NovelToon NovelToon
KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

KULTIVASI RAHASIA SANG TUKANG SAPU: SISTEM CHECK IN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: HINDRA10

"Dilahirkan dengan Tulang Roh yang Layu, Lin Chen dianggap sebagai aib terbesar bagi Kekaisaran Shenghuang. Setelah dijebak oleh saudara-saudaranya dan dibuang oleh ayahnya sang Kaisar, ia diasingkan ke Sekte Pedang Taixuan—sebuah sekte kuno yang hampir punah—dan hanya diberi pekerjaan sebagai murid tukang sapu.

Dunia mengira hidupnya telah hancur. Namun, mereka tidak tahu bahwa di hari pertamanya memegang sapu, sebuah Sistem Absensi Jejak Kuno bangkit di dalam jiwanya!

【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Gerbang Batas Taixuan. Hadiah: Tubuh Pedang Kekacauan Primitif!】
【Ding! Anda berhasil melakukan check-in di Makam Pedang Leluhur. Hadiah: Mata Dewa Kekacauan!】

Aturannya ketat: Hanya bisa check-in satu bulan sekali! Namun, setiap tempat yang pernah disinggahi para dewa kuno akan memberinya hadiah tingkat mitologi.

Ketika sekte-sekte besar mencoba menghancurkan tempatnya menumpang, dan Kekaisaran Shenghuang datang untuk menindasnya lagi, pangeran yang dianggap sampah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HINDRA10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Hari kedua di Jiuyang dimulai dengan kabut tipis yang tidak segera pergi meski matahari sudah naik cukup tinggi.

Lin Chen memperhatikannya dari jendela dapur sambil menunggu air mendidih.

'Kabut yang tidak wajar untuk musim ini,' batinnya. 'Atau mungkin wajar untuk kota yang dibangun di atas ribuan mayat.'

Dia menuangkan air panas ke teko, meletakkannya di meja, dan kembali menyiapkan sarapan.

Rombongan berangkat lebih awal dari kemarin.

Sesepuh Bai memberikan briefing singkat sebelum pintu penginapan dibuka — nada yang lebih serius dari biasanya, kata-kata yang lebih dipilih dengan hati-hati. Murid-murid mendengarkan dengan wajah yang sudah belajar menyembunyikan kegugupan meski tidak sepenuhnya berhasil.

Su Qingxue berdiri di paling depan seperti biasa. Lengan kirinya bergerak normal — terlalu normal, terlalu terkontrol, cara bergerak orang yang sedang memastikan tidak ada yang melihat bahwa bergerak itu membutuhkan usaha lebih dari biasanya.

Lin Chen tidak berkomentar.

Meletakkan bekal makan siang yang sudah dibungkus rapi di tangan Chen Hao yang berjalan paling belakang, lalu kembali ke dalam penginapan sebelum siapapun sempat mengucapkan apapun.

Pintu menutup.

Sunyi.

Berbeda dari kemarin, pagi ini Lin Chen tidak langsung membereskan kamar.

Dia duduk di kursi dapur, tangan melingkar di cangkir teh yang masih hangat, dan membiarkan Mata Dewa Kekacauan-nya menyapu keluar — menembus dinding penginapan, menembus jalan di depan, menembus keramaian pagi kota Jiuyang yang sudah mulai bergerak penuh.

Kemarin tidak ada yang perlu dikhawatirkan di sekitar penginapan ini.

Hari ini berbeda.

Tiga titik energi yang sangat rapi disembunyikan — satu di ujung jalan timur, satu di atap bangunan di seberang penginapan, satu lagi di kerumunan pedagang di pojok selatan. Ketiganya tidak bergerak. Hanya mengamati. Pola pergerakan mata mereka — yang Lin Chen baca dari micromovement kepala dan bahu — mengikuti rombongan Taixuan yang baru saja pergi.

'Bukan assassin,' simpulnya dengan sangat cepat. 'Pola pergerakan assassin berbeda — lebih fokus pada celah dan timing. Ini pengintai. Mereka mengumpulkan informasi, bukan mencari kesempatan untuk menyerang.'

Kultivasinya dia ukur satu per satu dengan Mata Dewa.

Pengintai pertama di ujung jalan timur — Inti Emas Tingkat 5.

Pengintai kedua di atap seberang — Inti Emas Tingkat 6.

Pengintai ketiga di kerumunan pedagang — Inti Emas Tingkat 5.

Lin Chen meletakkan cangkir tehnya pelan.

'Jauh di atas dua belas assassin kemarin. Dan hanya tiga orang — artinya kualitas jauh lebih diprioritaskan dari kuantitas.'

'Lin Hao belajar dari kegagalan pertamanya dengan cepat.'

Dia berdiri, mencuci cangkirnya, dan mulai membereskan dapur dengan gerakan yang sangat biasa.

'Selama mereka hanya mengamati, biarkan saja. Aku tidak perlu bergerak.'

Tiga jam berlalu dalam ketenangan yang relatif.

Pengintai-pengintai itu tidak bergerak dari posisi masing-masing. Lin Chen membereskan seluruh penginapan, menyiapkan bahan makan siang, dan sempat membaca dua puluh halaman buku alkemi primordial yang dia beli kemarin dengan sangat menikmati prosesnya.

'Formula pil pemulihan dasar. Tiga bahan utama, dua bahan pendukung, suhu api harus konstan di titik tertentu selama—'

Sesuatu bergerak.

Mata Dewa Kekacauan-nya yang aktif setengah langsung menangkap perubahan itu — pengintai ketiga di kerumunan pedagang, yang selama tiga jam terakhir tidak beranjak dari posisinya, tiba-tiba mulai bergerak.

Bukan menuju penginapan.

Menuju arena.

'Mengikuti rombongan ke arena,' Lin Chen menutup bukunya. 'Berpindah target dari mengamati penginapan ke mengamati murid Taixuan langsung.'

Dia menunggu tiga puluh detik lagi.

Pengintai itu terus bergerak ke arah arena, perlahan menghilang dari radius Mata Dewa-nya yang aktif setengah.

Lin Chen berdiri.

'Kalau dia hanya mengamati dari jauh di arena yang penuh orang, tidak masalah. Tapi kalau dia mendekati Su Qingxue secara langsung—'

Dia mengambil jaket tipis dari gantungan di balik pintu kamarnya.

'—maka aku perlu memastikan dia tidak mendapatkan informasi yang tidak seharusnya dia punya.'

Kota Jiuyang siang hari jauh lebih ramai dari paginya.

Lin Chen bergerak di antara kerumunan dengan langkah yang santai dan wajah yang tidak menarik perhatian siapapun — seorang pemuda berpakaian biasa di antara ribuan orang berpakaian biasa di hari turnamen besar. Aurannya disembunyikan rapat, tidak ada satu pun fluktuasi energi yang bocor ke luar.

Mata Dewa Kekacauan-nya aktif penuh, menyapu kerumunan di sekitar arena.

Pengintai ketiga ditemukan dalam waktu tiga puluh detik — berdiri di kerumunan penonton yang berkerumun di luar arena, posisinya strategis menghadap pintu keluar samping yang biasa digunakan murid-murid peserta untuk keluar saat istirahat pertandingan.

Menunggu.

'Dia tidak masuk ke dalam arena,' Lin Chen memperhatikan. 'Menunggu di luar. Menunggu murid Taixuan keluar untuk istirahat.'

'Su Qingxue.'

Lin Chen menganalisis situasinya dengan cepat.

Menghadapi pengintai secara langsung — tidak. Terlalu banyak saksi, terlalu berisiko membuka kemampuannya. Memperingatkan Sesepuh Bai atau Sesepuh Duan — tidak. Pertanyaan yang tidak punya jawaban aman akan menyusul.

Yang dia butuhkan adalah membuat pengintai itu gagal mendapatkan informasi yang dia cari, tanpa ada yang tahu ada yang menghalangi.

Lin Chen bergerak ke arah kios makanan di dekat pintu keluar samping arena — posisi yang sangat natural untuk seorang pelayan yang sedang membeli sesuatu untuk dibawa pulang. Dari sana, jarak antara dia dan pengintai itu kurang lebih dua puluh langkah.

Cukup.

Setengah jam kemudian, pintu keluar samping arena terbuka.

Beberapa murid dari berbagai sekte keluar untuk istirahat siang — wajah-wajah dengan berbagai ekspresi, dari yang terlihat segar sampai yang terlihat seperti baru selesai bertarung keras. Di antara mereka, jubah biru tua Taixuan muncul — Chen Hao, Wei Peng, dan Luo Mei. Su Qingxue tidak terlihat, kemungkinan masih di dalam.

Pengintai itu bergerak sedikit — matanya menyapu murid-murid yang keluar, mencari seseorang.

Lin Chen mengirim pulsa Qi yang sangat kecil ke arah batu jalan di depan kaki pengintai itu.

Tidak besar. Tidak dramatis. Hanya cukup untuk membuat permukaan batu di sana terasa sedikit tidak rata di bawah telapak kakinya — seperti ada kerikil kecil yang tidak terlihat.

Pengintai itu tanpa sadar menggeser beratnya ke kaki kanan, posisinya berubah dua langkah ke belakang.

Cukup untuk membuat sudut pandangnya terhalang oleh sekelompok penonton yang baru saja bergerak melewatinya.

Di momen yang sama, pintu samping terbuka lagi — Su Qingxue keluar, berjalan cepat ke arah yang berlawanan dari posisi pengintai bersama Sesepuh Duan yang langsung mendampinginya.

Pengintai itu bergerak mencoba mengikuti — tapi kerumunan yang tiba-tiba padat di sekitarnya memperlambat langkahnya. Saat dia berhasil menembus kerumunan, Su Qingxue sudah menghilang di balik sudut bangunan.

Pengintai itu berdiri diam selama beberapa detik.

Lalu menarik napas pelan dan kembali ke posisi menunggunya.

Di kios makanan dua puluh langkah darinya, Lin Chen membayar dua buah roti bakar yang tidak dia rencanakan untuk dibeli, lalu berbalik pergi dengan langkah yang sangat santai.

'Satu kali berhasil. Tapi dia akan mencoba lagi.'

Sore hari, pengintai itu mencoba dua kali lagi.

Dua kali lagi gagal — satu karena Lin Chen secara tidak sengaja menabrak seorang pedagang keliling tepat di jalur yang akan diambil pengintai itu, dan satu lagi karena sebatang kayu dari gerobak pedagang di dekatnya tiba-tiba bergeser dan menghalangi pandangannya di momen yang sangat tidak menguntungkan.

Keduanya terlihat seperti kecelakaan biasa.

Keduanya bukan kecelakaan biasa.

Menjelang sore, pengintai itu menyerah dan kembali ke posisi awalnya di kerumunan pedagang dekat penginapan — dengan tangan kosong dan tidak ada informasi yang berhasil dikumpulkan tentang murid utama Taixuan.

Lin Chen tiba kembali di penginapan setengah jam sebelum rombongan pulang. Makan malam sudah siap di atas meja saat pintu penginapan terbuka.

Tidak ada yang tahu dia pergi.

Malam itu, jauh setelah semua orang tidur, sebuah laporan sampai ke tangan Lin Hao di gedung mewah distrik utara.

Lin Hao membacanya dengan ekspresi yang tidak berubah.

Pengintai gagal mendapatkan informasi tentang Su Qingxue. Bukan karena pengamanan Nascent Soul yang menghalangi — tapi karena serangkaian kejadian kecil yang sangat tidak menguntungkan yang membuat setiap upaya pengintai terhambat di momen yang paling krusial.

Lin Hao membaca laporan itu dua kali.

Lalu meletakkannya di atas meja dengan sangat pelan.

'Kecelakaan,' dia mengulang kata itu dalam hatinya. 'Tiga kecelakaan berbeda, di tiga momen berbeda, semuanya menghambat pengintaiku di titik yang paling kritis.'

Jarinya mulai mengetuk meja.

'Tidak ada yang namanya tiga kecelakaan kebetulan.'

Dia memanggil pengawalnya.

"Pengintai yang bertugas hari ini — panggil kemari sekarang."

Pengawal itu menghilang.

Lin Hao berdiri dari kursinya, berjalan ke jendela yang menghadap ke arah distrik tengah kota — ke arah penginapan Taixuan yang dari sini hanya terlihat sebagai salah satu dari ratusan atap yang memenuhi lembah Jiuyang.

Saat pengintai itu masuk dan berlutut di hadapannya, Lin Hao hanya mengajukan satu pertanyaan.

"Di antara semua kejadian yang menghalangimu hari ini — apakah kau melihat wajah yang sama lebih dari sekali?"

Pengintai itu berpikir sejenak.

Lalu mengangguk pelan.

"Seorang pemuda. Pakaian biasa. Tidak ada fluktuasi energi yang bisa kudeteksi. Tapi wajahnya..." pengintai itu berhenti.

"Wajahnya?" Lin Hao tidak mengubah nada suaranya.

"Wajahnya, Tuan..." pengintai itu mengangkat kepalanya dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya yakin. "Sangat mirip dengan Yang Mulia."

Ruangan itu sunyi selama beberapa detik.

Lin Hao menatap pengintainya dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca.

Lalu, sangat pelan, dia tersenyum.

Bukan senyum yang hangat. Bukan senyum yang ramah.

Senyum orang yang baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik dari yang dia cari.

"Jadi kau di sini juga, Lin Chen," gumamnya pada jendela yang gelap. "Pangeran Kesembilan yang seharusnya sudah tidak punya masa depan."

Lin Hao bergumam "apakah dia mendapatkan sesuatu dari sekte taixuan"

Jarinya berhenti mengetuk meja.

"Ini menjadi jauh lebih menarik dari yang aku rencanakan."

Di penginapan distrik tengah, di kamar kecil di pojok belakang yang paling dekat dengan dapur, seorang pelayan abu-abu berbaring dengan mata terpejam.

Tidur nyenyak.

Atau setidaknya terlihat seperti itu.

1
Ihya Ilmi
Semangat thor
Ihya Ilmi
Lanjutkan thor, jangan kasih kendor, crazy UP thor👍👍
Hindra Hin: siap, masih di garap nihh 🙏👍👍👍
total 1 replies
Ihya Ilmi
Thor, 7 hari katanya tp knp MC nya bisa check in 2x?
Hindra Hin: terimakasih atas komentarnya, sangat membantu 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Ihya Ilmi
Koreksi thor, " Enam Bulan?" atau "30 hari?", soalnya di sinopsis sebulan sekali.
Hindra Hin: baik, Terimakasih atas koreksinya 🙏🙏🙏
total 1 replies
Pecinta Gratisan
hiatus gak nih thor cerita nya
Hindra Hin: update terus bang tiap hari aman. nantikan aja🙏🙏
total 1 replies
Hadi Hadi
semangat 👍👍
Hindra Hin: makasih bro👍👍
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up 💪
Hindra Hin
Jangan lupa di komen Bro kalau ada kata yg salah kritik aja biar ada masukan🫵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!