NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Rumor, Fitnah, Dan Logika Bakso

Senin pagi di kampus harusnya jadi waktu buat semangat kuliah. Tapi bagi gua, Senin pagi ini rasanya kayak lagi masuk ke dalem mesin cuci yang lagi mode spin. Pusing banget!

Begitu gua injek kaki di koridor Fakultas Akuntansi, mata orang-orang udah kayak laser. Bisik-bisik tetangga bertebaran lebih cepet dari kecepatan sinyal 5G.

"Eh, itu kan ceweknya Dedik? Katanya riset mereka itu sebenernya punyanya Clarissa ya yang di Singapura?" "Iya, denger-denger Dedik cuma 'modifikasi' dikit. Wah, kasihan ya Clarissa, udah cantik, dikhianati pula."

Gua ngeremes tali tas gua kenceng banget. Rasanya pengen gua samperin itu gerombolan, terus gua audit satu-satu mulutnya! Tapi sebagai mahasiswi Akuntansi yang terdidik, gua harus tetep balance.

Gua langsung lari ke Lab Komputer 3. Gua harus pastiin si Robot itu nggak kenapa-kenapa. Pas gua buka pintu Lab, gua nemuin Dedik lagi duduk anteng di depan monitornya.

Dia nggak koding. Dia lagi asik makan bakso dalem plastik.

"Ded! Lo udah denger belum?!" teriak gua panik sampe hampir nabrak meja.

Dedik nengok pelan, benerin kacamatanya yang melorot gara-gara uap bakso. "Denger apa, Rey? Secara akustik, ruangan ini kedap suara 80%. Kalau lo maksud suara burung gereja di luar, iya, gua denger."

"Bukan burung gereja, Robot! Rumor! Katanya riset kita itu hasil nyolong ide Clarissa pas di Singapura!" gua gebrak meja dia sampe kuah baksonya goyang.

Dedik naruh sendok plastiknya. Dia natap gua lempeng banget.

"Oh, itu. Iya, tadi gua baca di grup angkatan. Secara logika, rumor itu punya tingkat akurasi 0,01%. Ide 'Harmoni Nada' pake media bambu kuning Indonesia."

"Sedangkan di Singapura Clarissa risetnya pake media polimer sintetis. Perbedaan variabelnya sejauh bumi dan Pluto."

"Ya gue tau itu! Tapi orang-orang kampus kemakan omongan Clarissa! Nama lo jadi jelek, Ded!"

"Rey," Dedik narik kursi di sebelahnya, nyuruh gua duduk.

"Secara statistik, orang lebih suka drama daripada data. Menanggapi rumor dengan emosi itu cuma bakal ningkatin bandwidth berita itu sendiri. Gua lebih milih fokus nambahin pedes ke bakso gua."

Gua melongo. "Lo... lo nggak marah dituduh plagiat?"

"Marah itu butuh energi ATP yang besar, Rey. Mending gua pake buat nyelesein revisi paten. Lagian, Clarissa emang pinter bikin narasi. Dia tau gimana cara manipulasi opini publik pake sentimen 'masa lalu'."

Tiba-tiba pintu Lab kebuka. Clarissa masuk dengan gaya bak model iklan vitamin. Dia pake kacamata hitam yang ditaruh di atas kepala, nenteng map kulit warna cokelat.

"Hai Ded. Hai... Reyna," sapanya dengan nada yang sangat... sangat manis, terlalu manis sampe bikin gua pengen periksa kadar gula darah.

"Ded, kamu udah liat berita di mading kampus? Aduh, maaf banget ya. Aku nggak tau kalau obrolan kita di kantin kemarin disalahartikan sama anak-anak."

"Aku udah coba jelasin kalau kita cuma 'berbagi ide', tapi ya kamu tau sendiri netizen kampus gimana."

Gua berdiri. "Berbagi ide atau naruh benih fitnah, Cla? Jujur aja deh, lo sengaja kan biar Dedik kelihatan buruk dan butuh lo buat bersihin namanya?"

Clarissa cuma ketawa halus. "Reyna sayang, kamu kayaknya terlalu banyak baca novel roman picisan ya? Logikanya, buat apa aku ngerusak reputasi partner yang mau aku bantu? Aku cuma mau yang terbaik buat Dedik."

Clarissa nengok ke Dedik. "Ded, biar rumor ini ilang, mending besok kita buat klarifikasi bareng di depan Pak Dekan."

"Kita bilang kalau ini riset 'kolaborasi' antara aku dan kamu. Dengan begitu, nama kamu aman, dan patennya bisa jalan terus."

Gua liat Dedik diem. Dia ngunyah baksonya pelan-pelan. Gua deg-degan. Kalau Dedik setuju, berarti Clarissa dapet hak atas riset ini!

"Kolaborasi?" tanya Dedik.

"Iya. Adil kan?" Clarissa senyum kemenangan.

Dedik berdiri. Dia jalan ke arah papan tulis putih yang penuh sama rumus-rumus koding. Dia ngambil spidol item, terus nulis satu baris kode pendek.

if (logical_fallacy == true) { return "Go to Hell"; }

"Cla," kata Dedik sambil balik badan. "Secara teknis, gua menghargai bantuan lo buat urusan legalitas. Tapi kalau lo mau nyelipin nama lo di baris kepemilikan ide cuma bermodalkan rumor yang lo ciptain sendiri... itu namanya malpraktik logika."

Muka Clarissa langsung kaku. "Maksud kamu apa, Ded?"

"Gua udah duga lo bakal pake strategi ini," Dedik ngetik sesuatu di laptopnya, terus layar besar di Lab nampilin rekaman suara.

“...Pokoknya buat aja seolah-olah Dedik itu dapet ide pas kita di Singapura. Biar dia terpojok dan mau nggak mau narik gue masuk ke tim intinya...”

Itu suara Clarissa! Lagi ngomong sama seseorang lewat telepon.

Gua melongo. "Ded! Lo dapet dari mana?!"

"Pas gua benerin kompor mamanya kemarin, gua nggak sengaja denger dia teleponan di taman belakang."

"Karena radius suara dia cukup kencang dan gua lagi megang alat perekam frekuensi buat kalibrasi... ya, terekam secara otomatis. Logikanya, kalau ada suara yang masuk ke sensor gua, sistem gua bakal langsung save."

Clarissa mukanya merah padam. "Kamu... kamu nyadap aku?!"

"Gua nggak nyadap. Gua lagi benerin kompor. Lo yang teleponan di sebelah gua. Secara hukum fisika, suara merambat lewat udara. Gua cuma menangkap gelombang yang dateng ke arah gua," jawab Dedik santai banget.

Gua pengen teriak "MAMPUS!" kenceng banget tapi gua tahan. Gua cuma bisa melet ke arah Clarissa. "Gimana, Sis? Masih mau klarifikasi bareng?"

Clarissa langsung nyamber tasnya. "Sialan! Dedik, kamu bener-bener nggak punya perasaan ya!"

"Gua punya perasaan, Cla. Tapi perasaan gua udah tersinkronisasi sama Reyna. Dan di dalem sistem gua, nggak ada ruang buat variabel manipulatif kayak lo."

"Silakan keluar, atau gua bakal kirim file audio ini ke grup angkatan dalam hitungan detik."

Tanpa nunggu lama, Clarissa lari keluar Lab. Pintu dibanting kenceng banget sampe pot bunga di sampingnya goyang.

Gua langsung meluk Dedik. "DED! LO KEREN BANGET! Gila, robot gua ternyata pinter main intelijen juga!"

Dedik kelihatan kikuk pas gua peluk. Tangannya cuma gantung di udara sebelum akhirnya pelan-pelan nepuk pundak gua.

"Rey... ini bukan intelijen. Ini cuma pemanfaatan data yang tersedia secara gratis di lingkungan sekitar."

"Terserah deh apa namanya! Pokoknya lo hebat!" gua ngelepas pelukannya. "Terus audio itu beneran mau lo sebar?"

 "Enggak," Dedik balik duduk. "Gua hapus."

"LOH?! KENAPA?!"

"Secara etika, nyebarin aib orang itu nggak efisien. Yang penting dia udah tau kalau gua tau. Itu udah cukup buat bikin dia berenti ganggu kita."

"Lagian, memori laptop gua penuh, mending dipake buat nyimpen foto lo pas lagi makan bakso tadi."

Gua langsung melotot. "LO FOTO GUA LAGI MAKAN BAKSO?!"

"Iya. Pipi lo mengembang 15% dari ukuran normal. Sangat menarik secara geometris."

Gua langsung nyari-nyari HP Dedik. "HAPUS NGGAK! DEDIK! HAPUS!"

Kita malah kejar-kejaran di dalem Lab. Dedik lari sambil megang laptopnya tinggi-tinggi biar nggak gua ambil.

Dia ketawa, ketawa kecil yang jarang banget gua denger dan itu bikin gua sadar kalau masalah Clarissa ini sebenernya cuma bumbu biar hubungan kita makin pedes kayak sambel bakso Dedik.

"Siniin nggak! Gue jelek banget pasti di situ!"

"Enggak, Rey. Secara visual, lo tetep variabel paling cantik di mata gua, meskipun ada kuah bakso dikit di ujung bibir lo."

Gua berenti lari. "Hah? Mana?!"

Gua langsung ngaca di monitor yang mati. Nggak ada kuah bakso sama sekali.

"Tipuan logika, Rey. Lo terlalu gampang dikelabui," kata Dedik sambil nyengir, terus duduk lagi buat lanjut makan bakso.

Gua cuma bisa berkacak pinggang sambil geleng-geleng. Cowok gua emang sialan. Partner sialan yang paling gua sayang.

***

Sore itu, rumor di kampus mendadak ilang gitu aja. Clarissa tiba-tiba ijin sakit dan nggak masuk Lab selama seminggu.

Gua dan Dedik balik lagi ke rutinitas kita, dia koding, gua nyanyi, dan sesekali kita debat soal apakah cilok itu lebih enak dimakan pake bumbu kacang atau saos sambal.

"Ded," panggil gua pas kita lagi jalan keluar kampus.

"Ya?"

"Makasih ya udah belain gua tadi."

"Gua nggak belain lo, Rey. Gua belain kebenaran data."

Gua nyubit lengannya kenceng. "Ngomong 'iya, Sayang' aja susah banget sih!"

Dedik diem sebentar, terus dia genggam tangan gua erat banget pas kita mau nyebrang jalan. "Iya, Rey. Apapun demi lo."

Gua senyum puas. Biarin deh dia kaku kayak kanebo kering, yang penting hatinya cuma punya satu frekuensi: Frekuensi Reyna Salsabila.

***

Ketidakhadiran Clarissa di Lab bikin suasana tenang, tapi Pak Dekan tiba-tiba manggil Dedik ke ruangannya.

"Dedik, ada tawaran investasi dari perusahaan Singapura untuk riset kamu. Nilainya miliaran, tapi syaratnya... kamu harus pindah ke sana selama setahun." Dedik terdiam.

Pindah ke Singapura berarti harus jauh dari Reyna, atau... membawa Reyna masuk ke dalam dunia yang penuh risiko?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!