Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27: Kue dari Kian
Untuk pertama kalinya sejak gudang itu, tepi matanya memerah.
Saat Ning membuka mata lagi, langit di luar jendela VIP RS Pondok Indah sudah gelap.
Lampu kamar dibuat redup. Udara berbau antiseptik dan bunga segar. Lehernya terasa tertarik karena kasa, sedangkan kaki kirinya berat, kaku, terangkat sedikit di atas bantal penyangga. Gips putih membungkus dari bawah lutut sampai pergelangan.
Ia menatap gips itu lama.
Lalu napasnya mulai pendek.
"Ning."
Kevin langsung berdiri dari sofa samping ranjang. Kemejanya masih kemeja yang sama dari gudang, hanya jasnya sudah dilepas. Matanya merah tipis, tetapi suaranya tetap rendah.
"Lihat aku."
Ning menoleh perlahan.
"Aku di rumah sakit?"
"RS Pondok Indah. Operasi tidak perlu. Tulangnya retak dan harus digips. Dokter akan pantau."
Ia mengangguk kecil. "Bu Sri?"
Kevin diam setengah detik.
"Sudah selesai."
Ning mengerti.
Tangannya mencari sesuatu di atas selimut. Kevin segera menggenggamnya.
"Kian?" tanya Ning.
"Dalam perjalanan. Aku menunggu kamu sadar dulu sebelum dia masuk."
Mata Ning langsung basah. "Dia tahu?"
"Dia tahu kamu terluka. Tidak semua detail."
Pintu kamar diketuk pelan.
Kevin menoleh. "Masuk."
Kian berdiri di ambang pintu dengan jaket hoodie hitam dan rambut perak yang masih sedikit berantakan. Di tangannya ada kotak kue kecil dan satu kantong dari toko dessert. Wajahnya putih sekali.
Matanya jatuh ke gips di kaki Ning.
Langkahnya berhenti.
Ning melihat jakunnya bergerak. Anak itu menggigit bagian dalam pipinya, keras, sampai otot rahangnya menegang. Matanya merah, tetapi tidak ada air mata yang jatuh.
Ia melihat kasa kecil di leher Ning, lalu cepat-cepat memalingkan wajah seolah luka itu menyakiti matanya.
"Dokter bilang apa?" tanyanya.
Kevin menjawab dari samping ranjang, "Retak tulang. Harus istirahat. Tidak boleh turun sendiri. Luka leher dangkal, sudah dibersihkan."
Kian mengangguk kaku.
"Berapa lama?"
"Beberapa minggu."
"Beberapa minggu itu berapa?"
Kevin diam sebentar. "Kita tunggu evaluasi dokter."
Kian menarik napas lewat hidung. Ia jelas ingin marah, tetapi di depan Ning ia menelan semuanya sampai bahunya tampak kaku.
Ia memaksa dirinya berjalan ke ranjang.
"Mama."
Satu kata itu membuat Ning hampir menangis lebih dulu.
"Kian."
Kian meletakkan kotak kue di meja dengan gerakan terlalu hati-hati. "Aku bawa cake. Sama puding delima."
Kevin menatap kantong itu.
"Dari mana?"
"Beli." Kian menjawab pendek, tanpa melihat Kevin.
Ning mencoba tersenyum. "Kamu pilih sendiri?"
"Iya. Yang gak terlalu manis." Ia membuka kotak kue, lalu menambahkan dengan suara lebih kecil, "Kamu suka yang begitu, kan?"
Ning tidak tahu kapan ia pernah mengatakannya di depan Kian. Mungkin sekali, sambil lalu, saat menolak minuman terlalu manis di ruang makan.
Anak itu mengingatnya.
Dada Ning sakit dengan cara yang berbeda.
"Kian," bisiknya.
Kian mengambil sendok plastik, pura-pura sibuk membuka puding. "Dokter bilang kamu boleh makan sedikit?"
"Boleh," jawab Kevin.
"Kalau begitu makan."
Nada Kian terdengar galak, tetapi tangannya gemetar saat menyodorkan sendok.
Ning menerima satu suapan kecil. Rasa delima yang asam manis menyentuh lidahnya. Sesuatu di dalam dadanya pecah.
Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
Kian langsung panik. "Sakit? Aku panggil dokter."
"Bukan."
"Terus kenapa?"
Ning menggenggam sendok itu. "Mama jahat sekali, ya?"
Wajah Kian berubah.
Kevin mengerutkan kening. "Ning."
Ning tidak memandangnya. Matanya hanya pada Kian.
"Waktu di gudang... waktu Mama takut sekali..." suaranya bergetar, "orang pertama yang Mama pikirkan adalah Kevin."
Kian membeku.
"Bukan kamu." Tangis Ning makin deras. "Mama terus memanggil dia. Mama ingin dia datang. Mama ingin dia bawa Mama pulang. Padahal kamu anak Mama. Seharusnya Mama pikirkan kamu dulu. Mama ini ibu yang buruk, ya?"
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Kian menatapnya lama.
Lalu ia mengambil puding delima itu, duduk di kursi sebelah ranjang, dan mulai makan dengan sendok besar.
Ning berhenti menangis karena bingung.
"Kian?"
Kian menelan satu suapan, lalu mengambil lagi. "Kalau Mama merasa bersalah karena puding ini, aku habisin."
"Bukan itu."
"Cake juga aku habisin."
"Kian."
"Biar Mama gak perlu mikir siapa yang harus dipikirin dulu."
Suara Kian pecah di ujung kalimat, tetapi ia tetap menyendok puding seperti sedang menghadapi misi hidup mati.
"Kamu pikir siapa gak penting," katanya. "Yang penting Mama balik."
Ning menutup mulutnya.
"Kalau waktu itu Mama pikir Pak Kevin dulu, ya bagus. Dia yang bisa datang cepat. Kalau Mama pikir aku dulu, aku bisa apa? Aku cuma bisa lari ke rumah sakit bawa cake."
Kevin menatap Kian.
Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi kaku di wajah Kevin retak.
Ning menggeleng. "Jangan bilang begitu."
"Itu fakta." Kian menunduk, menusuk kue dengan sendok. "Aku belum bisa apa-apa. Tapi nanti bisa."
Ning mengulurkan tangan. Kian ragu sebentar, lalu mendekatkan kepalanya. Ning menyentuh rambutnya pelan, sangat pelan, karena tangannya masih lemah.
"Kamu sudah melakukan banyak hal hanya dengan datang."
Kian menunduk lebih rendah.
"Jangan nangis lagi," gumamnya. "Nanti aku ikut."
Ning tertawa kecil di antara air mata.
Makan malam di kamar itu sederhana. Bubur hangat dari rumah sakit, sup yang dibawa Bi Ruan lewat Pak Liu, cake yang akhirnya dimakan bertiga, dan puding delima yang setengahnya benar-benar dihabiskan Kian.
Kevin membantu Ning duduk lebih nyaman, mengatur sudut sandaran dan bantal di belakang pinggangnya. Kian mengambil lauk kecil, meniupnya dulu seperti lupa bahwa orang yang ia suapi adalah ibunya, bukan anak kecil.
"Panas," katanya.
"Mama bisa tiup sendiri."
"Kaki kamu patah, bukan mulut. Tapi tetap aja, makan."
Ning menatapnya, lalu patuh membuka mulut.
Sedikit kuah menetes di sudut bibir Ning. Kian langsung mengambil tisu, tetapi tangannya berhenti di udara. Wajahnya merah karena sadar gerakannya terlalu alami, terlalu seperti anak yang sedang menjaga seseorang yang paling ia takut kehilangan.
Ning mencondongkan wajah sedikit.
"Tolong lap, Kian."
Baru setelah itu Kian bergerak. Ia menyeka kuah itu dengan sangat pelan, lebih hati-hati daripada saat ia memegang komponen komputer mahalnya.
"Jangan bikin aku panik," gumamnya.
"Mama usahakan."
"Jangan usah usahakan. Lakukan."
Ning mengangguk, mata kembali panas.
Kevin memegang mangkuk di sisi lain. Sesekali tangannya menyentuh bahu Ning, memastikan ia tidak terlalu lelah. Tidak banyak bicara, tetapi setiap gerakan seperti pagar yang dipasang rapat di sekeliling ranjang.
Untuk beberapa menit, kamar rumah sakit itu terasa hampir seperti rumah.
Ponsel Kevin bergetar.
Ia melihat layar, lalu berdiri. "Aku keluar sebentar. Jovi."
Ning mengangguk. "Jangan lama."
"Tidak."
Begitu pintu tertutup, Kian meletakkan sendoknya.
Ia duduk lebih dekat ke ranjang.
"Mama."
Nada itu membuat Ning menoleh.
"Kenapa?"
Kian menatap gips di kaki Ning, lalu wajah pucatnya, lalu kasa di lehernya.
Matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya merah penuh.
"Mama cerai saja sama dia."
Ning membeku.
Kian menggenggam tepi selimut, suaranya rendah tetapi keras kepala.
"Nanti aku yang rawat Mama."
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya