NovelToon NovelToon
Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Sentuhan Penyembuh Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Nikah Kontrak
Popularitas:975
Nilai: 5
Nama Author: Ghost_Writer

"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"

Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.

Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.

Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Skakmat

Ketika mereka berdua turun ke ruang makan di lantai satu menggunakan lift khusus yang terpasang di sudut rumah, atmosfer hangat pagi hari mendadak lenyap begitu pintu lift terbuka. Meja makan kayu jati yang sangat panjang itu sudah terisi oleh berbagai jenis masakan.

Di ujung meja, Pak Baskoro duduk di kursi kebesarannya dengan senyum hangat yang langsung mengembang begitu melihat Senjani. Namun, di sisi kiri meja, duduk seorang wanita paruh baya dengan sanggul tinggi dan pakaian glamor berwajah angkuh, ditemani seorang pria muda berusia sekitar dua puluh delapan tahun, usianya kurang lebih seumuran dengan Jiro, ia menatap kedatangan mereka dengan senyuman meremehkan yang kentara. Mereka adalah Kumala, tante Jiro, dan Grayson, sepupu kandung Jiro yang mengincar posisi CEO di perusahaan.

"Ah, lihat siapa yang baru saja datang. Pengantin baru kita akhirnya turun juga," sindir Grayson. Nadanya sengaja dibuat terdengar manis, namun sarat akan racun yang menusuk. Matanya menatap Senjani dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan. "Jadi ini sepupu iparku yang baru? Wah, Jiro, seleramu sekarang benar-benar merosot tajam, ya? Setelah ditinggal pergi oleh putri konglomerat berdarah biru karena kondisimu, sekarang kamu malah sudi menikahi pelayan rumah sakit kelas bawah?"

Mendengar kata-kata itu, Senjani bisa merasakan perubahan aura di sebelahnya. Jiro yang duduk di kursi roda langsung mengepalkan kedua tangannya di bawah meja makan. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di pelipisnya berdenyut. Suasana di ruang makan itu mendadak turun hingga ke titik beku.

"Grayson! jaga bicaramu di depan meja makan. Hargai kaka iparmu dan juga kakak sepupumu," tegur Pak Baskoro dengan suara baritonnya yang berat, berwibawa, dan penuh dengan penekanan yang membuat para pelayan di sekitar langsung menundukkan kepala.

"Maaf, Kek. Aku kan hanya bercanda untuk mencairkan suasana pagi yang kaku ini," Grayson terkekeh tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia memotong daging steaknya dengan kasar, lalu kembali melemparkan pandangan mengejek ke arah kursi roda Jiro. "Lagipula, untuk apa pernikahan ini dirayakan atau dibesar-besarkan? Toh, pengantin prianya saja... tidak akan pernah bisa berdiri lagi untuk menyambut ataupun memeluk istrinya sendiri di depan pelaminan, bukan? Sangat... menyedihkan."

Brak!!!

Jiro menggebrak meja makan marmer itu dengan satu tangan kirinya yang bebas. Kekuatan hantamannya begitu kuat hingga piring-piring porselen dan gelas kristal di atas meja berdenting keras, bahkan beberapa sendok perak terlempar ke lantai. Para pengawal pribadi yang berjaga di setiap sudut ruangan langsung menegakkan tubuh, menahan napas dalam ketakutan.

"Grayson!" desis Jiro. Suaranya tidak keras, namun getaran kemarahan di dalamnya begitu pekat dan berbahaya, sanggup membuat siapa saja yang mendengarnya merinding ketakutan. "Kalau kamu membuka mulut sampahmu itu sekali lagi, aku pastikan proyek pembangunan di Jakarta Barat yang sedang kamu pegang akan dicabut detik ini juga!"

Grayson sempat tersentak, wajahnya sedikit memucat mendengar ancaman bisnis itu. Namun, dia segera menguasai diri kembali. Dia meletakkan pisau dan garpunya dengan denting yang sengaja dikeraskan, lalu bersandar pada kursi makannya dengan seringai yang semakin lebar.

"Oh, benarkah begitu? Kamu mau mencabut proyekku dengan kondisi fisik seperti itu, Kak? Perusahaan butuh pemimpin yang bisa bergerak cepat ke lapangan, bukan pemimpin yang hanya bisa duduk manis di kursi beroda dan menyuruh orang lain," balas Grayson telak, menyerang tepat pada titik kelemahan terbesar Jiro.

Senjani yang duduk di sebelah Jiro bisa melihat bagaimana tubuh suaminya itu mulai bergetar hebat. Bukan karena takut, melainkan karena menahan luapan emosi dan rasa hina yang teramat dalam. Jiro adalah pria yang angkuh dan mandiri, dan dihina sebagai pria cacat yang tidak berguna di depan keluarga serta istri yang baru dinikahinya adalah pukulan mental yang mematikan.

Tangan Jiro yang berada di atas meja bergetar, bersiap untuk melayangkan cengkeraman atau hantaman lain. Namun, sebelum situasi semakin tak terkendali, sebuah tangan yang lembut, hangat, dan tenang tiba-tiba mendarat di atas punggung tangan Jiro yang tegang.

Jiro tersentak. Dia menoleh dengan cepat ke arah tangannya, lalu berpindah menatap Senjani dengan tatapan mata yang seolah ingin membunuh wanita itu karena berani menyentuhnya di depan umum. Namun, Senjani tidak melepaskan genggamannya. Dia justru memberikan sedikit tekanan lembut yang menenangkan pada punggung tangan milik Jiro, seolah menyalurkan seluruh kekuatan batinnya ke dalam tubuh pria itu.

Senjani kemudian mengalihkan pandangan matanya yang jernih namun tajam lurus ke arah Grayson. Tidak ada ketakutan di wajah terapis muda itu.

"Maaf, Tuan Grayson," ucap Senjani. Suaranya terdengar sangat bening dan menggema dengan jelas di ruang makan yang kini tengah sunyi. "Sebagai seorang profesional di bidang medis, saya merasa perlu meluruskan kekeliruan berpikir Anda. Kelumpuhan pada bagian ekstremitas bawah akibat cedera tulang belakang atau trauma otot bukanlah sebuah kecacatan permanen yang menurunkan fungsi otak ataupun kapasitas kepemimpinan seseorang."

Grayson mengernyitkan alisnya, merasa terganggu karena seorang wanita yang dianggapnya seorang pelayan dengan berani menyela pembicaraannya. "Apa katamu?"

Senjani tersenyum tipis, sebuah senyuman formal yang penuh dengan rasa percaya diri. "Secara anatomis, sistem saraf motorik luar dan kemampuan kognitif Tuan Jiro di bagian otak atas masih berfungsi dengan sangat sempurna. Justru dalam banyak kasus medis, pasien dengan keterbatasan fisik sementara seperti ini memiliki fokus dan ketajaman analisis yang jauh lebih tinggi karena energi mereka tidak terbagi untuk hal-hal mobilitas yang tidak perlu."

Senjani menjeda kalimatnya sejenak, menatap Grayson dari atas ke bawah dengan cara yang sopan namun sangat menohok.

"Jadi, meragukan kapasitas kemimpinan Tuan Jiro hanya karena beliau saat ini sedang menjalani proses pemulihan kaki, sama saja dengan menunjukkan kepada semua orang di meja ini... betapa rendahnya pemahaman Anda tentang ilmu kedokteran dasar dan dunia profesional modern."

Deg!

Kata-kata Senjani laksana tamparan tak kasat mata yang menghantam wajah Grayson dengan telak. Wajah pria muda itu seketika berubah merah keunguan karena menahan malu dan amarah yang luar biasa. Dia tidak menyangka bahwa wanita yang dia remehkan sebagai babu rumah sakit bisa menyerangnya balik menggunakan argumen medis yang begitu berbobot hingga membuatnya mati kutu.

Pak Baskoro yang sedari tadi menyaksikan hal itu dari ujung meja tidak bisa menyembunyikan binar kepuasan di matanya. Beliau tersenyum lebar, merasa pilihan dan keputusannya untuk menikahkan Senjani dengan cucunya sama sekali tidak salah. Wanita ini memiliki keberanian dan harga diri yang tinggi.

Sementara itu, Jiro terpaku di tempatnya duduk. Dia menatap tangan Senjani yang masih menggenggam jemarinya yang kaku, lalu beralih menatap wajah samping istrinya yang tampak tegar dari jarak dekat. Untuk pertama kalinya dalam enam bulan terakhir, ada seseorang yang berdiri di depannya, bukan untuk mengasihani kelumpuhannya atau mengincarnya, melainkan untuk membelanya dengan cara yang begitu terhormat.

Namun, ego milik Jiro yang setinggi langit segera bergejolak kembali. Pria itu menyentakkan tangannya dengan kasar, melepaskan diri dari genggaman Senjani di bawah meja, lalu membuang muka dengan ekspresi dingin yang dipaksakan.

"Jangan berlagak pintar di rumah ini, Senjani," bisik Jiro dengan suara rendah yang tajam, menyembunyikan debaran aneh yang sempat mampir di dadanya tadi. "Aku tidak butuh pembelaan dari wanita sepertimu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!