"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah terindah untuk sang papa
Siang pun tiba bertepatan dengan lonceng akhir kelas jam pertama bergema. Sesuai janjinya, Aira sudah berdiri di lobi gedung fakultas, menanti kedatangan sang suami. Tidak butuh waktu lama, mobil Rolls-Royce hitam yang familier itu kembali membelah halaman kampus. Rayyan turun dengan setelan jasnya yang rapi, langsung menghampiri Aira dan membimbingnya masuk ke dalam mobil dengan penuh kehati-hatian.
Hari ini, Rayyan tidak hanya menjemput Aira untuk makan siang. Pria itu telah mengosongkan seluruh jadwal rapatnya demi mengantar istri tercintanya pergi ke rumah sakit. Mereka akan melakukan pemeriksaan USG rutin. Beberapa waktu lalu, mereka belum sempat melihat jenis kelamin bayi mereka karena sang buah hati selalu bersembunyi atau memunggungi layar pemindai dokter.
Begitu pintu mobil tertutup rapat dan kendaraan mulai melaju, Rayyan langsung menggeser duduknya mendekati Aira. Pria tegap itu menunduk di dalam mobil, menempelkan wajahnya langsung pada perut buncit tujuh bulan Aira yang terasa hangat.
Dengan nada suara baritonnya yang melembut penuh harap, Rayyan berbisik ke arah perut istrinya, "Kesayangan papa... hari ini tunjukkan dirimu, ya. Jangan sembunyi seperti minggu lalu lagi, hmm? Papa sudah penasaran sekali."
Ucapan bisikan bernada membujuk dari seorang CEO yang biasanya ditakuti banyak orang itu sontak membuat Aira terkekeh geli. Dia mengusap rambut hitam suaminya dengan gemas. "Dia pasti dengar kok, Sayang. Minggu lalu dia hanya sedang malu saja."
Benar saja, keajaiban itu terjadi saat mereka sudah berada di dalam ruang dokter spesialis kandungan. Aira berbaring di atas ranjang periksa dengan gel transparan yang dioleskan di atas perut bulatnya, sementara Rayyan berdiri di sampingnya, menggenggam erat jemari Aira sembari menatap layar monitor dengan pandangan tak berkedip.
Dokter perlahan menggerakkan alat pemindai di atas perut Aira. Detik berikutnya, gambar hitam putih di layar mulai bergeser dan menampilkan posisi janin yang sangat jelas. Kali ini, sang bayi tidak lagi bersembunyi.
"Nah, lihat ini, Pak Rayyan, Bu Aira," ucap dokter sambil tersenyum dan menunjuk ke arah layar. "Posisinya sangat bagus hari ini. Di sebelah sini... terlihat sangat jelas ya, jenis kelamin anak Anda adalah laki-laki."
Mendengar ucapan dokter, Rayyan dan Aira sontak saling berpandangan. Aira bisa melihat dengan jelas bagaimana kedua mata elang suaminya seketika berkaca-kaca menahan rasa haru yang luar biasa. Senyum kebahagiaan merekah begitu lebar di wajah tampan Rayyan.
"Laki-laki, Aira... jagoan kita," bisik Rayyan dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi yang meluap. Dia menunduk, mencium kening Aira dengan begitu dalam dan lama, menyalurkan seluruh rasa syukur atas kado terindah yang dihadirkan oleh sang istri ke dalam hidupnya. Sang calon pewaris Wijaya Group itu kini telah siap menyambut dunianya beberapa bulan lagi.
Setelah menyelesaikan pemeriksaan dan menebus beberapa vitamin dari dokter, Rayyan segera mengantar Aira pulang ke penthouse mereka. Sepanjang perjalanan, tangan besar Rayyan tidak pernah lepas dari perut buncit Aira, sesekali mengusapnya dengan binar kebahagiaan yang masih terpancar jelas setelah mengetahui bahwa jagoan kecil mereka berjenis kelamin laki-laki.
Begitu sampai di rumah, Rayyan dengan telaten membantu Aira melepas flat shoes-nya dan membimbingnya untuk duduk bersandar di sofa ruang tengah yang nyaman.
"Hari ini kamu pasti lelah, Sayang. Istirahatlah dulu. Aku akan meminta Bi Sumi membuatkan susu hangat untukmu," ucap Rayyan lembut sembari mengecup pucuk kepala Aira.
"Rayyan, tunggu sebentar," tahan Aira, memegang ujung lengan kemeja suaminya sebelum pria itu melangkah pergi. "Ada sesuatu yang ingin kubicarakan tentang kuliahku."
Rayyan mengurungkan niatnya, lalu ikut duduk di samping Aira. "Soal kuliah? Kenapa, hmm? Perutmu sudah semakin besar, apa mulai terasa terlalu melelahkan untuk bolak-balik ke kampus?" tanya Rayyan dengan nada khawatir. Jika Aira meminta cuti sekarang, dia akan dengan sangat senang hati mengurusnya hari ini juga.
Namun, Aira justru menggelengkan kepalanya. Tatapan mata bulatnya memancarkan binar tekad yang kuat.
"Bukan begitu. Justru sebaliknya, aku ingin mengambil cuti kuliah setelah melahirkan saja," tutur Aira serius. "Usia kandunganku sekarang baru masuk tujuh bulan. Masih ada waktu sekitar dua bulan lagi sebelum hari persalinan, dan itu bertepatan dengan masa ujian akhir semester."
Rayyan menaikkan sebelah alisnya, mendengarkan dengan saksama.
"Aku tidak ingin tertinggal materi kuliah, Sayang," lanjut Aira, menggunakan panggilan manjanya untuk melunakkan hati suaminya. "Kalau aku cuti dari sekarang, aku harus mengulang banyak mata kuliah dari awal tahun depan, dan aku tidak mau kelulusanku tertunda terlalu lama. Aku ingin tetap masuk kelas sampai waktunya tiba. Setelah bayinya lahir, baru aku akan fokus mengambil cuti akademis untuk merawatnya."
Rayyan terdiam sejenak, menatap lekat wajah istrinya. Di satu sisi, insting protektifnya berteriak ingin mengurung Aira di dalam rumah yang aman agar istrinya tidak perlu kelelahan. Namun di sisi lain, Rayyan selalu mengagumi kemandirian dan kecerdasan Aira. Tekad istrinya untuk tetap berpendidikan tinggi di tengah kondisi hamil tua justru membuat Rayyan semakin jatuh cinta dan menaruh rasa hormat yang besar padanya.
Rayyan mengembuskan napas pasrah, lalu meraih jemari Aira dan mengecupnya. "Baiklah, kalau itu maumu, aku tidak akan melarang. Tapi dengan satu syarat mutlak."
"Apa?" tanya Aira dengan mata berbinar.
"Mulai besok dan seterusnya, kamu tidak boleh berjalan sendirian di area kampus. Aku akan menugaskan dua pengawal wanita berpenampilan sipil untuk menjagamu dari jarak dekat tanpa mengganggu kenyamanan belajarmu. Dan begitu jam kelasmu selesai, kamu harus langsung pulang," tegas Rayyan, memberikan proteksi maksimal yang tidak bisa dinegosiasikan.
Aira tersenyum lebar dan langsung berhambur memeluk leher kokoh suaminya. "Setuju! Terima kasih banyak, Papa Rayyan!" ucapnya manja, membuat tawa renyah Rayyan pecah di dalam ruang tengah yang hangat itu.