Misty, seorang penulis novel misteri yang tengah naik daun karena karyanya "Siapa Membunuh Siapa?" menjadi buku best-seller, menerima sebuah paket misterius di depan pintu apartemennya.
Isi paket itu adalah naskah lama yang pernah Misty tulis, namun tak pernah dia selesaikan. Misty membaca lagi naskah lamanya yang berjudul "The Novelist" dan menemukan ada tulisan baru —yang bukan tulisannya— tersisip di dalam naskah lama itu. Tulisan baru itu menceritakan tentang skema pembunuhan seorang wanita di unit 205 sebuah apartemen.
Keesokan paginya, Misty dikejutkan dengan berita bahwa wanita penghuni unit sebelah —kamar 205— dibunuh dengan cara yang sama seperti yang tertulis dalam naskah lama Misty.
Wajah panik Misty yang sempat tertangkap oleh Anjas, wartawan yang meliput kasus pembunuhan di apartemen Misty, membuat Anjas penasaran dan berusaha mendapat informasi dari Misty.
Siapakah pengirim paket misterius itu? Akankah Misty dicurigai sebagai tersangka pembunuhan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misteri Dr. Maya
Misty masih berdiri di balik pintu unit apartemennya. Dia menatap ke sekeliling unitnya yang diterangi cahaya temaram lampu ruang tamu. Misty menarik napas dalam-dalam.
'Kalau saja Anjas mengantarku... apa dia akan langsung pulang ketika aku masuk?'
Misty berjalan gontai menuju ruang tamu. Hari ini, Anjas menemaninya dari sore hingga larut malam. Anjas tak banyak bertanya. Dia hanya mendengar seperti yang dia janjikan pada Misty.
"Dia benar-benar pendengar yang baik," gumam Misty sambil memeluk lututnya di atas sofa.
"Lo yakin?" tanya Rachel.
Misty menoleh ke arah dapur. Rachel berdiri disana, menatapnya dengan penuh kecemasan.
"Lo yakin dia benar-benar baik? Atau... pura-pura baik cuma buat dapetin info dari lo?" tanya Rachel sambil berjalan menuju Misty. Misty menarik napas dalam-dalam.
"Udahlah, Rachel. Jangan terlalu khawatir," sahut Bimbim yang sudah duduk di sebelah kanan Misty.
Misty menoleh ke arah Bimbim yang tersenyum ke arahnya. Misty tersenyum tipis lalu meletakkan kepala di antara lututnya.
Hening.
Tiba-tiba dada Misty terasa sesak. Dia menarik napas dalam-dalam lalu membenamkan kepala di antara lututnya. Tangannya mengeratkan pelukan ke lututnya. Isak tangis mulai terdengar samar.
"Kenapa rasanya... begitu sepi?" gumam Misty.
Untuk sesaat, Misty meringkuk sambil terisak sendiri. Dalam tangisnya, senyuman Anjas muncul begitu saja tanpa permisi dalam pikiran Misty. Misty tersenyum dalam tangisnya.
"Kenapa kamu muncul di saat yang tidak tepat?" gumam Misty sambil mengangkat kepala dan mengusap airmatanya perlahan.
Misty duduk diam, menatap kosong ke layar televisi yang hitam. Untuk sesaat hanya ada hening. Perlahan, isak tangisnya mereda. Misty menyapukan pandangannya perlahan ke setiap sudut unit apartemennya. Matanya terhenti pada pigura kecil di atas meja kerjanya.
Misty menarik napas dalam-dalam. Perlahan dia menurunkan kakinya dari sofa dan berjalan menuju pigura kecil itu. Misty mengulurkan tangannya untuk mengambil pigura itu. Ujung jarinya sempat menggantung beberapa saat di udara sebelum akhirnya menyentuh pigura itu.
Misty menatap foto di pigura itu. Senyum tipis terkembang saat dia menatap tawa lebar tiga remaja SMA di dalamnya. Ujung ibu jari Misty mengusap foto itu perlahan. Dadanya kembali terasa sesak. Senyum tipis yang sempat terkembang, kini perlahan memudar.
'Kalian... apa kabar?'
Ibu jari Misty berhenti bergerak. Matanya menatap foto kedua sahabat yang duduk di samping kanan kirinya.
'Aku masih disini... sendiri...'
Sementara itu, Anjas masih belum menyalakan mesin mobilnya saat Misty sudah memasuki lift dari basemen. Dia mengetuk-ngetukkan jari telunjuk ke kemudinya, memikirkan sikap Misty.
"Di Rumah Misteri... dia menoleh ke sisi kanan, sambil menggumam," gumam Anjas sambil mengernyit.
"Barusan dia sempat menoleh ke sisi kanan lagi dengan wajah yang... sedih?" Anjas masih mengernyit. Bola matanya bergerak perlahan. Ketukan jari di kemudinya berhenti.
"Bukan. Bukan sedih,"
Anjas menatap pintu lift yang mengantarkan Misty ke unit apartemennya. Ada perasaan khawatir yang merayap ke dalam hati Anjas.
"Apa dia baik-baik saja sendirian?" tanya Anjas pada dirinya sendiri.
Anjas kembali mengetuk-ngetukkan telunjuk ke kemudinya sambil masih menatap pintu lift. Ada sesuatu dalam hatinya yang membuatnya ingin turun dan memastikan keadaan Misty.
"Ah!"
Anjas menarik napas dalam-dalam dan melepaskan sabuk pengamannya. Saat dia akan membuka pintu mobilnya, dia melihat sosok yang membuatnya berhenti bergerak.
'Dokter Maya? Untuk apa dia kemari?'
***
Arga dan Gerry menatap ke arah petugas ruang kontrol hotel yang mengernyit saat menatap layar ponsel Gerry.
"Bagaimana, Pak? Anda mengingat sesuatu?" tanya Gerry pada petugas ruang kontrol hotel. Petugas itu menatap Arga dan Gerry bergantian.
"Hmmm... Saya rasa... mirip, Pak," kata petugas ruang kontrol, ragu-ragu campur takut.
"Mirip?" tanya Arga. Nada suaranya terdengar tidak puas.
"I-itu... mata yang saya lihat waktu itu memakai riasan, Pak. Sedangkan dokter ini, matanya tak ada riasan sama sekali," jelas petugas ruang kontrol.
"Riasan mata?" tanya Arga pada petugas ruang kontrol. Petugas itu mengangguk cepat.
Arga dan Gerry saling tatap. Mereka mengingat keterangan Dokter Maya tentang tujuan dia menginap di hotel itu.
"Saya menghadiri pesta pernikahan teman saya disana malam harinya,"
"Pesta pernikahan," gumam Arga. Gerry menatap atasannya.
"Jam berapa wanita itu ke ruang kontrol?" tanya Gerry.
"Kalau tidak salah... malam, Pak," jawab petugas kontrol.
"Mungkin sekitar pukul sembilan malam," lanjutnya.
Gerry menoleh ke arah Arga.
"Sebaiknya kita konfirmasi bagian reservasi ball room hotel, Pak. Kita akan tahu apakah benar ada pesta di tanggal itu atau tidak," kata Gerry. Arga mengangguk. Keduanya lalu pergi ke bagian Room Reservation.
"Ada yang bisa kami bantu, Pak?" tanya petugas dengan ramah.
"Kami ingin menanyakan pesta pernikahan yang diselenggarakan pada tanggal 20 Juni 2026," kata Arga sambil menyodorkan kartu identitas penyidiknya. Petugas itu mengangguk paham, kemudian segera mencari riwayat reservasi di komputernya.
"20 Juni 2026... Pesta pernikahan..." gumam petugas sambil membaca cepat pada layar komputernya.
"Ah! Ini dia, Pak. 20 Juni 2026 pesta pernikahan Dr. Ardian Kusuma Atmaja, Sp.Kj dengan Nona Puspita Kumalasari," kata petugas, sambil menunjukkan layar komputernya.
"Sepertinya keluarga kedua mempelai memiliki kenalan yang cukup banyak," komentar Gerry sambil menunjuk jumlah tamu undangan yang tertera pada komputer. Arga menatap jumlah angka yang ditunjuk Gerry.
"Selain mempelai pria yang merupakan dokter, mempelai wanita merupakan selebgram yang cukup terkenal, Pak," kata petugas reservasi.
"Jam berapa pesta dimulai?" tanya Arga.
"Pukul tujuh malam sampai sekitar pukul sepuluh malam, Pak," jawab petugas.
"Pak, kalau wanita yang masuk ke ruang kontrol itu benar Dokter Maya. Itu artinya, dia sengaja meninggalkan pesta sebelum berakhir," kata Gerry. Arga menarik napas dalam-dalam.
"Dia bisa saja kembali lagi ke pesta setelah urusannya di ruang kontrol selesai, Ger," kata Arga.
Gerry manggut-manggut, memahami bahwa yang atasannya butuhkan bukan hanya dugaan semata. Mereka harus benar-benar mengetahui kemana saja dan apa yang dilakukan Dokter Maya dalam rentang waktu satu jam itu.
"Kalau tidak salah, Pak, karena pesta ini mengundang beberapa tamu dan kolega orang penting, pihak penyelenggara juga menyediakan kamar hotel bagi tamu undangan yang ingin menginap setelah acara," kata petugas reservasi sambil menggerakkan mousenya. Arga dan Gerry saling tatap.
"Adakah reservasi kamar untuk tamu undangan atas nama Dr. Maya Wijaya, Sp.Kj?" tanya Arga.
Petugas menggerakkan mousenya perlahan.
"Ada, Pak. Beliau check-in tanggal 20 Juni, pukul lima sore," kata petugas.
"Kapan dia check-out?"
"Tanggal 21 Juni, sekitar pukul dua belas siang,"
"Dokter itu bilang, pagi harinya dia ada janji dengan pasiennya dan meninggalkan hotel sekitar dua jam," gumam Arga. Bola matanya bergerak perlahan.
"Apakah hotel masih memiliki foto dokumentasi acara?" tanya Gerry.
"Sepertinya bagian Event masih menyimpannya, Pak,"
"Daftar tamu undangan?" tanya Arga. Petugas reservasi menggelengkan kepalanya.
"Daftar tamu undangan biasanya ada pada pihak penyelenggara atau WO yang bertugas. Karena kedua mempelai memakai jasa WO dari luar hotel, maka kami tidak memilikinya, Pak," jelas petugas.
"Bagaimana dengan CCTV yang menuju ballroom?" tanya Gerry.
"Sistem CCTV kami hanya bertahan tiga puluh hari, Pak. Rekaman bulan lalu sudah otomatis terhapus," kata petugas.
Arga menegakkan tubuhnya. Dia terpekur memikirkan keterangan para petugas hotel. Ada seorang wanita masuk ke ruang kontrol sekitar jam sembilan malam. Pesta pernikahan berakhir pukul sepuluh.
"Kalau wanita yang masuk ke ruang kontrol itu benar Dokter Maya... Itu artinya, dia sengaja meninggalkan ballroom," gumam Arga.
Gerry menatap atasannya yang masih tenggelam dalam pikirannya.
'Kalau saja ada satu saja bukti yang menunjukkan dia keluar dari ballroom sebelum pesta berakhir,'
***