Perjodohan yang dilakukan orang tua ku dan teman mereka membuatku terjebak dengan seorang Dosen killer. Dia meninggalkan aku di sebuah rumah besar miliknya, namun dia terus menafkahiku. Pria itu berjanji akan menceraikan aku setelah ia kembali.
Setelah 5 tahun, dia kembali dan meminta diriku untuk tetap bersamanya. Setelah aku menyanggupinya, tiba-tiba saja ada wanita yang datang dalam kehidupan kami dan mengaku sebagai istrinya.
Siapa wanita itu sebenarnya? Dapatkah kami mempertahankan rumah tangga ini hingga akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secarik rindu di senja hari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Undangan dari mantan
Beberapa minggu kemudian,
Hari ini, Reyhans menjemput Nazwa dari rumah Nathaline, mantan istrinya dulu. Ia sebelumnya sudah mengatakan dan meminta izin kepada wanita itu untuk membawa putrinya karena ia sangat ingin menghabiskan waktu seharian bersama putri kecilnya tersebut.
"Ayah, mengapa menunggu di luar saja? Ayo masuk dulu, kita sarapan pagi bersama. Ayah Nazwa yang baru juga baru saja datang." Nazwa berlari ke arah Reyhans yang tengah berada di halaman rumah tersebut lalu menarik tangan pria itu untuk masuk ke dalam sebuah rumah mewah yang di sewa Nathaline untuk sementara waktu.
Reyhans sebenarnya sangat tidak enak jika harus ikut sarapan bersama Nathaline dan Abidzar, pastinya akan ada rasa canggung di antara mereka, terlebih lagi mereka sempat memiliki hubungan yang sangat dekat.
Namun, Nazwa terus saja mendesak pria itu agar mau ikut sarapan bersama mereka. Mungkin, Nazwa ingin seluruh orang yang sangat ia sayangi berkumpul bersama.
"Pak Rey? Duduklah, santai saja. Abi, temani Pak Rey ngobrol dulu gih, aku akan memasak lebih banyak!" pekik Nathaline kepada Abidzar yang tengah asik menonton TV di dalam kamar Nazwa.
Abidzar kemudian keluar dan menghampiri Nathaline yang tengah berada di ruang tamu. Nathaline meminta Abidzar untuk duduk di samping Reyhans, sementara ia kembali memasuki dapur untuk melanjutkan memasak makanan.
Tampak suasana hening dan canggung seketika menyelimuti ruang tamu tersebut. Bagaimana tidak? Calon suami dan mantan suami duduk berdampingan di dalam ruang tamu sang wanita. Mereka benar-benar tidak tahu harus bagaimana untuk mengatasi kecanggungan tersebut.
"Aku dengar kalian akan menikah minggu depan? Bagaimana persiapannya? Apakah semua lancar? Aku bersedia membantu jika diperlukan," ucap Reyhans, sekedar basa-basi setelah sekian lama larut dalam keheningan. Ia mencoba untuk mencairkan suasana.
"Ya, semua sangat lancar dan telah selesai di persiapkan. Kami merencanakan semuanya dengan matang," balas Abidzar yang tampak salah tingkah saat berbicara dengan mantan suami dari calon istrinya itu.
Reyhans hanya mengangguk, kemudian suasana kembali hanyut dalam keheningan. Mereka hanya duduk dan saling diam seperti orang yang sedang marahan.
"Ayah, Ayah, mengapa kalian hanya duduk dan melamun saja? Ayo berjabat tangan dan saling berbicara," ucap Nazwa yang baru saja keluar dari arah dapur sembari menarik tangan kedua ayahnya.
Nazwa menjabatkan tangan Abidzar dan Reyhans kemudian duduk di antara dua pria itu. Mereka kemudian tersenyum simpul melihat tingkah usil putri mereka.
"Bagaimana jika Nazwa memanggil Ayah dengan sebutan Papa saja? Nanti, orang-orang sulit membedakan yang mana Ayah Nazwa," ucap gadis itu lugu kepada Abidzar. Pria itu kemudian hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan.
"Sudah selesai bicaranya? Ayo sarapan dulu, makannanya sudah siap," ucap Nathaline yang baru saja keluar dari dapur.
Nazwa dengan penuh semangat langsung menarik tangan Abidzar dan Reyhans untuk menuju ke arah dapur. Gadis kecil itu juga membuat kedua pria tersebut duduk berdampingan.
"Sekarang, Ayah dan Papa harus makan yang banyak. Masakan bunda sangat enak, Nazwa yakin kalian pasti akan suka," ucap gadis kecil itu, sembari menyajikan nasi dan lauk-pauk ke dalam piring Reyhans dan Abidzar.
"Sayang, hentikan dulu! Sayur itu untuk Papa Nazwa, dia tidak suka kol. Nah, yang ini baru untuk ayah Nazwa, karena ayah Nazwa tidak suka bawang putih," ucap Nathaline sembari menukar mangkuk sayur yang tengah di pegang oleh Nazwa.
'Kau masih ingat dengan makanan yang tidak aku sukai Nathaline. Aku pasti sangat bahagia seandainya kita masih bersama sampai detik ini. Aku yakin, Abidzar sangat beruntung bisa bersama dirimu,' batin Reyhans sembari menatap Nathaline sangat lama.
"Ehem-" Abidzar berdehem ketika menyadari bahwa Reyhans tidak melepaskan pandangannya sedetik pun dari arah Nathaline.
Sementara itu, Reyhans tampak gugup karena di tatap dengan tatapan tajam oleh Abidzar yang tampak sedang cemburu.
...>>>...
Setelah selesai sarapan, Reyhans sudah bersiap untuk pulang dan membawa Nazwa bersama dengan dirinya.
"Pak Rey, tunggu sebentar." Nathaline berlari dengan tampak tergesa-gesa menghampiri Reyhans dan memberikan pria itu sesuatu.
Nathaline memberikan Reyhans sepucuk surat undangan pernikahan dirinya dan Abidzar. Reyhans tampak hanya tertunduk sedih ketika melihat tertera nama Nathaline dan Abidzar di atas surat undangan tersebut.
"Jangan lupa untuk menghadiri pernikahan kami," ucap Nathaline sembari menyunggingkan senyuman ke arah mantan suaminya tersebut.
"Baiklah, aku pasti akan datang. Terima kasih," balas Reyhans, lalu segera beranjak pergi dari sana dan meninggalkan Nathaline di ambang pintu.
'Seandainya aku tetap memaksakan diri untuk bersama dengan dirimu, aku mungkin tidak akan menemukan sosok pria seperti Abidzar. Namun, kehadiran dirimu juga merupakan bagian dari cerita indah dalam kehidupanku. Aku bahagia pernah berada di samping dirimu, dan menemukan pelajaran hidup yang sangat berharga,' batin Nathaline sembari memandangi punggung kekar Reyhans yang perlahan semakin menjauh dari dirinya.
"Jangan menangisi hal yang tidak perlu. Pertemuan dirimu dan dirinya merupakan takdir yang tuhan berikan. Jangan pernah menyesalinya, tuhan sudah membuat rencana yang indah untukmu," ucap Abidzar yang baru saja datang menghampiri Nathaline setelah melihat wanita itu menitihkan air mata saat memandangi Reyhans.
"Aku tidak pernah menyesal karena mengenal dan pernah jatuh cinta kepada pria itu. Aku juga sudah tidak sedih ketika mengingat penghianatan dirinya. Karena berkat itu semua, aku bisa di pertemukan dengan sosok pria seperti dirimu, Abi." Nathaline masuk ke dalam pekukan Abidzar dan mendekap tubuh pria itu.
Abidzar hanya mengangguk saat mendengar perkataan Nathaline barusan.
"Sudahlah, ayo ke rumah Ayahku, beliau bilang jika ibuku merindukan dirimu." Nathaline mengangguk dan mereka dengan segera berkemas kemudian langsung pergi mengunjungi orang tua Abidzar.
Sementara itu, di tempat Reyhans berada. Tampak Nazwa yang terus memperhatikan pria itu yang tengah berfokus kepada jalan raya.
"Ayah, mengapa ayah menangis?" Reyhans segera menyeka air matanya kemudian hanya menatap mata gadis kecil itu sembari tersenyum, seolah mengatakan bahwa dirinya sedang baik-baik saja saat ini.
"Apakah ayah sedih karena bunda akan menikah dengan Papa? Ayah tenang saja, Papa orang yang baik, dia juga berjanji kepada Nazwa akan menjaga bunda dan Nazwa." Gadis itu masih menatap wajah sedih Reyhans.
Pria itu kembali tersenyum dan hanya menganggukkan kepalanya saja. Ia juga merasa yakin bahwa Abidzar akan menjaga putrinya kandungnya itu.
'Mengapa aku merasa iri dengan kebahagiaan wanita itu? harusnya aku juga turut bahagia! Apakah aku masih belum bisa sepenuhnya melupakan dia? Benar-benar pria bodoh! harusnya dari awal aku tidak mempermainkan cintanya, mungkin saja kami masih bersama sampai saat ini.' Reyhans masih merenungi kesalahannya di masa lalu. Ia benar-benar menyesal telah memulai semuanya.
...Next......
...Jangan lupa tinggalkan jejak❤...
Terima kasih atas kritik dan sarannya.
benci aku sama Reyhans
ko jdi gini si, uda ngga seruh lgi