Seorang pria remaja mendapatkan kekuatan dari aura ghaib Putri Mahkota Bangsa Iblis. Yang membuat perubahan seratus delapan puluh derajat dari kehidupan sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kend 13, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencurigakan!
'Mati aku! siapa juga nih yang telefon? Nggak liat waktu apa!' Batin Marissa yang sedang berjongkok di bawah meja kerja nya. Merutuki orang yang menelfon ke ponsel nya di saat seperti ini.
Jay yang masih berada di meja kerja Marissa pura-pura mencari ponsel Marissa yang berdering. Tangan kiri nya sibuk membuka-buka beberapa laci meja itu, sementara telapak tangan kanannya menengadah ke arah dimana Marissa sedang meringkuk.
Beruntung dua kakak adik itu tak melihat nya dan tak menghampiri mereka ke meja kerja tersebut. Dengan tangan bergetar Marissa merogoh kantong rok yang dia kenakan, mengambil ponsel yang masih saja berdering dan memberikan nya ke tangan pemuda tersebut.
Setelah berada di tangan Jay, dering ponsel itu pun berhenti.
"Kayaknya ponsel Bu Marissa ketinggalan di laci meja nya deh!" Ucap Jay menghela nafas lega sembari memperlihatkan ponsel itu ke arah Shitta dan Shilla.
"Trus kemeja ini?" Tanya Shitta dengan tatapan penuh menyelidik.
"Mencurigakan!" Gumam Shilla melipat satu tangan di bawah gundukan payu daranya sembari mengetuk dagu nya dengan jari tangan nya yang lain, yang mana sikut nya itu bertumpu pada punggung tangan nya yang di lipat.
Jay mengangkat kedua bahunya, menandakan pemuda itu tidak mengetahui apa-apa. "Mungkin guru BK yang cantik itu membawa pakaian ganti." Ucap nya asal sembari mendekati Shilla untuk memberikan kunci rumah yang di minta nya tadi.
Deg.
Mendengar pernyataan receh yang keluar dari mulut Jay membuat jantung Marissa berdegup kencang. 'Barusan, tuh anak bilang gue cantik?' Batin nya dalam hati. Ada kebanggaan tersendiri menyelimuti hati nya. Walaupun pemuda itu mungkin ngomong nya secara asal, namun kata-kata itu berhasil menggugah perasaan nya.
"Nih kunci nya." Jay menyodorkan kunci itu pada Shilla.
Setelah kunci itu berada di tangan Shilla, ponsel Marissa yang masih di genggaman Jay berdering kembali.
Terlihat nomor kontak yang memanggil adalah Ibu Kepsek. Agar tak di curigai, Jay pun mengangkat panggilan itu. "Hallo!" Ucap Jay mengawali percakapan nya melalui sambungan telefon itu.
"Eh! Bukan kah ini ponsel nya bu Marissa?" Tanya Aida keheranan mendengar suara pria yang di sambungan telefon nya. Padahal sudah jelas dia menghubungi Marissa yang nota bene nya seorang perempuan.
"Iya bu. Ponsel Bu Marissa ketinggalan di laci meja kerja nya. Ini aku Jay!" Timpal Jay menanggapi ucapan Aida.
"Ooh, kamu toh Jay! Bibi kira tadi siapa." Balas Aida menghembuskan nafas lega. "Oh iya, apa kamu sudah bertemu sama Shitta dan Shilla? Kunci yang di pegang Shilla ketinggalan dirumah, Apa Kamu bawa kunci cadangan?" Lanjut Aida menanyakan perihal tentang kedua anaknya itu.
"Udah kok bi. Nih mereka masih disini." Ucap Jay menjawab pertanyaan Aida. "Apa bibi mau ngomong sama Shilla?" Lanjut nya menawarkan Aida agar wanita itu mempercayai nya.
"Nggak usah Jay, Awalnya bibi telefon Bu Marissa cuma mau menanyakan keberadaan kamu aja. Biar mereka nggak kesulitan mencari kamu." Timpal Aida menjelaskan.
"Oh gitu," Jay manggut-manggut, seolah-olah Aida memperhatikan nya.
"Ya udah kalau kalian udah ketemu, bibi matiin telefon nya yah." Ucap Aida yang ingin mengakhiri sambungan telefon.
"Oke bi!" Jawab Jay singkat.
Shitta dan Shilla hanya menyimak, mendengar Jay saat menelfon.
"Kemeja nya gue bawa ya! takut hilang disini nanti." Ucap Shitta setelah Jay menutup sambungan telefon nya.
"Iya, Sekalian tuh sama ponsel nya!" Imbuh Shilla sembari menengadah kan telapak tangannya ke hadapan Jay yang masih menggenggam ponsel milik Marissa.
"Eh, jangan dong! kalian main bawa-bawa aja barang orang!" Ucap Jay dengan cemas, sembari merebut kemeja Marissa dari tangan Shitta.
Kedua gadis itu sama-sama menatap tajam ke arah mata Jay. Mencari-cari sesuatu hal yang mencurigakan yang bisa saja di sembunyikan pemuda tersebut.
"Apa-apaan sih! Liat gue kek gitu." Ucap Jay dengan sedikit gugup. Memutar otak nya dengan cepat, untuk mencari alasan yang lebih tepat sembari menenangkan jantung nya yang tiba-tiba saja berdetak begitu cepat.
"Gelagat lu tu mencurigakan! Tau nggak?!" Bentak Shilla.
"Mending lu jangan main-main sama Bu Marissa! Cewek bengis itu nggak pandang bulu kalau udah tersinggung." Imbuh Shitta mengingat kan Jay.
"Iya! Waktu lu nggak sekolah pas habis kecelakaan kemaren, Kak Shitta aja pernah di hukum. Padahal dia cuma ngebelain temen nya doang." Shilla ikut-ikutan memperingatkan Jay.
Mendengar perhatian mereka, Jay jadi tersenyum. "Kalian kok jadi perhatian sih sama gue?" Ucap nya sambil terkekeh. "Tenang saja, Guru bohay itu nggak akan bisa ngelakuin apa-apa sama gue." Imbuh nya dengan penuh percaya diri.
"Idih! Siapa juga yang perhatian sama lu! Gue cuma ingetin doang ya! pede amat sih!" Shilla menyilangkan kedua tangan nya di dada sembari menggembung kan kedua pipi nya dengan kesal.
Jay kembali terkekeh melihat ekspresi Shilla yang jadi semakin imut. Wajah nya sangat menggemaskan. "Aman kok! Tenang aja. Kalian pulang gih! Kalau guru BK yang galak itu balik lagi, kan gue bisa balikin barang-barang nya. Dan kalau pun nggak balik, biar gue aja yang nyimpen nya. Secara kan, dia tau nya cuma gue yang ada disini." Ucap Jay menjelaskan panjang lebar, setelah mendapatkan kata-kata yang tepat agar kedua sepupu nya itu tak mencurigai nya lagi.
"Ya udah La! Balik aja yuk!" Ucap Shitta akhirnya yang bisa menerima penjelasan dari Jay.
"Yuk lah!" sahut Shilla, mereka berdua pun hendak membalikkan badan. Namun,
"Eh kalian! Nggak salim dulu?" Ucap Jay di sisa kekehan nya sembari mengulurkan punggung tangan nya ke hadapan mereka berdua.
Shitta mengernyitkan dahinya, menandakan gadis itu semakin kesal pada pemuda itu.
"Ogah!" Shilla langsung saja melangkah kan kakinya untuk keluar dari ruangan itu.
"Tungguin La!" Teriak Shitta menyusul adiknya itu.
"Hey! Padahal Kak Shiva aja tadi salim sama gue loh waktu di kampus!" Teriak Jay dengan suara lantang semakin bersemangat menggoda dua kakak beradik itu.
Plok plok plok
Dari arah meja kerja Marissa terdengar suara tepukan tangan setelah Jay menutup pintu ruangan itu dengan rapat.
Jay langsung saja menoleh kearah sumber suara tepukan itu. Dilihat nya Marissa masih mengangkat tangannya sambil bertepuk ringan. Sementara raut wajah garang guru BK nya itu menatap nya dengan tajam. Seakan bisa membunuh nya hanya dengan bara api kekesalan yang terlukis di mata wanita itu yang mulai memerah.
"Bohay! Bengis! Galak!" Marissa mendekat sambil meng geleng-geleng kan kepala nya. Gelar yang sangat memalukan untuk dirinya sebagai Guru BK di sekolah ini.
"Eh!" Jay terkesiap melihat perubahan yang secara tiba-tiba dari raut wajah Marissa. Mata yang tadinya begitu tajam itu berubah menjadi berembun. Terlihat jelas oleh Jay ada genangan air disana.
Marissa melanjutkan langkah kaki nya menuju sofa, dan langsung duduk disana sembari menangkup kan wajah menggunakan kedua telapak tangannya.
Jay buru-buru menyusul, ikut duduk di sebelah nya. "Ibu kenapa?" Tanya nya pelan sembari mengusap-usap kedua bahu wanita itu, berusaha menenangkan nya setelah menaruh ponsel dan kemeja milik Marissa di atas meja.
Marissa melirik sekilas kearah Jay setelah menurunkan kedua telapak tangannya, wanita itu langsung saja merebahkan kepalanya pada dada bidang siswanya itu.
Dengan gerakan reflek, Jay mendekap tubuh wanita itu semakin erat kepelukan nya. "Maaf kan kata-kata aku tadi bu. Aku nggak bermaksud menghina ibu begitu kok." Ucap nya dengan pelan.
*****