para readers tolong bijak ya dalam pemilih bacaan
wanita mana yang tidak merasa sedih ketika ditinggalkan suaminya, apalagi di hari pernikahan mereka setelah ijab kabul dan sumpah - sumpah pernikahan itu telah terucap
"Jika bagimu ini adalah candaan
Jelaskan padaku di mana letak rasa lucu itu...?? Biar aku bisa membantumu menertawai hidupku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andee Rosalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
Kondisi kantor kembali seperti semula, mereka yang di pecat tidak adil seketika kembali ku pekerjakan. Tidak terasa sudah hampir seminggu tika tidak datang ke kantor hingga membuat kami merindukan suara cemprengnya.
Waktu terus beganti dan tibalah saatnya kami menghadiri pernikahan Tika. Pernikahan tika di laksanakan di garut, mau tidak mau kami menghadirinya digarut, jika biasanya kami akan bersuka cita bisa bepergian bersama namun kali ini akward moment mendominasi kami.
bagaimana bisa bersuka cita jika salah satu masyarakat dari neraka datang dan ikut serta bersama kami. yang kumaksud adalah dedi alias suamiku, ya dedi sibanjinggan juga ikut serta dengan rombongan kami hal ini tentu saja mengganggu ketenagan teman - temanku namun mau di kata apa ******** ini kekeh ingin ikut.
Pernikahan tika berjalan dengan lancar walau dirayakan dengan cara sederhana, namun kesederhanaan itu tidak lepas dari makna sebuah pernikahan yang sesungguhnya. Di pelaminan ku lihat tika tersenyum lebar menunjukkan kebahagiannya di persunting lelaki pilihan hati dan pilihan orangtuanya.
Senyum sumringan tika tak kunung luntur padahal hampir dua jam lebih dia menyalami semua tamu yang datang. Proses ijab qabul tika ku saksikan di depan mata,dan itu sukses menggingatkan tentang masa lalu pernikahanku.
Terniang kembali akan pernikahanku yang dulu juga tidak jauh beda dengan pernikahan Tika. Tika melaluinya dengan suka cita, wajah yang merona dan malu – malu di atas plaminan bersama lelaki yang kini bersatus suaminya sedangkan aku? Agh kenangan pahit tetap saja menghatuiku.
dari kejauhan kutatapi tika dari plaminan, ternyata lelaki yang selalu menggekori kemanapun juga melakukan hal yang sama. dia tetap berdiri disampingku namun tidak kuhiraukan hal itu. pikiran berkelana jauh kemasa kelam itu dan tanpa kusadari air mataku menetes begitu saja.
digengamnya tanganku lalu tangan yang lainnya juga mendekapku dalam pelukannya. ada rasa nyaman yang kurasa dan seketika aku juga membalas dekapannya cukup kuat sekaan aku tak ingin terpisahkan denganya.
aku tak ingin menggulang kisah kelam itu. aku hanyut dengan apa yang kurasa namun seketika sirna saat dari atas panggung kudengar suara tika menggunakan mike mengganggu telingga. tika berkata
"bekas pengantin baru sekarang giliranku, jangan nyuri semua perhatian orang dengan beradegan india dibawah sana" kata tika keras dan seakan cemburu
mendengar itu aku baru tersadar jika memang aku dan dedi telah mencuri perhatian, banyak orang yang memperhatikan kami. aku baru saja tersadar lalu menarik diri dengan malu-malu tetapi dedi tidak dia masih santai melakukan apa yang dia mau.
Acara lebih banyak dihadiri sana saudara tika dan beberapa temannya juga. walau begitu kami merasa sangat nyaman berada di tengah – tengh keluarga tika karena rasa kekeluargaan dan kepedulian antara mereka sangat di perlihatkan hingga di pengujung acara akhirnya kami memutuskan pulang karena besoknya bukanlah hari libur.
Sepulang dari garut notif grup chat memenuhi gadgetku isinya ya sudah jelas curahan hati mereka yang serasa tertekan saat bersama dedi di luar kantor, diantara kami hanya tika yang bahagia bagaimana tidak kehadiran dedi diacaranx menebalkan dompetnya selama tiga bulan.
notip pertama yang kubaca adalah pesan dari tio. dari teman-temanku memang tio dan narend yang paling sering disinisi. tio jelas merasa terintimidasi sedangkan narend yang pembawaanya calem tidak pernah ambil pusing dan tidak pernah menggeluh. tio mengatakan
•"Wi lo kalo ikut kita jangan bawa majikan lo main igh. gua hampir mati berdiri pas ditatap intens ma laki lo tau gak tatapannya itu wi kayak mau nelen gua hidup - hidup ighhhh ngeriii man" Tio
•“itu belum seberapa di banding saat dia natap aku” narend
•"Hem perjalanan sejam serasa setahun gileee pas makan juga kayak nelan batu gunung gua sepet banget ni tenggorokan sekali lagi lo bawa dia gua gali kubur sendiri deh" Andre
•“btw rend boss sengsi ma lo karena tahu lo pernah meluk gua”
“what, please wi, jangan bercanda dengan bawa-bawa dia” narend.
•”maunya aku becanda tapi itu faktanya” kataku.
•”ahahaah kurang sial apa lagi sih lo rend” tio
•”ahahaah kurang sial apa lagi sih lo rend” balas andre me retweet pesan tio
•” ahahaah kurang sial apa lagi sih lo rend” lisa ikut me retweet
•” ahahaah kurang sial apa lagi sih lo rend” kataku ikutan membully andre
•”teman ka*pret emang” balas narend
•”emang kita teman?” balas tio lagi
•"bukan" jawab lisa
•”doi romantic ya?” kata lisa menggalihkan pembicaraan.
•"romantis apa, pekerjaan numpuk besok, ngak usah sok-sok mau istirahat tadi gua dapat pesan besok ada meeting dadakan dan semua devisi kena" andre
•“serius lo ndre?” tanya lisa
•”cek email” balas andre.
Setelah pesan itu seketika grup menjadi sepi seketika. Ya seperti itulah protes mereka yang non faedah teman - temanku, suasana seketika senyap kala pesan andre masuk. aku tadinya juga ingin mengecek pekerjaanku tapi ketika melihat objek gosip mereka dengan santainya selonjoran di kasur mengerjakan pekerjaannya yang tertunda selama kami di garut aku menggurungkan niatku.
entah hanya perasaanku saja atau apa dedi saat ini bertindak layaknya suami posesif kali ini hingga rela meninggalkan pekerjaannya demi untuk menggikutiku bepergian bersama teman-temanku.
"Mau kemana kamu?" Lihatlah baru saja aku akan meninggalkannya dirinya sudah menggawasihku.
"Mau ke kamar sebelah tuan saya tidak ingin mengganggu percintaan anda dengan pekerjaan yang begitu anda agungkan" Ucapku sarkis.
"......." Dedi tidak menjawab hanya memandangku sembari menaikkan sebelah alisnya dan mendeci acuh.
Dikamar kamar tamu kurebahkan badanku dan tidak butuh waktu lama aku tenggelam dalam buaian mimpi, si ******** ini ternyata mengikutiku dan tidur bersamaku dalam dekapannya menimbulkan perasaan lain yang menggusik entah itu apa.
kuputar tubuhku agar dapat bersitatap dengannya. baru kusadari jika alisnya lebat namun rapi tersusun, dan bulu matanya lebat juga lentik bahkan lebih bagus dibanding milikku, bibirnya tipis namun jika menggingat semua kalimat busuknya seharusnya bibir itu sudha membusuk sedari dulu.
tatapanku pada dedi semakin intens dan entah kenapa, melihatnya tidur dengan damai seakan menghilangkan kesan menyeramkan pada tuan pemaksa dan bossy ini.
Aku dengan hati-hati menyentuh wajahnya dengan intens hingga tidak menyangka jika dia membuka mata lalu menangkap tanganku yang menyentuh wajahnya.
“kau menggagumi ketampananku kan?”
“tidak juga”
“kau terlalu sering berbohong nyonya”
“mmm”
“dedi” panggilku mencoba menggalihkan pembicaraan
“ya”
“besok ada rapat?” tanyaku.
“mmm”
“tentang apa?”
“banyak” jawabnya singkat, padat dan tidak jelas.
“contohnya?” tanyaku lagi
“kinerja mereka, rencana pemasaran akhir tahun, perkembangan saham, dan hasil dari pemodalan perusahaan di perusahaan lain” kata dedi sembari menarikku dalam pelukannya.
“bakal ada pemecatan lagi?”
“tergantung” jawab dedi santai
“jangan usik teman-temanku ya” pintaku
“sejak kapan nyonya melegalkan nepotisme?” tanya dengan kerutan yang sangat jelas di kening
“tidak nepotisme, aku hanya meminta kesempatan untuk mereka”
“itu tergantung” balas dedi dengan senyum miring.
“tergantung apa?”
“tergantung bagaimana kamu memuaskanku malam ini” ujarnya seketika menggubah posisinya lalu berada di atas tubuhku.
“tapi aku masih capek”
“kau hanya berbaring dan aku yang bergerak, itu tidak melelahkan”
“aisss ngak mau” renggekku lalu sedikit mendorong dedi agar beranjak dari atas tubuhku.
“jadi kapan?” tanyanya menuntut.
“ngak tahu” jawabku dengan mata berkaca-kaca.
“…” dedi tidak bersuara kini. Dia malah menatap tepat di bola mataku sembari menaikkan alis kanannya.
“besok seharusnya priodeku mens” jawabku dengan malu-malu.
“ya sudah sekarang saja” putusnya sepihak.
“aku capek dedi”
“sebentar saja yaaaa!”
“sebentarnya kamu tiga jam, aku mau tidur sekarang” balasku.
“okey okey tapi kalo besok kamu tidak priode, berarti boleh kan?”
“mungkin”
“okey, sekarang tidurlah” tutup dedi lalu menyelimuti tubuh kami.
ko aku sedikit bingung ya, sebenarnya yg ngomong ini siapa sih?? dewi yg menceritakan kisah nya apa orang lain yg menceritakan kisah dewi
hmmmm 🤔🤔??