Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Seminggu pertama Naura di rumah Pradipta berakhir tanpa insiden besar.
Itu kalau gelas pecah oleh Arkan tidak dihitung.
Bu Ratih datang untuk evaluasi kontrak awal. Ia duduk bersama Pak Aditya, Bu Marini, Pak Jaya, dan Naura di ruang keluarga.
"Bagaimana sejauh ini?" tanya Bu Ratih.
Bu Marini langsung menjawab, "Naura jangan dipindahkan ke klien lain."
Bu Ratih tersenyum. "Kontraknya memang satu bulan dulu, Bu."
"Perpanjang."
"Bu, baru seminggu."
"Seminggu cukup untuk tahu orang cocok atau tidak. Yang tidak cocok, satu jam juga terasa lama."
Pak Aditya menambahkan, "Kerjanya rapi. Makanan cocok. Marini lebih sering keluar kamar. Saya tidak keberatan."
Itu, dari Pak Aditya, sudah seperti pidato pujian.
Pak Jaya ikut bicara. "Mbak Naura juga membuat jadwal obat dan menu lebih mudah dibaca. Staf lain terbantu."
Bu Ratih menatap Naura dengan puas.
"Kamu sendiri bagaimana?"
Naura duduk tegak. "Sejauh ini saya nyaman, Bu. Bapak dan Ibu kooperatif. Tugas masih sesuai kontrak."
Bu Marini mengangkat tangan. "Aku kadang minta ajari ponsel. Itu termasuk tugas?"
"Kalau tidak terlalu lama, saya anggap pendampingan ringan, Bu."
"Dengar? Dia tidak pelit."
Naura tersenyum.
Evaluasi selesai dengan keputusan sederhana: kontrak berjalan, kemungkinan perpanjangan terbuka, dan Naura mendapat izin libur setengah hari minggu depan untuk mengurus keperluan pribadi.
Keperluan pribadi itu adalah membuka rekening baru, memindahkan beberapa dana, dan menghentikan semua autodebit yang dulu terhubung ke kebutuhan keluarganya.
Ia pergi ke bank setelah makan siang.
Di ruang tunggu bank, ponselnya bergetar berkali-kali.
Grup keluarga lagi.
Ibu: `Bagas dimarahin dealer karena DP belum masuk. Kamu tega bikin adikmu malu?`
Bapak: `Jangan bikin masalah makin besar. Tetangga sudah tanya kenapa kamu sekarang susah dihubungi.`
Bagas: `Mbak, kalau nggak bisa bantu bilang dari awal. Aku udah janji sama teman.`
Naura membaca tanpa emosi yang sama seperti dulu.
Ada rasa sakit, tentu. Luka lama tidak hilang hanya karena ia memutuskan sembuh. Tapi rasa sakit itu tidak lagi memegang lehernya.
Ia membalas di grup.
`Aku sudah bilang. Aku tidak membayar DP motor. Kalau Bagas butuh uang, Bagas kerja.`
Ibu langsung mengetik panjang.
Naura tidak menunggu.
Ia keluar dari grup.
Layar ponsel menjadi sunyi.
Untuk beberapa detik, ia hanya menatap ikon WhatsApp.
Keluar dari grup keluarga terasa seperti menutup pintu rumah yang selama ini tidak pernah memberinya tempat tidur.
"Nomor antrean B-117."
Naura berdiri.
Ia mengurus semuanya dengan cepat. Rekening baru. Deposito kecil. Reksa dana pasar uang. Sebagian saham yang ia tahu akan naik dalam beberapa tahun ke depan. Tidak banyak, tapi cukup untuk membangun pijakan.
Saat keluar dari bank, hujan turun deras.
Naura berdiri di bawah kanopi, menunggu ojek online.
Di seberang jalan, papan elektronik gedung menampilkan berita bisnis. Nama Aruna Capital muncul sekilas dalam headline tentang pendanaan perusahaan teknologi kesehatan.
Arkan Pradipta muncul di layar.
Foto formal.
Wajah dingin. Jas gelap. Mata tajam.
Naura teringat laki-laki yang memegang piring seperti memegang bom.
Kontrasnya terlalu besar.
Ia hampir tertawa sendiri.
Ponselnya bergetar.
Nomor tidak dikenal.
Naura mengangkat.
"Mbak Naura Ayu?"
"Iya."
"Saya Rafi, asisten Pak Arkan Pradipta."
Naura berdiri lebih tegak.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Pak Arkan meminta saya menyimpan nomor Mbak untuk kondisi darurat terkait Bu Marini dan Pak Aditya. Apakah tidak keberatan?"
"Tidak, selama terkait pekerjaan."
Rafi terdiam sepersekian detik.
Mungkin tidak biasa ada orang memberi batas kepada nama Pradipta.
"Baik, Mbak. Saya juga akan kirim nomor saya. Kalau ada kebutuhan rumah yang perlu persetujuan keluarga, bisa hubungi saya."
"Baik."
Panggilan selesai.
Tak sampai satu menit, pesan masuk.
`Rafi - Asisten Pak Arkan.`
Di bawahnya ada pesan lain, dari nomor berbeda.
`Arkan Pradipta. Simpan nomor ini untuk keadaan darurat.`
Naura menatap pesan itu.
Tidak ada salam.
Tidak ada basa-basi.
Sangat Arkan.
Ia membalas:
`Baik, Pak. Naura.`
Tiga titik muncul.
Lalu hilang.
Muncul lagi.
Hilang lagi.
Naura menatap layar dengan heran.
Akhirnya pesan masuk.
`Apakah Nenek senam hari ini?`
Naura membalas:
`Tidak, Pak. Hari ini Bu Marini hanya jalan pagi lima belas menit karena lututnya agak kaku.`
Balasan datang lebih cepat.
`Sudah diberi obat?`
`Obat pagi sudah. Saya juga kompres hangat sesuai arahan dokter. Pak Jaya sudah mencatat.`
`Terima kasih.`
Naura mengunci ponsel.
Ojeknya datang.
Di perjalanan pulang, hujan membuat jalan macet. Jaket hujan pengemudi berkibar, air menggenang di sisi jalan. Naura duduk di belakang, memeluk tas, memikirkan pesan singkat itu.
Arkan tidak banyak bicara, tetapi jelas memperhatikan.
Mungkin Bu Marini benar.
Dia hanya terlalu lama diajari bahwa perasaan tidak boleh mengganggu pekerjaan.
Ketika Naura kembali ke rumah, Bu Marini sedang duduk di teras belakang sambil menatap hujan.
"Kamu kehujanan?"
"Sedikit, Bu."
"Cepat ganti baju. Nanti masuk angin."
Nada Bu Marini terdengar seperti ibu.
Naura membeku sebentar.
Bu Marini tidak sadar. Ia menunjuk meja. "Aku minta Pak Jaya siapkan wedang jahe. Kamu minum juga."
"Terima kasih, Bu."
Naura berganti baju, lalu kembali membawa selimut tipis untuk Bu Marini. Hujan membuat udara lebih dingin.
"Tadi Arkan menghubungi saya," kata Naura sambil menyelimuti kaki Bu Marini.
Mata Bu Marini langsung berbinar. "Dia tanya apa?"
"Tanya apakah Ibu senam."
"Cuma itu?"
"Dan obat lutut."
Bu Marini tersenyum kecil. "Dia memang begitu. Kalau rindu, yang ditanya obat."
Naura duduk di kursi samping.
"Pak Arkan sering begitu?"
"Sejak kecil. Waktu ibunya dan ayahnya sering bertengkar, dia jadi anak yang terlalu cepat dewasa. Kalau khawatir, bukan memeluk, tapi memastikan semua tagihan dibayar, dokter datang, sopir siap."
Bu Marini menatap hujan.
"Dia pikir cinta itu tanggung jawab. Padahal kadang cinta cuma duduk bersama minum teh."
Naura tidak tahu harus menjawab apa.
Karena dirinya sendiri pun baru belajar.
Dulu ia juga mengira cinta kepada keluarga berarti transfer uang, membayar utang, menelan penghinaan, dan tetap pulang meski tidak punya kamar.
Ternyata mungkin cinta tidak seharusnya membuat seseorang mati pelan-pelan.
Bu Marini menoleh. "Kamu punya keluarga di Jakarta?"
Naura menggeleng. "Tidak, Bu."
"Orang tua?"
Pertanyaan itu ringan, tetapi Naura merasa dadanya tertusuk.
"Ada. Di Jawa Tengah."
"Hubungan kalian baik?"
Naura diam.
Bu Marini tidak mendesak.
Hujan turun lebih keras.
Akhirnya Naura berkata, "Saya sedang belajar menjaga jarak."
Bu Marini mengangguk pelan.
"Kadang jarak itu bukan kurang ajar. Kadang itu cara supaya kita tetap hidup."
Naura menatap perempuan tua itu.
Matanya terasa panas, tapi ia tersenyum.
"Ibu sering bicara seperti orang bijak."
"Tentu. Umur saya mahal. Harus ada hasilnya."
Naura tertawa pelan.
Malamnya, setelah memastikan Bu Marini dan Pak Aditya tidur, Naura kembali ke kamarnya. Ia membuka laptop, bukan untuk kerja kantor, tetapi untuk merapikan catatan keuangan pribadi.
Ia menghitung tabungan, pesangon yang akan masuk, investasi kecil, dan kebutuhan hidup tiga bulan ke depan.
Untuk pertama kalinya, semua angka itu miliknya.
Bukan milik Bagas.
Bukan milik orang tua.
Bukan milik kantor.
Miliknya.
Ponsel di meja menyala.
Pesan dari Arkan.
`Nenek sudah tidur?`
Naura membalas:
`Sudah, Pak. Pak Aditya juga.`
`Baik.`
Naura mengira selesai.
Tapi pesan lain masuk.
`Kamu pulang dari bank tadi kehujanan?`
Naura menatap layar.
Dari mana dia tahu?
Mungkin Pak Jaya melapor.
Ia membalas singkat.
`Sedikit. Tidak apa-apa.`
Balasan Arkan datang setelah beberapa detik.
`Minum jahe. Jangan sakit. Nenek akan repot kalau kamu sakit.`
Naura membaca kalimat itu dua kali.
Alasannya tetap nenek.
Tentu saja.
Ia mengetik:
`Baik, Pak.`
Setelah mengirim, ia meletakkan ponsel dengan layar menghadap bawah.
Tapi sudut bibirnya sudah terlanjur naik.
Naura menepuk pelan pipinya sendiri.
"Kerja, Naura. Fokus."
Di luar kamar, rumah Pradipta tenang.
Di dalam dada Naura, sesuatu yang lama mati mulai bergerak pelan.
jgn setengah 2 ya