Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:
Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.
Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.
Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.
Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.
Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?
"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Ambang Batas Kepercayaan
Langkah Kai terasa begitu berat saat meninggalkan Hana yang masih berdiri di bawah bayang-bayang pohon dedalu tua. Kata-kata gadis itu terus berputar di dalam kepalanya seperti gema di dalam gua kosong, saling bertabrakan dengan pecahan rahasia yang ia dengar dari Rei dan Mai sebelumnya. Dinginnya angin malam perbatasan tidak lagi mampu mendinginkan kepalanya yang kian memanas.
Namun, alih-alih merasa lega karena mendapat peringatan, hati Kai justru semakin diselimuti oleh kabut kecurigaan yang tebal.
Bagaimana aku bisa memercayaimu, Hana? batin Kai, giginya mengatup rapat hingga rahangnya terasa kaku.
Di mata Kai, Hana tetaplah bagian dari klan selatan, klan yang sama dengan tempat Mai berasal, tempat di mana taktik kotor dan racun jarum dipelajari di balik dinding-dinding kuil suci mereka. Bagi Kai, kebaikan yang baru saja ditunjukkan Hana terasa terlalu rapi, terlalu tiba-tiba, dan sangat mungkin merupakan bagian dari pertunjukan licik lainnya. Bukankah sangat mudah bagi seseorang dari klan yang sama dengan Mai untuk berpura-pura menjadi malaikat penolong, hanya demi memenangkan kepercayaannya sebelum menjatuhkan hukuman mati yang sesungguhnya? Sifat manipulatif klan selatan sudah terlalu sering ia dengar, dan hal itu sepenuhnya menutupi ketulusan yang sebenarnya sedang dicoba diulurkan oleh Hana. Kai terlanjur menggeneralisasi bahwa Hana tidak ada bedanya dengan Mai ialah seorang wanita licik yang pandai bersandiwara.
Pemuda itu menghentikan langkahnya di tengah koridor yang sunyi, menyandarkan punggungnya pada dinding batu yang kokoh. Ia memejamkan mata, mencoba mencari satu saja pegangan yang tersisa di dalam hidupnya.
Selama ini, ia mengira memiliki Yuki di sisinya. Yuki, sang siluman rubah yang selalu membantunya meredam amarah sang naga dengan sentuhan tangannya yang sedingin es. Namun kini, bayangan kelembutan Yuki runtuh seketika. Kai tidak pernah menyangka bahwa Yuki, sosok yang paling ia percayai untuk menjaga rahasia darahnya, ternyata memiliki kelicikan yang sama persis dengan Mai. Yuki tidak menjaganya karena peduli; Yuki menjaganya seperti seorang petani yang merawat buah hingga matang, siap memanen esensi Naga Merah dari tubuhnya demi ambisi pribadinya untuk naik tingkat menjadi makhluk surgawi.
Lalu ada Rei. Wanita anggun yang selama ini ia anggap sebagai pilar politik pelindung bentengnya, ternyata tak lebih dari seorang dalang yang mengaturnya bagai bidak catur, bekerja sama dengan Mai dari balik bayang-bayang demi membuka gerbang utama.
Satu per satu wajah para wanita di sekelilingnya terlintas di benaknya. Yuki yang licik karena ambisi magisnya, Rei yang culas demi kekuasaan politik, Mai yang kejam sebagai provokator, dan Hana... Hana yang ia yakini juga tengah merajut dusta di bawah bendera klan selatan yang manipulatif.
"Lalu... aku harus percaya pada siapa lagi?" bisik Kai pada kegelapan, suaranya terdengar begitu parau dan rapuh. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar sendirian di dalam bentengnya sendiri.
Di dalam dadanya, denyutan Naga Merah mendadak kembali bergetar. Kali ini, getaran itu tidak terasa seperti cakar yang menyiksa, melainkan sebuah tawa rendah yang mengejek. 'Pada akhirnya, hanya ada aku dan kau, Kai. Jangan percaya pada siapa pun selain api di dalam darahmu,' seolah begitulah bisikan yang menggema di dalam kepalanya.
"Kau benar," jawab Kai lirih, membuka matanya yang kini telah berkilat merah sepenuhnya. Rasa ngeri dan kesedihan karena dikhianati perlahan menguap, digantikan oleh kekosongan yang dingin.
Jika seluruh wanita di sekitarnya menenun jaring-jaring kelicikan untuk menjeratnya, maka Kai memutuskan untuk berhenti mencari tempat bersandar. Ia tidak akan menyerahkan kepercayaannya pada siapa pun lagi. Jika dunia ini memaksanya untuk menjadi monster yang berdiri sendirian di atas tumpukan abu, maka ia akan memastikan bahwa dialah yang memegang kendali atas api yang akan membakar mereka semua.
🦊🦊🦊...____...🦊🦊🦊
Kekosongan yang dingin itu menuntun langkah Kai kembali ke aula tengah, tempat di mana sisa-sisa aroma dupa mahal milik Rei dan keharuman teh Hana masih tertinggal di udara, berbaur menjadi satu bau kemunafikan yang menyesakkan. Ia berdiri di tengah ruangan yang kini kosong melompong, menatap kursi kayu besar tempatnya biasa duduk sebagai pemimpin. Tempat itu kini terasa seperti sebuah jebakan yang sengaja dipasang untuknya.
"Kau berjalan seperti orang yang baru saja melihat hantu, Kai."
Suara itu muncul dari balik tirai sutra merah yang membatasi aula dengan ruang dalam. Rei melangkah keluar, jubah bersisik naganya bergeser lembut di atas lantai kayu. Di tangannya, ia membawa sebuah gulungan perkamen baru yang tampak masih basah tintanya. Wajahnya kembali mengenakan topeng ketenangan politiknya yang sempurna, sangat kontras dengan sosok kejam yang Kai lihat di taman beberapa saat lalu.
Kai tidak menoleh. Ia hanya menatap lurus ke arah kursi kebesarannya. "Hantu tidak menakutkan, Rei. Yang menakutkan adalah manusia hidup yang memakai wajah malaikat."
Gerakan Rei terhenti sejenak. Matanya yang kelabu menyipit, mencoba membaca arti di balik nada bicara Kai yang tidak biasa. Namun dengan cepat, ia memulihkan ekspresinya dan berjalan mendekat, meletakkan perkamen itu di atas meja terdekat. "Jika itu sindiran untuk gadis suci dari selatan, aku setuju. Hana dan klannya tidak bisa dipercaya. Mereka terlalu bersih, dan di dunia perbatasan ini, orang yang terlalu bersih biasanya menyembunyikan noda yang paling kotor."
Kai menahan tawa getir yang hampir meledak dari dadanya. Luar biasa, pikirnya. Rei sedang mencoba meracuni pikirannya tentang Hana, tanpa tahu bahwa Kai sudah mengetahui bahwa Rei sendiri adalah dalang di balik semua ini.
"Lalu bagaimana denganmu, Rei?" Kai berbalik, menatap Rei lurus-lurus dengan pandangan yang membuat wanita itu sedikit tersentak. "Apakah kau bersih?"
Rei memiringkan kepalanya, mencoba tertawa kecil walau terdengar sedikit kaku. "Aku? Aku adalah penasihatmu, Kai. Aku melakukan apa yang harus dilakukan demi kelangsungan benteng ini. Kadang itu berarti aku harus berlumuran lumpur agar tanganmu tetap bersih."
"Berlumuran lumpur... atau merajut jaring bersama Mai?"
Seketika itu juga, keheningan yang mematikan jatuh di antara mereka. Senyum di wajah Rei lenyap sepenuhnya, digantikan oleh ketegangan yang membuat otot-wajahnya mengeras. Ia tidak mengira Kai akan mengetahui hal itu secepat ini.
Sebelum Rei sempat menyusun kebohongan baru, suara gesekan kayu yang halus terdengar dari pintu samping. Yuki melangkah masuk tanpa topeng kitsune-nya, menampilkan wajah cantiknya yang pucat. Matanya langsung tertuju pada Kai, lalu beralih ke Rei, seolah langsung bisa membaca situasi pelik yang sedang terjadi.
"Suasana di sini terasa sangat panas, bahkan untuk ruangan yang tidak memiliki perapian," ucap Yuki dengan nada lembut yang biasa ia gunakan untuk menenangkan Kai. Ia melangkah mendekati Kai, mengulurkan tangannya yang sedingin es berniat untuk menyentuh lengan pemuda itu seperti yang selalu ia lakukan. "Kau harus tenang, Kai. Naga di dalam dirimu bisa merasakan ketegangan ini."
Namun, sebelum jemari Yuki sempat menyentuh kain jubahnya, Kai menyentak lengannya menjauh. Penolakan itu begitu kasar hingga membuat Yuki terpaku di tempat, matanya melebar karena terkejut.
"Jangan sentuh aku lagi, Yuki," bisik Kai, suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan. "Atau harus kupanggil kau dengan sebutan siluman rubah yang sedang menunggu buahnya matang?"
Wajah Yuki seketika memucat, matanya berkilat ganjil di bawah cahaya lilin yang meremang. Rahasia terbesarnya kini telah terbongkar.
Rei dan Yuki kini berdiri di hadapan Kai, tidak lagi sebagai pelindung atau penenang, melainkan sebagai dua pemburu yang kedapatan basah sedang mengintai mangsanya. Di luar, suara kepakan sayap burung gagak malam terdengar bersahutan, seolah menyambut badai besar yang sebentar lagi akan meluluhlantakkan seluruh benteng timur dari dalam.