NovelToon NovelToon
Repeatedly Hurt

Repeatedly Hurt

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Tamat
Popularitas:13.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Nidati

Andara Agustin, gadis malang yang tidak diinginkan keberadaannya. Kehadirannya dianggap sebagai kesialan. Kalau bukan karena wasiat sang Nenek, Dara pasti sudah pergi dari keluarga yang memperlakukan dirinya tak lebih dari sampah.

Namun, takdir Tuhan membawa Dara pada seorang Raffaza Alfarezo. Presdir Perusahaan Gerdion, pria dingin dan arogan. Kesalahan satu malam yang mereka perbuat menghasilkan sosok makhluk kecil yang tak bersalah. Akan tetapi, Raffa sudah memiliki kekasih bernama Khanza Abir yang sangat dicintainya.

Siapa sangka justru sang kekasihlah yang meminta Raffa menikahi Dara, lantas bagaimana sikap Dara setelah mengetahui pria yang telah menghamilinya memiliki kekasih yang baik hati. Apa Dara tega menyakiti hati wanita lain demi anaknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nidati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karena Andin

Raffa menghancurkan semua barang yang terdapat di ruangannya. Ia tersulut amarah karena anak buahnya yang memberi kabar tidak sesuai dengan keinginannya. Pecahan kaca berserakan di mana-mana. Ruangan tak lagi rapi, semua berantakan seperti sang pemilik. Tangan mengepal mata menatap tajam dan gigi bergemelatuk menandakan Raffa yang sangat marah. Khanza sangat pintar menyembunyikan diri,  sampai Raffa sendiri tidak dapat menemukannya.

Mengambil ponsel miliknya. Raffa menghubungi Arya. Ia yakin Arya tidak akan mengecewakan dirinya. Pria itu selalu berhasil melakukan perintah Raffa.

"Di mana Khanza." Raffa tidak mau bertele-tele

"Maaf tuan saya belum menemukan ...."

"Cepat temukan! Jangan kembali sebelum kau menemukan Khanza!" Menutup telpon sepihak. Nafasnya terengah-engah karena emosi.

Raffa keluar dari ruangan. Semua karyawan menatap bingung melihat kemarahan yang tergambar jelas di raut wajah Raffa. Mereka menunduk sopan ketika Raffa melewati mereka. Satpam yang berjaga menyerahkan kunci mobil pada Raffa dan berlalu meninggalkan perusahaan tanpa memberi alasan pada siapapun. Semua karyawan kelimpungan karena akan kedatangan investor besar, tapi sang presdir tidak ada di tempat. Suasana menjadi ricuh tak terkendali. Arya pun tidak ada di sana. Bagaimana jika investor datang dan Raffa belum kembali, perusahaan bisa rugi besar.

☘☘☘

Suasana restoran yang tenang dan berjalan dengan damai. Berubah ricuh saat kedatangan Andin dan temannya, restoran menjadi ramai karena kerusuhan mereka. Ada beberapa teman Andin yang Dara kenal karena terkadang Andin membawa temannya pulang. Andin sengaja makan di restoran tempat Dara bekerja dan memboyong temannya ke sana. Dia ingin menunjukkan pada temannya meski Dara sudah menikah nasibnya tidak berubah. Memang saat pernikahan Dara Andin memilih pergi berlibur dengan temannya karena menurutnya ada atau tidak adanya dia, pernikahan kakaknya pasti akan terlaksana maka dari itu Andin tidak mengetahui siapa pria yang menjadi kakak iparnya. Dia hanya tahu kalau Dara dinikahi oleh pria kaya, tapi setelah melihat Dara hari ini Andin malah menyeringai jahat karena tidak ada perubahan apapun dari Dara. Jangankan pakaian mahal, sepertinya Dara tidak diperlakukan dengan baik oleh suaminya. Andin cukup tersenyum puas melihatnya.

"Dar, are you okay." Reza melambaikan tangan di depan wajah Dara yang termenung dalam pikirannya sendiri. Dara tersadar mengerjapkan mata, kemudian menggeleng.

"Saya baik," ucap Dara.

"Tidak baik melamun nanti kesambet baru tahu rasa," ejek Reza tertawa. Dara hanya tersenyum kikuk menanggapi perkataan Reza.

"Saya akan keluar sebentar. Titip restoran." Dara mengangguk mengiringi kepergian Reza.

Andin melirik sebentar pada Dara kemudian fokus pada pembicaraan temen-temennya. Ia memiliki niat tersembunyi dengan kedatangan dirinya.

"Guys, gue mau cerita," ucap Andin agak keras menarik beberapa perhatian orang di sana. Karyawan restoran tidak ada yang tahu jika Dara memiliki seorang adik, kecuali Fera.

"Lo semua tahu, 'kan gue itu punya kakak." Dara mengepalkan tangan. Keringat dingin membasahi dahinya, ia gemetaran karena takut Andin akan memberitahu kebenarannya.

"Kenapa sama kakak lo," sahut salah satu teman Andin yang duduk tepat di sampingnya.

"Gak kenapa-kenapa, tapi lo semua harus tahu sebentar lagi gue bakal dapet keponakan," girang Andin memberitahu.

"Wiih selamat donk kalau gitu," timpal teman lainnya.

"Eitss tapi ko bisa, bukannya kakak lo belum married," sangkal yang lain.

"Biasalah, kebablasan. Lo kaya gak tahu pacaran zaman sekarang, grep grep dulu sebelum nikah." Setelahnya yang ada hanya tawa kasihan yang terdengar.

Dara mengurai tautan tangannya menghela nafas lelah tanpa dipinta air matanya sudah terjun bebas. Doanya tidak dikabulkan Tuhan dalam beberapa detik pasti semua akan terbongkar. Dadanya sesak mendengar adik kandungnya menjelekkan Dara di khalayak umum bahkan di hadapan Dara sendiri yang tidak bisa berbuat apapun. Andin benar-benar tidak tahu malu mengumbar aib sang kakak. Luka yang belum kering kembali digoreskan Andin.

Apa hidupnya tidak bisa tenang sebentar saja, kenapa kembali harus tersakiti hanya karena perkataan Andin yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dara sudah keluar dari rumah bagai neraka itu, tapi kenapa perlakuan mereka masih menghantui kehidupan Dara yang sekarang. Tidak bisakah mereka berhenti setelah berhasil mendepak Dara keluar.

"Sekarang kakak lo udah nikah?" tanya teman di sampingnya. Andin mengangguk karena sedang meminum jus.

"Sama siapa." Andin mengangkat bahu dengan mata mengerling tidak tahu.

"Adik laknat. Kakak ipar sendiri tidak kenal." Temannya tertawa mengakui kebodohan Andin.

"Ganteng gak?"

"Ya gak tahu lah gue kan gak datang. Om-om kaya mungkin," sungut Andin kesal. Teman-temannya malah tertawa puas melihat wajah kesal Andin.

Mereka tertawa nyaring tanpa melihat Dara yang terluka dibuatnya. Setiap tawa mereka menciptakan luka di hati Dara. Lidah memang tidak bertulang, tapi mampu mematahkan hati seseorang.

"Maaf, Dek. Gak baik membicarakan privasi orang lain apa yang kalian lihat belum tentu benar," ucap seorang ibu yang duduk di samping meja Andin. Mungkin dia cukup terganggu dengan pembicaraan Andin.

"Maaf ya, Bu. Tidak bermaksud menyinggung siapapun hanya saja itu benar apa adanya."

"Tidak seharusnya Anda menjelekkan kakak Anda seperti ini sama saja kalian menyebar gosip," timpal pengunjung lainnya dengan berdiri.

"Benar! Semua manusia memiliki sisi buruk lain termasuk kalian."

"Iya. Benar." Seluruh pengunjung restoran menjadi kontra. Menyangkal apa yang dibicarakan Andin. Mereka mendukung Dara menolak gagasan yang diberikan Andin.

"Keluar."

"Keluar."

"Huuu."

Sorakan demi sorakan diarahkan ke meja Andin. Salah satu karyawan mendekat karena takut terjadi hal buruk, terlebih pemilik restoran tidak berada di tempat.

"Kami dari pihak Dream Love meminta maaf sebesar-besarnya karena meminta kalian untuk segera meninggalkan restoran. Suasana yang tidak kondusif memungkinkan kami melakukan ini." Karyawan restoran mengulurkan tangan menunjukkan arah pintu keluar dengan sedikit membungkuk.

"Ayo guys kita pergi. Mereka akan menyesal setelah mengetahui siapa yang kita bicarakan." Andin mengambil tas diikuti teman-temannya beranjak dari kursi menuju kasir.

Dara gelagapan, ia menghapus air mata. Menoleh kanan kiri meminta bantuan karyawan lain untuk menggantikannya sebentar, tapi harapan tinggal harapan. Andin sudah berdiri dihadapan Dara.

"Hai, Kak Dara. Kakakku tersayang." Andin tersenyum lebar, menekan panggilannya pada Dara. Memberitahu pada semua yang berada di restoran bahwa sang kasir adalah orang yang ia bicarakan tadi.

Sebagian pengunjung restoran tertegun mendengarnya, tapi ada yang acuh tak acuh. Begitupun dengan karyawan lain. Mereka tahu Dara masih single, tapi sepertinya sekarang tidak.

"Apa kakak bahagia setelah menikah. Ayah dan Ibu sangat merindukanmu, Kak." Ucapan Andin menyakinkan persepsi semua orang. Dara hanya diam menyebutkan nominal yang harus Andin bayar.

"Apa keponakanku baik-baik saja?" Andin mengeluarkan uang menyerahkan pada Dara yang diterima dengan tangan gemetar. Dara menyerahkan bukti pembayaran dan kembalian pada Andin.

Dara menarik nafas, kemudian tersenyum lebar pada Andin. "Aku dan keponakan mu baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Suamiku sangat baik dalam mengurus diriku."

"Benarkah apa kakak ipar sudah bangkrut sehingga membiarkan istrinya bekerja," sinis Andin.

"Tidak! Suami tampanku, tidak ingin istrinya yang cantik ini terkekang dalam rumah mewahnya. Oh ya ada kemungkinan aku dan suamiku akan berkunjung, jadi persiapkan segala sesuatunya karena suamiku tidak akan membiarkan seseorang menyakitiku," ucap Dara datar penuh penekanan. Menyiratkan sebuah ketegasan.

Dara sudah lelah ditindas oleh Andin, ia tidak ingin lagi Andin tertawa di bawah penderitaan dirinya. Sudah cukup, Dara harus bangkit dan membuktikan bahwa ia bisa persepsi Andin padanya. Walau harus menyeret Raffa untuk membungkam mulut Andin.

"Keluar!" teriak ibu-ibu jera melihat keberadaan Andin. Teman Andin menariknya keluar sebelum pengunjung kalap.

"Aku menunggu kedatanganmu, Kak," ucap Andin sebelum keluar.

Dara berpegangan pada meja kasir berkali-kali menarik nafas meredakan perasaan miliknya. Ia menatap satu persatu orang yang berada di sana. Mereka menatap Dara bingung, heran, dan berbagai pandangan lainnya.

"Tidak apa, Nak. Setiap orang memiliki masa kelam tersendiri. Kau tidak perlu malu. Kami percaya apa yang dikatakan belum tentu benar." Dara tersenyum mendengarnya, setidaknya ada yang berada dipihaknya.

"Semangat, Dara. Gue tahu lo strong. Ditunggu traktirannya karena lo gak ngundang kita saat pernikahan," ucap salah satu temannya yang diangguki karyawan lain dan ditertawakan pengunjung restoran. Dara tersenyum tipis. Fera yang berada pada meja pantry menatap Dara dengan mata berkaca-kaca.

Siapa sangka dari kejauhan ada seseorang yang melihat semua dengan mata kepalanya sendiri. Dia penasaran apa yang sebenarnya terjadi di dalam restoran.

***

Happy reading.

Tuh kan ketemu sama Andin. Mulutnya jahat banget deh. Pengen tak jahit tuh mulut. Gimana ya reaksi Andin mengetahui siapa suami Dara.

Salam sayang dari aku.

1
sekar
aku tebak fera
sekar
heh berbelit Belit gitu aja Mulu marah banting pintu pergi,harga diri diinjak Suami dan mertua
sekar
berjuang hnya buat org yg mau diperjuangkan dan kata2nya tidak menghina dan merendahkan,itu sama saja dengan menykiti secara mental walau bukan fisik,sungguh aku ga suka dgn suami dara ini
Ran Aulia
Terimakasih kak, ceritanya bagus 😍😍😍👍👍👍
Nur Halima
Luar biasa
Sella Xhu
pasang koplak 🤣
Sella Xhu
thor... ada cerita buat reza sma fera gaaa
heheh
Sella Xhu
Luar biasa
EndRu
Thor
beneran ayah dihukum 20 tahun ..
heran ..
emang melakukan pembunuhan berencana?😀
EndRu
ooh bar tahu aku Thor..
kalau sakit Karena alergi itu pengobatannya juga pakai dibius
EndRu
Oma bisa diajak curhat ini .
EndRu
a trauma kah?
EndRu
di sini agak heran aku nih. masa ada keributan gitu. Bu Lastri sampai ga denger. ga nolongin. apa bi Lastri lagi g ada di rumah
YK
salah paham terus raffa ini. buruk banget karakternya...
YK
seharusnya sikap ini yg dara lakukan ke keluarganya bukan ke suaminya. gak fair.
YK
memang terlalu bodoh. kan bisa lari dulu sama pembokatnya. trus balik pas pembacaan wasiat dari pengacara. Tokoh utamanya LUAR BIASA BEGONYA.
YK
ya Allah, kenapa ada tokoh yang GOBLOKNYA MINTA AMPUN kayak gini ya???
YK
raffa ini sangat buruk tabiatnya. apa harus disandingkan sama dara? terlalu maksa kayaknya..
YK
maaf ya, umur 25 tahun TERLALU TUA utk bersikap seperti Dara.
Christine Youngran: yupsss tua bangetttt..kecuali dia emang ada bego² ya bawaan lahir..
total 1 replies
YK
umur 25 tahun sudah terlalu dewasa utk diperlakukan kyk gini. seharusnya lebih muda lagi, Thor. 21 atau 22 masih pantas lah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!