Carla, seorang gadis yang memiliki sosok kekasih yang mencintainya dengan abnormal. Rasa cinta yang dimiliki oleh kekasihnya untuk dirinya, seakan merantai hidupnya. Kekangan yang mengerikan menjeratnya pada sebuah lingkaran, tak berujung dan terus berputar. Hatinya milik laki - laki itu, jiwanya, raganya, termasuk nyawanya.
Dirinya akan bertahan, itu pasti. Karna hatinya telah terenggut begitu saja, dan masuk ke dalam hidup kelam lelaki itu. Namun jika jiwanya terus terkikis, maka satu hal yang akan ia lakukan.
Pergi.
"Aku nyerah, mari kita akhiri sampai disini Steve."
Percaya atau tidak, bibirnya sungguh kelu untuk mengatakan itu. Tubuhnya gemetar, karena cinta yang ia impikan selama ini ternyata semenyakitkan itu.
"Ahkk.." teriak Carla kala tangan kokoh itu menekan luka di dahinya sambil tersenyum smirk.
Carla tersenyum kecut.
"Mati atau tetap bersamaku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selingkuh?
"Apa yang kau lakukan?"
Hening, hanya gema dari suara Mr. Hadwin yang terdengar di dalam ruangan bercat putih itu. Segala makian dan sumpah serapah terus iya layangkan kepada seorang lelaki yang nampak acuh dihadapannya itu.
"Beginikah caramu bersikap? Dasar berandalan. Tidak berguna, tidak tau malu!"
"Matahari baru terbit, dan kau sudah membuat keributan. Dimana etikamu? Ini sekolah elite, kami tidak menampung berandalan sepertimu. Memaksa seorang gadis, dan itupun didepan umum? Hebat, sangat luar biasa kau memang panutan bagi orang-orang yang tak bermoral."
Mr. Hadwin tersenyum sinis, sembari mengetuk-ngetukkan jari jemarinya di atas meja. Sedangkan laki-laki itu, yang tak lain adalah Alden, hanya diam saja. Sudah 1 jam 30 menit pria paruh baya itu terus berceloteh ria dihadapannya. Namun, satu kata pun tak dapat ia dengar dengan jelas. Pikirannya kalut dipenuhi oleh gadisnya, yang tiba-tiba saja tadi berlindung dibalik sosok lelaki tidak berguna itu. Siapa lelaki itu, mengapa ia bisa tidak mengetahuinya selama ini?
Alden mengepalkan tangannya erat, darahnya mendidih. Kepalanya panas memikirkan ini semua. Belum lagi pria itu tidak henti-hentiya memberinya ceramah. Tidak, bukan ceramah. Lebih tepatnya makian dan hinaan. Ingin rasanya ia menghancurkan kepala pria itu dengan tangannya sendiri.
"Heh kenapa kau menjadi diam anak muda? Mendadak bisu atau takut?" tanyanya sambil tersenyum mengejek dan menekankan kata takut. Alden memejamkan matanya sejenak, lalu menatap tajam Mr. Hadwin yang tengah tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kau katakan tadi, takut? Heh." Alden menoleh kesamping sebentar lalu menatap pria paruh baya itu dengan smirk mengerikan. "Sudahlah, jangan kau pancing singa yang sedang tertidur Mr, karna hanya dengan satu jari kelingking ini bisa mengeluarkan bola matamu. Satu jari kelingking, cuma satu! Lalu bayangkan bagaimana jika kelima jariku ini membelah isi kepalamu, lalu mengeluarkan otakmu yang tidak berguna itu!" celetuk Alden tenang sambil memainkan tangannya sendiri, membayangkan bagaimana ia membelah kepala pria tua itu.
"Kau..."
Mr. Hadwin menggeram marah, berani sekali bocah ingusan dihadapannya itu berbicara seperti itu padanya. Layaknya seorang Psychopath yang tengah mengancam mangsanya. "Berani sekali kau! Dasar bocah ti-" Ucapannya terhenti, ketika deringan ponselnya yang berbunyi seketika. Entah siapa yang menghubunginya pada saat seperti ini. Mr. Hadwin mengambil ponselnya kasar lalu menjawab panggilan itu, tanpa melihat siapa yang telah menelfonnya dan berteriak halo.
"Hallo..siapa ini? Cepat katakan! Aku sedang sibuk, atau-"
"......."
"Hah? Apa yang kau katakan? Tapi anak ini telah membuat ker-"
Tut..tut..tut
"Shit!" umpatnya kesal, Mr. Hadwin melempar ponselnya asal dan menatap Alden tajam. Bukannya takut Alden malah tersenyum sumringah, dan berjalan keluar setelah memberi tawa mengejek pada Mr. Hadwin.
"Sialan! Gara-gara pria tua itu, aku belum sempat memberi pelajaran pada laki-laki kutu buku itu!" Geram Alden kesal, sambil terus berjalan melangkah entah kemana. " Heh! Lihat saja nanti, siapa yang bisa menyelamatkanmu dariku! Aku akan memperlihatkan padamu neraka dunia yang sesungguhnya."
***
Di lain tempat di cafetaria Burlington School, dimana seluruh siswa-siswi berkumpul untuk mengisi perutnya yang lapar. Diujung sana terdapat dua sejoli yang tengah asyik bercanda ria dan saling bertukar tawa. Sedangkan disisi lain, seorang lelaki tengah tersenyum simpul sambil bersedekap dada, mata tajamnya sibuk memperhatikan dan mengamati apa yang membuat gadisnya bisa tertawa lepas seperti itu. Alden mengusap wajahnya sembari tertawa kecil, kemudian mulai melangkah untuk menghampiri dua sejoli tersebut.
"Wah...apa aku boleh ikut bergabung bersama kalian? Aku juga ingin tertawa lepas seperti gadis manis ini." ujar Alden sembari menumpu wajahnya dengan kedua tangannya dan menatap Keisya serta lelaki yang bernama Arsya Melviano.
Alden mengernyit melihat Keisya yang berhenti menyuapi makanan kemulutnya, lalu dengan lembut ia mengelus kepala gadis itu, dan berkata, "Kenapa sayang? Ayo teruskan makannya..aku akan menemanimu disini."
"Tidak..a-aku sudah kenyang."
"Hm sudah kenyang?"
"I-iya.."
Dengan raut wajah yang memucat Keisya berusaha setenang mungkin. Jangankan makan, meneguk air liurnya saja rasanya ia tidak mampu. Entah kenapa suasana disini tiba-tiba terasa creepy.
"Keisya apa kau haus? Sebentar aku ambilkan minum." Melvin yang melihat Keisya tertekan seperti itu sungguh tidak tega rasanya, namun apa haknya berbicara disini?
"Ti-tidak usaha Vin.."
"Hahahahahah." Alden menyugar rambutnya sembari tertawa kecil. Dua pasang manusia ini sungguh lucu dimatanya. Sedangkan gadis malang itu, bahkan tangannya pun sudah mengeluarkan keringat dingin. Entah apa yang akan terjadi padanya nanti. Keisya tersentak kaget, ketika tangan besar itu perlahan menyampirkan anak rambut ditelinganya kemudian berbisik, "Vin? Panggilan apa itu sayang? Mengapa begitu merdu...hingga telingaku rasanya terbakar mendengarnya."
"Ada apa? Mengapa kau berkeringat..apa disini terasa panas? Kalau begitu ayo..aku antar kau mencari udara segar."
Keisya memejamkan matanya erat, sungguh mengapa ia begitu lemah. Harusnya ia bisa melawan lelaki disebelahnya ini. Lupakan tentang melawan, berkata sepatah katapun ia tidak bisa. Lidahnya kelu, seluruh tubuhnya terasa mati rasa. Semua ketakutan ini telah menguasai dirinya.
"Ayo!"
Alden beranjak dari tempat duduknya sambil memegang tangan Keisya, dengan lembut ia berkata namun penuh dengan penekanan. Dengan kaki yang bergetar, tanpa bicara Keisya beranjak dan mengikuti langkah besar itu.
"Cara lembut sudah kucoba, tapi belum dengan cara kasar."
***
"Carla apa kau bisa berjalan?"
"Bi-bisa kok.."
"Bisa apa kau pincang begini..mari aku antar sampai kelas."
Carla tersenyum sungkan, bukannya karna apa tapi jika ia menerima bantuan dari lelaki dihadapannya ini maka ia tidak bisa menjamin apakah lelaki itu masih bisa meihat matahari esok hari. Namun melihat senyum manis di balik kaca mata itu, membuatnya merasa tidak enak jika harus menolak bantuannya.
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri. Kau ke kelasmu saja, sebentar lagi kelas pasti dimulai."
"Beneran bisa?" tanya lelaki itu dengan guratan wajah khawatir.
Carla tersenyum, dan melambai pada lelaki itu kemudian berjalan menuju kelas. Diperjalanan pandangan Carla kosong, entah kenapa sejak lelaki itu hadir dalam hidupnya semua terasa berubah. Terkadang semua kebahagiaan dunia miliknya, namun kadang seluruh beban dunia ada dipundaknya. Carla tersenyum simpul, sudahlah jalani saja apa yang terjadi esok mungkin lebih indah daei sekarang.
"Semangat!" ujarnya sambil mengepalkan tangannya sendiri, lalu tertawa. Apa yang ia lakukan, seperti anak kecil saja. Carla menggelengkan kepalanya pelan dan tertawa kecil, kemudian membuka pintu kelasnya perlahan.
Kriet...
DEG!
Carla mematung ditempat, namun wajahnya datar dan tidak berekspresi apapun. Tidak menunjukkan emosi sama sekali, entah itu senang ataupun sedih. Dengan kaki yang terseok ia berjalan, menuju kursi paling belakang. Menatap datar dua insan yang tengah bercumbu mesra. Siapa lagi kalau bukan?
Kekasihnya Steve.
...TBC...
...See you next part...