NovelToon NovelToon
Our Baby Twins

Our Baby Twins

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Kembar / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: moon

Hamil atau tidak, Danesh dengan tegas mengatakan akan menikahinya, tapi hal itu tak serta merta membuat Dhera bahagia.

Pasalnya, ia melihat dengan jelas, bagaimana tangis kesedihan serta raungan Danesh, ketika melihat tubuh Renata lebur di antara ledakan besar malam itu.

Maka dengan berat hati Dhera melangkah pergi, kendati dua garis merah telah ia lihat dengan jelas pagi ini.

Memilih menjauh dari kehidupan Danesh dan segala yang berhubungan dengan pria itu. Namun, lagi-lagi, suatu kejadian kembali mempertemukan mereka.

Akankah Danesh tetap menepati janjinya?

Bagaimana reaksi Danesh, ketika Dhera tetap bersikeras menolak lamarannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#12. Tamu Tak Diundang•

#12

Danesh tersenyum menatap nampan yang berada di tangannya, nampan tersebut berisi sarapan sehat untuk anak-anaknya, tentunya untuk Dhera juga. 

Pagi ini ia akan mencoba berbaikan dengan wanita itu, sedikit banyak ia mulai tahu tentang Dhera, maka dengan sedikit informasi tersebut, ia akan mencoba memperbarui metode pendekatannya terhadap Dhera.

“Benar-benar wanita langka yang patut dilestarikan keberadaannya,” gumam Danesh. 

Danesh menekan nomor kombinasi pintu, tepat ketika pintu terbuka, ia melihat Dhera kebingungan usai menjatuhkan juice sekaligus gelas dalam genggaman tangannya. 

“Perlu bantuanku?” tanya Danesh. Ia meletakkan nampan berisi sarapan diatas meja, kemudian membantu Dhera kembali berdiri.

“Aku bisa sendiri.” Dhera menepis kedua tangan Danesh yang hendak membantunya berdiri. 

“Aku tahu, tapi kalau belum mampu jangan memaksakan diri.” Suara lembut itu membuat Dhera terkejut, karena terlihat jelas perbedaannya dengan hari sebelumnya.  Yang mana Danesh terdengar sangat angkuh, dan tak ingin di bantah.

Danesh mendudukkan Dhera di kursi, kemudian dengan cekatan Danesh membersihkan tumpahan juice yang membasahi lantai. Ia juga memastikan lantai benar-benar kering agar tak membuat Dhera celaka.

Setelah menyelesaikan semuanya, Danesh kembali menuang juice ke gelas baru, ia duduk di samping Dhera. “Makanlah, kenapa hanya melihatku?” 

“Kenapa masih di sini? Pergilah!” usir Dhera.

“Aku akan pergi setelah melihatmu menghabiskan sarapan, Bibi Manda bilang, semalam Kamu hanya makan sedikit.” 

Dhera terdiam, benar apa yang dikatakan bibi Manda, Dhera kembali kehilangan selera makan, tak seperti ketika berada di Rumah Sakit, ia makan banyak dan sangat menikmati semua hidangan yang ada di hadapannya. 

Harus Dhera akui semua karena kehadiran Danesh, walau kelakuannya sangat menyebalkan, tapi sepertinya kedua bayinya menyukai kehadiran ayah mereka. Dan kemarin siang setelah setelah amarahnya meledak, Danesh menuruti permintaan bibi Manda untuk pergi sejenak dari rumah, agar Dhera bisa menenangkan diri. Memang benar Dhera bisa tenang, tapi hal itu justru membuat Dhera kembali kehilangan selera makan.

Tak! 

Danesh memetik jarinya sendiri, membuat Dhera kembali tersadar dari lamunannya. “Kenapa melamun? Kamu bilang ingin Aku pergi.” 

Danesh mengambil garpu serta sendok, kemudian meletakkan di genggaman tangan Dhera. “Semakin lama Kamu menghabiskan makanan ini, Aku akan menganggap Kamu semakin tak ingin jauh dariku.” 

Dhera melotot, “Mana ada aku begitu, jangan mimpi,” jawab Dhera ketus, tanpa Dhera sadari kedua pipinya merona. “Geer sekali.” Dhera mencibir dengan wajah cemberut.

Danesh terkekeh geli, ia meletakkan kepalanya diatas meja, membuatnya leluasa menatap wajah Dhera yang kini tengah menggerutu manyun.

“Berhenti menatapku, Kapt!” seru Dhera yang mulai jengah dengan tatapan Danesh.

“Apakah ada undang-undang yang melarangku melakukannya?” Bantah Danesh.

“Besok Aku buat.” Dengan kesal Dhera memasukkan sepotong melon berukuran cukup besar, ketika mengatakannya.

Membuat Daneh kembali tertawa senang, ternyata bicara santai seperti ini cukup menyenangkan juga. Yang mana kepala mulai dingin, dan emosi tak lagi mendominasi. Danesh seperti kembali melihat Dhera dengan versi sebelum di update, Dhera yang santai dengan sedikit candaan, tapi juga serius dalam pekerjaan.

“Dhera …”

“Hmmm.”

“Boleh Aku menyentuhnya?”

Dhera tercengang, dengan panik ia menjatuhkan sendok dan garpu ke piring, kemudian menyilangkan kedua tangannya didepan dada. “A-apa k-katamu?” tanya Dhera dengan terbata-bata.

Tak!

Danesh menyentil pelan kening Dhera, “Apa yang Kamu pikirkan, Aku hanya ingin menyentuh mereka.”

Dhera menurunkan kedua tangannya secara perlahan, malunya setengah pingsan, karena dirinya sempat berpikir yang tidak-tidak. Entah apa yang sedang merasuki kepalanya.

Kemudian Dhera mengangguk pelan, merasa cukup lega karena Danesh tak memperpanjang masalah tersebut. Jika tidak, mungkin Dhera akan semakin malu dibuatnya.

“Benarkah?” Tanya Danesh memastikan ia tak salah dengar. Mendadak dadanya berdebar tak karuan, ini benar-benar pengalaman pertama yang mengharukan. Bahkan tanpa sadar ia menangis ketika merasakan kehangatan dari permukaan perut Dhera, ada rasa tak biasa yang menyelimuti hati dan perasaannya. 

Danesh menggerakkan usapan tangannya dengan lembut, tak ada kata yang terucap dari bibirnya, karena ia tak pernah berekspektasi akan hal ini. Memiliki anak masih berada diluar rencana hidupnya, tapi tak bisa di pungkiri jika kini ia merasa menjadi pria paling bahagia di dunia, hanya karena mengetahui bahwa anak-anaknya sedang tumbuh di rahim Dhera. 

“Bibi Manda bilang, semalam Kamu gelisah?” Tanya Danesh.

“Sudah biasa, sejak hamil, aku bukan hanya sulit makan, tapi juga sulit tidur nyenyak.” Dhera berucap santai, sambil memasukkan sesuap makanan ke mulutnya. 

“Maaf … pasti kehadiran anak-anak ini sangat merepotkanmu.”

“Tidak, mereka anak-anakku, dan Aku tak keberatan jika harus menanggung semua resikonya.”

Dengan tangan kirinya, Danesh menoel hidung Dhera. “Anak kita,” ralatnya.

“Siapa bilang?” bantah Dhera, “sejak kamu membuangnya sembarangan, maka Kamu tak berhak lagi atas mereka.” Kalimat Dhera kembali memancing perdebatan. 

“Enak saja, Aku mengeluarkannya di ladang yang tepat, ibunya seperti super woman tangguh, dan Aku yakin kelak mereka juga akan jadi anak-anak yang tangguh.” 

Blush … rasa hati berbunga, namun wajahnya terlihat datar, karena Dhera bukan wanita yang haus pujian, sejak kecil ia tak terbiasa dengan itu. Bagi Dhera, justru orang-orang bermulut manis dan suka memuji adalah orang-orang yang wajib diwaspadai, termasuk Danesh yang pernah menjadi rekan kerjanya. 

Karena tak mendapat tanggapan dari Dhera, Danesh pun memegang kedua bahu Dhera, kemudian memutar tubuh wanita itu, hingga mereka kini duduk berhadapan. “Hei … hei … dengar baik-baik, aku bahkan mengatakan ini sebelum memulainya.” Danesh menatap intens kedua mata Dhera. 

Dhera melihat keseriusan di kedua mata hijau Danesh, “Aku rela mengulang kata-kata ini puluhan, ratusan, bahkan jutaan kali bila perlu, sampai Kamu yakin bahwa Aku tidak berbohong.” 

“Hamil atau tidak, Aku akan tetap akan menikahimu.” 

“ … “ 

Sunyi … Namun detak jantung keduanya terdengar berirama, entah nyanyian cinta atau bahagia. Siapa yang bisa menyelami dalamnya hati manusia, selain yang Maha Pencipta. 

“Aku serius.” Danesh kembali menegaskan. 

“ … “ Dhera masih diam. 

“Barangkali Kamu perlu seseorang untuk berbagi, izinkan Aku memikul sebagian beban hidup selama ini Kamu tanggung di pundakmu, hanya sebagian, karena tempat itu harus dikosongkan, agar bisa diisi dengan senyum bahagia, dan berjuta kenangan indah di masa depan, hanya itu yang diperlukan oleh anak-anak kita. Yaitu memiliki seorang Ibu yang bahagia.” Lembut suara Danesh, tak ada paksaan, tak ada intimidasi. Murni percakapan dua insan dari hati ke hati. 

Ting

Tong

Bunyi bel pintu membuat keduanya saling menjauh, seolah-olah ada yang memergoki keberadaan mereka. “Aku buka pintu dulu, sepertinya bukan Bibi Manda atau Paman Eric.” 

Dabesh berjalan menuju pintu, ketika pintu terbuka, ia berhadapan dengan buket mawar putih berukuran besar, jika dikira-kira mungkin buket tersebut berisi hampir 50 tangkai bunga. 

“SURPRISEEEE!!!” 

“Surprise apaan? Aku tak berulang tahun hari ini, lagi pula Aku tak suka bunga.” 

Kalimat Danesh membuat si pembawa bunga menurunkan barang bawaannya, Adrian kira, yang membuka pintu adalah Dhera. 

Rupa-rupanya … 😏

1
hermi ismiyati
gantung banget
moon: ganting dimananya kak.

boleh baca adek sepupunya danesh.

kenzo ( istri muda)

leon (bringing back my ex wife)

terima kasih sudah mampir /Hey//Smile/
total 1 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
udah end aja, baca marathon masih kurang.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎: Oke tak coba mampir kesana.👍🙂
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Raffi kah.. eh Raffa apa Raffi deh lupa.🤔🤔🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎: Eh iya Rafi... jangan sampe jadi musuh.
total 2 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
🤣🤣🤣 Mayra ada saja yang ibumu tuh sebenarnya siapa, kenapa kamu malah lebih nyerap ilmunya Auntymu bukan ibumu jadi gadis feminim.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
susah emang kalau berurusan dengan intel junior mah... 🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Nah bener kan tebakan ku ternyata Iyank itu Bastian panggilan belakang nama Dia.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Dhesi tipe perempuan yang rgois yang maunya menang sendiri bukannya belajar dari kejadian dulu, tanyakan dulu baru protes jangan cuma baru dari apa yang di lihat langsung over thingking ga dewasa² Dhes
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Jangan²² pria yang mau di jodohkan dengan Indy, Bastian sendiri cuma pake panggilan Iyank ambil nama belakang yang harusnya Iyan.🤭🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Doni sableng ternyata cuma mau ngetes Bastian saja dan mancing cemburunya.... enak banget kamubdapet uang karna berhasil ngisengin teman.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
harusnyabanda sadar bu Rita kalau kepergian Anak laki²mu itu selain karna takdir tapi juga sebuah teguran biar anda lebih mengingat dan perhatian lagi dengan anakmu yang lain yang sudah anda abaikan selama ini
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
lebih baik saling menjauh dulu biar saling merenung kesalahan masing², biar bu Rita juga tau gimana rasanya sendiri tanpa keluarga dan tanpa perhatian mereka katak selama ini dia lakukan mengabaikan anak Suami karna ngerasa terpuruk sampai mereka di abaikan dan bersikap egois
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
untunglah Dhera dan Twins selamat buat pelajaran kalau mau keluar pertimbangkan matang² supaya ga lengah lagi jadi incaran musuh kalian.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
nah loh lagian keluar tanpa pengawalan padahal kamu tau Dhera sebelumnya pekerjaan kamu apa lagi suami kamu masih aktif di kepolisian jadi musuh yang masih berkeliaran bisa nyelakaian kamu kayak sekarang.🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
bu Rita ga eling² juga ternyata, ga malu tuh sama keluarga besanmu harmonis bahkan Dhera di sambut baik meskipun keluarga mereka konglo yang anda kira cuma kurir atau tukang ojek
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Dasar ibu ga tau di untung sudah sakit masih saja egois... perlu jedotin ruh kepalanya ke tiang listrik biar berkaca.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
teka teki yang harus cepat di temukan siapa penjahatnya... hati² Daneah dan tim jangan sampai ada korban
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
makanya jangan meleng Marco sampe ga bisa bedain air minum dengan air kobokan.🤣🤣🤣
Rianti Dumai
sejauh yg Qu baca episode ini lh yg bikin aQ sakit perut ketawa sampai nangis,,,🤣😂😂
moon: udah baca yang secret mission...
disana perjalanan mengesankan pertama danesh dan dhera, mereka di kejar penjahat setelah ketahuan jadi mata2 🤣🤣
total 1 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kan 11 12 Dean, satu server makanya josoh.🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
tenang mommy Bella, amaann.🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!