"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!
...
Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.
Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 // MBKCM
Di tengah koridor pusat perbelanjaan yang masih riuh oleh langkah kaki para pengunjung, Ardan Arkatama masih berdiri mematung bak patung lilin. Telapak tangan kanannya perlahan dia angkat ke depan dada. Pandangan matanya terkunci pada jemarinya sendiri yang beberapa detik lalu merasakan sebuah keajaiban yang tidak masuk akal. Getaran itu, dorongan beruntun dari balik kulit perut Kiana, seolah masih membekas dan menyengat telapak tangannya hingga ke hulu jantung.
Bimo yang baru saja kembali dari toilet umum di ujung koridor melangkah tergesa-gesa mendekati bosnya. Dia mengernyitkan dahi heran melihat sang CEO berdiri diam di tengah kerumunan, dengan raut wajah yang tampak sangat syok dan bimbang.
"Pak Ardan?" panggil Bimo sembari menepuk pelan pundak pria itu. "Pak, ada apa? Apa terjadi sesuatu masalah di sini?"
Ardan tidak menyahut. Napasnya masih memburu pendek, matanya menatap kosong ke arah lorong lift tempat Kiana dan Saskia menghilang beberapa saat lalu. Ego setinggi langit yang biasanya dia agung-agungkan mendadak terasa goyah oleh dua tendangan kecil dari makhluk yang belum pernah dia lihat wujudnya.
Bzzzt... Bzzzt...
Sebelum Ardan sempat membuka suara untuk menjawab kebingungan asistennya, ponsel di dalam saku jas mahalnya kembali bergetar hebat. Nama 'Dania' tertera dengan jelas di layar digital tersebut. Ardan memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas kasar penuh kejengkelan sebelum akhirnya menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa minat.
"Ya, Dania. Ada apa lagi?" tanya Ardan, ketus dan dingin.
Di seberang sana, suara manja Dania langsung terdengar melengking egois, sama sekali tidak memedulikan nada bicara tunangannya yang sedang tidak bersahabat. 📞 "Kak Ardan sayang! Besok Kakak sudah harus pulang ke Jakarta, kan? Urusan peresmian mall di Bandung kan sudah selesai siang ini. Kak, aku tidak mau ya besok harus datang ke butik untuk fitting baju pengantin sendirian lagi! Semua temanku sudah mencibirku karena calon suamiku tidak pernah kelihatan mendampingi!"
Mendengar rentetan keluhan tentang gaun pengantin dan pernikahan, dada Ardan mendadak terasa semakin sesak dan muak. Pikirannya yang masih dipenuhi oleh wajah pucat Kiana membuat toleransinya terhadap Dania mencapai batas nol.
"Dania, dengar," potong Ardan dengan suara baritonnya yang menegang tajam. "Tadi pagi aku sudah bilang dengan sangat jelas kepadamu, aku sibuk! Banyak urusan investasi di Bandung yang harus kuselesaikan minggu ini. Untuk urusan baju pengantin, pilih saja desain apa pun sesuka hatimu dan belanja apa saja yang kamu inginkan di butik itu. Gunakan saja kartu kredit yang sudah kuberikan padamu untuk membayar semuanya. Jangan menggangguku hanya untuk urusan sepele seperti itu!"
📞 "Tapi Kak Ardan, ini pernikahan kita.."
Pip.
Tanpa berniat mendengarkan bantahan lebih lanjut dari tunangannya, Ardan langsung memutuskan sambungan telepon tersebut secara sepihak. Dia menurunkan ponselnya dengan cengkeraman yang begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, meredam emosi yang mendadak meluap-luap.
Bimo yang berdiri di sebelahnya hanya bisa menelan ludah secara refleks, tahu betul bahwa suasana hati bosnya saat ini sedang berada di tingkat bahaya yang sangat tinggi.
"Pak Ardan, jika Anda lelah, sebaiknya kita kembali ke hotel sekarang untuk beristirahat," usul Bimo dengan sangat hati-hati.
Ardan membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Bimo dengan sorot mata elang yang kembali menajam, namun kali ini dipenuhi oleh gurat ambisi yang berbeda.
"Bimo," panggil Ardan, suaranya merendah namun sarat akan penekanan yang tidak bisa dibantah. "Aku barusan bertemu dengan Kiana."
Deg.
Bimo seketika membelalakkan matanya terkejut. "Nona Kiana, Pak? Di sini? Di mall ini?"
"Benar. Dia ada di sini beberapa menit yang lalu bersama sahabatnya," jawab Ardan, rahangnya mengetat kuat. "Bimo, aku ingin kamu mengerahkan seluruh tim kita di Bandung malam ini juga. Cari tahu di mana wanita itu tinggal sekarang. Aku ingin tahu alamat lengkapnya sebelum matahari terbit besok pagi."
Bimo mengernyitkan alisnya, merasa ada kontradiksi yang sangat besar dengan ucapan Ardan beberapa jam lalu di lobi. "Mohon maaf sebelumnya, Pak. Tapi... untuk apa kita mencari tahu tempat tinggal nona Kiana lagi? Bukankah tadi siang Anda sendiri yang mengatakan tidak perlu membuang waktu perusahaan untuk melacaknya?"
"Sudah lakukan saja apa yang kuperintahkan, Bimo! Jangan banyak bertanya!" bentak Ardan dengan suara meninggi, membuat beberapa pengunjung mall yang melintas sempat menoleh kaget.
Ardan menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai kembali emosinya yang berantakan. Dia memalingkan wajahnya ke samping, lalu melanjutkan kalimatnya dengan nada suara yang bergetar samar oleh ego dan rasa penasaran yang membakar jiwanya.
"Dan satu lagi... cari tahu apakah selama lima bulan ini dia... dia sudah menikah dengan pria lain?" Ardan menjeda kalimatnya, kilat amarah yang tidak jelas ujung pangkalnya terpancar dari matanya. "Setidaknya... aku harus tahu siapa pria brengsek yang menjadi ayah dari anak-anak yang sedang dia kandung di dalam perutnya saat ini."
Bimo menatap bosnya dengan tatapan prihatin yang mendalam. Dia menyadari ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ardan tentang pertemuan singkat tadi, namun sebagai asisten yang patuh, dia hanya bisa menundukkan kepala hormat. "Baik, Pak Ardan. Perintah dimengerti. Saya akan segera menghubungi tim intelijen lokal untuk melacak keberadaan nona Kiana malam ini juga."
***
Sementara itu, setelah menempuh perjalanan yang terasa sangat sunyi dan menegangkan menggunakan taksi online, Kiana dan Saskia akhirnya tiba kembali di depan ruko Twin's Florist. Kiana turun dari mobil dengan langkah yang masih sedikit goyah, kedua tangannya menjinjing kantong belanjaan berisi perlengkapan bayi dengan erat, seolah benda-benda mati itu bisa menjadi pelindung baginya dari kerasnya kenyataan dunia.
Namun, baru saja kaki Kiana hendak melangkah melewati anak tangga teras ruko, sebuah suara nyaring dari arah samping seketika menghentikan langkahnya. Rupanya, Ibu Sri, tetangga sebelah ruko yang memiliki usaha toko kelontong, sedang berdiri di depan terasnya sembari memegang segelas teh hangat.
"Eh, Mbak Kiana! Baru pulang belanja ya, Mbak?" sapa Ibu Sri dengan senyuman lebar dan suara yang cukup cempreng.
Kiana menghentikan langkahnya, mencoba mengulas senyum seramah mungkin meskipun hatinya sedang hancur lebur setelah bertemu Ardan. "Iya, Ibu Sri."
Ibu Sri melangkah mendekat, Keluar dari area rumahnya dan memasuki area ruko Kiana. Rumah mereka hanya berjarak tembok pagar yang rendah. Saat mendekat mata bu sri yang jeli langsung tertuju pada kantong-kantong belanjaan besar berlogo toko perlengkapan bayi yang dibawa oleh Kiana dan saskia.
"Wah, banyak sekali ya belanjaanya. Eh tapi ini, saya sebenarnya mau pesan satu buket bunga ukuran sedang untuk acara wisuda anak saya hari Sabtu besok," ujar Ibu Sri, sebelum matanya beralih menatap perut buncit Kiana yang tercetak jelas. Wanita paruh baya itu tersenyum menggoda. "Aduh, Mbak Kiana... baru belanja perlengkapan bayi ya? Wah, perutnya sudah besar sekali ya sekarang. Oh iya, maaf nih ya Mbak kalau saya agak lancang... tapi sudah tiga bulan lebih kita bertetangga di ruko ini, kok saya belum pernah lihat sekali pun suami dari Mbak Kiana, ya? Suaminya kerja di luar kota atau bagaimana, Mbak?"
Jleb.
Pertanyaan yang keluar dari bibir Ibu Sri seketika terasa bagai sembilu yang teramat sangat tajam, menghantam dan mengiris-iris lubuk hati Kiana yang paling dalam. Luka batin yang baru saja coba dia tutupi rapat-rapat kini kembali menganga lebar dengan rasa perih yang luar biasa. Kiana membeku di tempat, lidahnya mendadak kelu, dan matanya seketika berkaca-kaca menahan rasa sesak yang mendesak di dadanya.
Saskia yang berdiri di samping Kiana langsung menyadari perubahan raut wajah sahabatnya. Darah Saskia seketika berdesir geram mendengar pertanyaan kepo dari tetangga mereka. Dia melangkah maju satu tindak, bersiap untuk memberikan jawaban pedas guna membela Kiana.
"Maaf ya, Bu Sri. Urusan rumah tangga orang lain itu sepertinya tidak.."
Sebelum Saskia sempat menyelesaikan kalimat kasarnya, Kiana dengan cepat mengulurkan tangan kirinya, mencengkeram erat lengan baju Saskia untuk mencegah sahabatnya membuat keributan. Kiana menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh sisa harga diri dan ketegaran yang dia miliki. Sejak awal memutuskan untuk membesarkan anak-anaknya seorang diri di kota asing, Kiana sudah mengantisipasi bahwa pertanyaan-pertanyaan menyakitkan seperti ini pasti akan datang menghampirinya suatu hari nanti.
Kiana menatap Ibu Sri dengan binar mata yang sendu namun sarat akan ketegasan seorang ibu yang ingin melindungi anak-anaknya dari stigma negatif.
"Ayah dari anak-anak saya... sudah tiada, Bu," jawab Kiana dengan suara yang bergetar namun terdengar sangat tulus dan mutlak.
Ibu Sri seketika tertegun, senyuman di wajahnya langsung lenyap digantikan oleh rasa bersalah dan canggung yang luar biasa. "E-Eh... ya ampun, tiada? M-Maksudnya sudah meninggal, Mbak?"
Kiana tidak membenarkan atau menyangkal lebih jauh, baginya sosok Ardan yang dulu memang sudah mati di dalam hatinya. Kiana mengangguk tipis sembari membetulkan letak tasnya.
"Maaf ya, Ibu Sri... saya saat ini sangat lelah setelah berjalan-jalan tadi. Saya permisi untuk masuk ke dalam terlebih dahulu untuk beristirahat," ujar Kiana dengan nada sopan namun sarat akan pengusiran halus. Dia melirik ke arah dalam ruko di mana Rio sedang merapikan vas. "Kalau untuk detail pesanan buket bunga wisuda anak Ibu, silakan langsung dilayani dan dicatat oleh Rio di dalam ya, Bu. Rio sudah tahu semua katalog dan harganya."
"Oh... i-iya, Mbak Kiana. Maaf ya Mbak, saya beneran tidak tahu tadi... aduh, maaf sekali ya," tutur Ibu Sri terbata-bata penuh rasa penyesalan.
"Tidak apa-apa, Bu. Mari," pamit Kiana lirih.
Dengan sisa tenaga yang ada, Kiana langsung melangkah lebar masuk ke dalam ruko, mengabaikan tatapan iba dari Ibu Sri. Saskia mengikuti dari belakang dengan wajah yang ditekuk masam, menutup pintu kaca ruko dengan sedikit sentakan keras demi meluapkan kekesalannya pada tetangga mereka yang terlalu ikut campur tersebut. Di dalam keheningan toko, Kiana mempercepat langkahnya menaiki tangga menuju lantai dua, bersiap untuk menumpahkan seluruh air matanya lagi.