Senja Anjani, seorang gadis muda yang harus menjalani kehidupan penuh luka, air mata, serta cobaan hidup tidak ada habisnya.
di umurnya yang belum genap 22 tahun, ia kehilangan kesuciannya, di renggut secara paksa oleh Sagara Rahardian, yang tidak lain adalah kekasihnya.
Akibat kejadian satu malam, banyak kesalahpahaman terjadi pada perjalanan hidup mereka.
Benci dan cinta saling berebut untuk menguasai mereka.
"Sampai ragaku tak lagi bernyawa,
kebencian ku kepada mu akan tetap membara" (Senja)
Ayo...ikuti kisahnya 😍
*** hai Semuanya, mohon dukungannya ya, mohon kritik, serta sarannya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nay'ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir Wina
*** Selamat datang 🤗
Happy reading 😍
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketegangan masih begitu mendominasi memenuhi ruang tamu rumah mewah keluarga Setiawan. Wina masih saja mempertahankan argumen piciknya, masih bertahan dengan sikap keras kepalanya, sama sekali tidak menyerah apalagi mengalah.
Plak...satu tamparan mengenai pipi mulus Wina, pelakunya tidak lain Ayah kandungnya sendiri. "Pergi kau dari rumah ini. Saya tidak memiliki anak tidak tahu malu dan tidak tahu diri seperti mu. Bukannya meminta maaf atas segala kebejatan mu, tetapi kau mencari alibi agar terbebas dari semua tindakan brutal mu."
"Pa-pa," Wina memegang pipinya yang baru saja di berikan cap telapak tangan oleh sang papa, ia tidak percaya jika sosok ayah yang selama ini begitu memanjakannya tega menamparnya.
Fendi dan nyonya Setiawan, hanya bisa melihat tanpa mau ikut campur. rasa penyesalan menyusup dalam hati mereka. selama ini keluarga Setiawan salah dalam mendidik Wina, terlalu memanjakan serta menuruti segala keinginan sang anak. mereka tidak pernah memperkirakan jika bentuk kasih sayang secara berlebihan itu, telah menciptakan Sifat egois serta manipulatif kepada diri Wina.
Agam sendiri memilih diam menjadi penonton, perasaannya bercampur aduk menjadi satu. hatinya hancur berantakan. dua tahun yang ia habiskan bersama Wina bukanlah waktu singkat, terlebih rencana pernikahan mereka sudah tersusun rapi tujuh bulan lagi. kini masa depan yang sudah terancang matang itu hanya tinggal kenangan.
Suasana menegangkan itu buyar ketika salah satu asisten rumah tangga keluarga Setiawan datang memberikan berita horor. "Maaf Tuan, di luar ada Bapak Polisi, mereka mencari non Wina!" dengan tubuh gemetar Bibi pelayan memberi tahu kedatangan anggota kepolisian.
"Papa, tolong Wina, jangan biarkan polisi itu menangkap ku!" Wina menangis histeris, dalam keadaan kalut, Wina mencoba melarikan diri, namun dengan sigap Fendi menahannya.
"Jika dirimu masih mau di anggap adik, oleh ku, maka bertanggung jawablah atas segala perbuatan tak baik mu itu!" Fendi sedikit menyeret tubuh Wina ke depan, menjumpai pak polisi yang tengah menunggu di teras rumahnya.
"Selamat malam, bapak dan Ibu Setiawan, kami dari pihak kepolisian. datang ke rumah Anda, dengan membawa surat perintah penahanan atas saudari Wina Setiawan." ucap salah seorang bapak polisi sembari menyerahkan surat penangkapan kepada papa Wina.
Wina memeluk erat tubuh mamanya, setelah terlepas dari sang kakak, ia sangat takut. Sang mama juga ikut menangis lirih, ibu mana yang tega melihat anak kandungnya sendiri berada dalam situasi sulit. Anak yang selama ini ia limpahi dengan penuh kasih sayang, kini tengah berhadapan dengan hukum, guna mempertanggungkan perbuatannya.
"Baik Pak, silahkan bawa anak saya. kami akan mengikuti mobil bapak dari belakang." papa Wina mempersilakan tiga orang polisi tersebut membawa buah hatinya. Beliau sama tidak teganya dengan sang istri, mau sebesar apapun amarahnya, tetap kasih sayangnya lebih unggul untuk Putri cantiknya, kali ini ia akan memilih jalan yang sedikit menyakitkan, agar sang anak bisa merubah tabiat jeleknya.
"Mari nona Wina, silahkan ikuti kami," mau tidak mau Wina digiring berjalan ke mobil polisi yang terparkir tidak jauh di halaman rumah Setiawan, tangisnya semakin kencang tatkala ia berbalik badan memandang para orang kesayangannya, hatinya sungguh hancur serta penuh penyesalan. akibat obsesi nya kepada Agam ia berakhir mendekam di penjara.
"Pa," mama Wina menangis dalam dekapan erat suaminya, mereka berdua menangis sembari saling menguatkan. meratapi nasib masa depan anak bungsunya.
Fendi segera masuk kedalam mobil bersama Agam, mereka berdua akan menemani Wina saat menjalani interogasi nanti, sebelumnya sudah ada pengacara dari keluarga Setiawan telah menunggu di kantor kepolisian, yang nantinya akan mendampingi Wina dalam kasus kejahatannya.
...----------------...
Sagara keluar dari mobil mewahnya, ia berjalan memasuki rumah utama, seketika perasaan aneh menyergapnya. ketika hanya keheningan yang menyambut kedatangannya, tidak ada terdengar teriakan histeris dari si kembar, yang biasa mereka lakukan ketika menyambut kepulangan sang ayah.
Sudah delapan hari Sagara tidak bertemu mereka. setelah insiden adu jotos dengan Fendi Setiawan, Sagara memilih tinggal seorang diri di apartemen, guna menyembunyikan luka lebam wajahnya.
"Paman, dimana anak-anak, dan istriku?" tanya nya kepada kepala pelayan.
"Emm...It-tu, Tuan, nona kecil berada di lantai dua, sedang di hukum oleh Nyonya Senja." Paman Ali tampak gugup saat memberitahukan di mana keberadaan nona kecil mereka.
"Di hukum?" Sagara terkejut mendengar kata keramat itu. sebab selama ini sangat jarang Senja memarahi si kembar, apalagi menghukum mereka. Senja memiliki stok rasa sabar yang tidak terbatas.lantas kenakalan apalagi yang di lakukan oleh anak ajaib nya itu, sampai membuat istri Sholehah nya kehilangan kesabaran.
"Ini semua, Gala-gala kamu, kita jadi di hukum Bunda, sehalusnnya nunggu bunda bobok siang dulu, balu kita belaksi." May tengah mengomeli adik kembarnya.
Tentu saja Hira tidak terima di salahkan begitu saja. "Bukan salah ku ya, tapi salahkan tuh, para anak kita yang gak bisa diem, jadinya kepergok ma Bunda." Hira berdalih membela diri.
"Mana gak ada Eyang dan Tante Bintang, telus siapa yang akan menolong kita, Hil?" duo bocil itu saling berbisik, sembari menatap awas sang Bunda, yang tengah memperhatikan gerak gerik mereka.
"Assalamualaikum," sapa Sagara saat sudah sampai di lantai dua, dimana terdapat buah hatinya tengah berdiri dengan kedua tangan menjewer masing-masing telinga mereka.
"Walaikumsalam," jawab serempak ibu dan anak itu.
Senja segera menghampiri Sagara, lalu mencium takzim punggung tangan Lelaki yang sudah berjuang seharian mencari nafkah untuk keluarga mereka.
"Terimakasih sayang," guman Sagara, tangannya mengusap lembut pucuk kepala sang istri yang tertutup hijab.
"Kedua anak cantik Ayah, tidak salim ni?" dengan sengaja Sagara menggoda si cilik. terlihat jelas raut wajah lelah serta kesal bocil kesayangan Rahardian itu.
"Hila, nanti malam kita jadi satpam, oke? jangan bialkan Ayah menculik Bunda lagi."
"Oke, gak akan tak biarkan Ayah mendusel-dusel ke Bunda lagi, mencium banyak-banyak bibir Bunda, ketika Bunda tertidur pules." Hira berbisik, namun suaranya masih bisa di dengar oleh lainnya.
~Bersambung~
Terimakasih saya ucapkan bagi yang sudah bersedia mampir🙏. Mohon terus mendukung saya ya kak, jangan lupa tinggalkan jejak like, subscribe & gift nya😍
padahal ini udh aku tunggu2 up nya... 🥰🥰 kngn sm si kembar . kangn bngt sm kakek agam..🤣🥰🥰🥰😘😘😘