NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5| Penolakan Aluna

"Woy, banteng! Gue di sini."

Teriakan keras di area parkiran sekolah mengalun, lidah Aluna berdecak kesal dengan panggilan Kai pada dirinya. Kedua tungkai kaki Aluna kembali melanjutkan langkah kaki yang sempat berhenti, mengeliminasi jarak yang terbentang di antara mereka berdua. Kai menyeringai, ekspresi masam Aluna membuat gadis remaja yang semakin mendekat ke arah Kai terlihat semakin menggemaskan saja.

"Lo lelet amat dah kek keong sawah aja. Gue nungguin lo dari orang-orang pada keluar dari kelas, sampek satu gedung sekolah udah pada kosong," lanjut Kai memprotes keterlambatan Aluna.

Aluna mendesah kasar, dan memutar malas kedua bola matanya. "Gue 'kan udah ngebalas chat lo kalo gue maunya ketemuan sama lo tuh besok sore. Bukan sekarang Kai, siapa suruh lo maksa."

"Gue sih bisa nungguin lo tapi, kayaknya si Bastian nggak bakalan peduli tuh. Dia bakalan nyeret lo langsung ke hadapan si Jayden," sahut Kai mengingatkan Aluna, jika mereka tidak segera bertemu maka Aluna tak akan memiliki alasan untuk lepas dari tanggungjawab.

"Oke, to the point aja. Lo mau gue ngelakuin apa, biar gue bisa lolos dari Jayden?" tanya Aluna dengan alis mata mengkerut.

Apa yang dibicarakan dengan Zea beberapa menit yang lalu saja sudah membuat kepala Aluna berdenyut sakit, siapa yang menyangka jika ada cerita lain antara tokoh Aluna si figuran dan Zea sang tokoh protagonis wanita. Awalnya Aluna sendiri tak paham dengan isi pikiran tokoh Aluna hingga membenci Zea, mengingat ia terus berbisik di telinga Karina agar menyakiti Zea. Ternyata ada alasan kelam dibaliknya, kekecewaan yang melahirkan rasa rendah diri pada Aluna.

Kai menunduk menyamakan tinggi wajah mereka berdua, semburat napas hangat Kai menghantam wajah Aluna. Pupil mata Aluna melebar, ia reflek mundur dua langkah ke belakang dengan tatapan waspada. Kai tersenyum miring, berdecak pelan sebelum kembali berdiri tegap.

"Jalan satu-satunya agar lo bisa lolos adalah...." Kai melirik saksama wajah penasaran Aluna menggantung kata-katanya, dan terkekeh geli melihat ekspresi Aluna.

Aluna melotot, dan berkata, "Apa-apaan sih lo, gaje amat. Apa yang lo ketawain coba? Dan kenapa pula lo ngegantungin jawaban dah kek kain jemuran aja."

Kai menjilat bibirnya dengan gerakan slow motion, senyum nakal di bibirnya kembali tercekat.

"Nggak sabar amat lo," balas Kai merendahkan intonasi nada suaranya, "lo harus jadi pacar gue. Dengan kayak gitu lo bakalan aman dari amukan Jayden."

Kedua kelopak mata Aluna berkedip dua kali, dan menjerit tertahan dengan mata melotot. "APA? JADI PACAR LO, HAH?"

Kai meringis mengusap kedua daun telinganya, gendang telinga Kai berdengung karena suara Aluna yang melengking, ia meringis kecil.

"Ogah, pait! Pait. Nggak mau gue jadi pacar lo, yang benar aja. Gue sama lo?" Aluna menggeleng kepalanya tegas. "Itu tuh, nggak bakalan jadi solusi dari masalah. Yang ada bakalan jadi cabang baru dari masalah lainnya, pokonya gue nggak setuju. Amit-amit jabang bayi gue jadi pacar lo," sambung Aluna merinding.

Kai narik sebelah alis mata tebalnya ke atas, antara percaya dan tak percaya dengan penolakan keras Aluna. Dari sekian banyak gadis yang menggilainya, bermimpi untuk menjadi kekasihnya. Namun, bagaimana bisa gadis di depannya ini malah menolaknya mentah-mentah, bahkan kata-kata yang keluar seolah-olah menjadi kekasih Kai akan membuatnya menjadi tertimpa sial.

Aluna mengangkat pandangan matanya, melirik Kai yang diam tanpa sahutan apapun. Degup jantung Aluna bertalu-talu, bukan karena terpesona oleh ketampanan Kai. Tapi karena Kai mendadak diam-lah yang membuat Aluna berdebar ketakutan, pria manipulatif satu ini cukup berbahaya.

'Alamak! Gue nggak lagi ngebanggunin setan yang lagi tertidur 'kan, ya?' Aluna meneguk kasar air liur di kerongkongannya.

"Gu—gue balik duluan. Masalah si Jayden, gue bisa atasin sendiri. Kalo gitu, bye!" Aluna tergagap, ia langsung berbalik dan berlarian secepat mungkin menuju pintu gerbang sekolah.

Bibir merah merekah Kai terbuka namun, suaranya tertahan di kerongkongan. Kepala Kai menggeleng tak berdaya memperhatikan punggung belakang Aluna yang semakin menjauh dan menghilang di balik tikungan, kabur sudah mangsanya.

"Gue kurang apa?" tanya Kai pada dirinya sendiri. "Gue ganteng, kaya, pintar ngegaet cewek. So, kenapa dia malah segitunya nolak gue. Sialan! Gue ngerasa malu banget," lanjut Kai mengerang tertahan.

...***...

BYUR!

Jus jeruk yang baru saja masuk ke dalam mulutnya menyebut keluar hingga turun ke dagu dan leher, Aluna bergidik jijik melihat tingkah gadis remaja di depannya. Ia masih memakai seragam sekolah, berbeda dengan Karina. Gadis di depannya sudah memakai pakaian biasa, Aluna tidak tahu harus pergi kemana dan bercerita pada siapa. Pada akhirnya ia singgah ke rumah Karina menceritakan apa yang dikatakan oleh Kai padanya, itu mengundang keterkejutan Karina.

Tangan Karina menarik selembar tisu di atas meja mengusap bibir, dagu, dan turun ke leher jenjangnya. Karina membuang asal tisu di atas meja, ia bahkan menggeser tempat duduknya hingga lebih dekat dengan kursi Aluna.

"Lo yakin si Kai? Kai Maverick yang ngomong kayak gitu ke lo, Lun? Benar dia?" Karina menggenggam tangan Aluna, matanya menatap lurus ke arah mata Aluna.

Kepala Aluna mengangguk, "Ya, emang dia yang  ngomong kayak gitu ke gue."

"Lo nolak dia kayak gitu aja?" tanya Karina kembali mengalun tak percaya.

"Ya, iyalah. Siapa juga yang mau jadi pacarnya, itu sama aja kayak masuk ke dalam labirin. Bisa masuk tapi nggak bakalan bisa keluar," jawab Aluna tegas.

"Woah, lo benar-benar gila. Lo nolak si Kai, oke gue akuin sih kalo dia itu agak player. Tapi, selama ini dia nggak pernah deket sama cewek yang kayak punya status jelas gitu nggak pernah sama sekali, bukannya bagus kalo lo sama Kai pacaran. Lo tau 'kan siapa bokapnya Kai, dari empat sekawan Kai cukup banyak dikagumi para cewek. Apa jadinya kalo yang suka sama Kai denger seorang Aluna yang mereka benci malah nolak pangeran mereka, betapa patah hatinya mereka semua." Karina berdecak dan menggeleng tak percaya.

Kedua bola mata Aluna berotasi malas, ia meraih gelas jus jeruk di atas meja. Menyesapnya perlahan, menikmati dingin dan segarnya jus jeruk.

"Lo pikir si cecungguk satu itu semanis itu, oh come on Karina. Dia pasti punya maksud terselubung, dan gue nggak butuh itu. Gue nggak butuh cowok tuh," tukas Aluna, tangannya kembali meletakkan gelas di atas meja.

"So, lo butuh apa dong?"

Seringai Aluna terbit, dan berkata, "Duit, gue cinta duit dan butuh duit. Duit yang nggak bakalan ada abisnya. Gue mau hidup ini nggak ditinggalin sama duit, dan kepingin dikejar ugal-ugalan sama duit. Cuman duit, Honey."

Aluna mengedipkan sebelah matanya pada Karina, gadis remaja itu berdecak kecil. Bagi gadis seusia mereka tidak ada yang lebih menyenangkan daripada memiliki pacar yang mereka sukai, menikmati masa putih abu-abu dengan kisah romansa. Namun, berbeda dengan pola pikir Aluna, ia bukan gadis remaja yang dilanda kasmaran oleh cinta.

"Yeee! Lo kok dah kayak cewek matre aja. Toh, kalo lo pacaran sama si Kai. Lo juga bakalan bisa menikmati duitnya. Contohnya kayak kalo gue jadi pacar Gavino, gue bakalan dikasih apapun yang gue suka. Yeah..., meskipun gue nggak butuh itu sih. Gue cuma ngarep cinta tulus dari Gavino dong, soal materi sih gue dah punya." Karina terkekeh kecil membayangkan dirinya dan Gavino bersama, ia sangat tergila-gila dengan Gavino.

Kedua mata Aluna menyipit, jari telunjuknya mendorong ke belakang dahi Karina membuat gadis itu mengerang protes. Aluna terkekeh geli, ia tidak menceritakan tentang Jayden. Aluna tak ingin Karina ikut campur dengan masalahnya, niat awalnya tetap sama. Menjauh dari Karina, dan para tokoh lainnya. Menikmati hidup tokoh figuran dengan damai, tanpa drama apapun.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!