Sejak kecil, Ice Meng selalu menjadi orang yang berkorban untuk keluarganya. Membayar utang judi ayahnya, membantu biaya pernikahan kakaknya, hingga menanggung kuliah adiknya.
Di tengah hidup yang penuh tekanan, ia hanya memiliki sebuah kalung berinisial HW, hadiah dari pria asing yang pernah ia selamatkan beberapa bulan lalu.
Tidak lama kemudian Ice menyadari kalung itu bukan benda biasa.
Orang-orang yang ingin menyakitinya mendadak mundur saat melihatnya.
Dan seorang pria bernama Howard Wang perlahan kembali hadir dalam hidupnya.
Saat Ice mulai jatuh hati, ia menemukan fakta mengejutkan.
Kalung HW yang selama ini ia kenakan ternyata bukan sekadar hadiah ucapan terima kasih, melainkan simbol yang membuat banyak orang ketakutan.
Lalu... siapakah sebenarnya Howard Wang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Ice, foto siapa yang ada di tanganmu?" tanya Howard.
"Foto ini kutemukan di dalam kardus milik keluarga Meng," jawab Ice. "Di belakangnya tertulis namaku dan sebuah alamat lama. Karena itu aku yakin wanita yang menggendong bayi ini adalah ibu kandungku."
"Boleh aku melihatnya sebentar?"
Ice mengangguk lalu menyerahkan foto itu.
Howard menatap foto tersebut dengan saksama. Ia kemudian membaliknya.
Di bagian belakang tertulis sebuah nama.
Snow.
Di bawahnya terdapat sebuah alamat.
Mata Howard langsung menyipit.
"Bukankah itu alamat rumah lama Paman Elvis?
"Jangan-jangan..."
Howard menatap Ice.
"Ice... apakah nama aslimu Snow?"
Ice mengangguk pelan.
"Iya. Aku pernah pergi ke panti asuhan yang tertulis di alamat itu. Pengurus mengatakan nama 'Ice' diberikan oleh mereka. Ibuku sengaja menyembunyikan identitasku agar tidak ada yang menemukanku. Bayi di foto ini adalah aku."
"Apa mereka tahu ke mana ibumu pergi setelah meninggalkanmu?"
Ice menggeleng.
"Tidak. Kata mereka, ibu pergi dengan tergesa-gesa. Wajahnya sangat ketakutan, seolah sedang dikejar seseorang."
"Ice, untuk saat ini jangan pikirkan semua itu dulu. Fokuslah menyembuhkan matamu. Aku berjanji akan membantumu menemukan keluargamu."
Mata Ice yang tak lagi bisa melihat perlahan dipenuhi air mata.
"Masih adakah harapan aku bisa bertemu mereka?"
Howard mengusap lembut kepalanya.
"Tentu ada. Aku tidak akan berhenti mencarinya."
Saat tangannya menyentuh rambut Ice, beberapa helai rambut tersangkut di sela-sela jarinya.
Howard menatap rambut itu sekilas tanpa mengubah ekspresinya.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia menyimpan beberapa helai rambut itu ke dalam sapu tangan bersih di saku jasnya agar Ice tidak menyadarinya.
"Aku akan keluar sebentar untuk mengurus sesuatu. Kau istirahatlah," ucap Howard.
"Baik," jawab Ice pelan.
Howard keluar dari kamar rawat Ice dengan langkah cepat. Begitu tiba di lorong rumah sakit, ia mengeluarkan sapu tangan yang berisi beberapa helai rambut Ice.
Tatapannya menjadi semakin serius.
"Semoga dugaanku benar..." gumamnya.
Ia segera menghubungi Mark.
"Bos."
"Siapkan mobil. Kita akan menemui Paman Elvis sekarang juga."
"Baik, Bos."
Tidak lama kemudian, mobil Howard berhenti di depan kediaman Elvis Huang.
Seorang pelayan segera mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu.
Elvis yang sedang membaca dokumen mengangkat kepalanya ketika melihat Howard datang.
"Howard? Bukankah kau seharusnya menemani Ice di rumah sakit? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya.
Howard mengangguk pelan.
"Paman, aku datang karena ada hal yang sangat penting."
Ekspresi Elvis langsung berubah serius.
"Duduklah."
Howard duduk di hadapan Elvis. Ia mengeluarkan foto yang dipinjam dari Ice, lalu meletakkannya di atas meja.
"Paman... apakah Paman mengenali foto ini?"
Elvis mengambil foto itu.
Begitu melihat wajah wanita di dalam foto, tubuhnya langsung menegang.
Tangannya bergetar hebat.
"I-ini..."
Air mukanya seketika memucat.
"Ini istriku dan putriku!"
Perlahan ia membalik foto tersebut.
Saat melihat tulisan di bagian belakang, napasnya seakan terhenti.
Howard mengangguk pelan.
"Foto ini sekarang berada di tangan Ice."
Mata Elvis membelalak.
"Apa katamu?"
"Menurut pengakuan Ice, foto ini ia temukan di dalam kardus milik keluarga Meng. Di belakangnya tertulis nama Snow dan alamat lama keluarga Paman."
Elvis mengepalkan tangannya.
"Bagaimana mungkin..."
Howard melanjutkan, "Ice juga mengatakan bahwa ia pernah mendatangi panti asuhan yang tercantum pada alamat itu. Pengurus panti mengatakan nama 'Ice' diberikan oleh mereka. Sebelum pergi, ibu kandungnya menitipkannya di sana dalam keadaan sangat ketakutan."
Tubuh Elvis mulai gemetar.
Air mata perlahan menggenang di pelupuk matanya.
"Selama bertahun-tahun... aku mencarinya ke mana-mana."
Howard mengeluarkan sapu tangan dari sakunya.
"Karena itulah aku mengambil beberapa helai rambut Ice."
Elvis menatap Howard.
"Aku belum berani memastikan hanya berdasarkan foto dan cerita itu. Aku ingin melakukan tes DNA."
Elvis menundukkan kepala beberapa saat.
Ketika kembali mengangkat wajahnya, matanya telah memerah.
"Kalau memang masih ada secercah harapan..."
Ia mengangguk mantap.
"Lakukan tes itu."
Howard menghela napas lega.
"Aku membutuhkan sampel DNA Paman."
Elvis mengusap sudut matanya yang mulai basah.
"Baiklah... pantas saja sejak pertama kali melihat Ice, aku merasa begitu dekat dengannya. Ada perasaan yang sulit dijelaskan, seolah ada ikatan yang membuatku ingin memeluk dan melindunginya."
Ia tersenyum pahit.
"Matanya sangat mirip dengan mendiang istriku. Sifatnya juga... mengingatkanku pada diriku sendiri."
Elvis perlahan bangkit dari duduknya.
"Kalau Ice benar-benar putriku... aku akan membawanya pulang. Aku akan mengganti semua penderitaan yang telah dialaminya selama ini. Aku tidak akan membiarkannya menderita lagi."
Tatapannya beralih kepada Howard.
"Aku ingin menemuinya."
Howard ikut berdiri.
"Paman tentu boleh menemuinya. Namun sebelum hasil tes DNA keluar, sebaiknya Paman tetap bersikap seperti biasa."
Elvis mengernyit.
"Kenapa?"
"Saat ini Ice sedang dirawat di rumah sakit karena kehilangan penglihatannya. Kondisinya belum stabil. Aku khawatir jika Paman menunjukkan sikap yang berbeda, lalu ternyata hasil tes DNA tidak sesuai dugaan kita, Ice akan semakin terpukul."
Howard berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Biarkan semua berjalan seperti biasa. Setelah hasil tes DNA keluar dan semuanya sudah dipastikan, saat itulah Paman bisa mengaku sebagai ayahnya."
Elvis terdiam beberapa saat, lalu mengangguk pelan.
"Kau benar. Aku tidak boleh memberinya harapan yang belum tentu menjadi kenyataan."
***
Howard dan Elvis segera menuju laboratorium genetika rumah sakit.
Howard menyerahkan beberapa helai rambut Ice kepada dokter.
"Dokter, lakukan tes DNA ini secepat mungkin."
Dokter menerima sampel tersebut dan mengangguk.
"Baik, kami akan segera melakukan pemeriksaan. hasilnya dapat kami selesaikan dalam waktu sekitar dua puluh empat jam," jelas dokter.
dan kenapa ice yg jadi tulang punggung. apa ice bukan anak kandung nya