Sky ingin balas dendam pada (Felix) Ayahnya dan mengambil alih seluruh kekuasaan sang Ayah. Dia telah mempersiapkan diri selama bertahun-tahun dan siap untuk melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya.
Akankah semua berjalan sesuai dengan rencana ketika Sky harus berurusan dengan Shy yang Arogan.
**
Ayo ramaikan Guys, keluarga Zionathan kembali lagi 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Incy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 SQM
Langit pagi ini terlihat sangat cerah seolah tidak pernah terjadi kekacauan pada malam sebelumnya. Di ruang kerja utama kediaman Shy, suasana justru terasa jauh berbeda, dingin dan penuh tekanan yang tidak terlihat.
Shy duduk santai di kursi kerjanya, satu kaki disilangkan, sementara laporan kerugian dari wilayah barat terbuka di atas meja. Kertas-kertas itu dipenuhi angka yang bagi kebanyakan orang akan membuat kepala berdenyut. Tetapi bagi Shy, itu hanya angka… yang bahkan tidak cukup untuk mengusik emosinya.
George berdiri di depan meja, wajahnya jelas menunjukkan amarah yang siap meledak, terlebih melihat sang putra yang begitu santai.
“Dua kapal utama kita hancur, Shy” ucap George dengan suara serak. “Beberapa jalur di lumpuhkan olehnya dan kau… bahkan tidak sama sekali bereaksi dan tetap bisa duduk santai?” George menggeleng tidak percaya, entah bagaimana cara sang putra memimpin organisasi mereka.
Shy mengangkat gelas kopinya, menyesap perlahan sebelum menjawab kalimat Ayahnya. “Reaksi tidak akan memperbaiki apa pun, Dad.” jawabnya begitu santai.
George mengembuskan napas kasar. “Ini bukan tentang reaksi, ini tentang harga diri mu! Dia menyerang mu, Shy. Sky tidak lagi sekadar emosional, dia sudah melewati batas kebaikan mu.”
Shy meletakkan cangkirnya dengan tenang. “Dia memang selalu melewati batasannya, Dad, jadi biarkan saja, masih banyak hal yang lebih penting.”
“Itu bukan alasan untuk membiarkannya, Shy!” bentak George, suaranya meninggi.“Atau jangan-jangan… kau memang tidak berniat melakukan apa-apa dan ingin membuat semua hancur begitu saja?"
Shy menatap ayahnya sekilas, lalu kembali melihat laporan di tangannya. “Bisnis keluarga ini tidak akan runtuh hanya karena dua kapal.”
George tertawa miris. “Jadi sekarang ini tentang uang? Bukan tentang kendali? Bukan tentang kekuasaan?” tawa sinis pria itu terdengar menggelikan bagi Shy.
“Uang, kendali dan kekuasaan,” sahut Shy datar melirik begitu tajam “Semua masih ada di tangan ku, Dad"
“Dan Felix?” sela George “Dia ditembak di depan semua orang. Itu bukan sekadar kerugian bisnis. Shy, tapi penghinaan”
Rahang Shy sedikit mengeras, tetapi ekspresinya tetap tenang. “Belum ada konfirmasi kematian,” jawabnya singkat.
George menyipitkan sebelah matanya. “Kau seperti meragukan kematian Felix dan tidak percaya pada Ayahmu sendiri?" Shy tidak menjawab.Kerena semua kebenarannya hanya George yang tau.
Suasana mendadak hening memenuhi ruangan sebelum George kembali berbicara, kali ini lebih pelan tetapi penuh tekanan.
“Cinta membuatmu lemah, Shy.”
Shy tersenyum tipis, sangat tipis hampir tidak terlihat. “Kalau aku lemah, semua ini sudah lama hancur.”
George menggeleng, jelas tidak puas mendengar jawaban itu. “Atau mungkin… kau hanya menunggu waktu untuk benar-benar hancur, kalau begitu tunggu saja, sampai perempuan itu menghancurkan segalanya..” Tanpa menunggu jawaban, George berbalik dan meninggalkan ruangan putranya.
**
Shy berdiri di balkon kamarnya, menikmati hembusan angin, tetapi kali ini tanpa minuman di tangan, hanya tatapan kosong.
Langkah kaki pelan terdengar dari belakang. Nafla, menghampiri dengan ekspresi tenang yang. Wanita cantik itu berdiri di samping Shy sembari tersenyum tipis.
“Hari ini anginnya terasa lebih tenang,” ucap Nafla
“Tidak semua hal bisa setenang angin,Mom”
Nafla menoleh, menatap putranya dengan penuh arti. “Kau tidak marah.”
“Marah tidak akan mengubah tindakan Sky.”
“Tidak?” Nafla mengangguk pelan. “Tapi diam juga bukan solusi.” Shy terdiam.
“Menurutmu kenapa dia melakukan semua itu?” tanya Nafla menoleh kearah putranya.
“Dia kehilangan kendali,” jawab Shy singkat.
Nafla tersenyum tipis. “Atau dia sedang berusaha mendapatkan kembali sesuatu yang pernah hilang.” Shy sedikit menoleh guna melihat sang Ibu.
“Dia menembak Felix,” lanjut Nafla. “Itu bukan keputusan mudah, Itu artinya dia sudah melangkah terlalu jauh… tanpa rencana untuk kembali.”
“Dia sudah tau konsekuensinya, Mom,” sahut Shy.
“Ya,” Nafla kembali mengangguk. “Dan tetap melakukannya, apa kau tau kenapa?” Shy tidak menjawab. Nafla melangkah sedikit lebih dekat. “Karena dia ingin kau melihatnya.” Shy menghela napas pelan.
“Semua yang dia lakukan, menghancurkan kapalmu, memicu perang, bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri…” Nafla melanjutkan dengan suara lembut, “itu bukan tentang kekuasaan atau mengambil alih wilayah"
“Lalu tentang apa?” tanya Shy, meski nadanya tetap datar.
“Perhatian,” jawab Nafla tanpa ragu. “Dia ingin kau menatapnya lagi seperti dulu.” Kali ini Shy terdiam cukup lama.
“Dia memilih jalannya sendiri,” jawab pria tampan itu.
“Dan kau juga,” ujar Nafla. “Sekarang yang menjadi pertanyaannya apakah kau akan terus membiarkan jalan kalian saling menghancur kan?”
Shy memejamkan matanya untuk sesaat. “Aku akan menemuinya.”
Nafla tersenyum tipis. “Itu keputusan yang tepat. Pergilah dan buat dia kembali menjadi Queen mu”
**
Suasana di dermaga Black Wolf masih dipenuhi sisa-sisa kehancuran. Bau asap dan kayu terbakar masih terasa di udara.
Sky berdiri di tepi dermaga, memandang laut dengan tatapan kosong. Senjatanya masih tergenggam di tangan, seolah menjadi satu-satu nya hal yang memberinya rasa aman.
Langkah kaki berat terdengar dari belakang.
Tanpa menoleh, Sky sudah tahu siapa yang datang.
“Kau akhirnya datang,” ucapnya dengan suara yang begitu dingin.
Shy berhenti beberapa langkah di belakangnya. “Aku datang karena kau yang memanggilku.”
Sky tertawa pelan “Aku tidak memanggil mu. Aku sedang menghancurkan sesuatu yang kau miliki."
Shy menatap punggung perempuan itu “Kau selalu tau cara menarik perhatian ku, Sky.”
Sky berbalik dengan cepat, tatapan matanya tajam, dia sangat kesal dan rasa cemburu itu masih menjadi bahan bakar untuk emosinya
“Jangan bicara Seolah-olah aku membutuhkan perhatianmu, kau tidak... "
“Aku tau lebih dari yang kau kira.” sela Shy
“Tidak!!..Kalau kau mengerti, kau tidak akan diam saat aku hampir mati!” Shy terdiam, dia paling malas untuk menjelaskan sesuatu yang sebenarnya cukup mudah dibaca oleh Sky.
“Katakan padaku,” lanjut Sky, suaranya mulai bergetar, “apa aku sudah tidak berarti apa-apa lagi bagimu?”
Shy menatapnya lurus. “Kau sangat berarti.”
“Lalu kenapa?” desak Sky. “Kenapa kau memperlakukanku seperti orang asing?!”
“Karena itu satu-satunya cara untuk membuatmu tetap hidup dan bukannya kau sendiri yang memintaku untuk menjauh?." Sky terdiam untuk sesaat.
“Daddy ku mengawasi setiap pergerakan ku” lanjut Shy, dia maju satu langkah.
“Jadi aku kelemahanmu?” gumam Sky pelan. Shy tidak menjawab, tapi tatapannya cukup untuk memberikan jawaban.
Sky tertawa seakan tidak percaya. “Lucu sekali… aku menghancurkan duniamu agar kau melihatku… dan ternyata selama ini kau justru melindungiku dengan cara menjauh.”
“Dan kau membalasnya dengan menghancurkan bisnisku.” jawab Shy
“Setidaknya itu membuatmu datang, padaku” ujar Sky, Shy menghela napas panjang.
“Kau ingin perhatian dariku?” tanyanya.
Sky menatapnya, matanya memerah. “Aku ingin kau jujur.” Hening sejenak.
“Aku tidak pernah berhenti peduli,” ucap Shy pada akhirnya, Air mata Sky jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
“Tapi di dunia kita” lanjut Shy, “Kepedulian bisa membunuh.” Sky menundukkan kepalanya.
Shy melangkah lebih dekat. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
“Kenapa?” tanya Sky setengah berbisik,
Shy menatapnya begitu dalam.“Karena kau masih milikku, bahkan ketika aku tidak bisa menunjukkannya” Sky terdiam, napasnya tercekat.
Dan untuk pertama kalinya sejak kekacauan itu dimulai, amarah dalam dirinya perlahan berubah menjadi sesuatu yang hangat, dia salah paham dengan perilaku Shy.