NovelToon NovelToon
A DEAL WITH COLD PROFESSOR

A DEAL WITH COLD PROFESSOR

Status: tamat
Genre:Dosen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.

Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.

Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.

Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA PULUH DELAPAN

Sore itu, langkahku terasa berat begitu mobilku berhenti di depan rumah besar yang selama ini kusebut rumah. Mataku langsung menangkap sosok mobil hitam milik Althaf yang terparkir rapi di garasi. Aku tertegun. Rasanya dadaku berdegup lebih kencang dari biasanya.

Sudah hampir satu minggu ia tak pulang ke rumah ini. Satu minggu pula sejak pertengkaran hebat malam itu, dan sejak saat itu pula, kami tak pernah berinteraksi—bahkan sekadar menyapa ketika berpapasan pun tidak. Kami seperti dua orang asing yang kebetulan tinggal di bawah atap yang sama.

Tapi malam ini, aku tidak bisa lagi terus bersembunyi. Besok sudah hari Jumat, artinya hanya tinggal satu hari sebelum aku berangkat study tour ke Yogyakarta bersama teman-teman kuliah. Suka tidak suka, aku harus memberitahunya bahwa selama tiga hari aku tak akan pulang.

Tanganku gemetar saat memutar gagang pintu rumah. Hati kecilku berontak—aku belum siap menatap wajahnya lagi, belum siap menghadapi tatapan dinginnya yang seperti selalu menembus pertahanan hatiku.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan kegugupanku. “Ayo, Senja… kamu bisa,” gumamku pelan, seolah menyemangati diriku sendiri.

Begitu aku melangkah masuk ke rumah, aroma kopi yang khas langsung menyambutku. Hangat, pekat, dan sedikit pahit—aroma yang selalu identik dengan Althaf. Di dapur, kulihat Mbok Mirna sedang sibuk menyiapkan secangkir kopi panas dan beberapa camilan favorit Althaf di atas nampan perak kecil. Tangannya cekatan, tapi wajah tuanya jelas menyimpan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.

Aku menaruh tasku di kursi makan, lalu mendekat perlahan. Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya, entah karena takut atau amarah yang masih bersisa.

“Mbok Mirna… Mas Althaf sudah pulang ya?” tanyaku hati-hati, suaraku terdengar pelan tapi sarat dengan ketegangan.

Mbok Mirna menoleh, menatapku sambil menghela napas panjang.

“Iya, Mbak. Bapak sudah pulang sejak siang tadi,” jawabnya, lalu menunduk sejenak sebelum menambahkan, “Tapi wajahnya kusut sekali. Sepertinya lagi banyak pikiran. Dari tadi ngurung diri di ruang kerja. Kopi ini saja sudah cangkir ketiga. Saya sampai khawatir lambungnya kambuh.”

Dadaku terasa mengencang mendengarnya. Banyak pikiran? Aku tahu betul siapa—atau apa—yang bisa membuat Althaf mengurung diri begitu. Bayangan Yuanita langsung menampar benakku, membuat sesak di dada tak bisa lagi kusembunyikan.

“Masih di ruang kerja sekarang, Mbok?” tanyaku pelan, mencoba menahan gejolak hatiku.

“Iya, Mbak.” Mbok Mirna mengangguk kecil. “Sejak siang belum keluar. Biasanya kalau capek, beliau istirahat di kamar, tapi kali ini… entahlah. Seperti ada sesuatu yang berat sekali dipikulnya.”

Aku menunduk, menatap kopi panas yang masih mengepulkan asap tipis di atas nampan. Rasanya ironis—aroma yang biasanya menenangkan, kini justru menekan dadaku lebih kuat.

“Kalau begitu… biar saya saja yang antar ke ruang kerjanya, Mbok.” Suaraku terdengar nyaris berbisik, tapi tegas. “Sekalian… saya juga memang perlu bicara sama Mas Althaf.”

Mbok Mirna terdiam, menatapku dalam-dalam seolah ingin memastikan aku benar-benar siap. Matanya yang teduh seperti ingin menyampaikan sesuatu, tapi urung ia katakan.

“Mbak yakin?” tanyanya akhirnya, ragu-ragu. “Saya lihat Bapak lagi nggak enak hati. Takutnya kalau Mbak masuk, bukannya reda malah tambah runyam.”

Aku memaksa bibirku tersenyum tipis, meski jelas itu senyum yang rapuh.

“Kalau terus-terusan dihindari, Mbok… nggak akan pernah selesai.” Aku menarik napas panjang, berusaha menahan getaran dalam suaraku. “Ada hal penting yang harus saya sampaikan. Mau nggak mau… hari ini saya harus bicara dengan dia.”

Mbok Mirna menatapku lama, lalu mengangguk pelan.

“Baiklah, Mbak. Semoga Allah kasih kelapangan hati untuk kalian berdua.”

Aku meraih nampan itu dari tangan Mbok Mirna. Beratnya terasa berlipat, seakan bukan hanya berisi kopi dan camilan, tapi juga semua perasaan kacau yang harus kutanggung malam ini.

Langkahku menuju lorong terasa panjang, terlalu panjang. Setiap detik mendekat ke pintu ruang kerja Althaf, aku bisa merasakan perutku mual, tenggorokanku tercekat, dan jemariku hampir bergetar memegang nampan.

Aku tidak merindukannya saat ini. Aku bahkan masih marah, masih sakit hati. Tapi aku tahu, menghindar hanya akan membuat luka ini semakin dalam.

Maka kuangkat tanganku, bersiap mengetuk pintu kayu berlapis mahoni itu.

Di balik sana, ada Althaf. Lelaki yang entah kucintai, yang kucaci dalam diam, dan yang—entah kenapa—tetap mampu membuatku ingin bertahan sekaligus menyerah di saat yang sama.

Tanganku terhenti di depan pintu ruang kerja Althaf. Nampan di tanganku hampir bergetar karena genggamanku terlalu kuat. Kupaksa menarik napas panjang sebelum akhirnya kuketuk pelan pintu kayu itu.

Tok. Tok. Tok.

Hening.

Hanya ada suara samar kertas disobek atau mungkin pena yang tergores cepat di dalam sana. Aku menelan ludah, lalu mencoba sekali lagi.

Tok. Tok. Tok.

“Saya masuk, Mas,” ucapku akhirnya, tanpa menunggu jawaban.

Pintu berderit saat kudorong perlahan. Aroma kopi bercampur dengan bau rokok tipis langsung menusuk hidungku. Ruangan itu seperti biasa: rapi, dingin, penuh tumpukan berkas di meja kerja kayu besar, laptop terbuka dengan layar menyala, dan cahaya lampu meja yang menyorot wajah Althaf.

Dia duduk di kursinya, kemeja abu-abunya sedikit kusut, dasinya dilepas dan digantung di sandaran kursi. Rambutnya berantakan, keningnya berlipat, dan jemari tangannya sibuk mengetik di laptop.

Dia menoleh sekilas ketika aku masuk, tapi tatapannya cepat kembali ke layar—seolah kehadiranku hanyalah gangguan kecil yang tak penting.

Aku meletakkan nampan di meja kecil dekat meja sofa di depan meja kerjanya. “Ini kopi sama camilan, Mas. Mbok Mirna yang buat,” ucapku, berusaha terdengar biasa.

“Hm.” Itu saja jawabannya. Dingin, singkat, tanpa menoleh.

Aku mengepalkan tangan di sisi tubuhku. Rasanya ingin sekali berteriak, menuntut penjelasan tentang Yuanita, tentang semua kebisuan yang sudah seminggu ini menyesakkan. Tapi lidahku kelu. Yang keluar hanya nada datar, meski sebenarnya suaraku gemetar.

“Maaf mas, saya mau izin Besok malam saya ada study tour ke Yogyakarta. Untuk tugas mata kuliah English for Tourism. Saya izin… mungkin tiga hari nggak pulang.”

Althaf terhenti mengetik. Tangannya berhenti di atas keyboard, tapi dia tidak langsung menoleh. Baru setelah beberapa detik, ia menyandarkan punggung di kursi, menatapku dengan mata tajam dan ekspresi sulit ditebak.

“Kenapa baru bilang sekarang?” suaranya berat, datar, tapi jelas menyimpan ketegangan.

Aku menggenggam jemari agar tidak terlihat gemetar. “saya baru berani ngomong sekarang. Lagipula, saya pikir Mas juga nggak peduli, kan? Sejak kejadian itu…” suaraku tercekat, “…kita bahkan nggak pernah bicara.”

Senyum tipis penuh sinis muncul di bibirnya. “Jadi, sekarang kamu nyalahin saya?”

“saya nggak nyalahin siapa-siapa,” jawabku cepat, meski hatiku justru meledak oleh amarah yang kutahan. “saya cuma minta izin. Itu saja. Kalau Mas nggak mengizinkan pun… saya tetap akan berangkat. Ini tugas akhir saya.”

Udara dalam ruangan mendadak terasa tebal, seakan dinding ikut menahan napas. Tatapan kami bertemu—dingin, menusuk, dan penuh luka yang tak terucap.

Aku bisa merasakan dadaku naik turun, menahan semua kalimat yang hampir lolos tentang Yuanita, tentang pengkhianatan, tentang sakit hati yang masih membakar. Tapi malam ini, aku memilih menahan diri.

Karena yang kubutuhkan hanyalah izin… bukan lagi pengakuan.

Althaf menatapku lama, begitu lamanya sampai aku merasa tubuhku terkuak habis-habisan oleh matanya. Tatapan itu dingin, tapi samar-samar menyimpan sesuatu yang tak bisa kutangkap—marah, lelah, atau… peduli yang terlalu angkuh untuk ia tunjukkan. Jemari panjangnya mengetuk-ngetuk meja kayu mahoni, pelan tapi ritmis, seolah sedang menimbang ribuan kata yang akhirnya ia pilih untuk tidak ucapkan.

“Pergi saja,” ucapnya akhirnya. Suaranya berat, datar, namun dinginnya menusuk tulang. “saya nggak akan melarang.”

Hatiku mencelos. Kalimatnya seperti tamparan keras. Aku sudah menyiapkan diri untuk menghadapi sikapnya yang acuh, tapi tetap saja—saat mendengar sendiri nada dingin itu, nyeri di dadaku sulit kuabaikan.

Aku berusaha menegakkan tubuh, menelan air liur yang terasa pahit.

“Baik. Terima kasih… kalau begitu saya pamit mas,” ucapku lirih, menahan suaraku agar tak bergetar.

Aku melangkah pelan menuju pintu. Setiap langkah terasa berat, seolah aku sedang menyeret seluruh kekecewaanku keluar dari ruangan itu. Baru saja jemariku menyentuh gagang pintu, suara itu kembali memanggilku.

“Senjani.”

Langkahku terhenti seketika. Tubuhku kaku, jantungku berdetak tak beraturan. Dengan perlahan aku menoleh.

Althaf masih duduk di kursinya, bersandar setengah malas, tapi matanya menatapku. Tatapan yang bukan lagi sekadar dingin, melainkan menyimpan sesuatu yang samar—seperti ada kekhawatiran yang buru-buru ia sembunyikan agar tak terbaca.

“Jaga diri kamu di sana,” katanya, kali ini lebih pelan, tapi tetap dengan ketegasan khasnya. “Jangan macam-macam. Kamu harus tahu batasan.”

Jantungku berdentam keras. Aku nyaris melotot menatapnya, darahku mendidih. Kata batasan meluncur begitu ringan dari bibirnya, padahal… dia sendiri tidak tahu arti kata itu. Dia yang duduk di depanku ini—laki-laki yang bisa dengan tenang bersama Yuanita, tanpa sedikit pun merasa bersalah.

Itulah laki-laki… selalu merasa benar, selalu mengukur kesalahan dari sisi perempuan saja, tanpa pernah mau menoleh pada luka yang mereka ciptakan.

Aku menarik napas dalam, lalu berkata, “Saya sepertinya selalu tahu batasan, Mas. Mungkin justru Mas yang kurang tahu batasan.”

Entah dari mana keberanian itu muncul. Kata-kata itu meluncur begitu saja, meski aku tahu risikonya. Althaf yang sejak tadi bersandar santai, langsung mengangkat kepalanya. Tatapannya menajam, dadanya sedikit berkerut.

“Maksud kamu apa, Senjani?” suaranya rendah, nyaris seperti geraman.

Aku menatapnya balik, meski jemariku gemetar di balik rokku. “Maksud saya… batasan itu seharusnya berlaku untuk dua pihak. Kalau Mas menuntut saya menjaga jarak, menjaga diri, menjaga nama baik, seharusnya Mas juga melakukan hal yang sama.”

Sekejap, ruangan terasa menegang. Althaf terdiam, sorot matanya tajam menusuk, mencoba membaca isi pikiranku. Jemarinya yang tadi mengetuk meja kini terhenti, menggenggam rapat seolah menahan sesuatu.

“Senjani,” katanya akhirnya, suaranya terdengar lebih dingin. “Hati-hati dengan ucapan kamu.”

“Mulai sekarang… sebaiknya kita kembali saja pada kontrak awal, Mas.” Suaraku terdengar tenang, tapi setiap kata kutekankan jelas. “Kita tidak perlu mencampuri urusan masing-masing, kan? Saya masih ingat betul isi kontrak itu, setiap kata yang Mas tulis, setiap syarat yang Mas ucapkan. Jadi kalau Mas mau bicara soal batasan, percayalah… saya bisa menjaga batas itu.” Aku menatap matanya lurus, lalu menambahkan dengan nada yang lebih lembut tapi menusuk, “Yang saya khawatirkan justru… Mas sendiri yang tidak mampu menjaga batasan.”

Althaf terdiam. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya tampak menegang. Matanya menyipit, sorotnya penuh amarah yang ia tahan mati-matian. Jemarinya yang tadi mengetuk meja kini menggenggam erat, seakan menahan diri untuk tidak meledak.

Aku bisa merasakan panas dari tatapannya, tapi anehnya aku justru merasa lebih tenang setelah mengucapkan kalimat itu. Ada semacam kepuasan kecil di dadaku—meski aku tahu, ucapan itu akan membuatnya semakin membenciku.

“Kalau begitu, saya permisi dulu, Mas.” Suaraku pelan, tapi mantap. Aku membungkukkan sedikit tubuhku sebagai tanda pamit, lalu berbalik.

Langkahku terasa ringan ketika meninggalkan ruang kerja itu, meski jantungku masih berdentam cepat. Setiap hentakan kakiku seperti membawa beban yang selama ini menekan dadaku. Untuk pertama kalinya, aku merasa berhasil menegakkan kepala di hadapan Althaf.

Di balik pintu, aku berhenti sejenak. Ada rasa lega yang menyelinap, bercampur getir. Aku tahu, setelah ini hubungan kami mungkin akan semakin dingin, tapi setidaknya… malam ini aku sudah bicara. Aku tidak lagi hanya diam, tidak lagi hanya menelan pahit sendirian.

1
BORED
lovyu.. ❤️
BORED
tidak ada pelakor disini.. 🌚
BORED
lagi 🌚
BORED
jangan ada konflik lagi 🥺
BORED
jangan ada konflik lagi ya 🥺
BORED
apdet banyak2 🦖
BORED
semoga ga ada perselingkuhan
BORED: kalo ada.. aku cabut 😑
total 1 replies
Mochimo
Lanjutttt kakkk, makin seruuu..
Ria Ismail
Nextttt kak
Ria Ismail
Wawww menikah juga akhirnya
Ria Ismail
Sepertinya seruu
Roxy-chan gacha club uwu
Thor, aku hampir kehabisan kesabaran nih, kapan update lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!