Namaku Anabel Putri Cahya, aku mencintai seseorang yang bernama Ferdi dian Anggara tapi sayang beribu ribu sayang, ia selalu saja cuek terhadapku. Hingga akhirnya ada seseorang yang datang, ia adalah Aldi Herdiansyah. Sejak kehadiran Aldi, aku tidak lagi merasa sedih karena setiap kali aku ingat kepada Ferdi, Aldi selalu bisa membuatku tersenyum dan lupa kepadanya. Saat hati aku sakit karena melihat Ferdi yang bermesraan dengan wanita lain. Aldi selalu menghiburku hingga aku lupa dengan rasa sakit itu dan ketika aku sudah belajar untuk melupakannya dan mencitai Aldi. Ferdi malah datang mengungkapkan perasaanya. Lalu aku harus bagaimana? Sedangkan selama ini ia selalu saja mencampakkan diriku. Salahkah jika aku memilih Ferdi? Tapi aku takut, aku takut akan menyesal dan salah pilih. Tuhan....Bantu aku.............
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evi Tamala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengemis di Lampu Merah
Keesokan harinya Aldi dan Puput dengan penuh semangat mereka mengemis dengan keringat yang sudah bercuruan membasahi tubuhnya. Bahkan baju yang mereka gunakanpun sudah kotor bahkan wajah dan tubuh mereka juga kotor karena dari kemaren belum mandi dan kena debu terus. Mereka akhirnya mengumpulkan uang sebanyak 67.000. Setelah merasa cukup akhirnya mereka segera pergi dengan menaiki angkot yang penuh sesak. Setelah hampir 2 jam akhirnya mereka sampai juga di Hotel Ternama di daerah Bandung. Gara gara angkotnya sering berhenti membuat mereka yang seharusnya 1 jam sudah sampai jadi 2 jam baru sampai.
Namun sesampai di depan Hotel, mereka langsung di usir oleh pak satpam.
"Pak,izinkan saya bertemu dengan Anabel pemilik hotel ini." Ucap Aldi.
"Maaf, Nona Anabel tidak terima tamu pengemis seperti kalian." Ucap Pak Satpan sinis.
"Tapi pak, kami bukan pengemis." ucap Puput yang gak terima dirinya di sebut pengemis.
"Oh ya? Jika bukan pengemis lalu apa?" tanya pak satpam yang jijik melihat penampilan mereka. Masalahnya pak satpam itu tau siapa mereka berdua walaupun sekarang penampilan mereka sangat kotor tapi pak satpam masih mengenali wajah mereka, orang yang sudah tega menyakiti bosnya. Kemaren pak satpam itu sudah menonton vidio mereka yang sudah tersebar apalagi Anabel sudah menelvon pak satpam itu untuk mengusir mereka berdua jika mereka datang ke hotel.
"Pak, tolong. Izinkan kami bertemu dengan Anabel." Pinta Aldi.
"Tapi sayangnya, Non Anabel tidak sudi bertemu dengan penghianat seperti kalian." ucap pak Satpam keras.
"Pak tolonglah...."' Ucap Adli memohon.
"Sudahlah, lebih baik kalian pergi dari sini. Lagian Nona Anabel gak ada di sini. Dia sudah balek ke Jakarta kemaren." Ucap Pak Satpam membocorkan karena ia tak ingin Aldi dna Puput berlama lama di sana.
"Bapak gak boongkan?" tanya Puput.
"Ngapain saya bohong. Emang saya sama seperti kalian yang suka berbohong." Ucap Pak Satpam sengit.
"Baiklah. Terimakasih informasinya." Jawab Aldi. Ia pun segera menarik tangan Puput untuk pergi dari hotel itu. Setelah agak jauh dari hotel, Aldi dan juga Puput bingung mau kemana lagi. Uangnya sudah habis untuk naik angkot. Lagi lagi mereka harus mengemis untuk bisa ke Jakarta menemui Anabel sekaligus kedua orang tua mereka.
"Al, aku sudah gak sanggup menjalani hidup ini." Ucap Puput yang sudah tidak tahan dengan kehidupan yang menyakitkan ini.
"Aku juga. Tapi kita gak boleh menyerah karena bagaimanapun ini salah kita. Bahkan rasa sakit kita gak sebanding dengan rasa sakit Anabel." ucap Aldi.
"Iya, aku tau. Tapi aku lelah, semua orang menghina kita. Bahkan sekarang kita mau makan aja susah, belum lagi kita gak punya tempat tinggal. Kita juga belum mandi dari kemaren bahkan baju kita sudah kotor begini." Ucap Puput.
"Sudahlah, kita tidak boleh mengeluh. Aku yakin cepat atau lambat, kita pasti akan keluar dari masalah ini. Anggap aja ini sebagai ujian buat kita atau sebagai pembelajaran agar ktia tidak mengulang dosa kita lagi." Ucap Aldi padahal dalam hati, ia juga sedih dan merasa bosan dengan tatapan orang yang menghina mereka belum lagi kata kata mereka yang sangat menyakitkan bahkan belum pernah Aldi membayangkan bahwa hidupnya akan berakhir seperti ini dan juga ia tak pernah membayangkan bahwa kini ia akan menjadi seorang pengemis.
"Lbih baik sekarang, kita ngemis aja. Buat makan siang terus buat nabung agar kita bisa segera pergi ke Jakarta. Aku kangen banget sama mama dan papaku. Ingin rasanya aku menelvon mereka tapi sayangnya, aku gak punya Hp buat menghubungi mereka. Entah kenapa firasatku mengatakan bahwa mereka tidak baik baik saja." Imbuh Aldi.
"Iya sudah ayo. Kita mau ngemis dari mana?" tanya Puput.
"Dari lampu merah itu aja deh."
"Oke, kayaknya di sana rame." Ucap puput.
Akhirnya merekapun segera berjalan kaki menuju lampu merah dan mereka meminta minta kepada orang yang mau berbelas kasih. Malu sebenarnya, tapi hanya ini satu satunya cara agar bisa bertahan hidup.
Ngapain Anabel masih mau terima Ferdy
mending JD janda
ikutin jg bukalah hatimu untukku ya...
ttp smangat.....😘