Elara mati dengan air mata dan penyesalan. Pria yang paling ia sakiti justru menjadi orang terakhir yang memeluknya di tengah kobaran api. Namun ketika ia membuka mata lagi, dunia berubah—waktu mundur ke masa sebelum semuanya hancur. Kini, di kehidupan keduanya, Elara berjanji tidak akan menyakiti Lucent lagi. Ia akan mencintai pria yang dulu ia abaikan… dan menghancurkan mereka yang mengkhianatinya. Tapi bagaimana jika cinta yang dulu ia tolak kini telah membeku menjadi dingin? Dan mungkinkah kesempatan kedua benar-benar cukup untuk menebus semua luka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sintasina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kini Giliran Elara Melindungi
Tanpa banyak kata, mereka segera bersiap untuk kembali.
Pulau yang sebelumnya dipenuhi tawa kini perlahan ditinggalkan. Angin laut masih berhembus tenang, seolah tidak peduli bahwa kebahagiaan yang baru saja tercipta harus terhenti begitu saja.
Namun bagi mereka, keputusan itu tidak sulit.
Jika itu demi Elara, maka tidak ada yang perlu dipertimbangkan lagi.
Perjalanan berlangsung selama beberapa jam. Mobil melaju tanpa henti, membelah jalan dengan keheningan yang cukup lama. Tidak banyak percakapan, tetapi kehadiran satu sama lain sudah cukup.
Sesekali, Lucent melirik ke arah Elara.
Wanita itu tampak diam, menatap ke luar jendela, tetapi sorot matanya tidak lagi goyah seperti sebelumnya.
Ia terlihat… lebih kuat.
Beberapa jam kemudian, mereka akhirnya tiba di perusahaan milik orang tua Elara.
Begitu mobil berhenti, Elara langsung membuka pintu dan turun tanpa menunggu. Langkahnya cepat, hampir seperti berlari.
Lucent dan kedua orang tuanya segera menyusul dari belakang.
Pintu utama terbuka, dan Elara masuk tanpa ragu. Tatapan para karyawan kembali tertuju padanya, tetapi kali ini ia tidak memperdulikan apa pun.
Tujuannya hanya satu.
Ruang direktur.
Tanpa mengetuk, ia langsung membuka pintu dan masuk.
Di dalam, suasana terasa berat.
Sang ayah duduk di kursinya dengan wajah lelah, sementara sang ibu berada di sampingnya, matanya masih sembap, jelas menunjukkan bahwa ia baru saja menangis.
Sang ayah berusaha menenangkan, tetapi bahkan dirinya sendiri terlihat tidak baik-baik saja.
Saat pintu terbuka, keduanya menoleh bersamaan.
“Elara…” suara sang ibu bergetar.
Begitu melihat putrinya berdiri di sana, perasaan bersalah yang sejak tadi ditahan kembali meluap.
Ia segera berdiri dan berjalan cepat mendekat.
“Elara, maafkan Ibu…” ucapnya, suaranya hampir pecah. “Ibu tidak bisa menjaga uangmu dengan baik… Ibu tidak bisa menghentikan Sierra…”
Namun sebelum kalimat itu selesai, Elara sudah lebih dulu memeluknya.
“Ibu…”
Pelukan itu hangat.
Tenang.
Berbeda dari apa yang pernah mereka rasakan sebelumnya.
Sang ibu membeku sejenak, seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi.
“Tidak apa-apa,” lanjut Elara pelan. “Aku akan membereskan semuanya.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah mengapa, justru memberikan ketenangan yang tidak bisa dijelaskan.
Sang ayah yang melihat itu hanya terdiam.
Ada sesuatu yang berbeda.
Sangat berbeda.
Di belakang, Lucent berdiri memperhatikan, matanya sedikit menyipit, seolah sudah siap menghadapi apa pun yang akan terjadi selanjutnya.
Dan kali ini…
Elara tidak lagi berdiri sebagai seseorang yang harus dilindungi.
Melainkan seseorang yang siap melindungi.
Pintu ruangan kembali terbuka.
Lucent masuk terlebih dahulu, diikuti oleh kedua orang tuanya yang berjalan dengan tenang namun penuh wibawa.
Kehadiran mereka seketika mengubah suasana.
Sang ayah dan ibu Elara yang sebelumnya tenggelam dalam kecemasan langsung berdiri secara refleks. Raut wajah mereka berubah, dari kelelahan menjadi tegang.
Mereka saling berpandangan sejenak.
Baru saat itu mereka benar-benar tersadar.
Elara… telah menikah dengan Lucent.
Dan sekarang, orang-orang yang berdiri di hadapan mereka bukanlah orang biasa.
“Selamat… siang,” ucap sang ayah sedikit kaku, berusaha menegakkan tubuhnya meskipun jelas terlihat gugup.
Sang ibu ikut menundukkan kepala sedikit, berusaha menjaga sikap.
Namun, berbeda dari yang mereka bayangkan—
Orang tua Lucent justru tersenyum hangat.
“Tidak perlu tegang seperti itu,” ujar sang ibu Lucent dengan lembut. “Kami datang bukan sebagai tamu yang harus dihormati, melainkan sebagai keluarga.”
Kalimat itu membuat suasana sedikit mencair.
Sang ayah Elara tampak sedikit terkejut, tetapi ia tetap berusaha menjaga sikapnya.
“Kami… mohon maaf atas keadaan yang kurang baik ini,” ucapnya jujur.
Sang ayah Lucent menggeleng pelan.
“Kami sudah mendengar sedikit dari Elara di perjalanan,” katanya tenang. “Dan karena itu, kami tidak bisa tinggal diam.”
Ucapan itu membuat kedua orang tua Elara kembali terdiam.
Sang ibu Lucent melangkah sedikit lebih dekat, menatap mereka dengan tulus.
“Kami ingin membantu.”
Sederhana.
Namun cukup untuk membuat jantung mereka berdegup lebih cepat.
“Membantu…?” ulang sang ayah Elara, seolah tidak yakin dengan apa yang ia dengar.
Sang ayah Lucent mengangguk. “Kami tertarik untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan Anda.”
Ruangan itu kembali hening.
Kerja sama?
Dalam kondisi perusahaan mereka yang bahkan sedang tidak stabil?
“Itu… terlalu berisiko bagi pihak Anda,” ucap sang ayah Elara jujur. “Perusahaan kami saat ini tidak dalam kondisi yang baik.”
Ia tidak ingin menutupi kenyataan.
Namun sang ayah Lucent hanya tersenyum tipis.
“Dalam bisnis, selalu ada risiko,” ujarnya tenang. “Dan terkadang, hasilnya tidak selalu seperti yang diperkirakan.”
Sang ibu Lucent menambahkan dengan nada lembut, “Bisa saja kerja sama ini justru membawa hasil yang berbeda dari yang kita bayangkan.”
Mereka tidak berbicara sebagai pebisnis yang dingin.
Melainkan sebagai orang tua… yang sedang membantu keluarga anak mereka.
Sang ayah dan ibu Elara saling berpandangan lagi.
Kali ini, bukan karena panik.
Melainkan karena… tidak percaya.
Di tengah situasi yang hampir runtuh…
Masih ada tangan yang bersedia membantu.
Sementara itu, Elara yang berdiri di samping hanya terdiam.
Matanya kembali terasa panas.
Sekali lagi…
Ia diingatkan betapa berharganya orang-orang di sekitarnya sekarang.
Dan kali ini—
Ia tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan semua ini.
AI ke ni
Buruan dong update nyaaa! 🫵 Plis plis up yang banyak banyak yaaa 🙌 jangan pelit yah Thor 👀
SEMANGAATTTTTTT 🫶💪🔥