Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).
Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.
Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 29
Dunia Fana – Halaman Belakang Gubuk Keluarga Shi.
Baru setengah hari berlalu sejak Shi Hao menimbun Pecahan Inti Surga di bawah gundukan tanah berdebu.
Di saat tiga ribu dunia masih gempar oleh hilangnya tekanan dari Tatanan Surgawi, sebuah fenomena ajaib yang hanya bisa disaksikan oleh para dewa tertinggi sedang terjadi di dekat kandang ayam.
Tanah berdebu itu perlahan retak. Dari balik celah tanah, menyembul sebuah tunas kecil berwarna hijau zamrud. Tunas itu hanya memiliki dua helai daun, namun permukaannya dialiri oleh urat-urat emas yang memancarkan Cahaya Penciptaan Murni. Jika ada kultivator Transformasi Dewa (Soul Transformation) yang berani menatap tunas itu secara langsung, Inti Dao mereka akan meledak karena tak sanggup menampung rahasia semesta yang terkandung di dalamnya.
Hitam Satu, sang Raja Anjing Nether, sedang berjalan santai mencari tempat untuk tidur siang. Melihat tunas aneh itu, insting binatangnya tergugah. Ia mendekatkan hidungnya, berniat mengendus daun zamrud tersebut.
BZZZT!
Tunas itu bereaksi. Meskipun kini ia berwujud tanaman fana, harga dirinya sebagai mantan Kehendak Surga menolak disentuh oleh hidung anjing basah! Seberkas kilat emas penghakiman menyambar keluar dari daunnya, menyengat tepat di ujung hidung Hitam Satu.
"Kaing!" Hitam Satu melompat mundur, bulunya berdiri tegak.
Shi Hao, yang sedang mengasah sabit rumputnya di teras belakang, menoleh. Ia berjalan mendekat, berjongkok di samping gundukan tanah itu.
"Hush, kau ini baru lahir sudah galak," tegur Shi Hao. Ia mengulurkan jari telunjuknya yang kasar dan menyentil daun zamrud itu dengan pelan. Tuk.
Gelombang Jalan Kemanusiaan (Mortal Dao) seketika menekan tunas surgawi tersebut. Tunas yang sedari tadi memancarkan kilat arogan mendadak layu sedikit, merunduk patuh layaknya rumput malu-malu, sepenuhnya menekan sifatnya kembali ke dalam akar.
"Anak pintar," Shi Hao tersenyum puas. Ia menoleh ke Hitam Satu yang masih mengusap-usap hidungnya dengan kaki depan. "Sudah kubilang jangan main-main di dekat tanaman baru. Sana, cari tulang di tempat lain."
Hitam Satu menunduk patuh dan segera berlari menjauh, bersumpah tidak akan pernah kencing di dekat pohon mangga (palsu) itu seumur hidupnya.
Di Atas Dahan Bambu Kuno (Kejauhan).
Lima Penjaga Teratai sedang berjongkok, berdesak-desakan mengintip dari balik dedaunan. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi punggung mereka.
"A-Aku tidak salah lihat kan, Kak Lu Bai?" Jin Yu menggigit permen tanghulunya yang belum sempat ditelan. "Itu... itu Tatanan Surgawi kan? Ditanam di sebelah kandang ayam?"
Lu Bai memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Matanya memancarkan campuran antara kengerian dan pemujaan mutlak. "Tuan Besar kita mengubur jantung alam semesta dengan kompos kotoran ayam peliharaan... dan menyiramnya dengan air sumur. Dan yang paling gila, benda itu benar-benar tumbuh menjadi tanaman! Tuan Besar memaksakan siklus reinkarnasi pada Surga itu sendiri!"
Hei Gen sedang mencatat dengan tangan gemetar di atas gulungan bambunya. "Bagian 88: Cara Menjinakkan Kehendak Alam Semesta. Langkah pertama: Sentil daunnya jika mencoba menggigit anjingmu."
"Ssst! Diamlah kalian," tegur Hong Hua, kipasnya tertutup rapat di depan dada. Ia mendongak ke arah langit yang perlahan mulai kehilangan cahayanya. "Rasakan itu. Ada fluktuasi ruang yang sangat purba sedang turun. Tatanan Surga mungkin sudah mati, tapi sesuatu yang jauh lebih tua dari Surga telah mencium keberadaan tunas itu!"
Batas Langit Dunia Fana – Selubung Atmosfer Luar.
Di tempat yang sangat tinggi, jauh di atas awan badai dan lapisan pelindung dunia fana, ruang hampa terkoyak.
Sebuah pusaran api hitam meledak, melelehkan bintang-bintang kecil di sekitarnya. Dari dalam pusaran itu, keluarlah entitas yang ukurannya cukup besar untuk menelan benua dalam satu suapan.
Itu adalah Kagendra, sang Leluhur Gagak Pemakan Matahari.
Ia adalah salah satu dari Seratus Raja Leluhur vanguard dari Jurang Kekacauan Purba. Bulunya terbuat dari materi gelap murni, dan sepasang matanya memancarkan api lahar abadi. Di zaman prasejarah, makhluk ini dikenal suka melahap bintang-bintang muda hanya sebagai camilan sore.
"Jadi ini planet lumpur tempat benih Surga baru itu disembunyikan?" Suara Kagendra bergema di dalam pikirannya sendiri, menciptakan getaran yang memicu gempa bumi kecil di berbagai penjuru benua di bawahnya.
Kagendra menatap jijik ke arah daratan hijau dan lautan biru di bawah sana. Baginya, kehidupan fana tidak lebih dari kuman yang menempel di atas batu.
"Manusia rendahan mana yang berani mencuri otoritas penciptaan? Tidak perlu mencarinya. Aku akan membakar seluruh planet ini menjadi kaca kristal cair, lalu mengambil benih itu dari abunya!"
Kagendra merentangkan sayap raksasanya. Tubuhnya yang sehitam malam mulai menyerap seluruh cahaya matahari di sekitar planet fana tersebut. Ia bersiap melepaskan Napas Badai Bintang Runtuh, serangan yang akan menghapus Dunia Fana dari peta alam semesta dalam satu hembusan.
Dunia Fana – Halaman Belakang Gubuk Keluarga Shi.
Di saat kiamat purba sedang mengintai tepat di atas kepala mereka, Shi Hao sedang duduk di kursi bambu kecil di samping tunas surgawinya.
Ia menyeka keringat di lehernya dengan handuk kecil. Siang itu seharusnya sangat cerah dan hangat, ideal untuk menjemur pakaian dan memberikan fotosintesis bagi tanaman barunya.
Namun tiba-tiba, sebuah bayangan raksasa yang tidak wajar menutupi seluruh desa. Langit yang tadinya biru cerah mendadak menjadi segelap malam tanpa bintang. Angin panas berhembus, membuat daun-daun bambu bergemerisik gelisah. Hawa panas yang menindas mulai meresap ke dalam tanah.
Dari dapur, Gu Qing Yi melangkah keluar, wajah cantiknya menegang. Matanya memancarkan cahaya hijau keemasan, menembus lapisan awan dan melihat wujud raksasa Kagendra yang sedang mengumpulkan energi pemusnah di paruhnya.
"Suamiku," lapor Qing Yi, suaranya sangat tenang meski ia tahu itu adalah monster dari Kekacauan Purba. "Seekor gagak purba raksasa sedang menutupi matahari kita. Ia bersiap menyemburkan api ke arah bumi."
Shi Hao tidak panik. Ia tidak mengeluarkan Tombak Asura-nya. Ia hanya menengadah, menghela napas panjang dengan nada jengkel yang sangat manusiawi.
"Gagak liar dari gunung utara lagi?" keluh Shi Hao, menggelengkan kepalanya. "Musim lalu mereka memakan biji jagung Paman Wang. Sekarang burung mutan sebesar awan ini berani menutupi sinar matahari halamanku? Tunas mangga baruku bisa layu jika tidak dapat cahaya!"
Shi Hao merogoh saku dalam jubah raminya. Ia tidak menarik keluar senjata dewa peninggalan zaman kuno. Sebaliknya, ia mengeluarkan sebuah benda kayu kecil yang sederhana.
Sebuah Ketapel Kayu.
Itu adalah ketapel mainan yang ia pahat sendiri dari dahan pohon murbei kemarin sore, yang rencananya akan ia berikan kepada Gou-zi, si anak ingusan tetangga. Karet ketapelnya pun hanya terbuat dari getah karet fana yang dikeringkan.
"Istriku, tolong pegang handukku sebentar," kata Shi Hao, menyerahkan handuknya pada Qing Yi.
Qing Yi menerima handuk itu dengan senyum manis, menyingkir sedikit agar suaminya memiliki ruang untuk membidik.
Shi Hao membungkuk sedikit, memungut sebuah kerikil kali yang bulat dan licin dari tanah di dekat kakinya. Ia menjepit kerikil biasa itu di atas bantalan kulit ketapelnya.
Di atas langit, paruh Kagendra telah terbuka lebar. Api pemusnah galaksi berwarna hitam mulai berkobar, siap disemburkan untuk melelehkan dunia.
"Mati dan jadilah debu, makhluk fana yang hina!" aum batin Kagendra.
Di bawah sana, di pekarangan belakang yang dinaungi pagar bambu, sang Kaisar Asura menarik karet ketapel mainannya. Otot lengannya yang tersembunyi di balik lengan baju rami sedikit menegang. Saat ia menarik karet itu hingga batas maksimalnya, seluruh hukum Tiga Ribu Dunia secara sukarela memadat dan menyusut ke dalam kerikil kecil tersebut.
Kerikil kali itu tiba-tiba menanggung beban karma dari miliaran galaksi.
"Hush. Pergi sana. Jangan menghalangi matahari pohon manggaku," gumam Shi Hao pelan.
SYUUT!
Shi Hao melepaskan karet ketapel itu.
Sebuah suara lecutan kecil terdengar. Namun, bagi para pengamat berdimensi tinggi, suara itu lebih keras dari ledakan awal terbentuknya semesta.
Kerikil fana itu melesat ke atas. Tidak ada ekor cahaya yang megah, tidak ada guntur yang menggelegar. Kerikil itu hanya melesat dalam keheningan mutlak, menembus lapisan awan badai, menembus atmosfer kosmik, menentang segala hukum fisika dan sihir dengan kecepatan yang melampaui batas ruang dan waktu.
Di luar angkasa, Kagendra baru saja akan menghembuskan napas kiamatnya...
Tiba-tiba, mata apinya menangkap sebuah kerikil kecil yang melesat ke arahnya. Sebelum otak purbanya sempat memproses apa benda itu, kerikil tersebut telah tiba di depan dahinya.
Dan kerikil itu membawa seluruh hukum mutlak dari Kesederhanaan Mortal Dao.
TAAAK!
Sebuah ketukan yang terdengar sangat keras dan renyah bergema di ruang hampa.