Raavero Alves ... Pengacara tampan, maskulin, angkuh, obsesif dan agresif, melakukan dua kesalahan fatal dalam hidupnya. Dia menikahi Rania Alexander untuk sebuah kesepakatan damai dan membawa pulang mantan kekasihnya ke Kediaman Alves, dua hari selepas pernikahannya dengan Rania.
Rania Alexander ... Seorang Wedding Planner. Dia gadis angkuh, cantik, ambisius dan pantang menyerah berjuang untuk menolak pernikahannya dengan Raavero. Dia sedang membangun karirnya dan muak pada pria.
Sementara sang mantan kekasih, berusaha untuk menempatkan kembali posisinya seperti semula saat masih menjadi kekasih Raavero.
Perang dingin di antara keduanya, ditambah sikap anti-pati Ibunda Raav pada Rania, memperburuk keadaan.
Raavero berada di antara dua pilihan, di antara tiga wanita dengan kerumitan mereka masing-masing. Dia hanya harus memilih satu di antara keduanya. Wanita yang dia cintai atau wanita yang melahirkan puterinya?
***********************************************
Dengan rendah hati mohon kritik dan sarannya untuk Author agar lebih baik lagi dalam menulis.
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, favorit, share, vote agar Author lebih semangat menulis. Makasih untuk dukungannya.
by Senja Cewen...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Cewen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 Pangeran dan Puteri Penyihir...
***********
Raavero menghempaskan tubuh mungil Rania ke sofa dan menjepit Rania dengan kedua paha kekarnya. Tangannya melepas kemejanya tidak sabaran. Dengan kasar ia menarik paksa kemeja putih Rania. Rania menggigit bibirnya kuat saat kancing-kancing kemeja berhamburan tak tentu arah. Dia berusaha melepaskan dirinya, namun Raav sudah setengah jalan untuk menaklukkannya. Ketika pria itu mendekam dalam dirinya, memaksa sang gadis menerima kehangatannya, Rania menggigit bahu Raav putus asa. Raav meringis kesakitan dan semakin tertantang. Rania berharap dalam hati, pria itu setidaknya masih memiliki satu ons kesadaran sekalipun terlambat.
"Aku pikir Ayahmu sungguh dermawan karena mengirimkan anak perawannya. Ternyata, kamu sama saja seperti wanita lainnya. Ayahmu tetap licik seperti biasanya. Aku ingin tahu dengan siapa kamu menghabiskan ..."
"Hentikan!"
"Kau menjijikan Rania. Berhentilah berperilaku seperti orang suci ..."
Rania sekuat tenaga mendorong Raav yang semakin kasar. Ketika Rania menyerah, tangannya gemetaran memeluk leher Raav. Sesuatu yang hangat menjalar dalam tubuhnya. Nyeri yang tak tertahankan, tak seberapa dibandingkan perih yang Raav ciptakan untuknya. Air matanya merebak.
*************
Angin berhembus cukup kencang. Rania terbangun oleh suara ketukan tak beraturan di kaca jendela kamar. Pohon palem depan Bridal sudah lumayan tinggi. Ujungnya kini telah mencapai loteng. Sepertinya sudah harus ditebang. Jika tidak, dahannya akan terus mengetuk jendela kamar saat dihempas angin. Pikir Rania.
Tanpa membuka mata, ia menikmati kesendiriannya. Sunyi. Tak terdengar suara orang dan bising kendaraan yang biasanya memenuhi jalanan kota. Ini agak aneh.
Mengapa begitu sepi? Apakah semua staf telah pergi ke lokasi pernikahan Andara? Mengapa aku tertidur sementara Andara akan menikah besok? Aku terlelap sementara Summer menungguku? Berapa lama aku telah tertidur?
Andara akan punya alasan merajuk padanya kini, ketika menemukan Rania tidak datang ke pesta lepas lajangnya.
Saat berusaha meregangkan tubuh, ia merasakan perih. Lengan, lutut dan pahanya ngilu. Rania mengumpat jengkel. Terlebih ketika bayangan Raav menindih tubuhnya sore tadi, terputar kembali. Raavero Alves, tuduhan tak berdasar, keraguannya pada Rania telah melukai Rania semakin dalam. Pria itu melakukan kekerasan verbal dan fisik pada Rania di waktu bersamaan.
"Aku akan melaporkan pria itu," janji Rania.
Mata terbuka perlahan, Rania kembali terperangah. Kelambu berenda putih dan ... Dia tidak di loteng Bridal, tetapi berbaring di kamarnya di kediaman Alves. Apa yang terjadi? Dia sedang bersama Raav tadi sore. Pria itu marah karena Rania masih belum kembali ke rumah untuk mengurus Summer. Mereka ...
Rania menarik selimut berusaha menutupi seluruh tubuh. Raavero telah menyentuhnya. Pria itu juga membawanya pulang. Apakah Rania pingsan saat ...?
Sebulan ini, Rania punya banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Rania akan menerbitkan satu buku penuh pertanyaan tanpa jawaban. Tanpa sadar perutnya berbunyi. Otomatis ia meremas perutnya, berusaha menahan lapar.
Mengabaikan perih di sekujur tubuh, Rania turun dari tempat tidur, mencermati situasi, menyeret kakinya, membuka pintu kamar dan menengok ke luar. Hening. Udara dingin serta merta menyergap, Rania buru-buru menutup pintu.
Perutnya kembali berbunyi lebih keras, minta dipuaskan. Ia memutuskan memakai jaket besar dan hangat, kembali buka pintu lalu menuju ke dapur. Dia harus makan sesuatu. Atau ia akan mendengar konser alat-alat pencernaannya sampai pagi. Lagipula, Rania harus memeriksa kondisi Summer.
Saat menuruni tangga, langkahnya sempat terhenti. Indera pendengaran menangkap samar-samar gurauan dari ruang santai. Dia memutuskan untuk tetap mencari makanan. Dari ruang santai, suara Televisi, celotehan Selena dan suara Raav terdengar jelas. Rania tidak mungkin memutari halaman depan untuk pergi ke dapur, tetapi menghadapi Raavero saat ini setelah kejadian sore tadi, lebih tidak mungkin lagi.
"Dad, Aku ingin Mommy dan Daddy tidur di kamarku malam ini? Boleh yah ... "
Itu suara Selena. Didesak rasa penasaran, Rania mengintip. Selena duduk diapiti kedua orang - tuanya. Mereka asyik menonton Malaficient. Mereka memunggungi pintu masuk ruang tengah. Jadi, ketiga orang itu tidak akan menyadari kehadiran Rania.
"Tanya Daddy-mu, Selena!"
"Ayolah, Dad. Semenjak di hotel, kalian tak lagi pernah menemani aku tidur."
Gadis kecil itu merengek, bangun dari tempatnya semula, menyisakan ruang seukuran tubuhnya di antara Raavero dan Mikaila. Gadis itu naik ke pangkuan Raavero dan mulai bermanja-manja.
"Kemari Mom!" tangan kecilnya menarik Mikaila merapat pada Raavero. "Bentangkan tanganmu, Dad! Nah ... seperti ini baru keren. Aku akan menunggui Mommy dan Daddy berkencan. Aku tahu orang dewasa tak mengerti film anak-anak. Jadi, kalian diijinkan berkencan saat aku sedang menonton."
Selena kembali menonton film. Sementara kedua orang tuanya terlihat kikuk duduk berdempetan. Tangan kanan Raavero terbentang di atas punggung sofa, sedangkan tangan kiri memeluk Selena.
Beberapa saat kemudian, Mikaila mengambil inisiatif bersandar pada Raavero dan lima menit kemudian tangan Raav membelai rambut Mikaila yang indah itu.
Gerakan tak terduga Raavero membuat Mikaila mendongak tak percaya. Mata itu berbinar-binar di bawah cahaya lampu. Senyumnya merekah. Rania tertegun di tempatnya berdiri. Pria itu memang reinkarnasi Casanova, terkutuklah di dasar neraka. Perut Rania seakan baru saja terisi sesuatu. Ia mendadak kenyang.
"Ceritakan padaku, film apa ini, Selena?" tanya Raav sambil menciumi rambut Selena.
"Dad, tak tahu? Ini film dari dongeng Puteri Tidur, Dad. Tetapi Malaficient, dia penyihir yang baik. Aku suka padanya," jawab Selena.
"Penyihir? Baiklah. Aku juga punya dongeng tentang Penyihir."
"Benarkah?"
Raav mengangguk penuh teka-teki membuat Selena sangat penasaran.
"Kita akan tidur bersama malam ini. Ayah akan menceritakan kamu dan Ibumu tentang dongeng itu. Seorang gadis penyihir dan senampan kue dadar."
"Ada kisah itu? Kok, aku nggak pernah dengar yah? Puteri yang mana, Dad? Cinderella? Puteri Salju? Aku ingin dengar." Selena mengguncang tubuh ayahnya.
"Mau dengar?"
Selena mengangguk antusias. Raavero mengatur posisi duduknya agar Selena merasa nyaman dan menurunkan volume televisi.
"Dahulu kala, ada seorang Pangeran. Dia tinggal di istana mewah dan megah. Ayah dan Ibunya adalah Raja dan Ratu di istana itu.
Suatu hari, istana indah mereka diserang oleh keluarga penyihir. Mereka menghancurkan Raja dan mengusir Ratu pergi dari istana. Tetapi, mereka mengurung sang pangeran di salah satu ruangan istana untuk dijadikan sandera. Puteri keluarga penyihir itu sangat cantik rupawan. Awalnya sang pangeran sangat membenci Puteri penyihir. Dia selalu merengek pada Pangeran untuk berteman dengannya. Puteri juga mengajak Pangeran bermain, namun Pangeran selalu mengusirnya. Setiap pagi, sang Puteri Penyihir datang membawakan Pangeran senampan dadar gulung. Awalnya Pangeran menolak makan karena takut diracuni tetapi dia sangat kelaparan, dia lalu menghabiskannya. Tanpa disadari dia mulai menyukai puteri sang penyihir. Dia jatuh cinta padanya dan menjadikannya istri. Itulah awal mula bencana. Puteri Penyihir itu ternyata sangat jahat. Dia ternyata menaruh jampi-jampi di dalam dadar gulung, sehingga Pangeran tergila-gila padanya."
Raavero berhenti sejenak. Dia mengelus helaian rambut-rambut Selena. Merapikannya.
"Lalu, Dad?"
"Pangeran ingin membunuh Puteri Penyihir itu karena dendam kesumat, tetapi dia sangat jatuh hati padanya. Lalu datanglah seorang malaikat, dia membantu Pangeran untuk melihat betapa Pangeran telah diperdaya Puteri Penyihir. Malaikat itu adalah ... "
Wajah gembul Selena tersenyum penasaran. Mulutnya terbuka separuh menunjukkan gigi-gigi lucunya.
"Malaikat itu adalah Selena ... "
Raavero menggelitik perut Selena, membuatnya terkekeh geli. Wajah tembem Selena bersemu merah dan dia menciumi ayahnya gembira.
"Aku akan membunuhmu penyihir jahat," seru Selena memainkan tangannya menyerupai tongkat ajaib.
"Ampun ... Malaikat Selena," sahut Raavero pura-pura ketakutan.
"Kena kau!"
Selena menggigit hidung Ayahnya dan Raavero balas menggigiti lengan gadis itu gemas.
"Ampun, Dad ... " Mereka cekikikan.
"Ayo Selena. Waktunya tidur!"
Rania berbalik perlahan dan pergi dari sana. Jadi akulah Puteri penyihir itu? Dan nampan kue dadar dulu berisi jampi-jampi.
Langkah Rania terhenti di ujung tangga, matanya membentur gudang perkakas sempit di bawah tangga. Seperti tersihir, Rania melangkah menuju ke sana. Aroma pengap menyerbu hidung ketika pintu dibuka. Rania masuk ke dalam dan menutup pintu perlahan. Tanpa menyalakan lampu, memori pada Raavero terulang.
Wanita itu terduduk di pintu dan memeluk lututnya, lalu menangis sesenggukan. Kedua telapak tangan menangkup wajah mungilnya agar isakan tak terdengar dari luar sana. Dia menginginkan pria itu tapi tak berdaya. Hatinya telah hancur berkeping - keping.
"Jangan menangis!" Menghibur diri sendiri.
"Aku akan menangisi Raavero semalaman ini dan melupakannya besok."
"Bisakah?"
"Aku akan membuat Summer sembuh dan segera pergi dari sini."
"Aku akan mencari pinjaman dan mencicil utangku seumur hidup."
"Bisakah?"
"Aku harus bisa dibanding tersiksa begini."
Rania menumbuhkan banyak tekad di dadanya. Rania Alexander, cantik rupawan, mandiri, ambisius, tak mudah jatuh cinta dan hanya memikirkan karirnya, tetapi dia berakhir di Kediaman Alves sebagai istri Raavero Alves.
Dia jatuh cinta pada suaminya dan akan mempertahankan pernikahan, tetapi hanya jika Raavero percaya padanya.
Rania bertekad akan mengakhiri cintanya pada pria itu di sini. Di mana cinta pada Raavero mulai bersemi.
Mereka tidak punya dasar cinta yang kuat. Pria itu cepat terpengaruh, mudah meragukan Rania dan komunikasi mereka buruk. Mereka selalu salah paham di segala segi kehidupan. Tidak ada untungnya dipertahankan. Hanya akan menimbulkan luka dan penderitaan.
*********
Notes : Readers yang terhormat. Jangan lupa jejaknya. Like, share, favorit dan ikuti Author agar dapat update-an episode terbaru. Kritik dan saran yang membangun sangat Author harapkan.
Selamat membaca yah....