“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
*** Ilustrasi pesta dansa di kastil Clyvedon ***
Semuanya sempurna.
Pesta Dansa Mawar Biru Kastil Clyvedon berhasil Elowen wujudkan.
Semua tamu yang datang terlihat takjub menikmati keindahan bunga langka itu.
“Oh Tuhan, aku tidak tahu kalau mawar biru itu ada,” ujar seorang lady yang turun dari kereta kudanya.
Matanya berbinar saat melihat deretan mawar biru dan lampu-lampu yang menyambutnya. “Ini pesta terindah yang pernah kudatangi,” komentar lady itu lagi.
Hal yang sama juga terdengar dari tamu undangan lain.
Mereka terkesan dengan keindahan mawar biru. Tersihir dengan betapa anggunnya dekorasi yang begitu menakjubkan.
“Aku tidak pernah terpikirkan untuk membuat dekorasi dengan mawar biru. Dan, ini sangat cantik sekali.”
Suara seseorang yang berdiri di depan air mancur Kastil Clyvedon yang sekarang sudah disulap sedemikian rupa seperti tema.
Air mancur yang selama ini terlihat angkuh dan kaku. Sekarang terlihat mengagumkan dengan hiasan mawar biru dan lilin-lilin yang mengambang di sekitarnya.
Itu mengagumkan seolah itu didatangkan dari dunia lain khusus untuk pesta dansa ini.
Keluarga Whitmore akhirnya sampai dengan kereta mereka.
Adrian yang pertama turun dari dalam kereta kuda, disusul oleh Dylan dan Cleona. Mereka datang bersama.
Sementara Bastian, dia mengatakan akan menyusul. Dimana lagi pria itu selain di bar menemui para gundiknya.
Cleona melihat betapa megahnya Kastil Clyvedon dengan dekorasi mawar birunya. Wajahnya tercengang. “Elowen tinggal di sini?” gumamnya lirih.
Dylan yang tak sengaja mendengar karena posisinya tepat di samping Cleona. “Ya, dia tinggal di sini. Tapi ini pemandangan yang menakjubkan. Iya, kan Adrian?”
Adrian mengangguk setuju.
Terakhir kali dia datang ke Kastil Clyvedon untuk malam perjamuan setelah pernikahan. Kastil itu terasa begitu dingin dan angkuh. Tidak menyangka kalau bangunan besar itu akan berubah menjadi menakjubkan seperti ini.
Rasa bersalah hadir di benak Adrian. Dia tidak pernah tahu apa yang Elowen inginkan, tidak pernah mendengarkan apa kesukaan adik bungsunya.
Mawar biru ini adalah bunga kesukaan ibu mereka. Tidak ada yang mengingatnya, bahkan Adrian hampir lupa. Tapi Elowen ingat, padahal dia tidak pernah merasakan kasih sayang ibu mereka secara langsung.
Adrian merasa ditampar di sini. Elowen membuatnya malu dengan cara yang berbeda.
“Ayo kita masuk, kalian harus menyapa Tuan Rumah.”
Adrian berjalan lebih dulu. Sementara Dylan menggandeng Cleona berjalan di belakangnya.
***
Elowen masih berada di kamarnya, gaun perak dengan aksen mawar biru begitu cantik di tubuh wanita itu.
Cassian meminta seorang penjahit khusus membuat gaun itu untuk Elowen.
Itu gaun yang sangat indah.
“Anda sangat mengesankan, Your Grace.” Puji Nyonya Wilson.
Elowen tersipu mendengarnya. Ini adalah pertama kalinya dia mendengar seseorang memujinya.
Setelah selesai, para pelayan keluar dari ruang persiapan. Elowen membuka pintu dan menemukan Cassian sudah berdiri menunggunya.
Pria itu menoleh saat Elowen keluar dan berjalan ke arahnya.
Cassian terpaku sesaat, dia menahan napas.
“Ya Tuhan, dia cantik sekali. Gaun itu seperti diciptakan untuknya, sangat cocok sekali,” ucapnya dalam hati.
Elowen tersenyum, senyuman yang berhasil membuat Cassian hampir lupa bernapas. Wanita itu menulis di catatan kecilnya.
“Apa penampilanku sangat aneh?” tulisnya.
Melihat buku catatan itu, Cassian mulai sadar. Dia mengedipkan matanya.
“Oh,” dia berdehem. “T-tidak… kamu cantik, gaun itu sangat cocok untukmu.” Cassian terbata-bata.
Elowen tersenyum, Cassian sangat lucu sekali, wajahnya memerah. Bukan karena marah, itu bukan ekspresi marah seorang Duke.
Setelah terdiam lama dengan canggung. Cassian mengulurkan tangannya, Elowen menyambutnya dengan tersenyum.
Mereka siap menyambut tamu undangan di pesta.
Duke dan Duchess menuruni tangga utama.
Tangga besar itu dihiasi mawar biru di setiap pegangannya. Duke dan Duchess menuruni tangga dengan sangat anggun.
Semua orang memandang takjub pasangan itu.
Apalagi mereka melihat Duchess yang begitu mempesona dengan gaun perak mawar birunya. Wanita itu menuruni tangga sambil menggenggam erat tangan Duke. Mereka sangat serasi bersama. Tidak ada yang menyangka kalau sang Duchess adalah wanita bisu.
Darah Cleona mendidih melihatnya.
Elowen yang dulu selalu berada di bawahnya. Dia yang tidak berharga, sekarang berada di sana dengan gaun mewah dan cantik. Begitu anggun, sementara dirinya, menyandang status wanita dengan suami yang tidak bertanggung jawab.
Rahang Cleona mengetat. Tak rela melihat Elowen bahagia sekarang.
Tangannya sudah mengepal, membuat lipatan gaunnya kusut.
“Ayo kita menyapa Duke dan Duchess,” seru Adrian.
Dengan terpaksa Cleona mengikuti kakak lelakinya dari belakang. Tangannya mengait ke lengan Dylan. Sebenarnya beberapa orang sudah menatapnya, entah apa yang mereka pikirkan. Tapi, Cleona sudah berpikir negatif.
Dia merasa orang-orang sedang menghakimi dirinya. Berpikir kalau dia sangat bodoh menyia-nyiakan kesempatan ini dan malah lari ke arah pria yang salah.
Cleona tidak pernah percaya kalau Duke sendiri yang memilih Elowen bukan karena perjodohan dari kerajaan.
Elowen tersenyum ke arah Cleona. Sang Duchess menghampiri saudara-saudaranya.
Dia tersenyum, akhirnya Elowen bisa melihat orang-orang yang dia kenal. Bukan wajah asing yang selama ini dia lihat di kastil.
Elowen langsung memeluk Cleona dengan ramah. Seolah menyatakan kerinduannya.
“Kulihat kamu hidup nyaman selama ini sebagai penggantiku, Elowen?” bisik Cleona lirih. Tapi jelas terdengar oleh Elowen.
Apa maksudnya?
Elowen melepaskan pelukannya dari Cleona. Dia mencoba menatap wajah saudara perempuannya itu.
Cleona tersenyum lembut, tapi kenapa ada sesuatu di matanya?
Elowen merasakan sesuatu yang tidak tulus, kebencian, dan… sebuah dendam.
Apa Cleona marah padanya? Tapi kenapa juga dia harus marah?
***
Semangat ya thooor.... terimakasih sdh up dan sllu kutunggu up mu banyak2😍
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?
auto lsg tanta mbh gogle
you're amazing writer