Evana dan Evita, kedua saudara kembar yang tidak pernah menyangka kalau kejadian aneh dan tak masuk akal bisa mereka alami.
Ber-transmigrasi atau berpindah jiwa yang tidak pernah mereka sangka ada dalam dunia nyata terjadi pada keduanya.
Masuk kedalam tubuh kedua istri yang tak pernah akur dan berakhir mengenaskan di akhir kisah, lalu apa yang akan keduanya lakukan? Menikmati hidup dalam dunia yang tak mereka tahu atau memilih mengikuti alur untuk mati yang kedua kalinya?
Kisah mereka semua ada di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Ayasha dan Elvara sedang bersiap, keduanya mendapatkan pesan dari suami masing-masing agar bersiap sebelum makan siang.
"Bagaimana?" tanya Elvara dengan memutar tubuh.
"Cantik sekali," puji Ayasha dengan mata berbinar.
Elvara senang, dia ini desainer jadi untuk urusan outfit dia tidak akan ketinggalan zaman, apalagi sekarang dia bisa membeli apapun dengan uang suaminya.
"Kak," panggil Ayasha.
"Apa? Ada sesuatu?" tanyanya memastikan saat melihat wajah Ayasha yang agak murung.
"Kau tahu Ibu kandungnya Ayasha asli yang aku katakan hari itu?"
"Iya, memang ada apa?" angguknya.
"Dia mengajak bertemu, aku takut Kak," kata Ayasha bergetar,"takut dia mengenali aku bukan sebagai putrinya," sambungnya dengan nada khawatir.
Jantung Ayasha berpacu cepat, dia merasa takut dan tubuhnya terlihat gemetar karena merasakan perasaan tak nyaman yang mendadak menyergap hatinya.
PUK!
Tepukan pelan, hangat dan lembut, di berikan Elvara dan itu membuat Ayasha terjengit pelan.
"Tenang saja, kan ada aku," bisiknya menenangkan tahu bagaimana sang adik takut rahasia mereka terbongkar.
"Kak, temanin aku ya, please!" minta Ayasha dengan tangan menggenggam erat tangan hangat Elvara.
"Iya, sudah ayo pergi!" ucapnya.
Ayasha mengangguk, menyambar tas dan setelah itu berjalan pelan keluar dari kamar untuk pergi ke rumah sakit sesuai jadwal.
Elvara dan Ayasha keluar rumah, keduanya saling tatap saat Rayandra dan Ardhanaya sudah ada di halaman dengan bersandar pada mobil masing-masing.
"Kalian, kenapa berhenti di sana? Cepat kemari!" seru Ardhanaya dengan suara datar.
Elvara dan Ayasha berderap, heels keduanya beradu dengan lantai halaman yang luas.
"Kau ini tidak sabaran sekali sih?" sinisnya.
"Kau terlalu lama," kesal Ardhanaya.
Ayasha memutar bola matanya malas, dia memang sering kali bertengkar dengan Ardhanaya untuk hal kecil sejak pertama kali jiwanya mendarat ke tubuh Ayasha asli.
Keduanya masuk ke dalam mobil masing-masing sebab mereka akan pergi ke rumah sakit bersama sesuai jadwal yang sudah di tetapkan oleh Elvara.
...****************...
Sedangkan di sisi lain.
Nindi baru saja selesai membereskan tanaman kecil di kebun belakang, beberapa sayuran hijau dan bunga menambah kesan segar untuk rumah laut Adinata.
"Nya, ada telpon," suara pelayan terdengar memanggil dengan membawa ponsel di tangannya.
"Dari siapa?" tanya Nindi, tangannya penuh tanah dan debu dari kebun yang basah.
"Saya tidak tahu, Nya," jawab pelayan itu.
Nindi mengangguk, dia bangun dan berderap perlahan ke arah keran air membasuh tangan dan kakinya. Keringat mengucur dari pelipis hingga ke dagu, bahkan leher dan area punggung sudah basah.
"Terima kasih," ucap Nindi, dia ramah, hangat dan terkesan sopan sekaligus perhatian.
Nindi menarik napas pelan, sebelum menjawab panggilan, dia menatap hamparan kecil tanaman bunga dan sayurnya, tampak hijau asri dan segar.
"Halo," ucap Nindi menjawab panggilan setelah puas menatap tanamannya.
Tidak ada jawaban, dan itu membuat Nindi menaikan sebelah alisnya."Ini siapa?" suaranya merasa penasaran.
"Halo, adikku sayang!" hingga suara itu terdengar menyapa ramah, tapi terdengar menyimpan hal yang tak terbaca.
DEGH!
"Kak Melinda?" bisik Nindi dengan suara serak dan parau.
"Iya, ini Melinda. Kakakmu," suara Melinda mengalun lembut, penuh perhatian, meski sebenarnya hanyalah berbasa-basi saja.
"Bagaimana kabarmu?" tanyanya dengan nada yang nyaris memancing rasa bersalah.
Nindi menanggapi dengan suara tenang dan ramah, "Aku baik, Kak. Kak Melinda sendiri bagaimana?"
"Aku juga baik-baik saja," balas Melinda, lalu suara di ujung sana bergetar sedikit saat ia menambahkan, "Anak dan suamiku, ahh...maaf, maksudku mantan suamiku dan putriku bagaimana kabarnya?"
Pertanyaan itu menghantam hati Nindi seperti duri tajam. Ia terdiam, jantungnya berdetak tak menentu. Tapi ia segera menepis gelisah yang mulai merayapi pikirannya, memilih tetap tersenyum dalam suaranya, "Mas Haidar dan Ayasha baik-baik saja, Kak. Kapan Kakak main ke sini?"
Senyum puas mekar di wajah Melinda, meski hanya lewat suara, saat mendengar pertanyaan itu. Tepat seperti yang ia inginkan.
Suaranya rendah, penuh teka-teki, "Segera."
" Aahh... Aku tunggu kedatanganmu kak," sahut Nindi lembut.
" Hmmmm.... Aku tutup teleponnya masih ada banyak pekerjaan yang menunggu." Ucap Melinda.
" Ahh... iya kak." Jawab Nindi.
Kemudian sambungan telepon itu terputus, meninggalkan ruang hening yang bergetar penuh arti di kedua sisi sana.
Setelah menutup telepon dari Nindi, Melinda duduk terdiam di ruang kerjanya. Senyum tipis namun penuh makna merekah di bibirnya.
Matanya membara, kilat obsesi memenuhi pandangannya yang tajam. "Aku akan datang ke rumah kalian. Dan kali ini, aku tak akan pulang sebelum merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."
Kata-katanya bagai racun yang berbisik pelan, menebar ancaman tak terlihat, menyalakan bara amarah yang siap membakar segalanya.
...****************...
Mobil yang ditumpangi kedua tuan muda Mahatara dan istrinya berhenti tepat di halaman rumah sakit.
"Turun sana! Kamu bisa masuk sendirikan? Aku masih ada pekerjaan penting menunggu," ucap Ardhanaya dengan nada dingin, menatap Ayasha tanpa sepatah kata manis.
Ayasha mendengus, dadanya naik turun menahan amarah. "Bisalah, Aku bukan anak kecil, tahu!" jawabnya, suaranya penuh tantangan.
"Baguslah" balas Ardhanaya singkat.
Dengan langkah berat, Ayasha membuka pintu mobil dan menutupnya dengan benturan keras yang membuat suara pintu bergema di udara.
Ardhanaya yang masih di dalam mobil terperangah, setengah terkejut. "Heiii... Pelan sedikit bisa kan!" omelnya setengah kesal, setengah heran.
Namun, Ayasha benar-benar tak peduli. Dengan muka yang tetap masam, ia berbalik dan melangkah tegas menuju sang kakak yang sudah berdiri di samping mobil Rayandra, suaminya yang duduk tenang tanpa ikut campur.
Berbeda dengan kemarahan yang membara di antara Ayasha dan Ardhanaya, Elvara dan Rayandra lebih banyak diam Sifat mereka yang tenang membuat perbedaan itu semakin jelas di mana ada api, di situ pula ada es.
“Ayo, Kak, kita masuk dulu ke dalam. Setelah itu, kita lanjut ke restoran untuk makan siang,” ajak Ayasha, suaranya penuh semangat setelah tadi di buat kesal.
Elvara mengangguk singkat, menanggapi dengan suara pelan, “Oke.”
Mereka melangkah bersama, meninggalkan halaman rumah sakit yang mulai sepi. Di belakang mereka, suami masing-masing sudah berlalu tanpa sepatah kata.
Langkah mereka bergema di lorong rumah sakit, menandai awal perjalanan yang tak hanya tentang perawatan kulit namun tentang kesehatan.