Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16: Pindah Sebelum Terlambat
Kembali di rumah persembunyian...
Malam semakin larut, tetapi tidak seorang pun benar-benar berniat tidur. Kartu memori yang ditemukan di dekat mobil pelaku kini berada di tangan tim keamanan Gunawan.
Salah satu teknisi duduk di depan komputer khusus. "Pak Gunawan, saya sudah memeriksanya."
Gunawan berdiri di belakangnya. "Ada apa?"
"Perangkat ini bersih. Tidak ada virus atau program berbahaya yang terdeteksi."
Adrian yang berdiri tidak jauh dari sana langsung berkata, "buka."
Teknisi menoleh kepada Gunawan.
Gunawan mengangguk. "Silahkan."
Kartu memori itu akhirnya dibuka.
Hanya ada satu folder.
Namanya: UNTUK ADRIAN
Nadira langsung merinding. "Kenapa mereka menulis namamu?"
Adrian tidak menjawab.
Teknisi membuka folder tersebut, di dalamnya terdapat satu file video. Tanggal pada file itu menunjukkan dua belas tahun lalu.
Gunawan mengerutkan kening. "Putar."
Video mulai berjalan, awalnya hanya terlihat sebuah ruangan gelap. Kemudian kamera bergerak, seorang pria muncul di depan layar.
Adrian langsung membeku, wajahnya berubah pucat.
"Ayah..."
Nadira menoleh cepat. "Itu ayahmu?"
Adrian mengangguk perlahan. "Iya."
Dalam rekaman, Albert Mahendra terlihat sedang berbicara dengan seseorang yang wajahnya tidak terlihat. "Aku sudah mengatakan berkali-kali. Jangan libatkan anakku."
Suara pria lain terdengar dari balik kamera. "Kalau begitu serahkan perusahaanmu."
Albert tertawa pahit. "Kamu tahu aku tidak akan melakukan itu."
"Kalau begitu kamu tahu konsekuensinya."
Rekaman tiba-tiba berhenti.
Nadira menatap layar.
"Siapa orang itu?"
Adrian tidak menjawab, teknisi kemudian memutar bagian berikutnya.
Kali ini terlihat Albert sedang berbicara melalui telepon. "Gunawan, dengarkan aku. Kalau sesuatu terjadi kepadaku..."
Rekaman terputus lagi.
Gunawan langsung maju, "berhenti."
Teknisi menghentikan video.
Wajah Gunawan berubah. "Putar ulang bagian terakhir."
Rekaman diputar kembali.
Suara Albert terdengar jelas. "Gunawan, kalau sesuatu terjadi kepadaku, jangan pernah..."
Lalu suara berisik, video berakhir.
Gunawan berdiri diam.
Adrian menatapnya. "Om mengenal ayahku?"
Gunawan tidak segera menjawab.
"Om."
Akhirnya Gunawan menghela napas. "Ya."
Adrian mengerutkan kening. "Seberapa dekat?"
Gunawan menatap layar. "Albert bukan hanya teman bisnis Om."
Ruangan mendadak sunyi.
"Dia sahabat Om."
Adrian membeku. "Kalau begitu kenapa Om tidak pernah mengatakan itu?"
Gunawan menatap Adrian dengan tatapan berat. "Karena setelah kematian ayahmu, seseorang datang kepada Om."
"Siapa?"
"Orang yang mengaku mengetahui siapa penyebab kematian Albert."
Adrian langsung mendekat. "Siapa Om?"
Gunawan menatapnya. "Miranda."
Nadira terkejut. "Miranda?"
Gunawan mengangguk. "Dia datang kepada Om beberapa hari setelah ayahmu meninggal."
Adrian mengepalkan tangan. "Apa yang dia katakan?"
"Dia mengatakan bahwa Albert terlibat dalam bisnis ilegal dan kematiannya adalah akibat perselisihan dengan rekan bisnis."
Adrian tertawa hambar. "Om percaya?"
"Awalnya... iya." Gunawan menatap lantai. "Tapi beberapa tahun kemudian, Om mulai menemukan kejanggalan."
"Apa?"
"Semua dokumen yang berkaitan dengan bisnis terakhir Albert hilang."
Adrian terdiam.
"Dan satu-satunya orang yang memiliki akses terhadap dokumen itu..." Gunawan berhenti sejenak.
Nadira menatapnya. "Siapa?"
Gunawan mengangkat wajah. "Miranda."
Adrian mengepalkan tangannya, wajahnya penuh emosi. "Apa maksud semua ini, apa wanita itu ingin mempermainkan aku."
Gunawan hanya terdiam menatap Adrian lalu dia berkata, "Sabar Adrian kita harus mencari tahu mengapa Miranda mengaitkan semua ini dengan kematian keluargaku dan juga kematian Ayahmu. Apa benar dia dalang dari semua ini."
Ruangan itu masih dipenuhi ketegangan.
Adrian berdiri di depan layar komputer dengan tatapan kosong. Nama Miranda terus berputar di kepalanya.
Selama ini, ia mengira Miranda hanya ingin mengambil perusahaan ayahnya. Namun sekarang semuanya terasa jauh lebih besar. Kematian Albert, keluarga Gunawan, rumah sakit, dan orang misterius yang selama ini memberikan perintah dari balik layar.
Gunawan akhirnya memecah keheningan. "Kita tidak boleh mengambil keputusan berdasarkan emosi."
Adrian menoleh. "Om benar."
Gunawan berjalan mendekati meja. "Mulai sekarang, kita anggap setiap informasi yang datang kepada kita sebagai kemungkinan jebakan."
Nadira mengangguk. "Termasuk pesan dari Miranda?"
"Iya."
Adrian menatap Gunawan. "Jadi kita tidak akan datang ke gudang itu?"
Gunawan menggeleng. "Tidak."
Adrian tersenyum tipis. "Aku juga sudah menduga."
Gunawan menatapnya. "Kenapa?"
"Karena kalau mereka benar-benar ingin memberitahuku tentang kematian Ayah, mereka tidak perlu menyuruhku datang ke tempat yang sudah terbakar dua belas tahun lalu." Adrian menunjuk layar. "Mereka ingin aku pergi ke sana karena mereka sudah menyiapkan sesuatu."
Nadira mengangguk pelan. "Berarti kita harus membuat mereka berpikir kita mengikuti permainan mereka."
Gunawan tersenyum tipis. "Benar."
Adrian menatap pamannya Nadira itu. "Om punya rencana?"
Gunawan mengambil ponselnya. "Rencana pertama adalah meninggalkan rumah ini."
Nadira langsung terkejut. "Kenapa?"
Gunawan menatap layar kamera keamanan. "Karena mereka sudah menemukan lokasi ini." Ia menunjuk rekaman pria misterius yang berdiri di luar pagar. "Rumah ini sudah tidak aman."
Adrian mengangguk. "Kalau begitu kita pindah malam ini."
Gunawan menatapnya. "Kita akan pergi ke mana?"
Adrian terdiam sebentar. "Aku punya sebuah vila."
Nadira mengerutkan kening. "Vila?"
"Ya... villa ini berada cukup jauh dari pusat kota. Ayah membelinya beberapa bulan sebelum ia meninggal."
Gunawan memperhatikan Adrian, "apa villa itu masih atas namamu?"
Adrian mengangguk. "Seharusnya masih"
Gunawan berpikir sejenak. "Kalau begitu tempat itu bisa menjadi pilihan."
Nadira menatap keduanya. "Tapi bukankah orang-orang itu juga bisa melacaknya?"
Adrian menggeleng. "Vila itu tidak tercatat sebagai aset utama Mahendra Grup." Ia berhenti sejenak.
"Selama ini aku hampir tidak pernah menggunakannya."
Gunawan akhirnya mengangguk. "Baik. Kita pindah malam ini."
Beberapa jam kemudian...
Para pengawal mulai memindahkan barang-barang penting. Tidak ada yang membawa terlalu banyak, Gunawan bahkan meminta sebagian besar kendaraan pergi melalui jalur berbeda untuk menghindari kemungkinan pengintaian.
Sementara itu, Nadira berdiri di depan pintu kamar.
Ia memandangi ruangan yang baru ditempatinya selama beberapa hari. "Padahal baru sebentar..."
Adrian yang berdiri di belakangnya berkata pelan. "Kamu menyukai tempat ini?"
Nadira tersenyum kecil. "Tempat ini aman."
Adrian terdiam.
"Lagipula..." Nadira melanjutkan, "di sini aku merasa kamu akhirnya bisa hidup seperti orang biasa."
Adrian menatapnya. "Dan sekarang kita harus pergi lagi."
Nadira mengangguk. "Tidak apa-apa." Ia mengambil tasnya. "Selama kita pergi bersama."
Adrian tersenyum tipis. "Terima kasih."
Nadira menatapnya. "Untuk apa?"
"Sudah mau bersamaku."
Nadira terdiam beberapa detik. "Jangan membuatku menyesal."
Adrian tertawa kecil. "Aku akan berusaha."
Satu jam kemudian...
Konvoi kendaraan meninggalkan rumah persembunyian. Gunawan duduk di kendaraan pertama bersama dua pengawal. Adrian dan Nadira berada di kendaraan kedua.
Sepanjang perjalanan, Adrian beberapa kali memeriksa kaca spion. Tidak ada kendaraan mencurigakan, namun ia tetap waspada.
"Ada sesuatu yang ingin kutanyakan," kata Nadira.
"Apa?"
"Setelah semua ini selesai... apa yang akan kamu lakukan?"
Adrian terdiam. "Aku akan mengambil kembali perusahaan ayahku."
"Dan setelah itu?"
Adrian menoleh kepadanya. "Aku belum tahu."
Nadira tersenyum. "Berarti kamu masih punya masa depan untuk dipikirkan."
Adrian menatap jalan di depan. "Kali ini, aku mulai percaya."
"Percaya apa?"
"Bahwa mungkin hidupku belum berakhir."
Nadira tersenyum kecil. "Memang belum."
Beberapa jam kemudian...
Konvoi akhirnya tiba di sebuah kawasan yang jauh lebih sepi. Sebuah vila besar berdiri di antara pepohonan. Pagar tinggi mengelilinginya.
Adrian turun dari mobil. "Selamat datang."
Nadira memandang bangunan itu dengan takjub.
"Ini vila milikmu?"
Adrian mengangguk.
Gunawan turun dari kendaraan di belakang mereka. "Tempat ini cukup bagus."
Adrian tersenyum tipis. "Mulai malam ini, kita tinggal di sini."
Namun Gunawan belum selesai, ia menatap Adrian serius. "Ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Selama kita menyelidiki Miranda, kamu tidak boleh hanya bersembunyi."
Adrian mengerutkan kening.b"Maksud Om?"
Gunawan tersenyum. "Besok kamu mulai bekerja."
Adrian membelalak. "Bekerja?"
"Ya." Gunawan menepuk bahunya. "Om punya anak perusahaan yang sedang membutuhkan seseorang untuk mengawasi operasionalnya."
Adrian terdiam. "Om ingin aku bekerja di sana?"
"Iya untuk sementara." Gunawan menatapnya serius.
"Kamu perlu kembali ke dunia bisnis."
Adrian mengangguk perlahan. "Mungkin itu juga cara terbaik untuk menunjukkan kepada mereka bahwa aku masih hidup dan aku tidak pernah gila seperti yang mereka katakan."
"Kamu benar." Gunawan tersenyum tipis. "Dan satu lagi." Ia menoleh kepada Nadira. "Mulai besok, Nadira juga akan dipindahkan."
Nadira langsung terkejut. "Ke mana, Om?"
"Om sudah menghubungi salah satu rumah sakit yang berada tidak jauh dari sini."
Nadira membelalak. "Jadi aku tetap bekerja sebagai perawat?"
"Tentu." Gunawan tersenyum. "Om tidak ingin masalah ini menghancurkan masa depan kalian."
Nadira mengangguk. "Terima kasih, Om."
Gunawan kemudian menatap Adrian. "Kalian tetap menjalani kehidupan seperti biasa."
Adrian mengerti maksudnya. "Supaya musuh mengira kita hanya berusaha menyelamatkan diri."
"Benar." Gunawan memasukkan kedua tangannya ke saku. "Sementara itu, tim Om akan bekerja diam-diam."
Adrian menatap vila. "Dan kita mencari siapa orang yang sebenarnya berada di belakang Miranda."
Gunawan mengangguk. "Tepat."
Di tempat lain...
Miranda sedang duduk di dalam mobil ketika ponselnya berdering.
"Bagaimana?" tanyanya.
Suara pria misterius terdengar dari seberang. "Mereka meninggalkan rumah persembunyian."
Miranda mengerutkan keningnya. "Pergi kemana mereka?
"Belum diketahui."
Miranda mendengus kesal. "Sial! Cari mereka, jangan sampai mereka bekerja sama untuk menyerang perusahaan milik ku."