Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 : DARAH PADA KERAH KEMEJA
Pintu kamar nomor empat di sayap tamu kediaman Ouroboros tertutup dengan klik yang halus. Julian membiarkan kamarnya tenggelam dalam temaram cahaya lampu dinding yang redup.
Ia melepaskan jasnya, melemparkannya ke atas tempat tidur dengan asal, lalu berjalan menuju meja kecil yang menyediakan botol kental berisi minuman keras. Ia menuangkan cairan itu ke dalam gelas pendek, meneguknya sedikit, dan membiarkan rasa hangatnya membakar tenggorokan.
Tangannya yang memegang gelas sedikit bergetar. Sisa adrenalin dan gairah aneh masih meledak di dalam kepalanya.
"Luar biasa," bisik Julian. Sebuah tawa rendah lolos dari bibirnya.
Pikirannya kembali berputar pada pemandangan beberapa menit lalu. Ia tidak bisa melupakan bagaimana Adrian—pria yang mengira dirinya adalah serigala—merangkak seperti anjing di lantai, memohon ampunan sebelum diseret.
Namun yang membuat jantung Julian berdegup jauh lebih kencang adalah Elara.
Saat Elara menjatuhkan hukuman, wanita itu tidak menunjukkan kemarahan sama sekali. Tatapan matanya begitu kosong, seolah-olah menghancurkan hidup seseorang hanyalah rutinitas pagi yang membosankan baginya.
Julian berjalan menuju jendela, menatap ke luar, ke arah halaman tengah yang kini perlahan diterangi oleh semburat merah fajar.
> "𝘗𝘦𝘳𝘵𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘦𝘴𝘢𝘪, 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘑𝘶𝘭𝘪𝘢𝘯... 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘈𝘯𝘥𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘶𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘱 𝘣𝘢𝘸𝘢𝘩 𝘵𝘢𝘯𝘢𝘩?"
>
Ancaman itu masih terngiang jelas di telinga Julian. Bukannya merasa terintimidasi, ia justru merasa tertantang.
Ia kembali mengingat Dante. Pengawal itu menatap Elara seolah wanita itu adalah seluruh dunianya.
Cara Elara merapikan kerah kemeja Dante yang bernoda darah, dan cara Dante menyerahkan seluruh hidupnya lewat tatapan mata... itu adalah dinamika paling gila yang pernah Julian lihat di lingkaran ini.
"Kamu mengikat monstermu dengan sangat baik, Nona Elara," gumam Julian sambil menyesap kembali minumannya.
Julian meletakkan gelasnya ke meja dengan ketukan pelan. Ia menyadari satu hal pagi ini: Adrian hanyalah gangguan kecil yang tidak berarti.
Hambatan yang sesungguhnya untuk bisa menyentuh dan mendapatkan perhatian penuh Elara adalah pria bernama Dante itu.
Julian menarik kursi kerjanya, lalu membuka laptopnya yang terenkripsi. Senyum kasualnya kembali muncul, namun kali ini sarat akan perhitungan yang jauh lebih matang.
Ia tidak akan menjadi bodoh seperti Adrian yang menggunakan kekerasan. Julian akan memakai kelicikan yang halus.
"Kita lihat saja," bisik Julian pada layar laptop yang memancarkan cahaya biru. "Berapa lama anjing penjagamu bisa bertahan sebelum aku menemukan celah untuk menyingkirkannya."
Di kamar bernuansa hitam-emas itu, sisa ketegangan malam mendadak luruh, digantikan aroma bunga lili yang menenangkan udara.
Elara masih berdiri di depan Dante. Tangannya yang putih bersih tidak lagi hanya merapikan kerah kemeja kaku pria itu, perlahan naik, menangkup rahang tegas Dante.
"Kamu nggak ganti pakaian dulu sebelum menghadapku, Dante?" bisik Elara.
"Aku cuma ingin cepat-cepat menemuimu," jawab Dante cepat.
Elara tersenyum tipis—sebuah lengkungan bibir yang sulit diartikan antara kepuasan dan intimidasi. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap setitik noda merah kering yang tepercik di dekat telinga Dante.
"Begitu rindunya kamu padaku, sampai-sampai membawa bau anyir ini ke kamarku?" suara Elara mengalun rendah.
Dante menundukkan kepalanya sedikit. "Maaf. Aku teledor. Hukum aku kalau kamu merasa ini keterlaluan."
Elara menarik tangannya, lalu berjalan menuju meja kecil, menuangkan teh herbal aromatik ke dalam cangkirnya.
"Tegakkan kepalamu, Dante," titah Elara tanpa menoleh. "Katakan padaku, apa tikus-tikus di dermaga itu sudah dibersihkan seluruhnya?"
"Sudah, Elara. Semua muatan selundupan sudah diamankan, dan orang-orang yang berkhianat tidak akan pernah bisa bicara lagi. Aku memastikan sendiri tidak ada bukti yang tersisa."
Elara berbalik, membawa cangkir tehnya yang masih mengepulkan uap tipis.
"Bagus," ucap Elara tenang. Dia menyesap tehnya sedikit, lalu menunjuk ke arah pintu penghubung di sudut ruangan dengan dagunya.
"Sekarang, bersihkan dirimu."
"Baik," sahut Dante dengan anggukan patuh, sebelum melangkah mundur dan menghilang di balik pintu.
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..