NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Sang Mantan

Benih Rahasia Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom / Penyesalan Suami
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Satu malam kelam menumbuhkan benih kehidupan dalam diri Miranda. Namun naasnya, hubungan terlarang itu di ketahui sang Majikan, yang tak lain Ibu dari kekasihnya~Ezar Angkasa.

Merasa tidak terima atas hubungan itu, Majikanya memfitnah Miranda secara keji, dan mengharuskan gadis malang itu angkat kaki dari rumah dalam keadaan berbadan dua.

5 tahun berlalu~

Miranda mencoba bangkit. Melamar kerja pada sebuah perusahaan ternama di kotanya. Namun siapa sangka, Bos barunya itu.....? Dia adalah Ezar Angkasa, mantan kekasihnya 5 tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Rasya mengalah. Ia tarik napas dalam, lalu segera bangkit untuk bergegas keluar.

Setelah cukup meredam emosinya, Ezar tampak merogoh gawainya dan segera menghubungi sang Asisten.

"Nanda... Kamu cari tahu dimana tempat kerja suaminya Miranda. Sekarang! Saya tunggu infonya." Ezar memutuskan panggilannya sepihak.

Ia bangkit, berjalan menuju jendela kaca yang membentang, disana Ibukota masih sibuk dengan segala aktivitasnya. Di lantai 5 itu, Ezar menghembuskan napas berat, kemewahan yang tersuguh dari gedung-gedung pencakar langit itu sama sekali tak menarik matanya. Jakarta sangat penuh, dan terasa semakin sesak dalam pandanganya.

*

Hampir pukul setengah 3 sore itu, Miranda baru sampai di rumah mertuanya.

Tama yang paling hafal dengan suara motor matic Bundanya, kini segera keluar dan di ikuti sang Nenek dari belakang.

"Yeay... Bunda udah puyang...." Pekiknya.

Miranda segera turun setelah melepas helmnya. Ia tersenyum menghampiri Tama, seolah topengnya baru saja ia kenakan.

Bu Sri Haryanti, Ibunda mendiang Arya, kini mengernyit melihat menantunya pulang lebih awal.

"Loh, Mir... Belum jam 3 kok udah pulang. Ada apa?" Tanyanya cemas.

Miranda kembali tersenyum lembut. Matanya mencoba menutupi semua masalah yang terjadi. "Nggak papa, Bu. Hanya saja, perut Miranda tadi agak mules. Bolak balik ke kamar mandi sampe lemes, makanya Miranda izin pulang."

Bu Sri merasa khawatir. Ia sudah menganggap Miranda sebagai putri kandungnya sendiri. Di peganglah tangan Miranda dengan tatapan gusar. "Ya sudah, ayo masuk dulu. Tunggu, Ibu buatkan teh tawar dulu."

Miranda mengangguk, ia mengajak Tama untuk masuk kedalam kembali.

Setelah menenggak separuh teh tawar tadi, perasaan Miranda lebih terasa hangat. Apalagi menatap wajah Tama yang sedang bermain di depanya.

Miranda menoleh, kala tangan lembut sang Mertua menyadarkan fokusnya.

"Mir...."

"Iya, ada apa, Bu?"

Kali ini suara Bu Sri lebih rendah dan nadanya masih berselimut duka. "Besuk tepat seribu hari kepergian suamimu. Rencananya, Ibu mau buat acara syukuran sederhana, panggil tetangga dekat biar ikut tahlilan."

Miranda menatap dengan serius. Ia hampir melupakan semua itu. Dan pantas saja, tadi malam mendiang Arya datang di alam mimpinya.

"Tolong kamu pesakan kue di langganan kita," lanjut Bu Sri.

Miranda mengangguk. "Iya, Bu... Nanti kalau Miranda pulang, sekalian mampir kesana. Sejak pagi juga tama udah minta dibeliin donat. Nanti tak sekalian bilang."

Miranda tersadar. Ingatannya terlempar disaat terakhir Arya melemparkan senyum manisnya.

"Mas, kok tumben berangkat pagi banget," sambil menguap, Miranda menghampiri suaminya yang sedang memanaskan motornya.

Arya mematikan motor itu, pukul setengah tujuh sudah dalam keadaan rapi. Setelah turun, Arya menghampiri Istrinya yang masih muka bantal. Semalaman Miranda dan Arya begadang, karena putranya Tama yang pada saat itu masih berusia 2,5 tahun, entah mengapa malam itu rewel; menangis tanpa jelas, dan tenangnya saat berada dalam gendongan Arya.

"Tama masih tidur, sayang?" Arya memegang lengan Istrinya.

Miranda mengangguk. "Mas... Kamu tadi malam kan juga begadang... Kok nggak bikin surat Izin aja. Takutnya kamu ngantuk pas kerja?"

Arya tersenyum lembut. Mengajak istrinya untuk duduk terlebih dulu. Dalam balutan seragam kerja itu, Miranda semakin terpesona melihat ketampanan Arya yang pagi ini semakin bertambah.

"Sayang... Nanti kalau Tama bangun, dan aku udah berangkat kerja... Tolong tenangin dia ya, kalau nanti masih rewel. Bilang kalau Ayah bekerja buat Tama. Kasih tahu pelan-pelan... Nanti begitu aku pulang, Tama pasti bakal berhenti nangisnya."

Entah mengapa, ketika kalimat itu keluar dari mulut suaminya, perasaan Miranda tetiba berdesir. Ada ketakutan yang menyelinap diantara celah hatinya, dan tak mampu mulutnya untuk bersua.

Miranda hanya mampu mengangguk, pagi itu Arya pamit untuk berangkat kerja. Namun, sebelum motor suaminya benar-benar keluar, Arya menatap Istrinya dengan begitu lamat.

Miranda merasakan tatapan itu semakin dalam. Dan tak lama itu, Arya tersenyum.

Senyumnya lembut, merekah sempurna, pelangi pun tak dapat menandingi keindahannya.

"Assalamualaikum... Aku berangkat, sayang...."

"Walaikumsalam, hati-hati, Mas... Jangan ngebut!" Miranda membalas senyuman itu, lalu melambaikan tangan.

Dan Arya sudah keluar melajukan motornya.

Beberapa jam kedepan, Tama terbangun. Dan lagi-lagi rewel mencari keberadaan Ayahnya.

"Ayah... Ama minta dendong Ayah. Hua... Hiks... Hiks!"

Miranda mencoba memberi paham sesuai ucapan Arya tadi pagi.

Meskipun masih sesegukan, tangisan Tama berangsur mereda. Dan tepat pukul 8 pagi itu, Miranda di kejutkan dengan dering gawainya yang bergetar tanpa jeda.

Sebuah kabar menyesakan. Kabar yang memporak-porandakan hatinya.

"Dengan Istrinya saudara Arya Syahputra? Kami dari kepolisian, ingin memberitahukan jika suami Anda mengalami kecelakaan tunggal di jalan Panglima Sudirman di alun-alun kota. Dan korban saat ini tengah dilarikan ke rumah sakit."

Pagi itu juga, dengan hanya menyambar jilbab Instanya, Miranda segera pergi ke rumah sakit. Namun, 10 menit dirinya tiba, seorang perawat datang untuk memberitahu kabar duka.

"Anda Istrinya saudara Arya. Mohon maaf, saudara Arya sudah tiada sejak dalam perjalanan ke rumah sakit."

Deg!

Deg!

Miranda bak mayat hidup pagi itu. Wajahnya mendadak pucat, hantaman demi hantaman baru saja meluruh lantahkan hatinya dalam sekejap. Kilatan petir serasa bersahutan mengema dalam isi kepalanya.

"Mas Aryaaaaaa!!!!!"

Pagi itu juga, tangisan Miranda pecah. Ia peluk tubuh suaminya yang sudah tak bernyawa itu. Dan benar saya, semua kejanggalan mulai dari putranya rewel, kalimat penenang Arya tadi pagi, semua itu sebagai bentuk firasat dan cara suaminya berpamitan.

Hati Miranda hancur, dunianya mendadak gelap setelah di tinggalkan suaminya.

Tak terasa, air mata Miranda mengalir dengan sendirinya. Ia tersadar saat Tama menepuk tangannya, kini menyodokan tisu.

"Bunda tenapa nangis? Bunda kangen sama Ayah, ya, Bunda?"

Miranda tersenyum, "Terimakasih tisunya, sayang! Iya nih, tiba-tiba saja Bunda kangen sama Ayah. Tapi... Kalau lihat Tama udah bisa menggambar kaya gini, Bunda jadi nggak sedih lagi deh," Miranda mengambil hasil goresan tangan putranya.

Seolah dunia Tama teralihkan dengan hasil karyanya. Bocah 5 tahun itu memekik bahagia, menatap antusias saat Bundanya memberi nilai seratus pada gambarnya tadi.

"Yeay... Makasih bunda nilainya...." Tama menghadiahi kecupan hangat pada pipi kiri sang Bunda.

"Ya udah, sekarang bukunya di masukan ke dalam tas... Kita pulang yuk! Katanya Tama mau beli donat?"

Tama mengangguk antusias. "Ayok, Bunda!"

Sore itu juga, Miranda mampir terlebih dulu di sebuah toko roti langganan mertuanya.

Motor maticnya sudah terparkir. Miranda menggandeng Tama untuk diajaknya masuk ke dalam. Akan tetapi, sekilas, langkahnya menggantung ragu. Sudut matanya menoleh.

Deg!

Tama, putranya memekik kuat. "Ayah...."

Miranda membekap mulut putranya. Wajah Tama mendongak, tatapan Bundanya menyuruh dirinya_diam.

Pria tadi keluar menggandeng seorang wanita cantik. Siluetnya. Wajah tampan itu. Pria tadi tersadar. Menoleh sekilas, lalu melenggang kembali.

"Ayah.....!!!!"

Tama lepas dari genggaman tangan Ibunya. Berlari menghampiri pria tadi, tanganya menahan tangan pria asing tadi.

"Tama!!!"

1
Meliandriyani Sumardi
lanjut kak
Nesya
dasar maruk wanita jahat, lanjut thor
Nesya
hhmm muak kali ama ezar
Anonim
Jangan lama lama bersambung nya dong🥹
Meliandriyani Sumardi
semoga jodohnya miranda itu dewa...
Ig:@septi.sari21: kita doakan ya kak❤
total 1 replies
delis armelia
sedih banget jadi miranda
Ig:@septi.sari21: sangat kak💔
total 1 replies
I Love you,
dasar cowo letoi😤😤😤😡
Nesya
masih aja zuudzon ama miranda pengen tk 👊🏻👊🏻 akan nyesel kamu erza setelah tau kebenaran tentang miranda
Ayesha Almira
ni c erza suka skli memfitnah miranda...smga miranda enggan kembali bersma erza...
Ig:@septi.sari21: agak agak emang💔
total 1 replies
Nesya
kasihan miranda selalu di kelilingi orang2 toxic
Ig:@septi.sari21: potek hatinya🥀💔
total 1 replies
Nesya
ibu kandung dewa
Ig:@septi.sari21: ibunya Ezar juga kak💔
total 1 replies
I Love you,
😤😤😤 kesel lama lama..jahat banget
Ig:@septi.sari21: miranda kek serba salah💔
total 2 replies
Nesya
ngeselin bgt si lita g beradab
Ayesha Almira
lom da kebahagian yg akn menghampiri miranda
Nesya
tenang dewa, miranda udah janda, janda cantik soleha lagi.. bebas pedekate wkwk🤭
Meliandriyani Sumardi
lita berjilbab tapi ga punya etika dan adab...percuma....ditinggal sama arfan baru tau kamu lit...lanjut kak
I Love you,
waduh😭😡😤 tidak di akui karna miskin?!!😤😤😤😡
Ig:@septi.sari21: kasihan kak💔
total 1 replies
I Love you,
waduh😭😡😤 tidak di akui karna miskin?!!😤😤😤😡
Nesya
dihh ibu durhaka
Ig:@septi.sari21: jahat banget ya kak💔
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
Ig:@septi.sari21: kak dew, macihh bintangnya😍✋
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!