Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK DARAH DI PEGUNUNGAN
Malam semakin larut.
Kabut tipis mulai turun menyelimuti kaki pegunungan yang menjadi tempat persembunyian para bandit.
Dalam kegelapan itu, puluhan bayangan hitam bergerak tanpa suara.
Gu Yanran dan pasukannya telah tiba di kaki gunung.
Tidak seorang pun menyadari kedatangan mereka.
Semua prajurit mengenakan zirah berwarna hitam pekat yang menyatu dengan gelapnya malam. Bahkan dari jarak beberapa langkah saja, keberadaan mereka hampir mustahil untuk dikenali.
Kuda-kuda perang yang mereka tunggangi juga tidak mengeluarkan suara sedikit pun.
Seluruh kuda tersebut telah dilatih secara khusus untuk bergerak dalam operasi malam.
Mereka berjalan perlahan tanpa meringkik ataupun menghentakkan kaki dengan keras.
Gu Yanran duduk tegak di atas kudanya.
Tatapannya tenang menembus kegelapan.
Ia mengangkat satu tangan.
Isyarat itu langsung dipahami seluruh prajurit.
Tanpa mengeluarkan suara, mereka mulai bergerak sesuai tugas masing-masing.
Tiga puluh prajurit menuju sisi kiri gunung.
Tiga puluh lainnya bergerak ke sisi kanan.
Tiga puluh orang memasuki hutan untuk membersihkan seluruh titik persembunyian musuh.
Sementara Gu Yanran tetap berada di tempat bersama sepuluh prajurit pilihannya.
Mereka akan menjadi tombak utama serangan.
Tak lama kemudian, seluruh pasukan telah menghilang ke dalam kegelapan.
Gu Yanran masih menunggu.
Ia menghitung waktu dengan cermat.
Berdasarkan kecepatan gerak pasukannya dan kondisi medan, ia dapat memperkirakan kapan mereka akan tiba di posisi masing-masing.
Angin malam berhembus perlahan.
Suasana begitu sunyi.
Di kejauhan hanya terdengar suara serangga malam.
Sepuluh prajurit yang berada di belakangnya tidak berkata apa-apa.
Mereka tahu bahwa saat ini Panglima Gu sedang menghitung.
Menghitung setiap kemungkinan.
Menghitung setiap langkah.
Menghitung waktu yang tepat untuk memulai serangan.
Beberapa saat kemudian, Gu Yanran mengangkat kepalanya.
Matanya menatap puncak gunung.
Sudut bibirnya sedikit terangkat.
"Waktunya hampir tiba."
Ia mulai menghitung dalam hati.
Lima...
Empat...
Tiga...
Dua...
Satu...
BOOOM!
Teriakan perang tiba-tiba menggema dari puncak tebing.
Suara benturan pedang langsung menyusul.
CLANG!
CLANG!
CLANG!
Bunyi logam beradu bergema di antara tebing dan hutan.
Pantulan suara membuat seluruh pegunungan seolah bergetar.
Jeritan para bandit langsung terdengar dari berbagai arah.
"Ada musuh!"
"Kita diserang!"
"Cepat bertahan!"
Kepanikan langsung menyebar.
Para bandit yang sejak tadi menunggu di posisi penyergapan sama sekali tidak menyangka akan diserang dari belakang.
Dalam sekejap formasi mereka berantakan.
Dan tepat pada saat itulah...
Gu Yanran menggerakkan kudanya.
"Maju."
Satu kata sederhana.
Namun sepuluh prajurit di belakangnya langsung bergerak.
Mereka menerobos jalan utama menuju markas bandit.
Saat ini seluruh perhatian musuh telah tertuju ke arah pertempuran di tebing dan hutan.
Tidak ada lagi yang menjaga jalur utama.
Dalam waktu singkat mereka berhasil menembus pertahanan luar.
Kuda-kuda perang melesat seperti angin.
Tidak ada satu pun yang mampu menghentikan mereka.
Kurang dari seperempat jam kemudian...
Markas utama bandit telah terlihat.
Api unggun menyala di beberapa sudut.
Puluhan tenda berdiri berjejer.
Namun suasana sudah berubah menjadi kacau.
Teriakan dan suara pertempuran terdengar dari berbagai arah.
Ketika Gu Yanran dan pasukannya memasuki markas, seorang pria besar melangkah keluar dari tenda terbesar.
Wajahnya penuh bekas luka.
Tatapannya tajam seperti binatang buas.
Dialah pemimpin kelompok bandit.
Pria itu menatap Gu Yanran dengan ekspresi terkejut.
Namun tak lama kemudian ia tertawa keras.
"Hahaha!"
"Kau memang hebat."
Ia melangkah maju beberapa langkah.
"Aku harus mengakui, kau adalah orang pertama yang berhasil mencapai markas kami."
Nada suaranya dipenuhi kesombongan.
Seolah kedatangan Gu Yanran bukanlah ancaman.
Melainkan hiburan.
Gu Yanran menatapnya dengan dingin.
Ekspresinya tidak berubah sedikit pun.
"Kau terlalu menganggap dirimu penting."
Suara tenang itu membuat senyum pemimpin bandit sedikit membeku.
Namun sesaat kemudian ia kembali tertawa.
"Hahaha!"
"Menarik."
"Sangat menarik."
Tatapannya menyapu tubuh Gu Yanran.
"Lalu bagaimana kalau kau berlutut sekarang?"
"Jilat kakiku."
"Aku mungkin akan mengampunimu."
Ia menyeringai penuh nafsu.
"Bahkan aku bisa menjadikanmu mainanku."
Beberapa bandit di belakangnya ikut tertawa.
Namun...
Ekspresi Gu Yanran tetap sama.
Dingin.
Tenang.
Tanpa emosi.
Melihat ekspresi itu, sepuluh prajurit di belakangnya justru merasakan hawa dingin menjalar di punggung mereka.
Mereka tidak takut kepada musuh.
Tetapi mereka tahu satu hal.
Semakin tenang Panglima Gu...
Semakin besar kemarahan yang sedang ia tahan.
Pemimpin bandit menunjuk mereka sambil tertawa.
"Lihat."
"Prajuritmu mulai ketakutan."
Mendengar ucapan itu, salah satu prajurit Gu Yanran langsung melangkah maju.
"Kami ketakutan?"
Ia tertawa dingin.
"Kau terlalu banyak berkhayal."
WHOOSH!
Tubuhnya menghilang dari tempat semula.
Dalam sekejap ia sudah muncul di depan barisan pertahanan musuh.
Pedangnya berkilat.
SWISH!
SWISH!
SWISH!
Darah langsung menyembur ke udara.
Puluhan kepala terlempar.
Jeritan memenuhi markas.
Belum sempat para bandit bereaksi, sembilan prajurit lainnya juga bergerak.
Seperti harimau yang memasuki kawanan domba.
Mereka menyerbu tanpa ampun.
Setiap ayunan pedang merenggut nyawa.
Setiap langkah meninggalkan mayat.
Dalam waktu singkat lebih dari seratus bandit tumbang.
Pemimpin bandit yang tadi tertawa kini mulai berkeringat dingin.
Wajahnya perlahan memucat.
"Bagaimana mungkin..."
Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Kekuatan para prajurit itu jauh melampaui perkiraannya.
Salah seorang prajurit Gu Yanran menatapnya sambil tersenyum sinis.
"Tidak perlu banyak bicara."
"Kalian bahkan tidak pantas berdiri di hadapan Panglima Gu."
"Kalian hanyalah semut."
Kalimat itu membuat wajah pemimpin bandit berubah merah karena marah.
"SEMUA ORANG MENYERANG!"
teriaknya.
"Habisi mereka!"
Ratusan bandit langsung berlari maju.
Namun Gu Yanran hanya mengangkat pedangnya.
Tatapannya dingin seperti es.
"Habisi semuanya."
"Sisakan satu orang hidup."
"Siap, Panglima!"
Pertempuran besar langsung pecah.
CLANG!
CLANG!
CLANG!
Suara benturan pedang menggema tanpa henti.
Jeritan kesakitan terdengar di mana-mana.
Darah membasahi tanah.
Mayat bergelimpangan.
Namun yang mengejutkan...
Tidak ada satu pun prajurit Gu Yanran yang terluka parah.
Mereka bergerak seperti mesin pembunuh yang telah terlatih selama bertahun-tahun.
Setiap serangan tepat sasaran.
Setiap langkah penuh perhitungan.
Bandit-bandit yang selama ini ditakuti banyak kerajaan ternyata tidak mampu memberikan perlawanan berarti.
Waktu terus berlalu.
Satu jam.
Dua jam.
Hingga akhirnya...
Suasana perlahan menjadi sunyi.
Yang tersisa hanyalah suara napas berat dan aroma darah yang memenuhi udara.
Pemimpin bandit berdiri gemetar.
Di sekelilingnya hanya ada mayat.
Tiga ribu anak buahnya telah tumbang.
Tidak tersisa seorang pun.
Tubuhnya mulai bergetar.
Matanya membelalak penuh ketidakpercayaan.
"Tidak mungkin..."
"Ini tidak mungkin..."
"Sebelas orang..."
"Hanya sebelas orang..."
"Bagaimana mungkin kalian menghabisi tiga ribu pasukanku?"
Suaranya bergetar.
Ia tidak mampu menerima kenyataan.
Kelompok bandit yang selama ini ditakuti berbagai kerajaan ternyata hancur hanya dalam satu malam.
Gu Yanran berjalan perlahan mendekatinya.
Pedangnya menunjuk tepat ke arah leher pria itu.
Tatapannya dingin.
Tidak ada rasa bangga.
Tidak ada rasa puas.
Hanya ketenangan.
Salah satu prajurit Gu Yanran tersenyum tipis.
"Lalu sekarang..."
"Apa yang masih ingin kau banggakan?"
Pemimpin bandit terdiam.
Tidak mampu menjawab.
Gu Yanran menoleh kepada bawahannya.
"Ikat dia."
"Baik, Panglima."
Tak lama kemudian pemimpin bandit itu langsung dilumpuhkan dan diikat.
Pada saat yang sama, pasukan lainnya mulai berdatangan.
"Tiga puluh prajurit dari sisi kiri melapor!"
"Seluruh musuh berhasil dibereskan!"
Tak lama kemudian kelompok lain datang.
"Tiga puluh prajurit dari sisi kanan melapor!"
"Seluruh target berhasil diselesaikan!"
Kemudian kelompok terakhir muncul dari arah hutan.
"Tiga puluh prajurit dari hutan melapor!"
"Tidak ada musuh yang lolos!"
Gu Yanran mengangguk puas.
"Bagus."
Seluruh operasi berjalan sesuai rencana.
Ia memandang para prajuritnya satu per satu.
"Kita beristirahat malam ini di sini."
"Besok pagi bersihkan seluruh mayat."
"Hitung semua barang rampasan."
"Dan amankan seluruh persediaan mereka."
"Siap, Panglima!"
Beberapa prajurit segera menyalakan api unggun.
Cahaya hangat mulai menerangi markas yang kini telah menjadi milik mereka.
Gu Yanran kembali berbicara.
"Dan satu hal lagi."
Seluruh prajurit menoleh.
"Jangan kirim laporan kemenangan ini ke ibu kota dulu."
Mereka terlihat heran.
Namun tidak ada yang bertanya.
"Baik, Panglima."
Gu Yanran berdiri sendirian memandang medan pertempuran.
Api unggun menyala di belakangnya.
Sementara di depannya terbentang lautan mayat yang berlumuran darah.
Angin malam kembali berhembus.
Membawa aroma besi dan kematian.
Tatapan Gu Yanran perlahan menjadi lebih dalam.
Di mata para prajurit, malam ini adalah kemenangan besar.
Namun di dalam hatinya sendiri...
Ia tidak merasakan kebahagiaan.
Ia tidak pernah menikmati pembunuhan.
Ia tidak pernah menyukai perang.
Namun ia memahami satu hal.
Jika malam ini ia tidak menghunus pedang...
Maka yang akan terbaring di tanah sebagai mayat mungkin adalah dirinya sendiri.
Atau rakyat yang telah ia janjikan untuk dilindungi.
Karena itulah...
Meski tangannya berlumuran darah.
Meski namanya ditakuti musuh.
Ia tetap akan berjalan di jalan ini.
Jalan seorang panglima perang.
Demi melindungi mereka yang tidak mampu melindungi dirinya sendiri.