Mohon diharapkan sopan dalam berkomentar.
Sebelum membaca novel ini disarankan membaca perjodohan karena hutang yang pertama dulu ya, karena ini adalah cerita lanjutan perjodohan karena hutang pertama.
Disini saya akan menceritakan tentang kehidupan anak-anak mereka, yang tentunya tidak kalah seru dengan para orang tua mereka.
Danis adalah anak dari Risa dan Denis, Danis yang terbiasa hidup mewah dan tidak pernah kekurangan tapi tiba-tiba Denis mengambil semua fasilitas yang Denis berikan pada Danis.
Dan tentunya kenapa Denis mengambil semuanya, Denis punya alasan tertentu dan ingin membuat anaknya bisa menghargai apa yang dia punya bukan menghambur-hamburkannya tidak jelas.
Sampai akhirnya Danis hidup menjadi laki-laki biasa karena hukuman dari sang papa dan bertemu dengan seorang gadis yang sangat membenci laki-laki kaya.
Dan pertemuan itu membuat Danis jatuh hati pada gadis itu. Tapi bagaimana cara Danis jujur pada gadis itu kalau dirinya adalah anak orang kaya? Sedangkan gadis itu sangat membenci laki-laki kaya. Ya tentunya sang gadis juga punya alasan kenapa dia bisa membenci laki-laki kaya.
Penasaran dengan cerita cinta mereka? Dan bagaimana nanti Danis akan mengatakan kejujuran pada sang gadis.
Baca yuk karya Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29.Gadis itu siapa?
"Apa, kamu punya banyak gadis-gadis lain diluaran sana?" Tanya Anin kesal, yang membuat Danis terkekeh.
"Kamu bicara apa?" Tanya Danis, ia memelototkan matanya, sungguh tidak habis pikir bisa-bisanya Anin berpikir tentang dia seperti itu.
"Berapa banyak gadis yang pernah kamu pacarin?" Tanya Anin, ia semakin penasaran.
Sungguh Danis kesal sekali, dia hanya bilang kalau Anin berbeda dari yang gadis-gadis ia kenal. Tapi Anin malah salah paham dan berpikir aku punya banyak pacar diluaran sana.
"Aku hanya pacaran satu kali," Jawab Danis jujur, ia tidak mau ada kebohongan pada Anin.
Anin membulatkan matanya, ia masih tidak percaya seorang Danis laki-laki tampan nan manis, dia hanya berpacaran sekali! Itu yang ada dipikiran Anin.
Tapi memang benar Danis pacaran hanya satu kali, ia pacaran dengan Fani teman kuliahnya dulu tapi disaat Danis sedang sayang-sayangnya dengan Fani, Fani meninggalkan Danis begitu saja dan pergi dengan laki-laki lain yang menurut Fani itu lebih baik dari Danis. Fani juga pacaran dengan Danis itu tidak serius, ia hanya memainkan Danis saja ketika Fani tahu kalau Danis ternyata anak dari laki-laki yang pernah mencampakkan mamanya dan Fani melakukan hal yang sama pada Danis yaitu mencapakan Danis seperti papanya Danis mencampakkan mamanya dulu.
"Sungguh?!" Anin kembali memastikan.
"Sungguh, saat dia meninggalku dan aku putuskan untuk tidak pacaran sampai aku benar-benar menemukan yang benar-benar pas dihati." Jawab Danis, ia berusaha meyakinkan Anin.
"Apa, aku sudah pas dihatimu?" Anin senyam-senyum, ia menyikut Danis berniat menggoda Danis.
"Menurutmu? Sudah malam ayo kita pulang! Atau hujan akan datang lagi dan membuat kita terlambat berangkat kerja lagi." Danis beranjak dari tempat duduknya, lalu ia mengulurkan tangannya pada Anin untuk membantu Anin bangun dari tempat duduknya.
Sebelum pulang, Danis membayar makannya dulu. Setelah membayarnya Danis dan Anin bergandengan tangan menuju ke rumahnya.
Diperjalanan mereka menuju kerumah begitu asik, candaan, obrolan terjadi diantara mereka. Anin juga merasa sangat nyaman disamping Danis.
"Anin, ingat pesanku jangan melihat bos sialan itu lama-lama! Atau aku akan menyentil telingamu nanti." Danis memperingatkan ancaman pada Anin.
"Apa, kamu begitu pencemburu?" Anin kesal dan ia mendorong Danis agar menjauh dari dirinya.
Danis melirik Anin dengan kesal, apalagi Anin berani mendorongnya gara-gara Danis memberi peringatan pada dirinya.
"Tentu, aku sudah bilang. Aku tidak suka wanitaku disentuh oleh laki-laki lain." Danis kembali mempertegas perkataannya.
"Baiklah, tapi untuk saat ini jangan umbar hubungan kita ditempat kerja ya! Aku tidak mau jadi bahan gosip mereka." Kata Anin, ia terus berjalan dan jarak mereka kira-kira satu langkah.
"Baiklah!" Danis mendekatkan dirinya ke Anin, lalu ia merangkul Anin dengan mesra.
Sesampainya dihalaman rumahnya, Danis melihat ada mobil orang tuanya yang sudah terparkir di halaman rumahnya.
"Bukankah, itu mobil mama dan papa? Untuk apa mereka kesini? Jangan bilang mereka akan mengakhiri hukumanku." Hati Danis terus berbicara.
Anin memperhatikan mobil itu, ia bingung mobil siapa malam-malam ada di halaman rumah susun itu.
Mobil sedan warna hitam, iya mobil itu terparkir rapi dihalaman rumah susun yang Anin dan Danis tinggali saat ini.
.
.
Ternyata dari tadi, Risa memperhatikan anaknya dari atas sana. Ia berdiri di dekat pagar rumah Danis yang berada di lantai dua dan matanya terus tertujuh pada anaknya dan gadis cantik yang sedang anaknya rangkul dengan mesra.
"Siapa, gadis yang bersamanya? Pantesan anak bandel itu betah dan tidak pernah menelponku untuk meminta aku membujuk papanya agar membebaskan dari hukumannya, ternyata diam-diam dia sudah punya kekasih." Kata Risa, ia tidak melepas pandangannya dari anaknya yang masih ada di halaman bawa.
"Ma...mama!!" Panggil Denis.
Risa geleng-geleng kepala, dan ia langsung masuk kembali ke dalam rumah Danis.
"Papa, itu menganggu saja! Dia tidak tahu apa aku sedang memperhatikan calon mantuku." Risa terus mengoceh dalam hatinya.
Risa melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Danis, sesampainya di dalam rumah Danis. Ia duduk di sofa disebelah suaminya.
"Ada apa sih pa?" Tanya Risa agak kesal.
"Pijitin punggung aku, rasanya pegel sekali." Jawab Denis, ia merubah posisinya membelakangi Risa dan Risa langsung memijat punggung suaminya dengan lembut.
.
.
Dibawah sana, Anin masih penasaran dengan mobil sedan warna hitam itu. Iya karena selama dia tinggal disitu tidak pernah ada tamu yang membawa mobil.
"Itu mobil siapa ya?" Tanya Anin, ia melihat Danis dan Danis langsung mengalihkan pandangannya dari mobil itu.
"Aku tidak tahu, ayo kita masuk! Ini sudah malam dan kamu harus istirahat, atau kamu akan terlambat lagi besok." Danis berusaha mengalihkan pembicaraan Anin, ia kembali mengajak Anin berjalan menuju ke rumahnya.
"Tumben-tumbenan ada orang kaya main ke tempat seperti ini? Kalau Dafa dan Aqila wajar mereka temannya Danis." Batin Anin dalam hatinya.
.
.
Sesampainya di depan rumah, Danis menyuruh Anin agar segera masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu, masuklah! Ingat jangan tidur kemalaman," Danis mencium kening Anin dengan hangat.
Anin masuk ke dalam rumahnya, dan langsung mengunci pintu rumahnya.
"Dia mencium keningku." Anin menjatuhkan tubuhnya diatas kasur, ia gulang-guling tidak jelas karena merasa bahagia.
.
.
Dirumah Danis.
Melihat anak kesayangannya pulang, Risa langsung melepaskan tangannya dari punggung suaminya.
"Sayang, ini masih sakit!" Kata Denis, ia menoleh dan ternyata anak bandelnya itu sudah pulang.
"Pantas saja aku diabaikan, ternyata anak kesayangannya sudah pulang." Batin Denis dalam hatinya.
"Danis, anak mama...." Risa langsung berlari, ia menghambur ke dalam pelukan anaknya.
Danis membalas pelukan mamanya, ia juga sangat merindukan sang mama tersayangnya apalagi sudah beberapa lama tidak bertemu.
"Mama, papa, kapan kalian datang?" Tanya Danis, ia melepaskan mamanya dari pelukannya lalu menuntun tangan sang mama untuk duduk di sofa.
"Kita datang dari tadi jam 7 nak." Jawab Risa, ia terus menatap Danis dan tentunya tatapan itu penuh dengan arti.
"Mama, kenapa dia terus menatapku seperti ini? Aku yakin pasti ada sesuatu." Batin Danis dalam hatinya.
Danis tidak tahu saja, kalau tadi mamanya sudah melihat dirinya merangkul Anin dengan mesra.
"Kamu darimana, jam segini baru pulang? Apa kamu keluyuran? Atau kamu mabuk-mabukan lagi?" Tanya Denis, ia menatap anaknya dengan sorot mata tegas.
Dalam hati Danis, kenapa sih papa? Terus-menerus memikirkan hal seperti itu tentangku apa karena aku ini dulu terlalu bandel dan hobbynya ngambur-ngamburin duit?
Danis merubah posisi duduknya, ia membalas tatapan sorot mata papanya dengan lembut.
"Papa, Danis baru pulang kerja, Danis sekarang sudah bekerja disebuah cafe yang tidak jauh dari tempat ini." Jawab Danis dengan begitu bangga.
Sungguh apa yang Denis mau akhirnya tercapai, dengan hukuman yang ia berikan anaknya bisa mandiri dan bisa berkerja menjadi pelayan cafe.
"Sudahlah pa, jangan selalu berpikir buruk tentang anak kita! Bukankah kamu juga tahu kalau anak kita selama ini sudah bekerja." Kata Risa melirik suaminya dengan tatapan kesal.
"Ma, orang pulang kerja jam 8/9 juga sudah pulang. Tapi ini sudah hampir jam setengah 11 baru pulang anak bandel itu." Jawab Denis, ia melihat jam tangannya.
Risa malah tersenyum pada suaminya, lalu ia memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Anak mama, katakan gadis itu siapa?" Tanya Risa, disela-sela pelukannya.
"Gadis, maksud mama?"
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
bukannya suara bayi oek.....oek...oek
dasar fani
kasian si rifki
kok sama denisnya namanya...