Arifah yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar seringkali mendapatkan kenakalan teman-temannya bahkan gurunya sendiri pernah sesekali mempermalukannya.
Puncaknya, Aska sebagai saudara kandung Arifah tidak memberitahunya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan sebuah pesawat. Tidak sampai disitu, Aska sebagai keluarga satu-satunya yang ia punya pun juga pergi meninggalkannya. Belum lagi menghadapi anak angkat Mami yang ternyata seseorang yang datang hanya untuk mengambil keuntungan dari keluarganya.
Lalu mampukah Arifah berdamai dengan takdir yang telah digariskan? Dan apakah dengan hadirnya malaikat pelindung disisinya mampu membuatnya menjadi pribadi kuat dan tangguh?
Saksikan kisah selengkapnya ya, jangan lupa like dan vote juga. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sariyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 29 Alasan Vika
Sementara itu ditempat lain..
"Siska, kamu pulang dengan ku saja!" ucap Arifah mengagetkan Siska.
"Ta tapi.." ucap Siska gelagapan.
"Bukankah kamu kerumahku besok?" tanyanya lagi.
"Sekarang saja!"
Arifah menarik lengan Siska menuju mobil. Siska pun tak mampu menolak ajakan Arifah.
"Pak Damang, kita kerumah temanku dulu." ucapnya setelah masuk kedalam mobil.
Diperjalanan menuju rumah, Siska ketakutan bagaimana nanti jika Vika marah karena sudah membawa Arifah padanya. Ia tidak ingin kehilangan sahabatnya sedari kecil itu. Vika sangat mudah emosi dan ngambekan, itulah sebabnya ia tidak tega kalau sampai perbuatannya melukai Vika. Entah kenapa menghadapi Vika ia selalu kalah karena memang sifat buruk Vika salah satunya adalah tidak boleh kalah meskipun yang diperbuat salah.
Orang tua Siska dan Vika sahabat sedari dahulu, maka tidak heran jika Vika dan Siska juga menjadi sahabat baik. Namun dalam persahabatan mereka Siska harus banyak mengalah termasuk untuk urusan cowok. Pernah pada suatu hari ia kepergok menyukai Febri. Febri hidup sebatang kara dan semua biaya hidupnya ditanggung keluarga Vika. Vika sering mengajak Siska kerumah sederhana milik Febri, sejak saat itu mulailah tumbuh rasa suka pada Febri. Siska mulai memberanikan diri mendekati Febri, ia sering mengantarkan makanan, baju baru dan juga keperluan lainnya untuk Febri. Vika yang tahu kalau Siska sering mendatangi Febri marah besar, Vika tidak suka jika Siska dekat-dekat dengannya. Siska juga tidak tahu mengapa Vika semarah itu padanya.
Sesampainya dirumah Siska..
"Ini rumah siapa?"
"Rumahku" jawab Siska berkeringat dingin.
"Kita kerumah Vika saja, dia pasti sudah pulang sekolah." ucap Arifah yang sudah tidak sabar.
"Kamu pasti tahu rumahnya kan? Sekarang kamu tunjuk rumahnya yang mana."
Siska mengangguk, menelan ludahnya kasar.
Sesampainya didepan rumah Vika yang ternyata disana juga ada Febri, tampak Vika sedang bercakap-cakap dengannya sangat serius.
"Pak Damang tunggu disini dulu, saya ada keperluan sebentar." ucap Arifah pada Pak Damang.
"Baik Non."
"Ayo kita turun" ucap Arifah pada Siska.
Mereka pun turun dari mobil dan menuju rumah Vika.
Arifah!
Vika yang sadar dengan kehadiran Arifah bersama Siska menatap Siska lekat. Seolah mengerti dengan tatapan Vika, Siska hanya menggelang. Tatapannya beralih pada mobil yang membawa mereka berdua.
Sepertinya itu bukan Kak Aska saudara kandung Arifah! Aku tidak perlu was-was.
Vika menyeringai Arifah tanpa Aska.
"Arifah, kamu ngapain kesini? Tumben banget." tanyanya ramah yang dibuat-buat sembari mempersilahkan Arifah duduk.
Siska menatap Febri, ia sangat rindu dengan lelaki itu karena sudah sangat lama mereka tidak berjumpa.
Sadar dengan tatapan sendu milik Siska, Febri membalasnya dengan senyuman.
"Kenapa kalian!" tanya Vika mengagetkan Febri dan Siska.
"Awas aja ya kalian, rumahku ini bukan tempat untuk melepas rindu!" ucap Vika lagi yang berhasil menebak bahwa sahabatnya dan Febri saling merindukan satu sama lain.
"Aku juga rindu, rindu padamu" ucap Arifah pada Vika menatapnya lekat-lekat, Vika juga tak kalah tajam menatapnya.
"Terakhir kali kita ketemu ditaman kota kan, padahal aku ingin sekali berbicara banyak padamu."
"Katakan saja ada keperluan apa kamu kemari." tanya Vika tanpa basa basi.
Aku juga sudah tidak sabar Vika!
"Kamu tahu tidak perbuatanmu itu hampir mencelakaiku!"
Tatap Arifah tajam, sebenarnya ia ingin sekali menjambak rambut indah milik Vika kemudian menjedotkan kepalanya kedinding. Karena perbuatannya itu ia dijauhi orang tua dan juga Aska, belum lagi ia harus menghadapi Pak Hasibuan. Tapi semua itu harus ia buang jauh-jauh, ia masih membutuhkan Putri disisinya apalagi Putri adalah permintaan Mami untuk menjaganya. Ia tidak ingin mengecewakan Mami disana.
"HAHAHAA.. Aku sangat senang tujuanku tercapai." ucap Vika terbahak-bahak.
Arifah tidak menyangka manusia sekecil Vika tidak mempunyai hati nurani. Mengerikan! Tapi Arifah berusaha untuk tetap tenang, ia pun mengambil nafas dan membuangnya pelan.
"Sekarang katakan, apa maksud dan tujuanmu melakukan itu padaku, aku merasa kita hanya berteman biasa dan aku tidak pernah menyakitimu."
"Aku tidak suka denganmu, itu saja. Itulah sebabnya aku ingin mencelakaimu. Dan aku tidak akan berhenti sampai disni, aku akan terus membuatmu sakit sakit dan selalu sakit hingga tidak dapat melupakan apa yang menimpamu!" ucapnya santai namun menatap tajam Arifah.
"Kamu ini! Aku tidak menyangka kamu akan melakukan itu semua tanpa alasan yang jelas. Aku tidak akan membiarkan mu melakukan hal buruk padaku lagi!" ucap Arifah dengan isak tangis meninggalkan kediaman Vika. Ia sungguh tidak menyangka seorang Vika memiliki sifat picik dan sangat mengerikan.
"Ayo kita pulang Pak!" ucap Arifah sesampainya didalam mobil sembari mengelap air matanya.
"Kamu ini jahat sekali" ucap Siska.
"Diamlah, ini urusan ku."
"Aku tidak menyangka kamu akan melakukan itu terhadapnya. Ingat Vika yang kamu lakukan itu berbahaya, bagaimana jika Ayah dan Ibu mu tahu, mereka pasti akan memarahimu!" ucap Siska menyadarkan sahabatnya.
"Aku sudah bilang padamu, diam! jadi diamlah!" ucapnya dengan senyum licik menatap mobil Arifah yang sudah menjauh.
"Sedikitpun aku tidak akan membuatnya tenang."
Kamu belum kena karma, karma is real Vika! batin Siska.
Febri yang sedari tadi menjadi pendengar yang baik hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ingin sekali ia memberikan peringatan pada Vika, namun ia tidak mempunyai kuasa apapun, ia takut kalau sampai Vika mencabut biaya hidupnya. Ia tidak mau hidupnya terluntang lantung dijalanan.
Selama diperjalanan Arifah tak henti-hentinya menangis. Sebenarnya ia berusaha menahan air matanya keluar, namun air matanya lolos begitu saja, ia tidak ingin Pak Damang khawatir dan menceritakan semuanya pada Aska.
"Non baik-baik saja?" tanya Pak Damang yang sudah menahan rasa ingin tahunya sedari tadi sembari menyodorkan tisu untuknya.
"Apa perlu saya hubungi Tuan Aska?"
"Tidak jangan, aku baik-baik saja." ucap Siska sembari menerima tisu pemberian Pak Damang.
Arifah menyandarkan tubuhnya dikursi mobil, ia masih tidak menyangka Vika akan sangat membencinya.
Sekarang apa rencanamu Putri? tanya Arifah pada Putri didalam hati.
"Lihat saja besok kabar mengenai dirinya" ucap Putri yang sudah berada disampingnya.
Arifah memejamkan matanya mengingat beberapa bulan yang lalu. Mami, Papi dan Aska sangat membencinya dan pertama kalinya ia harus menerima tamparan dari Papi dan Papi melakukan itu semua didepan orang banyak. Didepan para guru terhormat, Arifah sangat malu sekali, padahal ia sama sekali tidak melakukan itu semua. Belum lagi Papi harus menyiksa perutnya, tidak memberinya makanan dan minuman sedikitpun. Papi membiarkannya begitu saja tanpa ada rasa belas kasihan. Papi tega sekali. Namun itu semua karena ulah Vika yang sudah melewati batas, Papi melakukan itu untuk kebaikannya agar tak melakukan hal serupa. Tapi bukan Arifah yang melakukan itu semua. Vika kamu benar-benar jahat! Aku akan menunggu apa yang akan dilakukan Putri terhadapmu nanti!
.
.
.
Jangan lupa likenya 👍
jangan lupa jaga kesehatan jugaa
like nya sudah mendarat
lanjut dan semangat selalu💪😍💜
Semangat tuk karyanya ya kak 🤗❤️