Selomitha tau Arsen hanya menganggapnya sebagai sahabat. Ya, pria yang lebih muda tiga bulan darinya itu adalah putra dari Tante Sarah dan Om Demian, sahabat orangtuanya, Grasian dan Desty (Novel "Mendadak Menikah").
Entah sejak kapan datangnya getaran di hati Mitha untuk pria itu. Mungkin karena sifat protektif dan posesif Arsen padanya, karena sejak kecil Arsen memang seakan sengaja ditugaskan oleh orangtua mereka untuk menjaga Mitha.
Yang pasti pada satu titik waktu, persahabatan mereka tak lagi sama. Mitha memutuskan melanjutkan program Magister-nya ke luar negeri demi melupakan perasaan terlarang yang sudah tumbuh bersemi untuk Arsen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan berfaedah.
"Nih...," sebuah kaleng minuman tersodor ke depan wajah Selomitha. Arsen baru saja membeli minuman untuk mereka dari pedagang asongan yang melintas di sepanjang pantai. Iya, Arsen membawa gadis itu jalan-jalan ke pantai yang memakan waktu setengah jam dari pusat ibu kota.
"Thank you," Mitha meraih kaleng tersebut dengan senyum manisnya. Arsen duduk di belakangnya dan melebarkan kedua kakinya agar bisa memeluk Selomitha dari belakang.
"You did a great job, Sayang," Arsen memulai. Maksudnya tentang fashion show yang tadi.
"Entahlah, gue sendiri nggak nyangka kalau gue menang," kenang Selomitha. Masih belum percaya kalau dia berhasil membuat sebuah mahakarya yang kata orang-orang hampir menyamai karya designer kondang Ibu Kota. Padahal dia hanya mengerjakannya dalam waktu yang singkat.
"Karena lo berbakat. Passion lo di sana..." jawab Arsen singkat. Memang cuma itu jawabannya.
"Benar juga. Melihat Mba Karenina tadi membuat gue menghayal kelak bisa seperti dia. Menurut lo, gue bakalan bisa nggak?"
Arsen mengelus tangan Mitha yang menempeli tangannya di atas perut. "Ada kata bijak yang bilang, kalau lo bisa membayangkan itu, lo pasti bisa jadi seperti itu. Tinggal gimana kita mengeksekusi aja..."
"Hm... gue berangan-angan suatu saat bisa punya butik sendiri, punya brand sendiri. Bisa bikin acara fashion show sendiri. Apa cita-cita gue terlalu kejauhan, Baby?"
"No... nggak ada cita-cita yang ketinggian. Semua orang berhak menggantungkan cita-citanya meskipun itu setinggi langit. Lo pasti bisa, Sayang."
"Tapi biasanya designer yang kayak gitu pasti sekolahnya jebolan luar negeri. Gue juga pengen, someday bisa kayak mereka. Lo dukung gue nggak?"
"Hundred percent! Lo bisa andalin gue sebagai support system lo. Nanti kalau lo mau lanjut S2 ke luar, kita bisa cari sama-sama kampus yang terbaik..."
Mitha tersenyum. Getir. Diremasnya jemari Arsen yang ada di perutnya.
"Kalau lo? Cita-cita terbesar lo, apa?" Mitha balik bertanya kepada Arsen.
"Nikahin lo, hehehe..."
Mitha mengerucutkan bibirnya, "Karir maksudnya, Baby..."
"Hmm... gue pengen buat perusahaan gue sendiri. Berhubung passion gue bukan di bidang keuangan kayak perusahaan papa, gue pasti nggak bakalan bisa gantiin beliau. Gue mau berdikari. Bikin perusahaan yang menaungi arsitek-arsitek berbakat di bidangnya."
Mitha berbalik untuk bisa berhadapan dengan pria itu. Dia cukup terkesima mendengar penuturan Arsen tentang mimpi besarnya untuk beberapa tahun ke depan
"Impian lo bagus banget. Gue bangga sama lo..." pujinya tulus.
"Jangan bangga dulu kalau masih hanya sebatas narasi. Kalau udah terealisasi, baru deh, lo harus bilang itu tiap hari ke gue..."
Keduanya sama-sama tersenyum lebar.
"Kalau gitu, pergilah ke Stanford. Gue nggak akan ikhlas kalau laki-laki yang gue cintai harus melepaskan peluang besar untuk bisa menggapai cita-citanya hanya gara-gara gue," Mitha mengelus pipi Arsen dengan sangat lembut.
"Mitha..." Arsen seperti ingin mencela seperti biasanya.
"Gue bakalan putusin Varel dan jadian sama lo, kalau lo mau pergi..."
Mata Arsen menyipit. Dia sudah tidak berminat lagi. Apalagi besok dia akan menyudahi hubungannya dengan Prita. Dia tidak peduli wanita itu akan tetap pergi atau tidak. Yang pasti, dia ingin bersama Selomitha di sini.
"Kalau toh gue pergi, apa gunanya lo putusin Varel? Toh gue nggak ada di sisi lo..."
"Kata lo mau video call tiap hari..."
"Udah lah, gue malas bahas itu. Bahas yang lain aja gimana?"
Mitha melengos. Usahanya gagal lagi. Dia pun kebingungan sekarang. Kalau Arsen menetap di sini, pria itu pasti akan sulit move on setelah kepergiannya nanti. Mitha sudah bisa menebak bagaimana hubungan mereka setelah hari ini berlalu. Anehnya, dia sudah siap atas segala kemungkinan, termasuk jika Arsen membencinya. Entah kenapa wajah Karenina masih membayanginya sampai sekarang. Dia ingin seperti wanita itu. Arsen... ah, dia pasti akan baik-baik saja.
"Kayaknya kita harus segera menikah deh..." kata-kata itu tiba-tiba terucap dari bibir Arsen dan Mitha sukses tersedak air soda miliknya.
"Uhuk uhuk!! Uhuk uhuk!!" dia terbatuk-batuk. Hidungnya perih, sensasi soda bereaksi di dalam dua rongga kecil itu.
"Yang bener minumnya, Sayang!" Arsen panik. Dia menepuk-nepuk punggung Mitha pelan.
"Ke... kenapa lo tiba-tiba kepikiran buat nikah?" tanya Mitha berhati-hati. Tidak ingin meninggalkan kesan jika dia tidak menyukai ide Arsen tersebut.
"Kita sudah melakukannya. Kalau lo kenapa-kenapa, gimana?"
"Oh..." sahut Mitha. Dia menatap Arsen lekat-lekat. Pria itu bertanggungjawab juga, batinnya. "Tapi gue nggak lagi di masa subur kok, Sen. I'm ok..."
"Kalau?" Arsen mengulang lagi. "Kalau lo kenapa-kenapa, image lo bisa jelek."
Mitha bergeming, memikirkan cara supaya Arsen berhenti mengkhawatirkan dirinya.
"Baiklah sayang. Kalau nanti gue ngerasa ada yang aneh dalam diri gue, gue kabari lo ya. Baru kita ngebahas nikah, gimana?"
"Ya sudah. Pokoknya gue pasti nikahin lo."
"Tapi lo sama Prita gimana?"
"Besok gue pastiin udahan sama dia. Sabar ya Sayangku?"
Mitha tersenyum, tapi hatinya teriris-iris. Maafkan gue, Sen. Pekiknya dalam hati.
"By the way...lo beneran udah lama suka sama gue?" Mitha mengalihkan pembicaraan. Sedikit kepo sejak kapan Arsen memandangnya sebagai lawan jenis, bukan sahabat.
"M..."
"Since...?"
"Ingat nggak pas kelas satu es em pe, lo jatuh dari sepeda? Lutut lo luka dan gue luar biasa khawatir sama lo. Ngerasa berdosa karena gue udah bikin lo terluka. Waktu itu gue ngerasain rasanya khawatir sama orang lain melebihi khawatir sama diri sendiri."
"Ohh... jangan-jangan lo cuma merasa bersalah sama gue. Bukan suka..."
"Sstt... gue yang tau isi hati gue, Sayang."
Mitha lagi-lagi tersenyum, "Trus tiap gue curhat soal cowok yang lagi pedekate sama gue, lu gimana?"
"Hm... cemburu pasti. Tapi gue lebih takut kalau lo marah sama gue kalau gue kekang."
Mitha merasakan dekapan Arsen mengetat. "So sweet banget sih? Padahal kita masih anak kecil di situ."
"Entahlah... setelah itu gue punya prinsip. Lo bisa pacaran sama siapa pun sampai gue siap ngelamar lo. Lo harus nikah sama gue, nggak boleh sama pria lain."
"Lo pas es em pe udah mikir kayak gitu? Amazing!" ejek Mitha. Tapi kalau dipikir-pikir, pantas saja, disaat Arsen seharusnya bergaul dengan banyak teman seusianya, dia malah menempel terus pada Selomitha. Menjadi bodyguard-nya.
"M... memangnya salah?"
"Gue cuma ngerasa udah membuat masa remaja lo nggak asik."
"Siapa bilang nggak asik? Menempel sama lo adalah memori terbaik gue sejak kecil," ujar Arsen serius seraya mengecup puncak kepala Selomitha.
"Thank you udah cinta sama gue, Sen..." Mitha memeluk pria itu erat. Sanggupkah dia meninggalkan pria ini nanti dan membuatnya kecewa??
"Mau main air?" Arsen menawarkan.
"Baju gue putih. Nanti transparan gimana?"
"Gue udah liat semua ini. Eh iya! Hampir aja lupa!!!"
"Apaan?" Mitha kaget dengan raut wajah Arsen yang tiba-tiba setengah berteriak.
"Lo! Maksud gue, gaun lo tadi! Itu dadanya emang sengaja dibuat transparan gitu????"
Matihhhh... ternyata Arsen menyadarinya. Cepat-cepat dia melepaskan diri dan kabur menyambur air.
"Siniiiii!" dia memanggil manja. Arsen yang tahu gadis itu menghindar, segera menyusul dan membuatnya basah kuyup dalam hitungan detik.
(Mereka habis main air, trus Mitha kedinginan 🥰🥰👇🏻👇🏻👇🏻👇🏻)
*****
NB : Readers, hari ini diusahakan up 1 bab lagi. Sabar yaaa. Sebelum up boleh minta vote-nya pakai poin dongggg 🥰🥰🥰
Casing bawaan ,🤭
lagian km gtu si sen...sukanya phpin anak orang🤭
visual selomitha cocok sama karater di novel.
aku ngikutin jg dr sarah demian,, crish amber, chalondra dominic, brandon, selomitha arsen. tngl baca yg arsy.
tp krn tll mendalami peran mereka kok ikut geli ya
dl aja nyuruh delia nyurangin.
bener jata mama sarah, arsen emg bege