NovelToon NovelToon
Anak Kuntilanak Dan Teror Di Hutan Tua

Anak Kuntilanak Dan Teror Di Hutan Tua

Status: tamat
Genre:Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Thriller / Iblis / Balas Dendam / Horor / Tamat
Popularitas:277.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rositi

Di desa Harapan Kahuripan, ada dua hal yang tidak boleh dilakukan oleh anak-anak.

Pertama, jangan main dengan Muhammad Syukur. Karena selain bocah berusia lima tahun itu sangat nakal, Syukur lahir dari wanita mati tidak wajar yang sempat menjadi kuntilanak. Ditakutkan, mama dari Syukur datang menuntut balas jika anaknya diusik.

Sementara larangan yang kedua, jangan pernah main ke Hutan Tua karena bocah mana pun yang main ke sana pasti tidak pernah selamat!

Namun di suatu sore menjelang petang, Syukur dan keenam temannya nekat memasuki Hutan Tua. Kejadian mencekam diwarnai pertumpahan darah benar-benar terjadi. Satu persatu dari mereka ditemukan mati. Hanya ada dua anak yang selamat. Anak pertama adalah Ibrahim dan terkenal sangat alim. Sementara satunya lagi merupakan Syukur!

Sebenarnya, apa yang terjadi? Karena semenjak itu juga, Ibrahim jadi sakti dan bisa menyembuhkan banyak penyakit dengan cara di luar nalar!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kasih Sayang Mama

“S—Syukur ...?! Jadi, ini kelakuan kamu?!” Ibu Lilis menatap tak percaya bocah yang ia pergoki dan langsung ia kenali sebagai Syukur. “Jadi kamu yang sudah bikin kegaduhan dan membuat ternak warga mati hingga kami merugi!” Ibu Lilis benar-benar marah.

Namun, kenyataan pipi kanan maupun tengkuk Syukur yang seolah mengobarkan api, membuat ibu Lilis ngeri. Meski tentu saja, bukan hanya ibu Lilis yang merasakannya. Sebab semua orang di sana memang langsung takut.

Hanya saja, mereka langsung memilih untuk mengamankan Syukur. Ibu Lilis menjadi pencetusnya, meminta petugas desa melakukannya.

“Ayo, Bapak-Bapak! Tanggap anak ini! Kita taburi dia pakai garam, kemudian puku.li menggunakan lidi lanang atau malah bambu kuning biar ilmu hitam di tubuhnya luntur!” sergah ibu Lilis menggebu-gebu. Geram rasanya karena ternyata, pelaku yang sudah membuat kegaduhan di desanya, masih itu-itu saja.

Ulah ibu Lilis membuat Syukur kelimpungan. Ditambah lagi, sekadar berdiri saja, Syukur belum mampu.

Syukur sungguh ditangkap. Punggungnya diinjak oleh satu satu bapak-bapak di sana, sementara kedua tangannya ditarik ke belakang untuk diikat.

Tak jauh dari mereka, Echa makin dekat. Echa yang terbang segera menghampiri, dan tak segan menam.par bapak-bapak yang menginjak punggung Syukur sekuat tenaga.

“HAH!”

“Kuntilanaaak!”

Semuanya kompak berteriak sekaligus ketakutan. Mereka juga kompak menghindar, tapi tatapan mereka tidak bisa teralih dari kuntilanak yang menghampiri Syukur.

Echa dengan penuh kelembutan layaknya seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya, melepas tali di kedua tangan Syukur. Echa juga mengemban Syukur dan mengembannya penuh sayang.

“Jangan ganggu apalagi melukai anakku! Karena musuh kalian yang sebenarnya ada di dalam hutan!” tegas Echa sambil menimang Syukur.

Ibu-ibu dan bapak-bapak di sana yang memang berpencar, menatap satu sama lain. Namun, mereka terus mengawasi Echa tanpa berani mengusiknya.

Echa membawa Syukur terbang memasuki hutan Tua.

“Mama ...?” Bibir mungil Syukur mengenali wajah Echa. Syukur yakin bahwa kuntilanak yang menyelamatkannya memang mamanya.

“Tak peduli bagaimana rupa maupun wujud seorang mama. Tak peduli bagaimana sulitnya para mama. Kami pasti akan selalu menjadi garda terdepan untuk anak-anak kami!” batin Echa di tengah air matanya yang berlinang.

Panggilan “Mama” dari Syukur membuat Echa terharu. Apalagi ketika jemari Syukur yang masih lemah, beranjak meraba wajah Echa.

“Kamu Mamaku! Aku punya Mama!” ucap Syukur di tengah air matanya yang jadi sibuk berlinang.

Sampai saat ini, Syukur masih menengadah. Ia sengaja begitu agar ia bisa melihat wajah sang mama. Di matanya, meski wajah Echa memang pucat dan sangat gelap bahkan kulit-kulitnya mengelupas, baginya, sang mama tetap menjadi wanita paling cantik dalam hidupnya.

“Meski kekuatan kita tidak seberapa, kebersamaan sekaligus kesatuan kita tetap bisa mengalahkan mereka!” tegas Echa sambil menatap sang putra penuh keseriusan.

Dari kedua mata Echa, kobaran api langsung terpancar. Syukur yang memang tidak begitu paham dengan maksud mamanya, juga tidak memberikan tanggapan berarti. Malahan, kedua tangan Syukur sengaja mendekap tubuh mamanya sangat erat.

Perlahan tapi pasti, tubuh mereka yang masih melayang di udara, turun. Mereka mendarat di dalam hutan Tua tepat di depan perbatasan yang hanya dihiasi sedikit sisa garam.

Mendaratnya Echa dan Syukur, membuat pijakan Asnawi, kuntilanak ibu Rokayah, maupun para kurcaci, bergetar. Para kurcaci yang awalnya tengah memijat Ibrahim sampai sempoyongan dan perlahan terjatuh. Mereka baru saja menyelesaikan pesta mereka. Di antara api unggun kecil yang ada di sana, tulang-tulang bocah yang ia santap juga sengaja mereka bakar.

“Ada yang datang!” ucap Ibrahim masih dengan suara Asnawi. Ia yang duduk di akar besar berangsur berdiri. Kemudian, ia menoleh ke sumber suara langkah.

Wajah Ibrahim yang sempat tegang perlahan menjadi dihiasi senyum penuh kemenangan. Hingga ketiga belas anak kurcacinya heran, begitu juga dengan kuntilanak raksasa ibu Rokayah.

“Rokayah, ... jemput anak kuntilanak itu karena dia benar-benar sudah datang!” ucap Ibrahim masih dengan suara Asnawi.

Mendengar titah dari Ibrahim yang tentu saja sudah kuntilanak ibu Rokayah kenali sebagai Asnawi selaku sang junjungan, kuntilanak itu langsung melangkah pergi. Kuntilanak ibu Rokayah perlahan menjadi sangat tinggi sekaligus besar layaknya raksasa. Tinggi tubuhnya sama dengan tinggi pohon besar di sana. Kuntilanak ibu Rokayah melangkah sambil tersenyum. Layaknya raksasa, ia melihat-lihat ke sekitar yang menjadi bergetar akibat langkahnya.

“Syukur ...!” lirih kuntilanak ibu Rokayah ketika akhirnya, yang ia cari benar-benar ia temukan.

Syukur yang di matanya tak lebih tinggi dari para kurcaci, juga menjadi berhenti melangkah. Di hadapannya, Syukur berdiri menatapnya dengan api berkobar-kobar dari kedua matanya. Selain itu, bekas luka di pipi kanan maupun tengkuk Syukur, juga sampai berkobar-kobar.

“Aku tidak pernah takut kepada siapa pun, termasuk itu kepadamu!” ucap Syukur dengan suara Echa.

Detik itu juga kuntilanak ibu Rokayah tersenyum. “Jadi, ada kuntilanak lemah yang hobinya mengamuk?”

Setelah tersenyum penuh kemenangan, kuntilanak ibu Rokayah, berangsur menunduk menyelaraskan tingginya dengan Syukur. “Ayo! Lawan aku! Lawan aku sebelum darahmu aku serahkan ke junjunganku!” ucap kuntilanak ibu Rokayah yang kemudian tertawa. Tawa menggelegar yang juga sampai ke pemukiman warga.

Ibu Lilis dan rombongan yang awalnya nyaris melewati perbatasan hutan Tua jadi terbirit-birit. Mereka tak jadi masuk dan memilih pergi. Sebab mereka yakin, tawa khas kuntilanak yang baru saja terdengar memang beras dari dalam hutan Tua. Hingga mereka berpikir, mereka tak ubahnya menyerahkan nyawa andai mereka nekat masuk ke dalam hutan Tua.

Tubuh mungil Syukur langsung loncat ke wajah kuntilanak ibu Rokayah. Dengan cepat Syukur merayap kemudian masuk ke dalam lubang hidung kuntilanak ibu Rokayah. Kuntilanak raksasa itu mendadak kehilangan senyumnya.

“Ha ... hahhhhh!” Kali ini kuntilanak ibu Rokayah tidak lagi tertawa, melainkan nyaris bersin tapi tak kunjung bisa. Ia begitu tersiksa akibat ulah Syukur yang terus sibuk di dalam lubang hidungnya.

Di dalam lubang hidung kuntilanak ibu Rokayah yang ia masuki, Syukur mengawasi kedua tangannya yang perlahan menjadi dihiasi kuku panjang runcing berwarna hitam. Senyum puas perlahan merekah dari bibirnya. Selanjutnya, yang ia lakukan ialah menggunakan kuku-kukunya itu untuk mencakar bahkan menusuk hidung kuntilanak ibu Rokayah. Bukan hanya satu lubang hidung. Karena Syukur juga melakukan hal serupa di hidung satunya.

Kuntilanak Ibu Rokayah meraung-raung dan masih kesulitan bersin. Apalagi ketika Syukur menggelitiki hidungnya yang sudah terluka berlum.ur darah, menggunakan ranting pohon.

“Bruuuggggggg!” Tubuh kuntilanak raksasa itu akhirnya terjatuh. Meski memang belum benar-benar musnah, paling tidak kini menjadi awal mula langkah yang baik untuk Syukur.

Dengan tatapan yang begitu tegas bahkan kerap mengobarkan api, Syukur menatap puas kerja kerasnya. Meski tentu juga, tanpa adanya sang mama dalam tubuhnya, Syukur yang memang hanya bocah biasa, tak mungkin bisa melakukannya.

Kini, di hadapan Syukur, para kurcaci berbondong-bondong lari mendekat. Syukur yang melihat itu segera bersiap. Kedua tangannya yang masih berupa kedua tangan kuntilanak berjari panjang runcing hitam, juga siap mengha.jar para kurcaci yang mendekat.

1
Maulana Akbar
lanjuttt
Azalea New
luar biasa thor hampir semua cerita othor aku baca. aku cari yg udh tamat. karrna yg on going suka males nantinya kadang juga lupa 🤭
Reznim Miarti
aku selalu baca novel yg tamat😄
Artika
kog jadi penasaran ya siapa yang jadi sosok semak2 berjalan ??
Mamake Nayla
Luar biasa
wardiah aja
mantap
Vivo Blue
Luar biasa
Cia Sanu
semangat terus ka ros,, ceritamu bagus semua
Hamliah Lia
lanjut kk
Ajeng Sripungga
Luar biasa
Chee Leong Lim
sangat bagus
Dede Exis
Luar biasa
Maz Andy'ne Yulixah
Apakah Pak Yusna malah makin menjadi,malah jadi dukun kayaknya🤔
Maz Andy'ne Yulixah
Seru kayaknya nie Mak😊
Maz Andy'ne Yulixah
Sebenernya kalau baca skip2 tu sayang hlo Mak,tetap semangat ya Mak😇
Maz Andy'ne Yulixah
Ini ada lanjutannya gak Mak,lebih seru kayaknya😁
Maz Andy'ne Yulixah
Siapa yang praktek Ilmu hitam lagi🤔🤔
Maz Andy'ne Yulixah
Ulah siapa,kok ada kuburan tiba2🤔🤔
Maz Andy'ne Yulixah
Yang 1 gak bisa lihat cuma bisa mendengarkan,,yang 1 bisa melihat tapi gak bisa mendengarkan,,bener2 kalian gak bisa terpisahkan😊😊
ros
itu pasti suara maknya syukur
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!