NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Alyra

Suami Dadakan Untuk Alyra

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lylia Yuu

“Kau itu memang benalu! Mengganggu dan menempel seperti parasit. Gagal mendapatkan kakaknya, sekarang adiknya yang kau incar? Dasar wanita sampah!”

Hidup Alyra hancur hanya dalam satu malam. Semua bermula saat ia memergoki lelaki yang begitu dicintainya tengah bercumbu dengan wanita lain. Alyra memilih pergi, tetapi pria itu tak terima ditinggalkan. Dalam amarah dan ego yang membabi buta, ia merenggut paksa kehormatan Alyra sehingga gadis itu hamil.

Sejak saat itu, hidup Alyra berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih bertanggung jawab, mantan kekasihnya justru menikahi wanita simpanannya. Sementara Alyra, yang menanggung malu seorang diri, dipaksa menerima keputusan dua keluarga untuk menikah dengan adik dari pria yang telah menghancurkan hidupnya.

Bisakah Alyra bertahan dalam ikatan tanpa dasar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lylia Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SDUA 29

“Siapa gerangan lelaki tampan ini, Alyra?” Suster Okta memindai penampilan sang pria dari ujung kaki hingga kepala. “Wajahnya … cukup familiar.”

Netra legam wanita berusia tiga puluhan itu memicing berusaha menerka siapa dan di mana bertemu dengannya, sebab wajah Erlan tidak asing dalam ingatannya.

“Saya pernah mengirim foto sekali lihat melalui pesan whatsApp, Sus,” bisik Alyra yang sudah berdiri di samping Suster Okta. “Dia … suamiku.”

Mata yang sedari tadi menyipit berubah membulat sempurna. “Ah, benar!” Tanpa sadar intonasinya meninggi. Segera ia tutup kembali mulut dengan kedua telapak tangan.

“Diakah suami tampanmu itu, Alyra?” Sorot matanya berbinar kagum.

Alyra mengedip canggung, tangan meremas ujung handuk yang melingkar di leher.

Sementara Erlan masih menatap bingung, meringis kikuk menghindari pukulan kecil dari suster Okta.

“Lelaki macam apa kau! Membiarkan istrimu pergi sendirian saat tengah malam, dalam keadaan cuaca buruk, hujan, badai petir halilintar!” tangan sibuk memukuli punggung suami Alyra. "Apa gunanya wajah tampan bila tak bisa bertanggung jawab!"

“Saya nggak bermaksud membiarkannya, dianya sendiri yang pergi nyelonong tanpa pamit!” kilah pria berpostur tegap, kemeja basah menonjolkan dada bidangnya.

“Benar begitu, Alyra?” Suster Okta bertanya memastikan.

Wanita hamil berwajah pucat hanya mengangguk singkat.

Perempuan mengenakan baju dinas perawat menghembuskan napas dalam, meredam amarah supaya tak meluap.

“Kalian berdua … masuklah ke ruang istirahat staf. Ganti baju dan keringkan tubuh kalian, setelah itu baru bicarakan soal yang membuat kalian saling pergi tanpa pamit,” kata Suster Okta dengan nada rendah. Menatap tegas pasangan insan tak saling menatap, keduanya sibuk mengalihkan pandangan satu sama lain.

“Nggak perlu, Suster,” sahut Alyra pelan. “Kami akan mencari penginapan di dekat sini.”

“Alyra, ini sudah malam, cuaca hujan lebat pula. Kamu nggak dengar suara halilintar itu?” Suster Okta menatap penuh bujuk. “Menginap di sini saja, kebetulan saya sif malam, kamar akan kosong hingga esok pagi.”

“Ada yang perlu kami bicarakan dengan serius, rasanya kurang pas bila membahasnya di sini,” ujar Alyra, menolak dengan lembut tawaran suster Okta.

Erlan menoleh, menatap setuju. “Benar—” ia menelan ludah kala netra tak sengaja bertemu iris tajam memerah, tatapan suster Okta penuh ancaman.

Wanita kepala tiga itu begitu menyayangi Alyra layaknya seorang kakak kandung. Bertahun hidup bersama, banyak masa dan kenangan yang telah mereka lalui bersama.

Melihat sosok yang disayang bertamu di malam hari, menerobos cuaca buruk seorang diri, suster Okta langsung mengerti, sang adik pasti tengah dihimpit masalah. Terlihat dari sorot matanya, Alyra tampak tak baik-baik saja.

“Besok pagi Alyra bakal balik lagi untuk bertemu Oma,” ucapnya meyakinkan, nada suara ditekan penuh bujukan.

“Janji?” Suster Okta mengangkat kelingking, kemudian disambut oleh sang adik, kelingking keduanya saling bertaut sebagai tanda akan janji yang tak boleh diingkari.

Akhirnya pasangan muda itu keluar dari rumah rehabilitasi. Erlan membuka pintu mobil, mempersilakan sang istri duduk di kursi samping kemudi.

Alyra hanya mengangguk singkat. “Terima kasih.”

Nada bicaranya kembali formal, raut wajahnya tak lagi ramah, sikapnya menjadi dingin seperti setelan awal kala mereka baru resmi menikah.

Erlan hanya menghela napas pelan, tak banyak bicara apalagi protes, memilih diam, memberi ruang sang istri untuk menenangkan diri.

.

.

.

Kendaraan roda empat itu melaju pelan, menembus rintikan gerimis yang tak kunjung reda, membelah jalanan sunyi di pinggiran kota.

Rumah rehabilitasi itu berdiri di lokasi strategis, tak terlalu jauh dari pusat kota daerah. Di sekelilingnya terbentang perkampungan tenang dengan latar pegunungan yang menjulang.

Sayangnya, mereka tiba saat malam telah larut, membuat keindahan alam serta hamparan kebun teh di perbukitan pinggir jalan tak dapat terlihat jelas.

Ekor mata Erlan tak berhenti melirik ke sebelah kiri, arah sosok berwajah pucat, tangan memeluk tubuh yang kedinginan.

Jemarinya memutar kenop kecil hingga ke angka paling bawah, mengatur suhu di dalam mobil agar terasa lebih hangat. Setelahnya, ia meraih sebuah jas tergeletak di jok belakang, ia berikan pada Alyra.

“Terima kasih.” Sekali lagi, Alyra Hussein bicara tanpa menatap lawannya.

“Kamu sudah makan?” Erlan berusaha memecah suasana yang terasa canggung.

“Belum,” sahut Alyra singkat.

“Mau makan sesuatu?” bukan sekadar basa-basi, Erlan bertanya dengan tulus.

“Tengah malam begini … mana ada warung makan buka di perkampungan,” ujar Alyra dengan nada sedikit menggerutu.

“Kamu benar ….” Erlan kembali diam, topik pembicaraan langsung ditutup telak oleh sang istri.

‘Kamu?’ Alyra menoleh, menatap sedikit terkejut sebab ini kali pertama sang suami memanggilnya dengan sebutan ‘kamu’ saat hanya berdua saja, bukan di depan keluarga.

Erlan melirik, menyadari sorot terheran dari tatapan mata istrinya.

“Why? Kenapa menatapku seperti itu?” tanyanya lembut.

Alyra menarik pandangan, kembali menyandarkan bahu pada kursi, netra menatap jendela kaca mengarah pada pemandangan gelap gulita, kendaraan mereka melewati area belantara.

“Bukan apa-apa,” sahutnya tanpa menatap suaminya.

“Oh ya ….” ia menoleh ke samping, memandang sisi wajah pemilik hidung runcing dan rahang tegas yang mampu memikat semua wanita. Namun, Alyra menatapnya biasa saja.

“Kapan kamu akan meminta orang suruhanmu pergi? Mereka akan mengikuti kita sampai ke penginapan?” Netra pekatnya menyorot menuntut penjelasan.

Seolah ditelanjangi di depan mata. Erlan tertangkap basah telah mengirim seseorang untuk mengawasi istrinya.

Ia meneguk ludah, mendadak tak fokus mengemudikan kendaraan, lalu mengerem tanpa aba-aba.

“Kamu gila?!” pekik wanita seraya memegang seat belt kuat-kuat.

“Sejak kapan kamu tahu soal mereka?” Erlan balik menatap dengan netra menyelidik.

Alyra menghela napas, kembali memalingkan wajah, enggan saling menatap. “Sejak awal,” sahutnya.

“Kamu marah?” Ada sorot rasa bersalah pada binar mata yang berubah redup.

“Kamu sudah memesan penginapan? Kita bahas semuanya setelah tiba di sana.” Alyra enggan membahas masalah serius saat masih berada di perjalanan.

“Oh … oke.” Erlan kembali fokus menatap lurus. Menginjak rem, mengemudikan mobil dengan laju stabil.

.

.

.

“Di mana bos brengsekmu itu?!”

Brak!

*

*

Bersambung.

1
partini
jajat sekali kalian,,tapi orang selalu berhasil wehhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!