NovelToon NovelToon
Om Duda Come To Me!

Om Duda Come To Me!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Duda
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?

​Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.

​Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Satu minggu setelah penangkapan Pak Gunawan, Arsalan Group perlahan mulai stabil. Tapi, stabilitas di kantor ternyata berbanding terbalik dengan kondisi di rumah. Zyan, yang merasa bersalah karena hampir kehilangan Alexa, mendadak berubah jadi "Suami Siaga" yang tingkat protektifnya melebihi satpam bank.

Pagi itu, jam baru menunjukkan pukul 05.30 WIB. Alexa masih mendengkur halus di balik selimut tebalnya, memimpikan knalpot racing titanium yang baru dia pesan. Tiba-tiba, telinganya menangkap suara gaduh dari arah dapur.

TRENG! PRANG! CESS!

Alexa terbangun dengan nyawa yang belum terkumpul utuh. "Anjir... ada maling apa gimana sih? Pak Bambang kecolongan?"

Dengan nyawa yang masih melayang-layang, Alexa jalan sempoyongan ke dapur sambil nyeret bantal. Begitu sampai di sana, matanya langsung melek sempurna. Ia melihat pemandangan paling absurd di abad ini: Zyan Arsalan, pria yang biasanya wangi parfum mahal dan setelan Boss, sekarang lagi pake kaos kutang putih, celana pendek, dan... celemek pink motif bunga matahari milik Bi Ijah.

Rambutnya acak-adakan, dan di tangannya ada spatula yang dipegang kayak mau eksekusi lawan bisnis.

"Om... lo lagi ritual manggil jin apa gimana?" tanya Alexa lemas sambil nyender di pintu.

Zyan menoleh dengan wajah yang udah belepotan tepung. "Pagi, Istriku. Saya sedang membuatkan kamu pancake ala Perancis untuk sarapan. Di artikel yang saya baca, seorang suami yang baik harus melayani istrinya setelah melewati trauma besar."

Alexa mendekat, ngintip ke arah wajan. "Itu pancake atau ban dalam motor yang terbakar? Kok item gitu?"

Zyan berdehem, mencoba menutupi kegagalannya. "Ini namanya over-caramelized. Teknik tinggi, Alexa. Kamu yang anak teknik harusnya paham soal reaksi kimia pada suhu tinggi."

"Reaksi kimia pala lo peyang! Itu mah gosong, Om!" Alexa merebut spatula itu. "Minggir deh, sebelum dapur ini meledak terus kita jadi gelandangan."

Zyan nggak mau menyerah. Dia malah melingkarkan tangannya di pinggang Alexa dari belakang, naruh dagunya di bahu Alexa yang masih pake piyama gambar oli motor. "Biarkan saya bantu. Saya ingin jadi suami yang berguna di dapur, bukan cuma di ruang rapat."

Alexa mendadak kaku. Wangi tubuh Zyan yang meski campur bau mentega gosong tetep aja bikin deg-degan. "Duh, Om... lo kalau mau berguna, mending lo beliin gue kunci torsi yang baru deh. Jangan peluk-peluk begini, gue lagi pegang barang panas nih!"

"Nggak mau. Saya mau begini saja sampai pancake-nya matang," gumam Zyan manja.

"Dih, duda satu ini makin hari makin nggak bener ya otaknya. Mana Zyan yang dingin kayak kulkas dua pintu dulu? Balikin dong!"

"Zyan yang itu sudah pensiun sejak kamu nabrak gerbang rumah saya pakai motor butut itu," sahut Zyan sambil mengecup pipi Alexa singkat.

Setelah drama sarapan gosong yang akhirnya diganti sama bubur ayam yang dibeli Pak Bambang di depan komplek, Alexa bersiap-siap mau ke kampus. Hari ini dia ada jadwal praktikum berat.

"Om, gue berangkat ya! Motor H2 gue udah dipanasin kan?" tanya Alexa sambil make jaket kulitnya.

Zyan yang sudah rapi dengan jasnya (setelah mandi wajib dari tepung) keluar dari ruang kerjanya. "Tunggu. Kamu tidak akan membawa motor itu hari ini."

Alexa melongo. "Lho? Kenapa? Kan itu hadiah dari lo!"

"Motor itu terlalu kencang untuk hari senin yang macet ini. Saya takut kamu tergoda untuk jadi Valentino Rossi di jalur TransJakarta," Zyan jalan mendekat, lalu menyerahkan sebuah kunci mobil. "Hari ini kamu pakai mobil ini. Dan saya sudah menyewa supir pribadi untukmu."

"GAK MAU! Om, gue anak teknik, bukan anak mami! Masa ke kampus pake supir? Jatuh wibawa gue di depan anak-anak bengkel!"

"Tidak ada bantahan, Nyonya Arsalan. Supirnya sudah menunggu di depan."

Alexa keluar dengan cemberut. Begitu sampai di depan gerbang, matanya hampir keluar dari tempatnya. Supir pribadinya bukan bapak-bapak berkumis atau pemuda berseragam. Tapi... Rio.

"Yo?! Kok lo di sini pake seragam supir?!" teriak Alexa.

Rio nyengir sambil benerin topinya. "Hehe, Lex. Pak Zyan yang nawarin. Katanya daripada gue kerja serabutan, mending gue jadi asisten pribadi plus supir lo. Gajinya tiga kali lipat dari UMR, Lex! Lumayan buat tambahan biaya kontrol Ibu."

Alexa menepuk jidatnya. Zyan emang pinter. Selain buat bantu Rio, Zyan juga naruh Rio di sana biar ada yang jagain Alexa sekaligus jadi "mata-mata" kalau-kalau Alexa mau balapan liar lagi.

"Licik banget emang si Om Duda," gumam Alexa, tapi dia nggak bisa nahan senyum.

Sore harinya, Alexa pulang lebih awal. Dia punya rencana nakal. Karena Zyan udah bikin dia kesel soal supir, Alexa mau bales dendam. Dia tahu Zyan paling nggak suka kalau rumahnya yang rapi jadi berantakan.

Begitu Zyan pulang kantor jam tujuh malam, dia hampir pingsan di ambang pintu. Ruang tamunya yang biasanya estetik dan minimalis, sekarang penuh dengan ban motor, botol oli, dan Alexa yang lagi asyik bongkar mesin motor di atas karpet bulu mahal seharga mobil.

"ALEXA! Apa yang terjadi dengan karpet Persia saya?!" teriak Zyan, suaranya sampai melengking satu oktav.

Alexa mendongak dengan muka penuh coretan oli hitam. "Eh, Om udah pulang? Ini lho, motor lama gue mesinnya agak berisik. Gue pikir daripada di bengkel panas, mending di sini pake AC. Karpetnya empuk, Om, enak buat lutut."

Zyan memijat pelipisnya. "Alexa... itu karpet dari sutra asli. Harganya bisa beli sepuluh motor bekas kamu itu!"

"Halah, cuma karpet doang. Nanti gue cuci pake sabun colek juga bersih lagi," sahut Alexa santai sambil muter baut. "Sini dong, Om, bantuin gue pegangin senter. Jangan cuma berdiri kayak patung selamat datang gitu."

Zyan, yang awalnya mau marah besar, tiba-tiba liat muka Alexa yang belepotan oli tapi keliatan sangat bahagia. Kemarahannya luluh seketika. Dia melepas jas mahalnya, melonggarkan dasi, lalu ikut duduk di atas karpet (yang sudah pasrah jadi korban oli).

"Sini senternya. Di sebelah mana yang harus saya terangi?" tanya Zyan pasrah.

Alexa kaget. "Lho? Kok nggak marah lagi? Biasanya lo bakal ceramah tujuh hari tujuh malam soal kebersihan."

"Capek marah sama kamu. Ujung-ujungnya saya juga yang bakal minta maaf," Zyan menyalakan senter ponselnya. "Lagian, melihat kamu kotor begini jauh lebih baik daripada melihat kamu menangis di dermaga itu."

Suasana mendadak jadi romantis di tengah bau oli. Zyan menatap Alexa dalam-dalam. "Alexa... kamu bahagia?"

Alexa berhenti muter baut. Dia menatap Zyan, lalu mengusap oli di pipi Zyan pake tangannya yang juga kotor. "Awalnya gue pikir hidup sama lo itu bakal kayak di penjara, Om. Tapi ternyata... lo itu kayak oli mesin. Awalnya lengket dan bikin risih, tapi tanpa lo, mesin hidup gue bakal macet total."

Zyan tersenyum, senyum paling tulus yang pernah Alexa lihat. Dia menarik tengkuk Alexa dan mencium keningnya perlahan. "Berarti saya oli kualitas premium, ya?"

"Nggak, lo oli curah yang dijual di pinggir jalan, tapi botolnya doang yang bermerek," canda Alexa sambil ketawa.

Tiba-tiba, suara pintu depan terbuka. Bu Ratna (Mama Zyan) masuk dengan wajah ceria membawa rantang makanan. "Zyan! Mama bawakan rendang—ASTAGA NAGA!"

Bu Ratna mematung melihat pemandangan di depannya: Anak kesayangannya yang direktur terpandang, duduk lesehan di karpet mahal yang penuh oli, bareng menantunya yang mukanya kayak habis keluar dari tambang batubara.

"Zyan! Kamu... kamu jadi ikut-ikutan nggak waras?!" teriak Bu Ratna.

Zyan malah merangkul Alexa. "Ma, kenalin, ini hobi baru Zyan. Jadi asisten montir paling ganteng se-Jakarta."

Alexa nyengir lebar ke arah mertuanya. "Halo, Ma! Mau ikut bongkar mesin nggak? Seru lho, tangannya jadi item-item estetik gini!"

Bu Ratna cuma bisa geleng-geleng kepala sambil naruh rantang di meja. "Terserah kalian lah. Yang penting Mama segera dapet cucu. Mau mukanya penuh oli juga nggak apa-apa, yang penting sehat!"

Mendengar kata "cucu", Alexa langsung keselek ludah sendiri. Zyan malah senyum licik ke arah Alexa. "Denger tuh, Sayang. Mama minta 'proyek' baru. Gimana kalau kita selesaikan mesin ini, terus lanjut ke 'proyek' Mama?"

"PROYEK MATAMU! GUE MASIH KULIAH, OM!" teriak Alexa sambil melempar lap kotor ke muka Zyan.

Malam itu, rumah mewah Arsalan penuh dengan tawa, bau oli, dan aroma rendang Bu Ratna. Masalah besar mungkin sudah lewat, tapi petualangan seru antara sang Direktur dan Gadis Teknik ini baru saja dimulai.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!