menyerah. Berulang kali ia mencoba dan selalu saja ditolak . Namun Lia tetap pada pendiriannya.Ia tak mau.
Akankah Arya berhasil membuat Lia kembali dan menjadi jodohnya ?
Akan ada banyak cerita tentang tokoh lainnya.
Dan mereka semua akan saling berhubungan satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thata Embem, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama aku
🌺 hem... 🌺
* * *
Yona sampai di hotel tempat dimana Lia bekerja.
Usai memarkirkan kendaraan roda duanya, ia pun segera menuju lobby dan langsung menghampiri meja resepsionis.
Disaat bersamaan, tampak Alex yang juga baru saja datang memasuki lobby. Ia berjalan dengan langkah cepat menuju menuju lift.
Alex sebenarnya sudah pulang kerumah sejak pukul 7 tadi.
Karena memang ia memberi kuasa penuh pada Arya untuk menangani acara seminar hingga selesai. Sementara ia hadir hanya di saat acara pembukaannya saja.
Dan beberapa saat yang lalu, ia mendapat sebuah panggil darurat yang mengharuskannya untuk segera kembali ke hotel.
***
Alex sudah berdiri didepan pintu lift.
Sambil menunggu pintu tersebut terbuka, ia lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling yang dipenuhi aktifitas lalu lalang dari para karyawan dan juga tamu hotelnya.
Seketika pandangannya terhenti pada seorang gadis berkaos biru di padu dengan celana seperempat yang berdiri didepan meja resepsionis.
Alex memiringkan sedikit kepalanya, merasa tak asing dan mencoba mengingat siapa sosok tersebut.
" bukankah itu dia ?"
Dia yang dimaksud Alex adalah gadis yang sama yang ada di pesta pelantikannya malam itu.
Gadis yang sudah menyita perhatian dan juga mengalihkan pikirannya .
Dan itu terjadi lagi saat ini.
' ting ' suara pintu lift terbuka.
Namun Alex tak maju untuk masuk kedalam dan
justru memutar langkahnya.
Alex berjalan ke tempat dimana Yona tengah berbicara dengan petugas yang berjaga di sana.
'' ada apa ini ?'' suara Alex membuat Yona seketika menolehnya .
Begitu pun dengan petugas resepsionis yang langsung menyapa dan mememberi salam kepadanya.
'' ini, pak Alex. Nona ini mau ketemu sama seorang petugas housekeeping bernama Lia ''
" Lia ? kebetulan sekali ? Siapa dia memangnya ?
oughhhhhhhh...iya.
Ensen bilang jika ada dua gadis yang diundang khusus oleh mommy di pesta waktu itu.
Jika yang satunya adalah Lia maka, diakah gadis satunya lagi ?
Jadi dia yang datang ke pesta bersama Lia ?
Apa mungkin dia teman Lia sejak SMA dulu ? Tunggu emmmm.. siapa namanya ?
Hais, aku lupa.. ''
Alex bergumam dalam hati.
Alex tampak berpikir keras. Ia bahkan harus mengorek memori terdalamnya demi sebuah ingatan lama.
Selain itu , disaat bersamaan ia juga sedang mengingat kembali penjelasan Ensen tempo hari saat menceritakan tentang apa yang sudah terjadi di malam pesta waktu itu.
* * *
Puas berpikir, Alex lalu kembali melihat pada gadis bermata bak boneka itu. Ia tampak memperhatikan wajah yang begitu sedap dipandang mata.
Alex tertegun untuk sesaat.
Sedangkan Yona.
Melihat bagaimana cara Alex menatapnya , ia pun mengambil satu langkah mundur kebelakang.
Baginya itu adalah tatapan yang sama dari para pria yang selama ini sering tertuju padanya.
Tatapan yang syarat akan maksud dan tujuan tersembunyi.
Dan itu membuat takut mulai datang menghampirinya.
Melihat reaksi Yona, Alex pun segera menyadarkan diri.
" maaf, aku tak bermaksud menatapmu dengan tujuan tertentu.
Hanya saja kau terlihat tak asing bagiku.
Boleh aku tau siapa namamu? " Alex mencoba menjaga wibawa agar dapat menyembunyikan keterkagumanya tadi.
Ia tak mau jika gadis cantik itu salah paham padanya.
Yona diam. Perubahan sikap Alex justru membuatnya bertambah takut.
Mengingat selama ini ia selalu mendapat pertanyaan serupa ketika ada lelaki yang coba mendekatinya.
Yona tak suka ketika seorang pria asing menanyakan namanya.
Alex menghela nafas. Ia terlambat, karena seperti gadis itu sudad menaruh curiga padanya.
" kau bilang tadi mencari Lia ? '' ucap Alex yang langsung mengubah air mukanya menjadi datar.
Masih berusaha agar tak bersikap mencolok.
Seketika mata Yona langsung berbinar. Dan tanpa sadar ia telah maju satu langkah hingga membuat Alex yang hanya berjarak dua langkah darinya itu sedikit tersentak.
Yona mengangguk penuh antusias.
Untuk kedua kalinya Alex tertegun , saat tanpa sengaja ia dan Yona saling menatap satu sama lain.
Alex pun semakin yakin akan dugaannya. Jika gadis yang hampir merapat padanya itu adalah gadis dipesta malam itu.
" tapi, kami tidak bisa membiarkan sembarangan orang masuk kedalam hotel. Selain karyawan dan juga orang dengan keperluan tertentu.
karena itu kami perlu tau siapa kamu ? Dan ada perlu apa kamu mencari Lia " tanya Alex meyakinkan.
Selain memang seperti itulah prosedur yang diterapkan hotelnya , namun itu juga sebenarnya adalah bagian dari alibinya saja.
Ia ingin memastikan dugaan yang sejak tadi terus menekan isi kepalanya.
" em... namaku Yona.
Aku adalah teman dan juga tetangga dekatnya Lia.
Aku datang kemari karena barusan Lia menelpon .
Dan dalam telpon itu ,Lia berteriak meminta tolong.
Tapi belum sempat aku bertanya ada apa, tiba-tiba saja sambungan telepon terputus.
Dan setelah, itu dia tidak bisa dihubungi kembali.
Aku sangat khawatir.
Aku takut sesuatu terjadi padanya .Jadi aku segera kemari " jawab Yona dengan suara khasnya yang bernada rendah .
Alex mengangguk .
Ia yang memang sudah dijelaskan secara singkat saat menerima telpon darurat tadi , tentang apa yang sudah terjadi itupun paham.
Sepertinya saat kejadian Lia sempat menghubungi seseorang dan itu adalah gadis yang akhirnya ia ketahui bernama Yona.
Dan itu berarti masalah ini sudah sampai diketahui orang luar.
Alex menghela nafas berat.
'' kalau begitu kau bisa ikut dengan ku.
Karena kebetulan aku akan ke tempat dimana dia berada '' ucap Alex .
Mendengar itu, Yona seketika reflex dan kali ini ia benar-benar merapatkan diri pada pria yang masih belum ia ketahui siapa.
Dan karena sikapnya yang diluar kendali itu, Alex pun dibuat salah tingkah olehnya.
Alex bahkan terdengar berdehem kecil untuk mentralisir kegugupannya.
'' benarkah ? Tap..tapi, apa itu berarti sudah terjadi sesuatu pada Lia ? '' Yona bahkan tanpa sadar memegang lengan Alex.
Lagi. Sikap Yona diluar prediksi itu , membuat Alex terkejut setengah mati. Ia merasa jika tadi jantung hampir saja jatuh.
Harus Alex akui, jika ia telah jatuh hati pada gadis jelita ini sejak pertama kali melihatnya .
Ingin rasanya saat ini juga ia menggoda seperti kebiasaannya jika melihat seorang gadis cantik.
Namun entah mengapa kali ini ia merasa sulit untuk melakukan hal tersebut.
Alex menggeleng kecil.
Segera cepat-cepat ia tepis semua yang tadi mengitari kepalanya.
Karena ini bukan waktunya untuk berpikir demikian.
Ia teringat akan tujuannya, dan harus bergegas beranjak pergi.
Untuk kedua kalinya ia pun harus berdehem kembali.
'' baiklah, kuijinkan kau mengikutiku.
Tapi ingat apapun yang kau dengar dan kau lihat nanti , kau tak boleh berisik . Dan lagi, hal ini tak boleh sampai diketahui oleh siapapun.
Jadi jaga mulutmu ! ''
Alex menepis pegangan pada lengannya itu. Mengesankan untuk menjaga emange nya.
Meski tak ia pungkiri ia sebenarnya sangat senang .
Dalam hati, ia merasa heran .
Padahal bukan pertama kali ia bertemu, dekat atau bahkan bersentuhan dengan seorang gadis cantik.
Ia bahkan sudah sering melakukan lebih dari sekedar itu semua.
Namun Yona berbeda .
Dia cantik , polos dan telihat sangat lugu.
Alex penasaran bagaimana mungkin dengan usia yang sudah tergolong wanita dewasa justru terlihat seperti seorang gadis remaja.
Menggemaskan. Pikirannya.
Mereka pun beranjak dari sana dan segera menuju lift khusus kemudian masuk kedalamnya.
Alex yang berdiri tegap di tengah ruangan berukuran 3 x 4 itu tampak sesekali mencuri lihat pada gadis yang menepikan tubuh hingga menempel pada dinding lift.
Yona menundukan kepalanya .
Ia baru menyadari jika ia sedang berada satu ruangan sempit bersama pria asing .
Sebisa mungkin ia tak ingin lagi bersitatap dengan pria yang meski tadi sudah ia lihat wajah tampannya.
Dalam hati Yona mengutuk diri.
Bagaimana mungkin ia bisa begitu saja mengikuti pria yang masih belum ia ketahui siapa.
'' aku Alex ''
Yona terkejut mendengar nama itu.
Ia ingat akan cerita Lia jika anak pemilik hotel tempatnya berpijak sekarang bernama Alex.
Dan Alex juga adalah nama teman Arya sewaktu SMA dulu .
Perlahan ia mulai menenggakkan kepalanya , memberanikan diri untuk melihat pria yang memperkenalkan diri sebagai Alex.
Ia ingin memastikan sesuatu.
Seketika Alex mengalihkan wajahnya dengan melihat kearah lain.
Ia tak ingin sampai ketahuan jika sejak tadi ia terus memperhatikan gadis itu dari atas sampai kebawah.
' ting ' pintu lift terbuka yang menandakan jika mereka sampai di lantai yang di tuju.
Sebuah lantai khusus untuk para karyawan dari berbagai bagian. Dan yang mereka tuju sekarang adalah ruang keamanan.
Mereka berjalan melintasi sebuah ruangan yang dindingnya terbuat dari kaca transparan, sehingga aktifitas yang ada diluar maupun di dalam dapat saling terlihat.
Tampak di sana seorang pria bertubuh besar duduk diantara berdirinya dua orang pria berseragam keamanan.
Alex dan Yona terus berjalan melewati ruang tersebut.
Dengan Alex berjalan beberapa langkah didepannya, mereka kemudian masuk ke ruangan yang tepat bersebelahan dengan ruangan yang tadi.
Tampak Lia disana. Dan Arya yang berdiri tepat disampingnya.
Lia duduk berhadapan dengan seorang wanita yang merupakan seorang petugas medis .
'' Lia '' Yona langsung melongos masuk untuk menghampiri Lia.
Namun langkahnya harus terhenti saat Arya menaikan satu telapak tangannya.Mencegah agar ia tak mendekat.
'' Liaaa.. '' suara Yona terdengar lirih.
Dapat dilihatnya Lia yang beberapa kali meringis menahan sakit setiap kali petugas media itu menyentuh bagian tubuh sahabatnya itu.
Yona bahkan sampai menitikkan air mata.
Meski belum tau pasti apa yang sudah terjadi, namun ia tau jika sesuatu yang buruk telah menimpa Lia.
Lia menatapnya, tersenyum singkat sambil menggeleng kecil. Mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja.
'' gimana ?'' tanya Alex yang menghampiri Arya.
'' kita harus menunggu majikan ajudan itu datang.
Baru interogasi bisa di mulai '' jawab Arya yang sejak tadi terus menatap Lia.
Arya terlihat begitu mencemaskan Lia.
Apalagi melihat bagaimana Lia menangis tadi. Hal yang baru pertama kali ia lihat.
Ia sudah berulang kali menanyainya Lia. Namun gadisnya itu tak mau bicara. Bahkan selalu menghindar untuk menatapnya.
Ada rasa kecewa , sedih dan terluka menjadi satu mendapat perlakuan demikian.
Padahal disaat seperti ini ia ingin sekali menjadi sandaran bagi Lia.
Ia ingin menjadi pelindung dan juga seseorang yang dapat diandalkan.
Ia benar-benar ingin menunjukkan kesungguhannya.
Tapi jangankan bicara, melihatnya saja Lia tak mau.
Arya tak bisa memaksa .
Iapun hanya bisa pasrah sembari menunggu sampai tamu hotel yang merupakan majikan ajudan tersebut datang .
Agar mereka bisa segera menginterogasi untuk mencari tau apa yang sebenarnya sudah terjadi.
* * *
'' jadi waktu anda masuk, anda melihat petugas housekeeping itu sedang mengacak-acak isi kamar anda ?'' tanya seorang pria menatap Bayu dengan sorot mata menyidik.
Pak Lesman namanya, ia adalah kepala keamanan sekaligus yang beetugas untuk menanyai.
Bayu mengangguk.
Pak Lesman lalu mengalihkan pandangannya pada Lia yang duduk diujung meja panjang yang ada ditengah ruangan tersebut.
Pandangan Lia lurus pada Bayu.
Ia sama sekali tak terlihat takut lagi. Marah dan benci sudah merasukinya hingga ke sumsum tulangnya .
Apalagi kini ia sudah merasa aman berada di dekat banyak orang.
Selain mereka bertiga, tampak pula Alex, Arya, dan seorang lagi yang diketahui sebagai majikan Bayu.
Pak Prabono. Seorang pengusaha dan juga politikus terkenal. Ia merupakan salah satu orang berpengaruh dan juga orang terpandang di ibu kota.
'' apa benar begitu,Lia ?'' tanya pak Lesman menatap Lia.
Seketika pertanyaan tersebut membuat semua mata yang ada diruangan tersebut tertuju pada Lia.
Lia menggeleng.
'' dik.. dik... dia bohong '' Bayu meletakan handuk yang penuh dengan lumuran darah diatas meja.
Ia berdiri. Jari telunjuk ia arahkan pada Lia seakan ingin menegaskan apa yang ia katakan barusan adalah benar.
Lia menatap tak percaya pada pria yang masih saja berusaha mengelak dari perbuatan kejinya.
Lia menghela nafas kasar.
'' dia -- '' suara Lia terdengar datar dan harus terhenti karena Bayu dengan cepat memotongnya.
Pria itu seperti tak ingin memberi kesempatannya bicara .
'' waktu saya masuk dan memergokinya, dia panik dan minta saya untuk tidak melaporkannya pada pihak hotel.
Dia bahkan menawarkan diri agar saya bersedia melepaskannya.
Saya menolak. Lalu saat saya akan keluar dari kamar, dia tiba-tiba saja menyerang dengan melempar lampu ke kepala saya ''
Tatapan pak Lesmana semakin lekat pada Lia.
Ia seperti ingin menemukan jawaban dari sorot mata Lia yang sejak tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Bayu.
Lia tersenyum kecut.
'' itu tidak mungkin '' Ucap Arya tiba-tiba.
Ia maju selangkah.
Kini semua mata berpaling pada pria berkacamata minus itu. Namun tidak pada Lia yang hanya melihatnya sesaat .
'' pak Arya ?'' pak Lesman nampak sedikit terkejut.
'' tidak mungkin seorang perempuan yang sedang haid mau menawarkan dirinya '' tegas Arya .
'' dat.. datang bulan ?'' Bayu gelagapan.
Ia mulai kehilangan akal untuk menyanggah pertanyaan barusan.
Lehernya mulai bergerak kesana kemari dengan cepat. Seakan ingin mencari alasan apa lagi yang bisa ia gunakan untuk menghindarinya dari tuduhan yang sedang di tujukan padanya.
'' lagipula, apa masuk akal jika seorang perempuan sepertinya mampu membuat pria bertubuh besar menjadi seorang korban?
Lalu bagaimana kalian bisa berakhir di kamar mandi .Bisa Anda jelaskan ?'' tanya Arya dengan nafas yang mulai memburu.
Arya mulai tersulut emosi.
Ia marah membayangkan apa yang sudah pria itu lakukan pada Lia. Apalagi jika ia mengingat bagaimana Lia menangis tadi.
Dan untuk kesekian kalinya, setiap pasang mata yang menjadi pendengar di ruangan tersebut beralih pada Bayu.
Pria itu tertunduk .Dengan kedua tangan yang ada diatas meja ia terlihat sedang menautkan jemarinya satu sama lain.
'' apa dia menyeretmu ? Tapi sepertinya itu tidak mungkin.
karena akan lebih terdengar masuk akal jika kaulah yang menyeretnya ke kamar mandi.
Dan lagi, menurut kesaksian mereka , termaksud dua orang anak buahku yang ada di tempat kejadian.
Mereka mendengar dengan sangat jelas, kalau kau meneriakinya.
Kau bahkan memakinya dengan sebutan 'WANITA SIALAN ' .
Apakah benar begitu tuan Bayu ?'' pak Lesman menekan pada kalimat yang ia ucapkan agar dapat terdengar jelas oleh semua orang yang ada di ruangan tersebut.
''it.. it... '' Bayu kehabisan kata-kata.
Ia pun terduduk lemas.
'' sebenarnya kami saling kenal.
Dan ini bukan pertama kalinya dia hendak melecehkan saya ''
Sektika mata semua orang membelalak tak percaya dengan pernyataan Lia barusan.
Apalagi Arya.
'' sebenarnya ini memalukan bagi saya untuk mengakuinya.
Dan jika pernyataan saya ini kurang di percaya, kita bisa membawa urusan ini ke kantor polisi.
Laporan akan kasus saya yang lama pasti masih ada disana ?'' Lia menatap meyakinkan pada pak Lesman, lalu beralih pada Alex, dan pak Prabono.
Hanya Arya saja yang ia lewati .
'' kan.. kan kantor polisi ? it.. it to..tolong.. jangan..
jangan bawa saya kesana.
Baa..ba..baik, baiklah saya akan mengaku semuanya.
Tap-tapi tolong jangan bawa saya ke kantor polisi '' Bayu seketika beranjak dari duduknya, bukan untuk berdiri tapi untuk berlutut memohon pengampunan.
''jadi , anda mengakui bahwa anda sudah mencoba melecehkan dia ?'' tanya pak Lesman . Ia berdiri, berjalan menghampiri Bayu dan berhenti tepat dihadapan pria yang sedang menekuk kedua lututnya dilantai .
'' bukan mencoba, tapi dia memang sudah melecehkan dan juga menganiaya saya '' ucap Lia dengan bibir bergetar.
Lia mencoba menahan sesuatu.
Sakit bukan hanya karena aibnya yang harus terkuak, namun karena rasa sakit dikepala yang ia rasakan setiap kali ia harus menggerakan rahangnya untuk bicara.
Bahakan jemari yang ia letakan diatas pangkuannya itu tampak meremas kuat seragam kerja yang ia kenakan.
Hening sesaat.
Tak lama kemudian, Pak Prabono dan Alex terlihat merapat.
Mereka terlihat berbicara dalam nada rendah, terkesan seperti tengah berbisik.
Pembicaraan keduanya tampak serius.
Dan sudah bisa dipastikan jika yang mereka bahas adalah tentang apa yang baru saja terjadi.
Selang beberapa saat kemudian, Alex manggil pak Lesmana, lalu memerintah dua petugas keamanan untuk mengawal Bayu keluar ruangan .
Setelah terlibat obrolan yang sedikit panjang, mereka pun pergi dengan pak Lesman berada didepan mempimpin jalan .
Tinggallah Alex ,Arya dan Lia masih didalam ruang tersebut.
'' Lia ''suara Alex memulai.
Ia menarik kursi, lalu duduk tepat berhadapan dengan gadis yang wajahnya tampak sembab.
'' Pak Prabono tidak ingin masalah ini sampai dibawa ke kantor polisi .
Pak Prabono sedang dalam masa kampanye.
Kalian pun tau jika pemilihan umum akan berlangsung sebentar lagi.
Beliau tak ingin masalah ini sampai keluar dan tercium oleh media, itu akan mempengaruhi pencalonannya .
Meskipun itu tidak ada sangkut paut dengannya. Namun mengingat hal ini terjadi saat ia dalam masa relasi antar kubu politik, beliau khawatir jika hal ini nantinya akan menimbulkan spekulasi yang tidak baik '' Jelas Alex .
Di tatapnya Lia . Jelas terlihat memar di leher gadis itu. Ia prihatin dan tertunduk sesaat .
'' jadi ? Apa masalah ini akan di biarkan begitu saja ??''Arya mendekat. Ia terdengar tak terima akan keputusan tersebut.
'' gak begitu, Arrian. Dengar dulu penjelasanku '' Alex mencoba menenangkan.
Ia tau jika Arya tak terima dengan apa yang sudah Bayu lakukan pada Lia.
Namun posisinya kini juga terjepit.
Pak Prabono adalah salah satu orang paling berpengaruh di ibukota.
Jika ia yang baru saja menjabat sebagai direktur gagal untuk membujuknya dan menyelesaikan masalah ini sesuai dengan yang diinginkan pak Prabono, maka kedepannya Alex akan kesulitan mendapatkan kepercayaan dari orang-orang seperti pak Prabono.
Dan itu tentu saja akan sangat mempengaruhi masa depan hotelnya.
'' Pak Prabono akan memberikan kompensasi sesuai dengan yang Lia butuhkan.
Dengan catatan, Lia tak akan membawakan masalah ini ke kantor polisi.
Dan untuk Bayu sendiri, Pak Prabono akan memberi hukum setimpal dan yang pantas untuk kesalahannya.
Tidaklah menurutmu itu terdengar cukup adil ?'' Alex saling bertatap dengan Lia .
'' adil dari mananya, Lex ?'' Arya masih tak terima.
'' lagipula Lia tak sampai diperkosakan ?'' Alex yang sudah kehabisan kata-kata lalu terucap begitu saja.
Baik Lia maupun Arya sama-sama menatap tajam padanya.
'' ini sudah keputusanku.
Aku adalah pemimpin disini. Jadi hormati dan patuhilah apa yang sudah jadi keputusanku ini ''
Lia dan Arya terdiam. Bukannya tak bisa biacara namun tak tahu harus berkata apa.
'' khusus untuk mu Ar.
Aku peringatkan untuk tidak bicara formal saat kita berada di lingkungan kerja.
Kau harus profesional.
Aku tau kalian punya hubungan , tapi saat berada dilingkungan kerja, kalian harus bisa memisahkan antara pekerjaan dan urusan pribadi kalian.
Jangan pernah kalian campur aduk kan kedua hal itu '' ucap Alex penuh ketegasan. Alex lalu berdiri.
Arya merasa tak berdaya, ia mengesampingkan wajannya untuk melihat Lia.
'' apa saya sudah boleh pulang, pak ?'' tanya Lia sedikit mengangkat kepalanya untuk dapat melihat pada Alex.
'' ya, kau memang sebaiknya pulang.
Dan untuk sementara waktu kau tidak perlu masuk kerja .
Gunakan waktu sebanyak yang kau butuhkan untuk memulihkan dirimu '' Alex terdengar begitu prihatin.
Ya, Alex masih memiliki hati nurani. Dan ia iba melihat apa yang terjadi pada Lia.
'' aku akan mengantarmu pulang '' ucap Arya saat Lia baru saja berdiri.
'' ada Yona. Aku akan pulang dengannya saja '' ucap Lia masih tak mau melihat Arya.
'' Lia, alangkah baiknya jika kau diantar Arya saja .
Aku akan bicara pada temanmu '' ucap Alex yang langsung melangkah keluar dari ruang tersebut, meninggalkan Lia dan Arya yang berdiri dengan saling berhadapan.
Jika Arya menatap lekat gadis yang ada dihadapannya , berbeda dengan Lia yang memilih melihat ke luar ruangan. Tampak olehnya Alex yang tengah berbicara dengan Yona di sana.
'' Lia '' Arya mencoba mendekat, satu tangannya sudah terangkat untuk meraih Lia namun Lia justru melangkah mundur dan membuat Arya tak jadi melangkah maju.
Arya menurunkan tangan yang tadi sudah menggantung.
Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka.
Yona dan Alex masuk secara bersamaan.
'' Lia '' Yona hendak mendekat .
Namun tak jadi saat melihat Lia yang sudah melangkah maju .
'' saya permisi, pak '' pamit Lia yang menundukkan sesaat pada Alex dan Arya secara berganti tanpa mau melihat wajah dua pria yang merupakan atasanya itu.
Luar berlalu disusul Yona dibelakangnya.
* * *
Yona menemani hingga ikut masuk ke dalam ruang loker .
Tanpa rasa canggung atau malu sekalipun Lia langsung membuka seragam kerjanya memperlihatkan tubuh yang berbalut cd hitam dan bra berwarna senanda.
Yona tampaknya begitu memperhatikanya.
Tampaknya olehnya beberapa bagian tubuh Lia yang terlihat memar kebiruan.
Melihatnya saja Yona merasakan ngilu, apalagi yang mengalaminya. Jika hal itu menimpa dirinya entah akan seperti apa ia meronta dan berteriak meminta tolong.
Yona tertunduk, ada rasa kagum melihat bukti perjuangan keras Lia dalam mempertahankan harga diri dan juga memperjuangkan keselematannya dari kejadian tadi.
Lia membuka loker miliknya, lalu mengambil baju ganti dari dalamnya. Meski harus menahan sakit, Lia dengan segera mengenakannya.
'' Lia '' ucap Yona yang mendekat ketika melihat Lia yang tampak kesulitan saat akan mengenakan sweater.
Lia mengangguk, tanda bahwa ia butuh bantuan.
'' tubuhmu pasti sakit semua ? '' Yona yang hanya menatap penuh sedih.
Lia kembali mengangguk.
'' kalau gitu , sweaternya gak usah dipake aja.
Nanti kamu kesulitan ngelepasnya dirumah ''
Lia menarik nafas panjang, ada benarnya juga apa yang sahabatnya katakan .
Dilihatnya pantulan diri dikaca pintu lokernya.
Ia perhatikan tampilannya yang berbalut kaos putih yang begitu pas di tubuhnya.
'' Lia '' sebut Yona lagi yang hanya dijawab Lia dengan satu kali menaikan dagu saja.
'' kok, kamu dari tadi gak ngomong apa-apa sih ?'' Yona akhirnya mengutarakan rasa penasaran akan sikap bungkam Lia sejak tadi.
''hem... sakit.. '' ucap Lia dengan nada tertahankan.
'' sakit ? Mananya yang sakit sampai buat kamu sulit bicara ? '' panik Yona mendekat lalu meraba-raba area sekitar wajah . Dan ketika ia memegang kepala Lia, secara reflex gadis itu meringis.
Yona menghentikan apa yang tadi ia lakukan. Meski ia khawatir, namun ia cukup puas setelah tau alasan kenapa Lia diam sejak tadi.
Mereka pun beranjak untuk bisa segera pulang.
Baru saja satu langkah melewati mulut pintu , tampak Arya yang sudah berdiri di hadapan mereka.
Sejak tadi Arya memang sudah disana, menunggu mereka selesai dan keluar dari ruang loker .
'' aku akan mengantarmu pulang '' Arya mendekat, ia mencoba meraih salah satu tangan Lia namun Lia menolak dengan menggelengkan kepala.
Arya terlihat mulai kesal, karena sikap Lia yang sejak tadi terus menghindarinya .
'' Lia '' Arya menatap Lia. Namun yang ditatap justru memalingkan wajahnya.
'' kak.. Lia gak bisa disentuh. Badanya sakit semua.
Bahkan untuk bicara pun dia hampir gak bisa '' ucap Yona mencoba menengahi.
'' kalau begitu ayo, kita ke rumah sakit sekarang ''
Lia kembali menggeleng.
'' trus kamu maunya apa, Lia ?'' Arya meninggikan volume suaranya, ia tampaknya sudah mulai kehabisan kesabaran.
'' pulang '' jawab Lia singkat dengan suara pelan.
Lia lalu memegang tangan Yona dan hendak menariknya.
Namun belum sempat hal itu terjadi, Arya sudah lebih dulu mendekat dan menghadang jalannya.
Pria itu lalu mengibaskan tangan yang saling berpegang hingga terlepas. Karena memang pegangan Lia tak begitu kuat.
'' sudah ku bilang aku yang akan mengantarmu. Kalau kamu mau pulang, maka kamu harus pulang sama aku ! '' tegas Arya menatap tajam Lia.
critanya ku tunggu muncul di Noveltoon tv ya thorr 😘😘😘😘
lanjut Thor😁
buat aku penasaran dan gregetan mau jitak Lia nih🤣🤣