Demi melindungi cintanya, dia harus membuat sebuah keputusan yang sulit untuk di mengerti orang lain. Menyembunyikan pernikahannya dan tinggal terpisah dari istrinya sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
Tidak ada yang mengetahui tentang pernikahan itu selain dirinya, si gadis dan asisten pribadinya. Sangat tidak masuk akal memang, namun semua itu Kevin lakukan semata-mata hanya demi melindungi gadis tercintanya tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Entah hanya perasaannya saja atau memang benar adanya jika sejak kepulangannya dari Inggris, Kevin menjadi agak berbeda. Dia menjadi lebih dingin padanya dan selalu menghindar setiap kali Jessica mencoba untuk menyentuh wajahnya. Jessica sungguh sangat penasaran dengan apa yang Kevin sembunyikan di balik poninya yang kini dibiarkan menjuntai hingga menutupi mata kirinya.
Jessica tau jika Kevin sedang menyembunyikan sesuatu darinya, sesuatu yang tidak pernah Kevin inginkan untuk dirinya ketahui. "Sica, kau belum tidur?" kedatangan Jae Eun mengalihkan perhatiannya dari sang malam. Lantas dia menoleh dan menggeleng.
"Belum, Bibi, malam ini langit begitu cerah dan sangat sayang untuk dilewatkan." Ujarnya.
"Baiklah, tapi jangan tidur terlalu malam. Dan segera tutup jendelanya, angin malam tidak baik untuk kesehatanmu," nasehat Jae Eun yang segera di balas anggukan oleh Jessica.
"Baik, Bibi, aku mengerti."
Ponsel milik Jessica tiba-tiba saja berdering membuat perhatiannya teralihkan. Lantas dia beranjak dan meninggalkan ambang jendela. Dahinya menyernyit melihat nama Tao menghiasi layar ponselnya yang menyala terang. Segera dia menggeser tanda hijau pada ponselnya dan menerima panggilan itu.
'Nunna, hilang ke mana kau? Apa kau tau, Boss, memarahi kita berdua habis-habisan karna kau tiba-tiba menghilanga. Huaa ... dan Boss menghukum kami lagi, sekarang aku dan si pikun mesum ini tidur di kamar mandi.'
Jessica mendesah berat. "Maaf , Tao, karna pergi tidak memberi tau kalian berdua. Katakan pada Kevin jika aku tidak akan pulang kemansionnya selama beberapa hari. Aku sangat merindukan, Bibiku, dan aku akan tinggal bersamanya selama beberapa waktu."
'Tapi, Nunna ...."
"Aku tutup dulu," Jessica memutuskan sambungan Tao begitu saja.
Wanita itu mendesah berat Jessica menjatuhkan tubuhnya begitu saja pada tempat tidurnya. Tiba-tiba dia merasa mengantuk dan matanya sulit untuk tetap di ajak kompromi sampai akhirnya.... "Uw-," Jessica merasa mual yang luar biasa. Wanita itu bangkit dari tempat tidurnya dan berlari ke arah kamar mandi, di dalam sana Jessica memuntahkan semua yang sudah masuk ke dalam perutnya.
Jessica benar-benar tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Selama satu minggu belakangan ini dia menjadi sering merasa malas , lemas dan terkadang mual. Bahkan dia menjadi sangat sensitive pada sesuatu yang berbau menyengat seperti parfum dan aroma makanan.
Jessica keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sedikit pucat. Dan baru saja dia hendak membaringkan tubuhnya tapi decitan suara pintu di buka membuat perhatiannya kembali teralihakan. "Kevin," seru Jessica saat melihat siapa yang datang.
Tubuh wanita itu tertarik ke depan dan wajahnya langsung berbenturan dengan dada Kevin yang tersembunyi di balik vestnya. Jessica merasakan pelukan Kevin yang semakin erat, sudut bibirnya tertarik ke atas dan dengan senang hati Jessica membalas pelukkan Kevin.
"Dasar kau ini, apa tidak bisa sehari saja kau tidak membuatku panik." Bisik Kevin seraya mengeratkan pelukkannya.
"Maaf, tiba-tiba saja aku sangat merindukan , bibi."
"Tapi aku lega melihatmu baik-baik saja. Jebal, jangan pernah menghilang lagi tanpa ijin dariku."
"Baiklah, aku berjanji."
Kemudian Kevin melepaskan pelukkannya. "Kenapa wajahmu sangat pucat? Apa kau sakit?" tanya Kevin memastikan, Jessica menggeleng. "Lantas?"
"Aku hanya merasa mual saja, tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa," jawabnya meyakinkan.
"Kau yakin?'' Jessica mengangguk.
Kemudian pandangan Jessica jatuh pada sisi wajah sebelah kiri Kevin yang tertutup poninya. Dia benar-benar penasaran dengan apa yang sebenarnya Kevin sembunyikan di sana, dan seakan tau apa yang tengah dipikirkan oleh Jessica, kemudian Kevin menyibak poninya dan betapa terkejutnya dia saat melihat sebuah bekas luka yang cukup lebar tepat di sekitar mata kirinya.
Jessica mengangkat tangannya yang gemetar lalu dia arahkan pada wajah Kevin. "I-ini?"
"Bukankah ini yang ingin kau ketahui sejak satu minggu yang lalu dan alasan kenapa kau sampai meninggalkan rumah tanpa pamit karna merasa kesal dan berfikir jika sekarang aku berbeda," ujar Kevin seolah bisa menebak semua yang di pikirkan oleh Jessica.
"Ba-bagaimana kau bisa tau? Omo, jangan-jangan kau bisa membaca fikiran itulah kenapa kau bisa mengetahui semua yang aku fikirkan selama satu minggu belakangan ini?" kaget Jessica.
Kevin mendengus geli. Dengan gemas dia menyentil kening Jessica dan membuat wanita itu memekik kencang. "Aw, Kevin sakit. Kau sengaja 'kan ingin membuat kepalaku benjol?" wanita itu mencerutkan bibirnya.
"Siapa suruh asal bicara. Kau fikir aku ini manusia super yang memiliki kemampuan , Dewa? Tentu saja aku bisa tau karna aku mengenalmu dengan sangat baik. Ganti pakaianmu kita pulang sekarang,"
"Apa? Pulang sekarang? Apa tidak bisa kita menginap saja? Aku benar-benar malas untuk berganti pakaian apalagi pergi keluar, kita menginap saja, ne. Jebal," pinta Jessica memohon. Kevin mendesah berat.
"Baiklah, malam ini kita menginap."
🌹
Dering pada ponselnya memaksa Kevin untuk membuka kembali kedua matanya yang sebelumnya tertutup. Tak ingin mengganggu tidur nyenyak Jessica, Kevin membawa ponselnya ke balkon dan menerima panggilan itu di sana.
"Ada apa, Kai?"
'Boss, aku dan Jimin sedang menyelidiki, Kim Yonha, dan seperti dugaan kita jika dia memang memiliki keterlibatan dengan insiden yang Anda alami di Inggris dua minggu yang lalu.'
"Bagus terus selidiki dan awasi orang itu. Aku ingin tau apakah Jerry terlibat atau tidak, apapun hasil yang kalian dapatkan segera laporkan padaku."
'Baik, Boss,"
Kemudian Kevin berbalik dan kembali ke dalam. Dia merasa sangat lelah dan rasa kantuknya tak bisa tertahan lagi. Kevin membaringkan tubuhnya di samping Jessica lalu merengkuh tubuh itu ke dalam pelukkannya. Menggunakan kepala Jessica sebagai tumpuan dagunya, dan dalam hitungan detik Kevin sudah pergi ke alam mimpi.
🌹🌹🌹
Bukan Tao namanya jika tidak berulah dan membuat Jessica marah. Baginya melihat wajah kesal Jessica di tambah lagi dengan berbagai sumpah serapah yang keluar dari bibirnya bisa memberikan hiburan tersendiri untuknya.
Pagi ini kegaduhan sudah terjadi di mansion mewah milik Kevin. Lengkingan dan teriakkan Jessica yang mirip lumba-lumba menggema di setiap sudut ruangan. Terlihat daun bayam berserakkan di lantai. "Yakk, Panda jelek cepat kembalikan mangga muda itu padaku. Apa kau tidak tau bagaimana sulitnya aku mendapatkannya. Cepat kembalikan."
"Nunna, kau ini pelit sekali, aku kan hanya minta sedikit saja dan lagi pula mangganya juga sudah aku makan. Lagian kau juga aneh, tiba-tiba suka mangga muda seperti wanita yang sedang hamil muda saja," ujar Tao menggerutu.
"Kalau begitu muntahkan. Aku benar-benar tidak rela jika mangga milikku sampai masuk ke dalam perut karetmu itu." Amuk Jessica sambil menggncang tubuh Tao.
"Aduh, aduh, aduh. Nunna, hentikan, bagaimana jika aku sampai muntah dan makanan dalam perutku keluar semua? Aku bisa kurus kering , dan jangan pelit-pelit karna orang pelit itu kuburannya sempit."
"Oh, jadi kau menyumpahiku mati? Dasar Panda jelek merus menyebalkan, alu akan membunuhmu." Jessica terus memukul tubuh Tao dengan seikat bayam . Tao benar-benar sudah merusak paginya dan membuatnya kesal setengah mati.
Dan di saat Tao asik menjahili Jessica. Lay justru terlihat sibuk dengan ponselnya. Berkali-kali dia mengusap peluh yang menetes dikeningnya dan menelan sesuatu yang berdiri di bawah sana dengan bantal sofa.
Sementara itu, Kevin hanya mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua yang seperti bocah TK yang sedang berebut ice cream.
Kevin tidak lagi merasa heran dan terkejut, karna hal semacam ini memang sudah kerap terjadi dan hal itu selalu terulang di setiap pagi.
.
.
.
BERSAMBUNG.