Takanashi Mika menatap jalanan sepi, mobil yang dinaiki melaju menuju sebuah mansion milik keluarga Sakamaki. Komori Yui. Protagonist dalam anime Diabolik lovers, anime dengan genre vampir ini adalah dunianya sekarang.
Dan sudah 11 tahun terlewat sejak pertama kali membuka mata didunia ini.
Wajah acuh tak acuh yang selalu menjadi andalan Mika membawanya menuju kedamaian.
"Takanashi Mika."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arka156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 29
Sang raja melihat anak-anak berlari berserakan dengan yang lebih banyak yang menangis ketakutan, begitulah anak manusia. Berisik, penakut beruntungnya ia adalah vampir begitupun dengan anak-anak dari ketiga istrinya.
Karlheinz berdiri di tengah reruntuhan laboratorium, aroma besi dari darah bercampur dengan asap dan debu yang memenuhi udara. Sisa-sisa tubuh manusia dan alat-alat eksperimen berserakan di sekitarnya. Matanya yang dingin menyapu seluruh ruangan, memastikan tidak ada lagi makhluk yang bergerak. Namun, pikirannya tidak berfokus pada kehancuran ini.
Dia datang untuk satu alasan \_ *anak itu*
Karlheinz berjalan menuju koridor lain yang sebelumnya dia lihat dijaga lebih ketat. Bau darah segar memandu langkahnya—bukan darah manusia biasa, tapi aroma yang lebih halus, lebih tajam. Aroma vampir muda yang ditangkap dan anak-anak manusia yang dijadikan bahan percobaan.
Brak!
Karlheinz menendang pintu baja besar, dan di baliknya dia menemukan ruangan berisi kapsul kaca. Di dalamnya, anak-anak vampir terbaring tak sadarkan diri, tubuh kecil mereka dipenuhi luka dan selang yang tertancap dalam. Mesin di sekitar mereka mendengung dengan suara monoton.
"Apa ini…" bisiknya pelan, namun matanya menyala penuh amarah.
Salah satu kapsul terbuka, dan seorang anak perempuan yang tampak berusia sekitar tujuh tahun tergeletak di atas meja logam. Tubuh kecilnya menggigil, namun matanya—*berwarna biru seperti laut dalam*—terbuka lemah dan menatap Karlheinz.
“...Kaulah yang memanggilku ke sini,” kata Karlheinz pelan. Buku yang membawanya ke tempat ini kini terasa jauh lebih masuk akal.
Namun, sebelum Karlheinz bisa mendekat, sebuah suara dingin menggema di ruangan itu.
"Bagaimana, Karlheinz? Apakah kau puas melihat hasil eksperimen kami?"
Karlheinz berbalik, dan seorang pria dengan jas putih panjang keluar dari bayangan. Wajahnya kurus, dengan senyuman yang terlalu lebar untuk dianggap normal. Di tangannya ada sebuah alat kontrol yang menyala merah.
“Jadi ini raja vampir yang legendaris?” Pria itu mendekat, matanya penuh kegilaan. “Aku tahu kau akan datang. Buku itu memang umpan yang bagus.”
Karlheinz mengangkat satu alis, tak terkesan.
"Umpan? Kau pikir aku tidak tahu? Buku itu milik anak ini. Dan dia—” Karlheinz menoleh ke arah anak yang kini berusaha duduk meski tubuhnya lemah. “—memanggilku. Bukan karena kau.”
Pria itu terkekeh, lalu mengangkat alat kontrol di tangannya.
"Kau salah besar. Aku memprogram anak itu untuk memanggilmu. Bagaimana menurutmu, eksperimen yang dapat memanipulasi pikiran vampir sebesar dirimu?"
Karlheinz mendengus, langkahnya maju dengan santai.
“Kau salah menilai siapa yang sedang kau hadapi.”
Pria itu menekan tombol, dan tiba-tiba anak-anak vampir di dalam kapsul mulai bergerak. Mata mereka terbuka, dan mereka mengeluarkan suara jeritan kesakitan secara tiba-tiba bergerak. Gigi mereka mencuat lebih panjang, matanya menyala, dan tubuh anak itu melompat keluar dari kapsul dengan gerakan agresif.
"Kubilang tangkap dia hidup-hidup!" seru pria itu.
Karlheinz hanya berdiri di tempatnya, menatap anak-anak yang kini menyerangnya tanpa kendali. Dia tidak bergerak, bahkan ketika salah satu dari mereka mencoba mencakar wajahnya. Tepat sebelum cakar itu menyentuh kulitnya, Karlheinz berbisik, "Tenang."
Kata itu seperti mantra. Anak-anak yang kehilangan kendali langsung terdiam, tubuh mereka bergetar sebelum jatuh tak sadarkan diri di lantai. Karlheinz memandangi pria itu dengan tatapan dingin.
“Yang kau lupa, aku bukan hanya vampir biasa. Aku Raja Vampir.”
Sebelum pria itu bisa bereaksi, Karlheinz muncul di depannya dalam sekejap. Leher pria itu ditangkap dengan satu tangan, sementara alat kontrolnya hancur dalam genggaman Karlheinz yang lain.
“Berani mengotori darah vampir dengan penelitianmu yang menjijikkan? Hanya ada satu hukuman untukmu.”
Karlheinz tersenyum tipis—*senyum yang dingin dan kejam*—sebelum mencabik pria itu menjadi dua, darahnya membasahi seluruh ruangan.
Dia berbalik, mendekati anak yang terbaring lemah di atas meja. Mata anak itu memandangnya dengan rasa takut sekaligus harapan.
"Kau sudah melakukannya dengan baik," kata Karlheinz, membelai kepala anak itu dengan lembut. “Sekarang giliran aku untuk melindungimu.”
Dengan satu gerakan, Karlheinz mengangkat anak itu dan berjalan keluar dari reruntuhan. Anak-anak vampir lain yang selamat ikut dibawa, tubuh kecil mereka diselubungi kekuatan pelindung Karlheinz.
Malam itu, sarang busuk itu hancur, dan Karlheinz membawa pulang mereka yang tersisa—siap memberi balasan lebih kejam kepada siapa pun yang berani menentang darah bangsawan vampir.
Jika diinginkan lagi, malam itu menjadi berkesan karena Karlheinz menyelamatkan anak-anak manusia yang seharusnya menjadi makanan bagi para vampir. Otaknya sendiri memutar kenangan yang terlewat beberapa tahun lalu seperti kaset.
"*Mika, namaku Takahashi Mikha*."
Anak perempuan penakut itu tidak disangka akan tumbuh dengan baik, pertumbuhannya menjadi langkah untuk meneliti perasaan manusia disaat proyek 'adam' ditunda selama beberapa waktu.
Lihat itu bahkan lukisan megah itu tersimpan dan terawat dengan baik disalah satu ruangan pribadinya.
Ketiga istrinya tidak banyak bicara waktu itu dan memberikan pertanyaan sederhana seperti
Dimana kamu mendapatkannya?
Apa kamu berniat untuk mengoleksi lukisan sayang?
Karlheinz tidak ingin mengatakan kepada istri-istrinya bahwa lukisan ini ada anak kecil manusia yang secara sukarela ia selamatkan dari malam paling kejam.
Jemarinya terangkat menyentuh tekstur diatas lukisan, rasanya, perasaannya sama. Dengan iris biru gadis itu memang mirip, ah mungkin memang orang yang sama. Tapi bagaimana mungkin?
Lukisan anak perempuan remaja? Dan anak kecil yang ia selamatkan. Apakah masuk akal untuk berfikir bahwa kemiripan itu bukan hanya sekedar kebetulan? Karlheinz ingin tau lebih banyak.
Pilihannya adalah menunggu anak-anaknya membawa gadis itu pulang dan memastikannya sendiri.
"Ayah!"
Tanpa menunda langkahnya sang raja vampir menuju sumber suara.
Anak sulungnya memeluk erat tubuh dengan surai kelam yang terjuntai, Shu membaringkan dengan hati-hati mika diatas kasur. Kamar pribadi gadis itu yang selama beberapa waktu tidak diisi dengan pemiliknya, tapi rutin dibersihkan pelayan.
Samar-samar harum mawar masih tertinggal di udara, "dimana adik-adikmu Shu?" Tanya Karlheinz saat pura sulungnya berbalik menatapnya.
"Mengurus makhluk aneh yang disebut iblis," sejenak mengatur nafasnya karena berteleportasi setelah bertarung melawan iblis. Melihat ayahnya dengan wajah yang tidak biasa itu menarik perhatiannya, "kenapa?"
"Ah kita butuh dokter saat ini, aku tidak yakin apakah gadis itu bisa bertahan."
Sulung menatap ayahnya dengan tajam, dengan perasaan marah menarik kerah pakaiannya meskipun bisa dipastikan tidak akan bisa membuat Karlheinz bergerak dari tempatnya berdiri.
Menyakitkan mendengar bahwa gadis yang dengan susah payahnya diselamatkan tidak selamat, Shu tidak ingin berharap terlalu banyak karena dalam hal ini harapan lebih banyak menipu. Takahashi Mika, mengingat nama itu bahkan sebelum kedatangannya membuat tubuhnya bergetar. Setelah mencicipi darahnya Shu ketagihan, ingin lebih dan lebih meminumnya.
Perasaannya tidak terasa asing seolah dia dan mika memang pernah saling berbagi hubungan. Shu sendiri tidak pernah mengingat hal seperti itu, apa hanya delusi semata?
Pandangannya gelap menyapu pandangan ayahnya, yang dilakukan Karlheinz hanya menepuk kepalanya pelan.
*Mengejutkan*.
Hal yang bahkan tidak pernah Shu rasakan, ayahnya menepuk kepalanya dengan lembut dan penuh kasih? Terlihat seperti lelucon.
"Shu kamu berhasil."
Apa maksud perkataan ayahnya? Sulit dimengerti.
Seorang dokter yang harusnya menjalani tugas dengan baik, malah harus menonton drama antara ayah dan anak. "Bisakah aku memeriksa? Sepertinya harus segera ditangani."
Barulah anak dan ayah itu saling menjauh dengan Shu yang duduk disudut kasur dan Karlheinz yang berdiri didekat jendela, bulan malam itu bersinar dengan terang.