Menceritakan dua kisah, antara Gibran anak broken home yang bertemu dengan Caramel. Dari pertemuan yang tak terduga, membuat Gibran merubah sikapnya secara perlahan demi mempertahankan hubungannya. Disisi lain dirinya juga harus mengalami penderitaan selama berada di rumahnya.
Selamat membaca:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Gibran Marah?
...Selamat Membaca📖...
...🎨🎨🎨...
Siang ini Caramel berniat untuk pergi ke kelasnya Gibran, sejak tadi malam pikirannya selalu mengarah ke cowok itu. Dia sudah membawa kotak makan yang berisi roti berselai kacang di tangannya, yang dia siapkan sendiri sebelum pergi ke sekolah.
Saat bel sekolah berbunyi, dirinya langsung keluar kelas.
Beruntungnya cowok itu sedang berada di kelasnya, bersama keempat anggotanya. Dia masuk dengan sedikit rasa ragu, dia menghela nafas kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam.
"Permisi,"
Semua anak dikelas menoleh kearahnya.
"Ada apa?" tanya Bram
Caramel menoleh kearah Gibran, cowok itu sedang duduk diatas meja dengan kaki satu diatas. Dia tersenyum kepada cowok itu, namun senyumnya seketika memudar ketika Gibran tidak membalasnya, malah memalingkan wajahnya kearah lain.
"Gue, mau ngomong sama Gibran."
"Bos, itu. Mau ngomong sama lo, katanya."
"Bilang, gue lagi males ngomong."
"Katanya males ngomong, emang mau mau ngomong apa?"
Caramel kembali menoleh kearah Gibran. Cowok itu sibuk bermain game onlain bersama yang lain. Rasa kecewa menyelimuti hatinya, apakah dirinya sudah melakukan kesalahan? hingga Gibran tak mau bicara dengannya.
"Nggak jadi deh, gue mau ngasih ini aja." Bram mengambil kotak ditangannya. "Bilangin juga, jangan telat makan."
Bram mengangguk.
"Ya udah gue pergi dulu ya."
"Oke, hati-hati."
Caramel mengangguk dan tersenyum. Sebelum pergi dirinya kembali melihat Gibran, namun cowok itu sama sekali tidak menoleh kearahnya. Dia melangkah keluar, menuju kantin. Menyusul ketiga sahabatnya yang sudah dulu kesana.
...🎨🎨🎨...
Gibran masih kesal dengan gadis itu, namun dari hati kecilnya dia tidak tega melihat wajah gadis itu kecewa bercampur rasa bersalah. Namun, dia tetap kokoh dalam pendiriannya. Dia tetap akan marah kepada gadis itu.
Bram berjalan menghampiri Gibran dan memberikan kotak makan yang tadi diberikan oleh Caramel.
"Ini bos. Kasian tau Caramel, lo cuekin kaya gitu."
Rival menoleh kearah Gibran. "Gengsin kok di pelihara."
Gibran melirikkan matanya kearah Rival dengan tajam.
"Diempet orang lain, baru tau." sambung Asep
"Diem lo," Gibran membuka kotak makan tersebut, dia tersenyum ketika melihat roti yang berselai kacang didalamnya.
"Ke kantin nggak?" tanya Revan
"Ayok." jawab Bram, Asep dan Rival secara kompak. Kemudian beranjak dari duduknya.
Rival menepuk pundak Gibran. "Ikut nggak?"
"Duluan aja,"
"Mau makan roti itu, udah nggak marah dong sama Caramel." Ketus Revan
"Masih,"
"Lo beneran marah sama tuh cewek,"
"Lo kira."
"Udah ah, ayok. Gue udah laper. Biarin dia disini, menikmati roti selai kacangnya." ucap Revan.
Setelah keempat anggotanya pergi, Gibran mengambil roti tersebut dan memakannya. Enak, apakah gadis itu sendiri yang menyiapkannya sendiri. Saat ingin melahap roti terakhir, suara seseorang berhasil mengurungkan niatnya.
"Gibran," sapa Sandrina yang baru masuk kedalam kelas.
Gibran menatap Sandrina dengan malas. "Ngapain lo kesini."
"Kita makan ke kantin yuk, aku udah lapar." Sandrina meringis.
"Lo bisa sendiri kan?!"
Sandrina menatap kotak makan yang berisi sepotong roti di tangan Gibran. Dia langsung menatap Gibran dengan heran. "Kamu bawa bekel? tumben."
"Bukan urusan lo,"
Gibran beranjak dari duduknya, kemudian memakan sepotong roti tersebut. Dia berjalan melewati Sandrina begitu saja, sebelum keluar kelas dia meletakkan kotak makan tersebut kedalam laci mejanya.
"Aku ikut ya."
Gibran hanya menoleh kearahnya, tanpa berbicara sedikit pun. Kemudian pergi meninggalkan Sandrina yang masih berdiri ditempat semula.
Sandrina yang merasa terkacangi, mendengus kesal. Walaupun sudah biasa dengan sikap Gibran yang seperti itu. Dia harus menyelidiki siapa yang sudah memberikan makan siang untuk Gibran.
Sandrina menatap pintu kelas, dengan tajam dan penuh amarah.
...🎨🎨🎨...
Istirahat kedua Caramel ingin pergi ke perpustakaan, untuk mengembalikan buku yang sudah ia pinjam sekaligus meminjam buku lagi.
Dia menyusuri lorong sendiri sambil melamun tidak jelas, pikirannya masih dipenuhi tentang cowok itu. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang harus dia tanyakan kepada Gibran, namun cowok itu sama sekali tidak mau berbicara dengannya.
Sesampainya di perpus dia mengembalikan buku yang dipinjamnya sesuai tempat semula. Kemudian mencari buku yang hendak ia pinjam lagi. Dia mengambil novel romanca, setelah itu dia duduk di kursi. Jam istirahat masih sepuluh menit lagi, dia berniat untuk menghabiskannya di perpus. Lagian suasana perpus sangat sepi, dia bisa tenang membaca disini.
Namun, sayangnya dia gagal fokus. Pikirannya masih menuju ke Gibran, ah lebih baik dia kembali lagi ke kelasnya.
Dia memeluk buku yang dia pinjam, kemudian berjalan keluar.
Saat keluar dari pintu perpus, hampir saja dia menabrak seseorang. Jika tidak mengerem langkahnya. Caramel membulatkan matanya dan memeluk bukunya semakin erat.
Dia tersenyum tipis kepada Gibran. Namun Gibran tak membalas senyumnya, dia berusaha melewati Caramel. Namun saat Gibran melangkah ke kiri, Caramel melangkah ke kanan.
"Minggir!" ucap Gibran datar.
"Nggak...lo marah ya sama gue?"
"Nggak, awas gue mau lewat!"
"Kenapa lo pergi aja tadi malam, gue kan jadi nungguin lo." Caramel memasang wajah, melas.
"Kan tantangannya cuma sampai makan malam, nggak sampai pulang kan?!"
Mata elang Gibran berhasil menancap ke mata Caramel. Hatinya seketika hancur, ketika Gibran mengatakan hal tersebut. Ternyata cowok itu sudah tau maksud dirinya mengajak makan malam, jika dirinya tau hatinya sesakit ini mendengar perkataan Gibran dan begitu juga dengan perasaan Gibran, mungkin cowok itu berfikir dirinya sedang dipermainkan. Dia tidak akan melakukan hal bodoh ini lagi, sungguh menyesal.
"Puas lo, jadiin gue barang taruhan?!" sentak Gibran.
Tenggorokan Caramel seakan tercekik, dia menelan salivanya sendiri. "Gue minta maaf."
Caramel memegang lengan Gibran, saat cowok itu hendak pergi. "plise jangan marah sama gue."
"LEPAS!"
Mendengar sentakan dari Gibran, Caramel langsung melepaskan tangannya. Membiarkan cowok itu pergi, dia menatap punggung Gibran dengan rasa perih dihatinya. Air matanya menetes begitu saja.
"Mel." seseorang menepuk pundak Caramel, dia langsung mengusap air matanya dan menoleh ke belakang.
"Rival,"
"Ngapain lo disini?"
"Nggak kok, nggak pa-pa. Lo mau kemana?"
"Mau nyusul Gibran sama yang lain."
"Ouh, gue boleh minta tolong nggak. Tolong bilangin maaf gue ke Gibran."
"Maaf? buat apa?"
"Bilangin aja, gue ke kelas dulu ya. Makasih."
Caramel pergi meninggalkan Rival, dengan langkah kaki yang berat dia menuju kelasnya.
...🎨🎨🎨...
Semua murid sudah berhamburan keluar kelas, Caramel masih memasukkan bukunya kedalam tasnya.
"Naik apa lo, Mel?" tanya Jihan
"Angkot kayaknya, lo sama Revan?"
"Iya,"
"Udah ayok keluar." ucap Naura
"Bentar." Caramel mengambil ponselnya, yang berdering di saku bajunya.
Dia membuka pesan dari nomer yang tidak dikenal.
new number
Pergi ke kolam renang belakang sekolah, sekarang!
Ada hal penting yang ingin gue sampein ke elo tentang Gibran.
14:05
Caramel mengerutkan keningnya, saat membaca pesan dari nomer yang tidak dikenal. Tapi kenapa dia tau tentang Gibran, apakah dia salah satu murid SMA Pradipta? sebenarnya Caramel sedikit ragu, tapi rasa penasarannya kembali muncul.
"Kenapa, Mel?"
"Nggak kok, kalian duluan aja. Gue mau ke toilet dulu."
"Benenar nih, nggak mau kita tunggu?"
"Nggak usah."
"Ya udah kita duluan ya."
"Iya."
Setelah ketiga sahabatnya pergi, Caramel keluar dan menyusuri lorong menuju kolam renang yang ada di sekolah ini. Kebetulan kolam renang tersebut berada di belakang gedung kelas sebelas.
Bersambung.....
salam my Kids My Hero
kisah Aluna
Aq msh setia..
aq msh setia lh nungguin....
semangat terus berkarya ya thor.. ceritamu bagus.. aku suka 👍👍